
12 🌹
Sesampainya dirumah sakit, mereka berdua turun dari mobil dan melangkah menuju kearah ruangan Edward, tidak berapa lama motornya Delisa pun memasuki parkir rumah sakit tersebut dan dengan tergesa-gesa Delisa menuju kerah pos Satpam rumah sakit itu, saat dia sudah dekat dengan pos satpam dia melihat seseorang yang mirip sekali dengan Abimanyu, begitu juga dengan Abimanyu ia terkejut melihat kehadiran Delisa di Rumah Sakit itu.
" Delisa..." Ucap pelan Abimanyu, mereka pun saling tatap dari kejauhan, melihat situasi seperti itu, Abimanyu pun bergegas melangkah dan Delisa terdiam dipos Satpam itu.
" Gaje!..."
" Nona! Panggil pak satpam tersebut.
Delisa tidak menghiraukan panggilan itu dia tetap menatap kearah sosok yang dianggapnya Abimanyu.
" Bukankah itu Gaje ya...Ngapain dia dirumah sakit ini?" Ucapnya langsung mengejar Abimanyu.
Delisa berteriak memanggil Abimanyu.
" Gaje! Hey Gaje! " panggilnya namun Abimanyu terus berjalan dan hilang di belokan rumah sakit yang banyak ruangannya itu.
" Kemana dia? Aku tidak salah lihat kan tadi kalau itu memang Gaje?" Ucapnya sembari menatap kekiri dan kekanan.
" Nona! " Panggil Satpam yang lain.
" Maaf pak..."
" Nona! Mana paketnya? Dari tadi paket ini ditunggu."
" Oh iya pak ini, maafkan saya ya pak." Ucapnya seraya menyerahkan paket tersebut dan meminta tanda tangan penerimanya, Delisa pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan melangkah menuju kearah roda duanya.
__ADS_1
Abimanyu menatap kearah Delisa dari balik ruangan kosong yang ada dirumah sakit itu, dan dia pun menghela nafasnya dengan panjang dan menyandarkan kepalanya kedaun pintu ruangan itu.
" Siapa dia Tuan?" Tanya Romi merasa heran.
" Dia adalah Delisa pemilik rumah yang sekarang aku tempati itu."
" Bagaimana kalau dia mengetahui Tuan tidak ada dirumahnya."
" Aku tidak akan kembali kerumahnya."
" Kenapa?"
" Kerena Aku tidak ingin penyamaran ku terbongkar."
" Baiklah Tuan, Tuan Muda tinggallah dirumah saya sementara waktu."
" Terus bagaimana dengan Nona Delisa Tuan? Apakah dibiarkan begitu saja kalau Tuan tidak pulang lagi kerumahnya?"
" Biarkan saja sementara waktu, kalau sudah saatnya tiba nanti aku akan menemuinya."
" Kenapa tidak kembali ke rumahnya." Tanya Romi.
" Tidak mungkin aku kembali ke sana karena dia sudah melihat aku disini Walaupun ia tidak terlalu jelas memperhatikan aku, tapi terlihat jelas dia mengejar aku mungkin setelah dari sini ia langsung pulang ke rumah tidak mungkin untuk aku kembali begitu cepat sebelum ia sampai ke rumah Delisa."
Romi menganggukkan kepalanya. Lalu mereka melangkah menuju kembali keruangan Edward.
" Delisa ..Maafkan aku, karena aku tidak akan kembali kerumah kamu lagi, tapi aku janji akan segera menemui kamu lagi." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Mereka berdua melangkah menuju ruangan Edward sesampainya di depan ruangan Edward Romi membuka pintu ruangan itu dan langsung mempersilahkan Tuan mudanya itu memasuki ruangan.
Terlihat Edward masih berada di banker Rumah Sakit tersebut dia tersenyum melihat sang sahabat yang sudah bisa menjenguknya itu, Edward tidak bisa duduk karena luka bakar yang dialaminya memerlukan pengobatan sangat serius.
Mereka pun kemudian berbicara satu sama lainnya namun Edward merasa ada yang aneh pada Abimanyu sang sahabat.
" Aku tahu kalau kamu itu merasa aneh denganku, Aku tidak bisa menceritakannya kepadamu yang terpenting kamu harus fokus pada kesembuhan kamu, setelah itu baru aku akan menceritakan semuanya kepadamu."
Edward menganggukkan kepalanya lalu mereka pun berbicara perihal yang lain.
***
Di jalan raya... terlihat Delisa dengan pikiran yang tidak menentu itu pun langsung saja melajukan kendaraannya menuju ke arah rumah pribadinya, Ia ingin memastikan kalau yang dilihatnya itu bukanlah Gaje, lelaki yang tinggal di rumahnya tersebut. Dengan kecepatan tinggi Delisa terus mengencangkan laju gas motor inventarisnya itu. Walaupun ia di teriaki penghuni jalan raya, Delisa tidak peduli baik terdengar suara klakson mobil dan motor serta suara ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengingatkannya dalam berkendara di jalan raya, namun tetap Delisa tidak sedikitpun menggubrisnya. Ia terus saja melajukan roda duanya itu dengan kecepatan tinggi.
" Aku harus memastikan kalau itu bukanlah Gaje. Tapi orang yang mirip saja dengannya, tapi kalau itu memang benar Gaje ia pasti akan berhenti saat ku panggil bukannya terus melangkah saja, tidak mungkin ia tidak mendengar panggilanku." gumamnya dalam hatinya motor Delisa berhenti di depan rumahnya ia memarkirkan motornya itu pun sembarang tempat karena ia bergegas turun dan berlari masuk ke dalam rumahnya sembari memanggil nama Gaje.
Delisa membuka kamar tidur Abimanyu, ia melihat tidak ada sama sekali Abimanyu di dalamnya. Ia berjalan menuju ke arah dapur dan kamar mandi, namun orang yang dicarinya itu juga tidak ada. Sosok yang dicarinya itu menghilang begitu saja. Delisa menghela nafasnya dengan panjang dan melangkah menuju ke dalam kamar Abimanyu, ia duduk di sisi ranjang besi tua itu, lagi-lagi Delisa menghela nafasnya dengan panjang dan ada nada khawatir ditarikan nafasnya tersebut. Delisa mengusap wajahnya dengan pelan ia menatap ruangan kamar tersebut dan mengusap bantal yang sering direbahi Abimanyu.
" Apakah benar itu adalah Gaje? atau jangan-jangan ia sudah mendapatkan ingatannya? Sehingga dia tidak mengenali aku lagi." Ucapnya berbicara sendiri tanpa terasa air matanya pun jatuh begitu saja, Delisa merasakan kesedihan yang teramat sangat.
" Akhirnya yang tidak aku inginkan terjadi juga ia akan pergi meninggalkanku dan tak akan pernah lagi aku bertemu dengannya, mungkin ia tidak akan pernah lagi mengenalku.... sadar Delisa (sembari memukul pelan jidatnya dengan Kedua telapak tangannya tersebut) Ini kan mau kamu untuk segera Gaje meninggalkan rumahmu, seharusnya kamu senang Gaje mendapatkan ingatannya kembali dan berkumpul dengan keluarganya, kemauan kamu kan sudah terkabul untuk segera Gaje yang menemukan ingatannya dan keluarganya." Ucapnya seorang diri sembari menelungkupkan wajahnya di bantal yang ada di atas ranjang tersebut.
" Aku akan kehilangan Gaje untuk selamanya, Aku tidak akan pernah bisa bertemu ia lagi." ucapnya di dalam tangisnya, karena dia tidak bisa menahan rasa sedihnya dan air mata yang mengalir di kedua bola matanya dan membasahi pipi mulusnya itu.
Ponsel Delisa berbunyi, namun ia tidak menggubrisnya sama sekali, ia terus saja merasakan kesedihannya itu, lagi-lagi ponselnya pun berdering namun dia tidak menjawab panggilan di ponselnya tersebut.
Beberapa saat dia terdiam dan menikmati tangisnya dan kesedihannya itu Delisa kemudian mengambil tas yang berisi ponselnya itu, Ia melihat layar ponselnya siapa memanggilnya , dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Bosnya itu, kemudian ia pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya dan keluar dari kamar tersebut serta menutup pintu kamar di mana seperti biasa Abimanyu tinggal di dalam kamar tersebut, ia melangkah dengan gontai menuju ke arah roda duanya beberapa saat kemudian motor inventaris itu pun membawanya kembali ke kantor tempat dia bekerja.
__ADS_1