
Indra menatap sinis Kayla yang berdiri di hadapannya.
"Kamu harus menolongku. Aku tidak mau mendekam di dalam penjara."
Indra memijat keningnya.
"Kenapa harus mendatangiku? Kenapa tidak meminta tolong pada orang lain saja?" katanya sambil kembali melihat Kayla dengan kesal.
"Karena orang lain tak akan ada yang mau menolongku." Kayla berjalan mendekati Indra.
"Kalau kamu. Aku yakin jika kamu akan dengan senang hati menolongku." Kayla duduk di meja di hadapan Indra, dengan wajahnya yang berusaha menggoda, dia membelai wajah mantan suaminya.
Indra dengan segera menepisnya.
"Kenapa kamu berpikir jika aku akan menolongmu?" Indra berdiri dengan frustasi menjauhi Kayla.
Kayla tersenyum.
"Karena kalau aku masuk penjara, aku tidak mau masuk sendirian." Kayla ikut berdiri mendekati Indra yang membelakanginya.
"Kamu mengancamku?" tanya Indra menoleh melihat Kayla.
"Anggap saja seperti itu sayang." Kayla tersenyum licik sambil kembali mencoba membelai pipi Indra.
Indra memegang tangan mantan istrinya dengan keras.
"Aku tidak akan lagi mau berurusan denganmu. Aku tidak peduli dengan ancamanmu." Indra memelototi Kayla.
Kayla meringis kesakitan. Berusaha melepaskan tangannya.
"Benarkah? Kamu tak peduli jika kamu masuk penjara?" Akhirnya tangannya terlepas, Kayla melihat Indra dengan marah.
Indra tak menjawab, dia hanya terus melihat mantan istrinya dengan penuh kebencian.
"Baiklah. Aku akan memberikan bukti keterlibatanmu pada Kevin dan polisi." Kayla mengambil ponselnya
"Pembunuhan berencana. Bukankah hukuman terberatnya adalah hukuman mati?" Kayla melirik Indra sambil tersenyum.
Indra segera menghampirinya.
"Aku menghabisi nyawa Danendra itu karena hasutanmu!" Indra kembali menarik lengan Kayla kasar.
Kayla tersenyum.
"Kevin dan polisi tidak mau tahu hal itu, yang mereka akan tahu adalah jika kamu ternyata dalang di balik kematian Danendra."
Indra memelototinya, rahangnya mengeras menahan amarah. Dia melepaskan tangan Kayla sambil mendorongnya.
Indra memegang kepalanya frustasi.
Kayla hanya tersenyum puas melihat mantan suaminya yang sebenarnya ketakutan.
"Apa yang harus kulakukan." Indra kembali melihat Kayla.
__ADS_1
"Terserah. Yang terpenting aku tidak masuk penjara."
Indra menarik napas dalam-dalam.
***
Naya membuka baju putrinya dengan hati-hati. Napasnya tertahan ketika dia kembali lagi melihat luka memar di sekujur tubuh sang putri. Dengan menahan kesedihan juga kemarahannya pada Kayla, Naya lalu mengelap seluruh badan Yumna menggunakan handuk hangat dengan perlahan, tak ingin sang putri merasakan kesakitan.
Setiap mengelap bagian tubuh yang terdapat luka memar yang masih membiru, hati Naya seakan teriris sembilu, matanya berkaca-kaca tapi ia terus berusaha untuk menahannya, melihatnya menangis hanya akan membuat putrinya sedih saja.
Naya kembali memakaikannya Yumna baju, dengan senyum yang dipaksakan, dia meminta Yumna untuk kembali bermain dengan pensil warna dan buku gambar kesukaannya.
"Bunda. Kemana ayah? Kenapa hari ini ayah tidak kesini?"
"Ayahmu sepertinya lagi sibuk sayang. Tapi sebentar lagi ayah pasti akan datang," jawab Naya sambil memasukkan baju kotor ke dalam kantong.
"Bunda. Kapan kita pulang?"
"Besok pagi ya sayang."
"Bunda. Aku sudah tidak sabar tingga serumah lagi sama bunda."
Naya menghampiri sang putri lalu duduk disampingnya.
"Sayang. Untuk sementara jika kita pulang nanti, tidak apa-apa kan kita tinggal di rumah kecil dulu, hanya untuk beberapa hari, setelah kita mendapatkan rumah yang cocok, kita akan pindah."
"Tidak apa-apa bunda. Asalkan ada bunda, aku mau kok tinggal di rumah yang kecil."
Naya tersenyum haru.
Yumna kembali asyik menggambar, sedangkan Naya tampak termenung memikirkan sesuatu.
Dia melihat jam dinding, hari sudah mau malam tapi Kevin sedari pagi belum juga datang kesini.
Dia tahu jika Kevin sibuk dan harus mengurusi banyak hal, selain perusahaan keluarga mereka, lelaki yang menjadi suaminya itu juga kini pasti sibuk mengurusi laporan polisi mengenai penganiayaan Kayla pada putrinya.
Naya lalu merasa penasaran akan perkembangan kasus itu, dia ingin tahu apakah Kayla sudah ditangkap oleh polisi atau belum.
Pukul 21.30
Naya masih sibuk berkemas karena besok pagi putrinya sudah diperbolehkan untuk pulang. Keduanya sangat antusias walaupun sebenarnya dia merasa sedih karena untuk sementara mereka harus tinggal di kost-kostan yang kecil. Dia langsung melirik sang putri yang tertidur, sedikit merasa bersalah karena Yumna kembali harus merasakan hidup sederhana bersamanya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Naya melihat Kevin masuk ke dalam sambil memegang jasnya berjalan dengan lunglai.
"Maaf baru bisa kesini. Hari ini aku sibuk sekali." Kevin terlihat sangat letih.
"Tidak apa-apa."
"Apa Yumna sudah tidur?"
"Iya."
Kevin berjalan menghampiri putrinya. Menciumnya dengan pelan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?"
"Sudah lebih baik. Besok sudah boleh pulang," jawab Naya masih sibuk mengemasi pakaiannya.
Kevin lalu berjalan menuju sofa. Duduk disana sambil mengendurkan dasinya.
Naya yang sudah selesai dengan barang-barangnya melihat sang suami yang tampak sangat lelah. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sambil menghela napas panjang.
Dia lalu berinisiatif membawakan air minum untuknya.
Naya membawakan segelas air mendekati Kevin lalu menyimpannya di atas meja kemudian dia duduk di sampingnya.
Kevin tak melihat gelas yang dibawakan Naya, dia hanya menoleh melihat istrinya yang duduk di sampingnya.
Tanpa di duga, Naya juga ikut bersandar seperti dirinya sambil menghela napas panjang.
Kevin mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
"Tidak ada." Naya menjawab sambil melihat plafon di atasnya.
"Katakanlah."
Naya tiba-tiba menoleh melihat Kevin disampingnya.
"Aku ingin bertanya banyak hal padamu. Tapi aku tahu jika kamu pasti lelah."
Kevin langsung membenarkan posisi duduknya. Dia duduk dengan tegap sambil melihat istrinya.
"Aku tidak lelah. Katakanlah apa yang ingin kamu tanyakan," ucapnya dengan antusias.
Naya juga kembali duduk dengan tegap, sambil melihat Kevin di sampingnya.
"Apa Kayla sudah ditangkap polisi?"
Kevin terlihat sedikit kecewa, dia pikir Naya akan menanyakan perihal keseriusan pernyataan cintanya yang kemarin.
Kevin kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Belum," jawabnya ketus.
"Kenapa? Kenapa polisi tidak mencarinya?"
"Polisi belum menemukannya."
Naya langsung kecewa.
"Kira-kira menurutmu dia bersembunyi dimana?" Naya melihat Kevin.
"Mana aku tahu. Kenapa bertanya padaku" jawab Kevin sewot, membuat Naya kaget hingga mengernyit heran.
"Kenapa kamu menjadi kesal?"
__ADS_1
Kevin kembali membenarkan posisi duduknya, menatap wajah Naya lalu akan memegang tangannya, tapi kali ini Naya bergerak cepat dengan menyembunyikan tangannya ke belakang.
"Hentikan kebiasaanmu memegang tanganku seperti itu."