
19🌹
Karena merasa tidak cukup curiga dengan Nonanya itu, Sisi tidak mengatakan ataupun melaporkan kepergian Nonanya tersebut dari rumahnya itu. Yang Sisi tahu saat dia keluar pasti menuju ke makam Almarhum Tuan Besarnya tersebut.
Taksi yang itu pun berhenti di perempatan jalan, Dia kemudian membayar taksi tersebut beberapa, saat kemudian mobil Romi pun menghampirinya, Saras kemudian masuk ke dalam mobil Romi, kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah rumah pribadinya.
" Ada apa kamu mengajak aku bertemu?"
" Maaf Nona Saras, saya terlalu lancang menyuruh Nona untuk keluar dari rumah itu, karena ada seseorang yang sangat penting ingin bertemu dengan Nona."
" Siapa itu?"
" Nanti Nona juga akan tahu."
Mereka berdua pun diam, tidak ada suara sama sekali di dalam mobil tersebut, mobil terus melaju di jalan tanpa hambatan menuju ke arah rumah Romi.
Saras memang mengenal Romi, Saras juga tahu tentang Romi orang kepercayaan Almarhum Papa Tirinya itu, di benak Saras bertanya-tanya.
" Sebenarnya ada apa ini, kenapa Romi membawa aku bertemu dengan seseorang, sampai sekarang pun aku tidak bisa memecahkan misteri di rumahku sendiri, sampai aku ingin berbicara dengan asisten rumah tangga ku pun tidak memiliki keleluasaan dalam bertemu, ada saja sesuatu yang menghalanginya, sampai kapan aku bisa mengetahuinya ? Kalau caranya seperti ini? beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Mereka pun memasuki rumah pribadi Romi, mereka berdua turun dari mobil tersebut. Setelah keadaan aman dan memang benar-benar tidak ada yang mengikuti mereka, sejak pertama kali diikuti oleh Rehan saudara Tirinya Abimanyu, Romi pun bisa mengecoh Rehan dengan akalnya, sejak saat itu Rehan ataupun yang lainnya tidak mengikuti lagi Romi, mereka berdua menuju ke arah pintu utama rumah tersebut, namun sebelum Romi mempersilahkan Nona mudanya itu masuk, Saras berhenti di pintu itu.
" Kenapa kamu mengajak aku ke sebuah rumah yang tidak kukenal ini ?"
" Maaf Nona Muda, ini adalah rumah pribadi saya."
" Buat apa kamu membawa Aku ke sini?"
" Nona Saras jangan salah paham dulu pada saya, karena orang yang mau bertemu dengan Nona itu ada di dalam."
" Aku tidak mau masuk ke dalam."
" Saya mohon Nona, masuklah.... Karena ini sangat penting."
Saras menghela napasnya dengan panjang. Akhirnya dia pun melangkah masuk ke dalam, Romi pun kemudian langsung menutup pintu tersebut, Saras menatap ke arah Romi.
__ADS_1
" Orang yang ingin bertemu dengan Nona itu ada duduk di sana."
Karena posisi Abimanyu membelakangi duduk, Saras kemudian melangkah mengikuti Romi.
" Tuan Muda, Nona muda sudah datang." Ucap Romi.
" Tuan Muda?" Gumam Saras, Abimanyu pun kemudian berdiri dan menghadap Saras, Saras terkejut antara percaya dan tidak di hadapannya ada seorang laki-laki yang memang sangat dirindukannya, siapa lagi kalau bukan kakaknya Abimanyu.
" Ya Tuhan... Kak Abi..?" Ucapnya.
Abimanyu menganggukkan kepalanya tersenyum, dia pun langsung merentangkan tangannya, Saras tidak kuasa menahan rasa senangnya itu dia pun langsung memeluk sang kakak dan dia menangis dipelukan kakaknya itu. Walaupun Abimanyu hanyalah kakak tirinya, tapi kasih sayang yang diberikan Abimanyu padanya melebihi kasih sayang seorang kakak kandungnya.
Abimanyu pun mengusap kepala sang adik, Dia kemudian melepaskan pelukan adiknya itu, dia menatap sang adiknya dengan air mata yang masih mengalir di kedua pipi cantik adiknya itu, dia mengusap air mata tersebut sembari menggelengkan kepalanya, menandakan kepada Saras agar tidak menangis lagi.
Abimanyu pun mengajak Saras duduk di sofa.
" Aku tidak percaya kalau di hadapanku ini adalah Kak Abi, ternyata kak Abi masih hidup, kenapa Mama dan Kakak yang ada di rumah mengatakan kalau kakak sudah tiada."
" Ceritanya panjang Dek."
" Ceritakan kepadaku kak, Aku ingin tahu."
" Tapi setelah Kakak cerita kepadamu, Kakak harap kamu tidak membenci mama dan yang lainnya."
" Itu tergantung Kak, kalau sifat mereka terlalu jahat, mungkin kata maaf bagiku belum keluar untuk mereka, tapi kalau perbuatan mereka masih bisa dimaafkan, aku pun bisa memaafkannya."
Abimanyu menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia pun menceritakan semua kejadiannya sampai selesai, Saras mendengarkannya, tidak ada satu kata pun yang terlewatkan dari ucapan Abimanyu, semua sudah direkam di otaknya dia mendengarkan semua cerita Abimanyu tersebut.
" Astaga! Kenapa Mama dan Kakak yang lain berbuat jahat kepada kak Abi? Hanya demi harta."
" Besok pengacara Almarhum Papa datang untuk menyerahkan dan menandatangani semuanya, yang seharusnya milik kakak akan dipindahkan kepada Mama kamu, dan Kakak harap kamu besok tidak terkejut, makanya Kakak minta tolong sama Romi untuk menjemput kamu ke sini, kalau kamu sudah mengetahui semuanya, Kakak harap kamu jangan gegabah untuk menghakimi mereka, karena ada yang lebih penting lagi selain itu, kakak ingin menyelamatkan aset berharga milik papa."
Saras menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Tapi mereka perlu mempertanggungjawabkan semuanya kak."
" Tidak perlu dek, kakak harus mencari bukti nyata dulu yang konkret untuk mengantarkan mereka ke hotel prodeo gratis."
Saras menganggukan kepalanya.
" Hemmm...Rasanya Saras tidak ingin pulang ke rumah itu, Karena Saras merasa malu terhadap kak Abi, mereka tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah mereka dapatkan dari Almarhum Papa, mereka sudah menjahati papa dan Kak Abi."
Lagi-lagi Abimanyu menghela nafasnya dengan panjang, dia kemudian menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa.
" Itulah namanya seseorang yang tidak pernah puas dengan apa yang didapatnya."
" Iya Kak, kak Abi, Saras pribadi memohon maaf atas perbuatan kakak dan mama Saras pada keluarga Kak Abi."
" Kamu jangan berbicara seperti itu, Kamu adalah keluarga kakak, kakak tidak membedakan kamu, mama dan yang lainnya, mereka semua sudah Kakak anggap sebagai Keluarga kakak."
" Tapi mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kak."
" Kalau memang mereka terbukti dengan kejahatannya besok, Kakak akan datang ke rumah dan muncul di hadapan mereka, kalau kakak baik-baik saja dan kakak juga tidak ingin aset semua milik Almarhum Papah berpindah tangan, Kakak minta denganmu jangan emosi."
Saras menganggukkan kepalanya, Abimanyu pun mengusap kepala sang adik, Saras pun merenbahkan kepalanya di pundak kakaknya tersebut, karena dia merasa bersyukur masih bisa bertemu dengan kakaknya itu, Saras menghela nafasnya dengan panjang, sembari berucap.
" Pantas saja Mbak Mimin tidak mau bicara denganku, ternyata Mbak Mimin sudah mengetahui semuanya. Tapi sayangnya Mbak Sisi selalu menghalangi aku ingin bertemu dengan Mbak Mimin, pun menjaga jarak padaku,
" Itu karena Sisi adalah orang yang dipercaya oleh Mamah mu menjadi mata-mata di rumah itu."
" Iya kak..."
" Saat kamu pergi dari rumah, apakah Sisi curiga?"
" Sepertinya tidak, karena setiap hari aku keluar dari rumah pasti menghabiskan waktuku di makam papa, saat Mamah bilang kalau kk udah tiada di situlah aku mulai curiga ada sesuatu yang janggal di rumah kita." ucapnya.
Mereka kemudian terdiam, asisten rumah tangga Romi membawakan minuman untuk mereka dan mereka pun menikmati minuman dan cemilan yang dibawakan oleh asisten rumah tangga tersebut.
__ADS_1