Demi Yumna

Demi Yumna
Informasi Penting


__ADS_3

Naya menatap Yumna yang akhirnya tertidur di pangkuannya, dengan perlahan dan penuh kasih sayang, sesekali dia mengelus rambut sang putri lalu menciuminya.


Sementara Kevin juga duduk memperhatikan keduanya, dia merasa lega karena akhirnya Yumna bisa kembali tenang bahkan kini tertidur dengan lelapnya.


"Mungkinkah karena mimpi buruk?" Kevin melihat Naya.


"Mungkin saja," jawabnya pelan masih sambil menatap putrinya.


Tiba-tiba Naya teringat sesuatu.


"Apa mereka tahu kamu membawanya keluar rumah?"


"Tidak ada yang tahu. Semua orang sudah tidur. Hanya satpam saja."


Naya terlihat lega. Namun kemudian dia melihat jam dinding.


"Sudah pukul satu. Sebaiknya kamu membawanya pulang sekarang."


"Nanti saja, aku takut dia bangun dan menangis lagi. Sekarang sebaiknya bawa dia tidur di kamar bersamamu. Subuh nanti baru aku akan mengajaknya pulang."


"Baiklah," jawab Naya setelah terdiam sejenak berpikir jika apa yang dikatakan Kevin benar. Bisa saja putrinya ini kembali bangun dan menangis lagi mencarinya.


Naya lalu membawa Yumna ke dalam kamarnya, menidurkannya perlahan di atas kasur lalu menyelimutinya.


Sejenak dia kembali menatap wajah Yumna, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa putrinya menangis seperti tadi karena baru kali ini dia melihat Yumna menangis seperti ada sesuatu yang ditakutinya.


Naya kemudian kembali ke luar kamar dengan membawa selimut untuk Kevin.


Kevin tampak terduduk lesu sambil memainkan ponselnya, wajahnya tampak sangat letih dengan mata kantuk namun ditahannya.


"Tidurlah. Kamu pasti lelah." Naya memberikan selimut untuknya.


Kevin mengambil selimut itu sambil menyimpan ponselnya.


"Aku lapar," ucapnya tiba-tiba menghentikan langkah Naya yang akan memasuki kamar.


Beberapa saat kemudian.


Kevin duduk di meja makan sambil melihat Naya memasak mie instan untuknya. Sesekali dia mengulum senyumnya sambil terus memperhatikan Naya di depannya.


"Maaf. Hanya ada mie instan." Naya menyodorkan semangkuk mie yang sudah matang.


"Tidak apa-apa." Kevin mengambil mangkuk mie di depannya.


"Kamu tidak makan?" tanyanya heran melihat Naya yang hendak pergi meninggalkan dapur.


"Tidak. Aku sudah makan tadi."


"Duduklah. Temani aku makan." Kevin melihat Naya penuh harap.


Naya tertegun sejenak lalu mengurungkan niatnya untuk pergi, dia duduk di depan Kevin sambil memegang gelas berisi susu hangat untuknya.


Kevin tersenyum senang kemudian mulai menyantap makanannya.


Sementara Naya tampak termenung sambil melihat gelas di depannya.


"Aku mulai memikirkan idemu untuk mempertahankan Yumna," ucap Naya pelan dengan pandangan kosong.


Kevin kaget. Langsung melihat Naya.


"Apakah kita bisa melakukanya?" tanya Naya kali ini sambil melihat Kevin.


Kevin tak segera menjawab, dia hanya langsung mengambil gelas untuk minum kemudian mengelap mulutnya dengan tisu.

__ADS_1


"Bisa. Jika kamu punya bukti kalau wanita itu yang meninggalkan Yumna."


Naya tak menjawab, dia hanya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, terlihat sangat bingung.


Kevin menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dia sangat mengerti akan apa yang sedang dirasakan oleh istrinya, melihat Yumna menangis seperti tadi sambil terus mengiba untuk bisa kembali tinggal dengan dirinya pasti membuat Naya merasa sedih.


"Bersabarlah dulu, aku sedang melakukan sesuatu agar kamu bisa tetap bersama Yumna."


Naya langsung membuka tangannya, melihat Kevin dengan penasaran.


"Apa yang akan kamu lakukan?"


Kevin tak menjawab.


Jam 5 subuh.


Kevin yang masih dalam keadaan mengantuk menggendong Yumna yang masih tertidur dengan lelap, berjalan menuju pintu dengan diikuti oleh Naya.


"Aku pergi dulu," ucap Kevin melirik Naya sambil memegang handle pintu.


Naya hanya mengangguk sambil menatap putrinya sendu, entah mengapa kali ini dia merasa berat untuk melepas sang putri kembali ke rumah itu.


Kevin sepertinya mengerti akan arti tatapan Naya pada Yumna. Tatapan seorang ibu yang enggan melepas putrinya untuk pergi.


"Nanti siang aku akan membawanya kesini lagi."


***


Kevin datang tepat waktu, sesaat sebelum orang-orang bangun, Yumna sudah kembali ke kamarnya, tidak ada yang tahu selain satpam yang sudah diwanti-wanti agar tidak memberitahu siapapun jika semalam dia pergi membawa Yumna keluar.


Kevin segera kembali ke kamarnya, karena ini akhir pekan, dia memilih untuk tidur kembali karena tadi malam dia tidur hanya sebentar.


Yumna bangun dengan celingukan, mendapati dirinya sudah ada di dalam kamarnya lagi membuatnya kecewa, dia sedih karena kembali berpisah dari bundanya.


Tak lama Kayla datang, membuat anak kecil itu langsung menunjukkan ekspresi wajah ketakutan.


Yumna hanya mengangguk pelan sambil berjalan menuju kamar mandi untuk mandi.


"Mandinya yang cepat ya, mama tunggu disini, kakek dan nenek sudah menunggu untuk sarapan." Kayla tersenyum melihat putrinya.


Yumna hanya melirik sang ibu masih dengan ekspresi takutnya.


Beberapa saat kemudian.


"Jadi akhir pekan ini kita mau kemana?" tanya Yanti melihat suaminya selagi mereka bercengkrama bersama di ruang keluarga.


"Aku ingin mengajak Yumna jalan-jalan. Boleh tidak?" Kayla memegang putrinya.


"Tentu saja boleh. Tapi jalan-jalan kemana?"tanya Yanti.


"Sayang. Kamu mau kemana? Ke mall? Kebun binatang atau ke wahana permainan." Kayla melihat putrinya.


"Dia akan pergi bersamaku hari ini," ucap Kevin yang tiba-tiba datang menghampiri mereka semua.


"Kita sudah ada janji, iya kan sayang?" Kevin tersenyum melihat putrinya.


Yumna langsung mengangguk dengan cepat sambil menghampiri ayahnya.


"Kalian memangnya mau kemana? Boleh aku ikut?" Kayla melihat Kevin.


"Aku juga mau ikut." Semuanya dikagetkan oleh kedatangan Claudia yang tiba-tiba


"Wah ide bagus jika kalian pergi jalan-jalan bersama, Yumna bisa semakin akrab dengan kalian." Yanti tersenyum senang.

__ADS_1


Kevin hanya bisa mendesah kesal, begitu juga dengan Yumna yang bersedih karena tahu tak bisa menemui bundanya.


Di perjalanan.


Suasana hening di dalam mobil, tak ada celotehan lucu Yumna seperti biasanya. Dia hanya terus duduk terdiam sambil sesekali melirik takut Kayla di sampingnya.


Sementara itu, Claudia yang duduk di samping Kevin yang sedang menyetir tampak terus berusaha mendekati Yumna, bertanya banyak hal berharap jika Yumna akan menyukainya.


Sayangnya Yumna sama sekali tak merespon sikap sok akrab Claudia, hanya menjawab dengan jawaban singkat atau anggukan saja. Hal itu sudah tentu membuat Kayla sang ibu merasa senang.


Akhirnya mereka sampai di sebuah mall, Yumna terus memegang tangan ayahnya, sementara Kayla dan Claudia mengikuti di belakang mereka.


Sesampainya di arena permainan, mereka lalu mengajak Yumna untuk bermain, akan tetapi Yumna menolak dan hanya memegang tangan ayahnya saja dengan erat.


"Ayo sayang sama mama, kita main mandi bola." Kayla menarik tangan putrinya.


Yumna menggelengkan kepalanya sembari mempererat genggaman tangannya pada sang ayah.


"Kalau gitu sama Tante, mau kan sayang?" Claudia gantian membujuknya.


Yumna tetap tidak mau, dan malah semakin memeluk ayahnya erat.


Kevin yang sebenarnya tahu jika Yumna hanya ingin bertemu dengan bundanya kemudian menggendong sang putri lalu mengajaknya bermain hanya berdua saja.


"Ayah. Yumna mau ketemu bunda."


"Iya sayang. Ayah tahu. Setelah ini kita kerumah bunda ya."


Sementara Kayla dan Claudia duduk berdua memperhatikan Yumna yang sedang bermain berdua bersama Kevin.


"Bagaimana? Apa kamu sudah berbicara dengan kakakmu?" tanya Kayla dengan sinis.


Claudia melihat Kayla.


"Oh iya. Aku sudah memikirkannya. Bagaimana kalau kita berdamai."


Kayla mengerutkan kening.


"Berdamai?"


"Iya. Setelah aku pikir-pikir tak ada gunanya kita bermusuhan. Sebaiknya kita bekerja sama agar tetap bisa masuk dan diterima oleh keluarga Cahyo."


"Aku akan menjaga semua rahasiamu. Kamu juga akan membantu aku untuk segera menikah dengan Kevin." Claudia menawarkan sebuah kesepakatan.


"Aku tidak mau," jawab Kayla dengan cepat.


"Kenapa?" Claudia kaget.


"Aku tak bisa membuatmu menikah dengan Kevin, karena aku juga mengincarnya." Kayla tersenyum.


Claudia tersentak.


"Setelah aku pikir-pikir, Yumna sudah terlanjur menganggap Kevin sebagai ayahnya, bagaimana jika aku jadikan saja dia ayah yang sebenarnya."


"Aku yakin jika kita bertiga akan hidup bahagia." Kayla tersenyum-senyum sendiri sambil melihat Kevin dan Yumna yang sedang bermain.


Sementara itu.


Kevin yang sedang mengajak Yumna bermain mendapatkan panggilan telepon. Dengan antuasias dia segera mengangkatnya.


"Aku harap kalian sudah mendapatkan informasi yang aku tunggu-tunggu," ucapnya pada detektif di ujung telepon.


"Siap bos. Kami sudah mendapatkan informasi mengenai wanita itu."

__ADS_1


Kevin tampak mendengarkan dengan seksama.


Sesaat kemudian dia langsung melihat Kayla dan Claudia dengan geram.


__ADS_2