Delisanya Abimanyu (Cinta & Harta)

Delisanya Abimanyu (Cinta & Harta)
Delisanya Abimanyu


__ADS_3

13 🌹


Sesampainya di kantor ia pun disambut oleh pak Wahyu sang Bosnya dengan omelan bosnya tersebut, Namun Delisa tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Bosnya itu membuat Bosnya merasa heran, Delisa berlalu dari hadapan Bosnya tersebut dan langsung mengambil beberapa paket yang memang harus diantarkannya hari ini juga, Delisa mengambil paket itu dan memasukkannya ke tempat yang biasa ia gunakan untuk mengantar paket yang banyak.


" Delisa kenapa kamu? Ada apa denganmu?" Tanya pak bosnya tersebut dan menghentikan omelannya pada Delisa.


"Lagi-lagi Delisa tidak menjawab pertanyaan dari Pak Bosnya itu, setelah beberapa paket dimasukkan ke dalam kantong yang khusus untuk paketnya itu, Delisa pun kemudian melajukan motornya menuju ke arah yang sudah tertera di paket-paket yang harus dia antarkan itu.


" Ada apa dengan Delisa? Kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku, padahal tadi baru aja dia berbicara denganku. Tidak seperti biasanya, Delisa itu terkenal gadis yang periang. Walaupun dia selalu mendapatkan omelan dariku dia selalu bersikap biasa saja, tapi kenapa ini Dia terlihat sedih dan wajahnya murung seperti itu, terlihat juga matanya memerah. Ada apa dengan Delisa? Apa yang terjadi dengannya, setelah pengantaran paket ke rumah sakit itu." Gumam Pak Bosnya tersebut sembari mengiringi kepergian Delisa dari tatapannya yang sudah menghilang dari hadapan kantornya itu.


" Aku harus menyelesaikan paket-paket ini mengantarkannya pada pemiliknya, setelah itu aku ingin pulang ke rumah dan melupakan sesaat pekerjaanku ini." Ucapnya.


Terdengar kembali ponselnya berdering, dia pun kembali berhenti di pinggir jalan, dan mengambil ponselnya untuk melihat siapa pemanggilnya, dia berharap Abimanyu yang memanggilnya dengan nomor baru, dan mengatakan kalau dia tidak melupakan dirinya, namun perkiraannya salah yang menghubunginya adalah Ranti.


" Ya Ranti ada apa?" ucap Delisa datar, Ranti yang memegang ponselnya sendiri pun menatap layar ponselnya itu, dia merasa heran dengan suara Delisa yang terdengar sangat sedih sekali.


" Ada apa denganmu Delisa? Kayanya kamu sedih?"


" Aku tidak sedih, mungkin aku kecapean saja."


" Ya sudah kalau seperti itu, lanjutkan aja pekerjaanmu, nanti aja aku ceritakan padamu,di rumah saja, aku kira kamu sudah di rumah untuk istirahat siang."


" Aku sekalian sore pulangnya, setelah aku menyelesaikan paket jalur kedua ini."

__ADS_1


" Baiklah, hati-hati di jalan." kemudian mereka berdua memutuskan sambungan bicaranya.


Delisa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya dia menghela nafasnya dengan panjang.


" Aku berharap suatu saat nanti Gaje menghubungiku." Ucapnya begitu saja lolos dari bibir manisnya, kata-kata yang tidak pernah terpikirkan olehnya, motor yang dikendarai Delisa pun melaju dengan kecepatan sedang, beberapa paket sudah diberikan kepada tuannya dengan selamat sampai paket-paket yang dia bawa itu pun habis sudah berpindah ke yang punya, Delisa kemudian melajukan kembali motornya menuju ke arah rumahnya, dia tidak kembali ke kantornya karena dia tidak bisa berpikir jernih kalau dia berada di kantornya tersebut, sesampainya di rumahnya dia memarkirkan motornya di tempat biasa dia langsung masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya kembali, Dia melangkah dengan rasa sedih dan membuka pintu kamar Abimanyu, tetap dengan suasana seperti semula tidak ada sosok yang diharapkannya itu berada di dalam kamar tersebut, Delisa menghela nafasnya kembali dan menyandarkan tubuhnya di dinding rumahnya dan merosotkan tubuhnya duduk di lantai rumahnya itu, dengan menekukkan kedua kakinya dan menelungkupkan wajahnya di lututnya tersebut.


" Ya Tuhan! Kenapa aku merasa kehilangan banget dengan kepergian Gaje dari rumahku ini, padahal baru beberapa hari saja dia berada di rumah ini dan baru beberapa jam dia meninggalkan rumah ini, Aku merasa sedih dan merasa kesepian sekali, tidak seperti biasanya,(sambil menghela nafasnya dengan panjang) padahal aku bisa melewati hari-hariku seorang diri, tapi setelah aku bertemu dengan Gaje, aku merasa kehilangan sekali di saat dia tidak ada di rumah ini."


Terdengar ketukan di pintu rumah Delisa, namun Delisa tidak menggubrisnya sama sekali karena Delisa memang tidak mendengar ketukan di pintu rumah tersebut, siapa lagi kalau bukan Ranti sang sahabat.


Ranti melihat Delisa menelungkupkan wajahnya di lututnya sambil bersandaran di dinding rumahnya, Ranti pun terkejut Dia kemudian tergesa-gesa mendekati Delisa.


" Ada apa Delisa? apa yang terjadi dengan kamu? kenapa kamu seperti ini.?"


" Kamu kehilangan apa.?"


" Gaje sudah pergi Ran? Gaje sudah menemukan ingatannya dan menemukan keluarganya, dia pergi dari rumahku dan dia juga Tidak mengenali aku lagi, aku tidak tahu kenapa aku merasa kehilangan sekali, di saat dia jauh dari rumahku, aku tidak tahu ada apa dengan diriku Ranti." Ucapnya sembari menelungkupkan kembali wajahnya dan menitikkan air matanya, Ranti pun kemudian memeluk sahabatnya tersebut.


" Mungkin ini terlihat berlebihan Ranti,tapi aku tidak tahu apa yang terjadi dengan perasaanku ini."


Ranti hanya mengusap pundak sahabatnya itu, dia tahu kalau Delisa menyukai dan jatuh cinta pada Gaje, Ranti menatap ke arah wajah Delisa.


" Kamu menyayangi dan kamu memiliki rasa pada Gaje dan kamu mencintai Gaje."

__ADS_1


Delisa pun mengela nafasnya dengan panjang dan menyandarkan kepalanya di dinding rumahnya tersebut.


" Mungkin itu yang aku rasakan, tapi aku tidak menyadarinya dengan cepat walaupun sebenarnya aku menyukainya, setelah beberapa hari dia berada di sini, aku berharap dia tidak menemukan ingatannya dan dia bersikap terus seperti itu, tapi sayangnya harapanku tinggal kenangan, dia sudah menemukan ingatannya dan mungkin dia tidak akan pernah mengingat aku lagi."


Ranti menghela nafasnya dengan panjang dan menatap sahabatnya tersebut penuh dengan rasa iba.


" Delisa...Kalau memang Gaje adalah Jodoh kamu, dia pasti akan bertemu kembali denganmu, walaupun pertemuan kalian berdua nantinya sama sekali tidak mengingatkan dia padamu, tapi aku yakin kalau Gaje jodoh kamu, kamu akan dipertemukan kembali dengannya dengan cerita yang lain."


Delisa kemudian menghapus air matanya yang masih tersisa di pipi mulusnya itu, dia kemudian menatap ke arah Ranti dan tersenyum.


" Kenapa aku jadi gila seperti ini ya, padahal aku dan Gaje baru aja kenal dalam hitungan hari, tapi kok aku sangat sedih sekali saat dia tidak akan pulang ke rumah ini lagi." ucapnya sembari tersenyum, Ranti pun tersenyum mendengar ucapan sang sahabat, dia memahami apa yang dikatakan oleh Delisa sahabat terbaiknya itu.


" Itulah namanya cinta, kita tidak bisa menebaknya, kapan cinta itu kita rasakan dan kapan cinta itu menghukum kita, walaupun kita hanya bertemu satu hari saja pandangan pertama sudah menentukan rasa cinta kita ada bersemayam di hati kita masing-masing."


Delisa menganggukkan kepalanya.


" Semoga saja aku bisa bertemu kembali dengan Gaje."


Dianggukkan oleh Ranti.


" Oh ya apa yang ingin kamu ceritakan kepadaku, saat kamu menghubungi aku tadi.?"


Ranti tersenyum dan terlihat bahagia di wajahnya, membuat Delisa merasa heran pada Ranti.

__ADS_1


__ADS_2