
16 🌹
" Delisa mengirim pesan pada ku melalui Email."
" Kenapa dia mengetahui Email Tuan Muda."
" Aku juga tidak tahu, padahal Email yang masuk di notebooknya sudah aku hapus, begitu juga saat pesan ku kirim melalui emailku sendiri, sudah aku hapus semuanya. Apa mungkin tertinggal satu yang tidak terhapus? Karena aku terlalu terburu-buru saat itu."
" Terus apa yang harus saya lakukan Tuan.?"
" Tidak ada, biarkan saja."
" Apakah pesan itu tidak dibalas.?"
Abimanyu hanya menggelengkan kepalanya dan menutup kembali ponselnya serta meletakkannya di atas meja, dan dia pun mengambil minuman dingin yang sudah diberikan oleh Romi padanya itu, dia meneguk sedikit demi sedikit namun pikirannya tetap ke arah Delisa.
" Aku tidak bisa melupakan Delisa walaupun baru beberapa hari aku bertemu dengannya, namun rasanya aku sudah menemukan orang yang terbaik diantara yang terbaik." Gumamnya di dalam hati sembari meminum minuman dingin tersebut seteguk demi seteguk.
Romi yang ada di hadapannya itu hanya terdiam dia tidak tahu harus berbuat apa untuk Tuan Mudanya ini, karena dia mengetahui Tuan Mudanya ini sedang tertimpa dua masalah antara cinta dan harta, cinta terhadap seorang wanita yang baru saja dia kenal dan menyelamatkan harta peninggalan Almarhum kedua orang tuanya.
Abimanyu menghela nafasnya dengan panjang, kemudian mengambil ponselnya tersebut sembari berbicara.
" Bisakah kamu mengantarkanku ke kamar, aku ingin istirahat, Aku tidak tahu di mana kamarku untuk beristirahat dirumahmu ini." Ucapnya pada Romi.
Romi tersenyum kemudian Romi mengajak Abimanyu melangkah menuju ke arah lantai atas, sesampainya di lantai atas Romi mempersilahkan Tuan Mudanya itu memasuki kamar yang memang sudah disediakan oleh asisten rumah tangganya Romi.
__ADS_1
Romi memang belum menikah masih dalam tahap pencarian cinta sejatinya.
Abimanyu pun menganggukkan kepalanya dan memasuki kamar tersebut, kemudian Romi menutup pintu kamar yang ditempati oleh Abimanyu, Romi menghela nafas dengan panjang dan meninggalkan kamar tersebut, sedangkan Abimanyu duduk di bibir ranjang king size yang ada di dalam ruangan itu
Dia menyilangkan kedua kakinya dan bertopang dengan kedua tangannya ke belakang sembari menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamarnya itu, Abimanyu menghelan nafasnya dengan panjang.
" Delisa Aku kangen kamu, Maafkan aku Delisa, aku tidak bisa menghubungi kamu, aku juga tidak bisa berbicara langsung denganmu, Maafkan aku di saat kamu memanggilku di rumah sakit Aku tidak sedikitpun berhenti, karena kalau aku berhenti kamu pasti akan mengetahui siapa aku sebenarnya, kamu juga pasti akan marah karena aku sebenarnya tidaklah lupa ingatan, Maafkan aku Delisa, Maafkan aku.!" Ucapnya kemudian mengusap rambutnya dan meletakkan tangannya di tengkuknya menundukkan kepalanya lagi-lagi dia menghela nafasnya dengan panjang.
" Ya Tuhan, jagalah Delisa di sana suatu saat aku akan menemuinya dan aku akan jujur padanya, setelah semua urusan ini selesai, aku tidak akan membiarkannya sendirian lagi, ya Tuhan kenapa rindu ini semakin menggebu sekali bergejolak di dalam hati ini, padahal baru beberapa jam aku meninggalkannya, tapi kenapa aku terasa tersiksa sekali dengan rasa ini padanya. Apakah Ini yang namanya Cinta." Gumamnya di dalam hati, kemudian dia mengambil handuk yang ada di dalam lemari pakaian yang memang sudah disediakan oleh Romi dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dengan keringat.
Abimanyu mengguyur kepalanya dengan air dingin terasa segar. Tapi pikiran dan hatinya tetap tidak bisa merasa segar karena dia dilanda rasa rindu dan kangen kepada Delisa yang tidak bisa dia pungkiri karena dia sangat menyukai Delisa.
Abimanyu mengusap wajahnya yang diterpa air dingin tersebut. Diapun melanjutkan aktivitas mandinya
***
Saras yang duduk santai di ruang tengah seorang diri, kemudian dihampiri oleh Mimin yang membawakan segelas minuman dan cemilan ringan untuk Nona Mudanya tersebut.
saat Mimin hendak melangkah menuju ke arah dapur Saras pun memanggilnya.
" Mbak Mimin! Tunggu sebentar."
Deg! Jantung Mimin pun terasa berhenti dengan panggilan Nona Mudanya tersebut.
" Apa yang ingin dia tanyakan padaku." Gumam Mimin sembari menoleh ke arah Saras.
__ADS_1
" Iya Nona...
" Bololeh aku bertanya padamu Mbak."
" Iya Nona, apa yang ingin Nona Saras tanyakan?
" Soal kepergian Papah dan kepergian Kak Abimanyu."
" Aduh ! Aku harus jawab apa ? Aku takut nyonya besar akan tahu dan marah sama aku kalau aku bercerita, karena mereka tidak mengetahui kalau aku tahu semuanya." Dalam hatinya.
Saras menatap ke arah Mbak Mimin yang terlihat kebingungan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Dia terlihat takut sembari melihat ke kiri dan ke kanan kalau ada penghuni rumah tersebut, padahal penghuni rumah itu tidak ada sama sekali. Yang ada hanyalah asisten rumah tangga dan Sarah sendiri, karena mereka sudah pergi tidak tahu ke mana, ibu dan kakak iparnya pergi berbelanja sedangkan kedua kakak-kakak Saras ada keperluan mereka sendiri.
" Kenapa Mbak Mimin terlihat takut seperti itu, ini pasti ada yang tidak beres di rumah ini, aku harus tahu dan aku harus mengorek keterangan dari Mbak Mimin, tapi sepertinya ada yang disembunyikan oleh Mbak Mimin dari wajahnya sudah terlihat tegang seperti itu." Gumamnya.
" Mbak Mimin kamu kenapa? Aku cuma ingin bertanya, tapi aku belum mengatakan pertanyaanku padamu, terlihat wajah kamu takut seperti itu, sebenarnya ada apa Mbak? Kamu bisa cerita padaku, aku tidak akan mengatakannya kepada Mama atau pada Kakak Rehan dan kak Fakih."
" Saya tidak tahu apa-apa Nona, lebih baik Nona jangan bertanya sama saya."
Mendengar ucapan Mimin menambah rasa keingintahuan Saras tentang kedua orang yang sangat disayanginya itu, walaupun tidak ada hubungan darah sama sekali, Saras pun kemudian berdiri dari duduknya, karena Mimin sudah melangkah menuju ke arah dapur, Saras pun mengejar Mimin dan meraih tangannya.
" Mbak! Kamu nggak usah takut di rumah ini, tidak ada mama dan kakak, Mbak Mimin bisa cerita padaku ada apa sebenarnya yang terjadi?"
Lagi-lagi Mimin menengok kiri dan kanan, karena dia harus waspada kalau dia membuat kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal pada Tuan Mudanya Abimanyu.
Sebenarnya Mimin ingin sekali mengatakannya kepada Saras,Mimin tahu kalau Saras itu orangnya baik dan tidak berpihak pada mereka yang ada di rumah keluarga Prakash tersebut.
__ADS_1
Tapi dia takut untuk mengatakannya,ditambah lagi kalau diantara asisten rumah tangga yang ada di keluarga Prakash itu akan memberitahukan kepada Nyonya besarnya, kalau Mimin berbicara dengan Nona Mudanya tersebut.
" Maafkan saya Nona Sarah, Saya tidak bisa bicara tentang semuanya." Ucap Mimin pelan, namun matanya tetap tajam lirik kekiri dan ke kanan, kalau seandainya ada salah satu dari art yang kepergok mendengar ucapan dari Mimin tersebut, disaat Mimin berbicara seperti itu membuat Saras merasa yakin ada sesuatu yang tersembunyi di rumah nya itu.