Delisanya Abimanyu (Cinta & Harta)

Delisanya Abimanyu (Cinta & Harta)
Delisanya Abimanyu


__ADS_3

20🌹


Delisa yang berada dirumahnya sudah bersiap-siap hendak berangkat ketempat kerjanya, dia kemudian melajukan motor inventarisnya itu menuju ke arah jalan di mana dia pertama kali bertemu dengan Abimanyu, dia berhenti sesaat mengingat kenangan tersebut di mana Abimanyu tiba-tiba datang di hadapannya, dia tersenyum dibalik helmnya yang menutupi wajah cantiknya itu.


" Gaje.... Sudah seminggu lebih kamu tidak ada kabar beritanya, mungkin kamu memang sudah melupakan aku untuk selamanya dan kamu tidak akan pernah mengingat aku lagi, aku harus bersahabat dengan perasaanku saat ini, mungkin inilah diartikan penyesalan datang terlambat, jika seandainya saat itu aku mengutarakan kalau aku benar-benar menyukai kamu, mungkin saat ini kamu tetap akan berada di rumahku." Gumamnya sembari tersenyum, kemudian dia pun melajukan kendaraan inventaris kantornya itu menuju ke tempat kerjanya, saat di persimpangan dia berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan untuk semua kendaraan berhenti, Delisa menetap ke arah depan, dia tidak menyadari kalau di sampingnya sebuah mobil berhenti, dia tidak menyadari kalau mobil itu di dalamnya ada Abimanyu dan Romi.


Abimanyu menoleh ke arah kiri dia terkejut karena sang pujaan hati ada di samping kirinya itu.


" Delisa!" ucapnya membuat Romi pun menoleh ke arah kiri.


" Ya Tuhan! akhirnya aku bisa bertemu dengannya dan melihatnya. Walaupun dia tertutup helm seperti itu, tapi aku bisa melihat wajah cantiknya." Gumamnya pelan tapi masih didengar oleh Romi.


Romi tersenyum dia menatap ke arah luar.


" Apakah Tuan Muda ingin menemui Nona Delisa?"


" Tidak usah Romi, aku harus menemui mereka terlebih dahulu, walaupun sebenarnya kedua urusan ini sangatlah penting, antara Delisa dan pertemuan mereka itu." ucapnya sembari tetap menatap ke arah Delisa yang tidak menengok ke kiri dan ke kanan, setelah lampu menyala hijau Delisa terlebih dahulu mendahului mobil tersebut, dia terus melajukan kendaraan inventarisnya itu tanpa menghiraukan kiri dan kanan lagi, Abimanyu pun hanya bisa menatap kepergian wanita pujaan hatinya itu.


Abimanyu menghela nafas dengan panjang.

__ADS_1


" Tunggu aku Delisa, Aku akan menjemputmu dan kamu tidak akan pernah lagi pergi dariku." Gumannya di dalam hati sembari mengukir senyum di wajah.


***


Pengacara yang ditunggu oleh keluarga Prakash pun sudah datang, dia melangkah menuju ke arah masuk ke dalam rumah tersebut, di mana dia sudah ditunggu oleh keluarga itu di ruang tengah mereka berkumpul dengan senyum sembringa, setelah melihat kedatangan pengacara tersebut orang kepercayaan nomor satu di keluarga Prakash, di saat Almarhum Bapak Brata Prakash masih ada, semua apapun dipercayakan kepada pengacara tersebut.


Bapak pengacara itu pun langsung menyalami mereka semua dengan senyumannya dia pun langsung duduk diantara mereka.


" Bagaimana Pak? apakah surat-suratnya sudah bapak persiapkan? Agar kami bisa menandatangani semua aset Almarhum dari Papa saya." ucap Fakih, karena dia adalah anak tertua di antara mereka yang menganggap dirinya adalah keturunan dari Prakash yang pertama.


Bapak pengacara itu pun menganggukkan kepalanya kemudian dia berucap.


" Apakah kalian sudah mengetahui benar-benar kalau pewaris tunggal dari Bapak Prakash ini memang sudah tidak ada?"


Bapak pengacara itu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Dia kemudian membuka tasnya tersebut sambil berbicara kembali.


" Bapak Almarhum Brata Prakash tidak pernah mengatakan kepada saya, kalau seandainya terjadi apa-apa dengan pewaris tunggalnya, semua aset keluarga dari Almarhum tidak ada perintah lagi untuk diberikan kepada siapapun, tapi karena kalian adalah keluarga satu-satunya dari Bapak Prakash, makanya saya yang akan memindahkan semua hasil tersebut, agar saya terlepas dari semuanya ini, karena saya mau pindah ke kota sebelah." Ucapnya.

__ADS_1


Mereka pun hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dan saling tatap menatap. Mereka bertiga yang terdiri dari Ibu Heni, Fakih, Rehan dan Sari, sedangkan Saras tidak mau ikut dalam pertemuan itu, dia hanya berdiri di atas lantai dua rumahnya sembari menatap ke arah bawah di mana mereka sedang berkumpul.


" Sebelum saya memberikan semua aset ini kepada kalian, Ada yang ingin saya tanyakan kepada kalian."


" Soal apa, silakan Bapak tanyakan saja agar tidak terlalu berlama-lama dalam penyerahan semua aset tersebut." Ucap Fakih, dianggukka oleh mereka semua, Bapak pengacara itu menatap ke arah Fakih sesaat, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.


" Baiklah! Saya mau bertanya dengan ibu Henny, selaku istri dari Almarhum Bapak Brata Prakash, kalau seandainya Aset ini saya berikan kepada kalian semuanya, terutama ibu, dipergunakan untuk apa Ibu? Karena di dalam surat ini ada anak ibu yang masih kuliah dalam tanggungan Bapak Prakash."


" Saya akan menggunakannya dengan sebagaimana mestinya, karena anak saya Saras memang masih dalam pendidikan panjang."


Karena kata-kata itu meyakinkan Bapak pengacara, walaupun di lubuk hati Bapak pengacara tersebut dia merasa ada yang aneh diantara mereka,terlihat di wajahnya mereka sangat senang sekali dan tidak menampakan rasa kesedihan, padahal dua orang dalam keluarga itu sudah pergi terlebih dahulu mendahului mereka, Bapak pengacara itu hanya menghela nafasnya dengan dalam sembari mempersiapkan beberapa kertas berkas yang harus ditandatangani mereka, untuk penyerahan tersebut.


" Setelah menandatanganinya, nanti kalian bisa menuju ke notaris untuk menyelesaikan semuanya." ucap Bapak pengacara dianggukan oleh mereka, hati mereka berbunga-bunga karena tujuan awal mereka berada di rumah besar pak Brata hanya ingin mendapatkan harta kekayaan dari bapak Prakash tersebut.


" Akhirnya usahaku selama ini tidak sia-sia, akhirnya semua aset itu akan menjadi milikku dan milik anak-anakku." ucap Bu Henny dalam hatinya.


Saking bahagianya mereka tidak menyadari sebuah mobil memasuki halaman rumah besar tersebut, padahal security sudah diperingatkan oleh Nyonya Besarnya itu, siapapun yang memasuki rumah sebelum penyerahan aset tersebut tidak boleh diizinkan, Namun karena security tersebut mengetahui kalau Tuan mudanya itu ternyata masih ada, membuat dia pun tidak mengikuti aturan dari Nyonya Besarnya itu, dia merasa senang karena bisa melihat Tuan mudanya kembali ke rumah itu, mobil pun berhenti dengan rapi Romi memarkirkan mobil tersebut, mereka berdua pun turun dari mobil dan melangkah menuju ke arah pintu utama rumah mewah itu.


Mereka yang tidak menghiraukan siapa yang datang karena mereka asyik menatap Bapak pengacara yang mempersiapkan semua berkas yang harus ditandatangani mereka, saat Bapak pengacara itu menyodorkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Ibu Henny terdengar suara dari depan pintu.

__ADS_1


" Tidak ada yang bisa untuk menandatangani berkas itu! Karena kalian tidak berhak akan berkas itu! Sebab pemiliknya masih ada!" ucap Abimanyu sembari melangkah menuju ke arah mereka, sontak saja melihat kedatangan Abimanyu itu pun mereka berempat terkejut dan berdiri dari duduknya, seolah-olah dia melihat seseorang yang bangkit dari kuburnya dan menghantui mereka.


" Abimanyu...!" Ucap mereka berbarengan dengan wajah terkejut dan terlihat pucat, karena melihat kalau Abimanyu tidak apa-apa. sedangkan Saras yang berada di atas lantai dua itu pun tersenyum melihat keluarganya terkejut akan kedatangan sang kakak.


__ADS_2