Demi Yumna

Demi Yumna
Menculik Yumna


__ADS_3

Kayla tercengang.


"Kamu tak bisa melakukan ini padaku," ucapnya sambil menggelengkan kepala.


"Aku sudah lama ingin melakukan ini padamu," jawab Indra pelan namun tajam penuh amarah.


Dia kembali menyeret tubuh Kayla hingga sampai di teras rumah, disana Indra mendorong tubuh istrinya hingga Kayla jatuh terhuyung ke belakang.


Indra dengan cepat kembali masuk ke dalam dan dia kembali lagi keluar dengan sambil membawa tas Kayla lalu melemparkan ke arah wajahnya.


"Pergilah dari sini. Aku sudah muak melihatmu!"


Kayla buru-buru berdiri. Menghambur memegang tangan suaminya.


"Aku sudah memikirkan cara lain cara untuk mendapatkan harta keluarga Cahyo." Kayla mencoba untuk merayu.


"Aku sudah tak menginginkan apapun lagi sekarang, apalagi harta keluarga itu. Yang aku inginkan adalah kamu segera enyah dari hadapanku sekarang juga!"


"Kenapa kamu seperti ini?" Kayla memegang tangan suaminya, penuh harap meminta dikasihani.


"Kesalahan besar aku telah sangat mencintaimu, melakukan apapun untukmu termasuk itu menghilangkan nyawa seseorang. Padahal kamu adalah wanita yang tak pantas mendapatkan itu semua. Kamu wanita licik yang hanya memikirkan harta saja. Kamu tahu, aku menyesal pernah menikah denganmu, dan sekarang aku tak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya."


"Pergilah dari sini dan cari lelaki lain yang bisa kamu perdayai lagi. Oh iya, mobil dan semua barang-barangmu termasuk perhiasan, itu semua aku yang membelikan, aku akan mengambilnya kembali darimu!"


"Tidak. Jangan lakukan itu." Kayla terhenyak.


"Tentu saja aku bisa melakukan apapun sekarang." Indra menatap tajam Kayla lalu memutar tubuhnya cepat kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya.


Kayla menghambur ke arah pintu yang terkunci dari dalam. Dia menggedor-gedor pintu sambil berteriak minta dibukakan.


"Paling tidak berikan semua barang-barang milikku, kunci mobilku juga!" Kayla terkulai lemas di depan pintu, dia putus asa, tanpa semua barang-barang miliknya kini dia tak bisa melakukan apapun bahkan untuk uang saja dia tak punya. Indra juga pasti sudah bergerak cepat memblokir semua kartu miliknya.


***


"Kenapa ayah melakukan semua ini?"


"Melakukan apa nak?"


"Memberikan semua harta ayah padaku?"


"Memangnya kenapa? Kamu putra ayah. Kamu berhak mendapatkan semua harta milik ayah."


"Tapi ayah..." Kevin tak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Aku tak berhak mendapatkan itu semuanya ayah."


"Apa karena kamu bukan anak ayah?"


Kevin mengangguk. Tanpa diduga Cahyo yang duduk berdiri menghampiri putranya.


"Kamu putra ayah nak. Apapun kenyataan yang sebenarnya, kamu tetaplah putra kebanggaan ayah dan ibumu." Cahyo menepuk-nepuk pundak sang putra.

__ADS_1


Kevin langsung memeluk ayahnya, menangis terharu di pelukannya.


Tak jauh dari sana, Yanti juga menitikkan air mata melihat pemandangan itu, suaminya benar, biarpun Kevin bukan anak kandung mereka namun bagi Keduanya Kevin sudah mereka anggap seperti anak mereka sendiri.


"Ayah dan ibu hanya minta satu permintaan kepada kalian." Cahyo dan Yanti melihat Kevin dan Naya bergantian.


"Iya ayah. Katakan apa yang ayah inginkan."


"Ayah ingin kalian pindah lagi kesini. Ayah ingin menghabiskan hari tua ayah bersama cucu-cucu ayah."


Kevin langsung melihat istrinya.


"Ayah. Yang terpenting bagi kami adalah kenyamanan Yumna dan aku lihat kemarin Yumna sudah mau tinggal disini lagi, jadi tentu saja kami juga bersedia kembali pindah kesini." Naya melihat mertuanya.


"Benarkah itu nak. Ibu senang sekali mendengarnya."


"Iya ibu, secepatnya kami akan pindah. Kami tahu jika kalian sudah sangat merindukan kehadiran Yumna di rumah ini."


"Iya. Bukan hanya Yumna. Cepat berikan kami cucu yang lain lagi. Ibu sudah tak sabar menggendong bayi."


Kevin dan Naya hanya tersenyum.


***


"Pergilah. Kakakku pasti akan marah tahu aku memasukkanmu ke apartemenku." Claudia mendengus kesal melihat kedatangan Kayla.


"Aku tidak tahu harus kemana lagi." Kayla menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Kayla membisu. Dia terdiam karena tak sepenuhnya mendengarkan ocehan Claudia. Dia sedang sibuk memikirkan sesuatu.


"Apalagi kini setelah tahu jika Kevin menjadi pewaris seluruh kekayaan ayahnya. Aku menjadi semakin membencimu," ucap Claudia lagi dengan kesal.


"Jangan terlalu membenciku. Nanti kamu akan menyesal." Kayla melirik Claudia tersenyum.


"Sekarang aku memang tidak mempunyai apa-apa, tapi tunggu saja, sebentar lagi kakakmu akan menyesali semua perbuatannya padaku."


Claudia tertawa.


"Kamu pasti merencanakan sesuatu yang buruk. Apa yang akan kamu lakukan? Menculik Yumna? Lalu meminta tebusan?" Claudia tergelak.


"Kamu benar. Tapi lebih tepatnya bukan menculik. Mana ada seorang ibu menculik anak kandungnya sendiri."


Claudia tertegun. Kayla benar, dia tak bisa dilaporkan kepada polisi jika dia mengambil paksa Yumna dari tangan mereka.


"Bagaimana caramu melakukannya."Claudia mulai tertarik.


Giliran Kayla yang kini tergelak.


"Mudah saja. Aku sudah mempunyai cara untuk mengambil Yumna, setelah itu aku akan meminta sejumlah uang, aku yakin jika keluarga itu tak akan segan-segan mengeluarkan banyak uang hanya agar Yumna kembali pada mereka."


"Tapi aku butuh bantuanmu." Kayla melirik Claudia.

__ADS_1


"Apa?"


"Pinjamkan aku sejumlah uang. Kakakmu sudah memblokir semua kartu-kartuku. Tenang saja. Aku akan membayarnya berkali-kali lipat."


Claudia tak lekas menyahut, dia tampak sibuk berpikir.


"Baiklah. Tapi kalau rencanamu gagal, jangan pernah bawa-bawa aku, jangan pernah menyebut namaku."


"Kamu tenang saja. Lagi pula tak akan gagal." Kayla berdiri.


"Berikan uangnya sekarang juga." Kayla menyebutkan nominal uang yang ingin dia pinjam.


Claudia berdiri. Berjalan menuju kamarnya. Tak berapa lama dia melemparkan segepok uang pada Kayla.


"Ingat janjimu. Aku ingin uang itu kembali padaku berkali-kali lipat."


"Kamu tahu sebenarnya kita ini cocok. Sama-sama licik." Kayla tertawa sambil berjalan menuju pintu.


***


Kevin tersentak ketika guru memberitahu jika Yumna sudah pulang.


"Kami pikir jika wanita itu suruhan kalian karena dia membawa kartu orang tua."


"Apa!? Wanita? Seperti apa ciri-cirinya?"


Kevin mendengarkan dengan seksama ketika guru itu memberitahu secara detail wanita yang tadi menjemput Yumna.


"Sial. Itu Kayla." Kevin kemudian bergegas pergi dari sana."


"Pasti ada orang dalam yang membantu wanita itu mempunyai kartu orang tua. Kalian harus mencari orang itu," ucap Kevin mengerem kakinya sambil melihat kedua guru itu lagi.


Kedua guru hanya mengangguk panik.


Sementara itu. Sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Kevin mencoba untuk terus menghubungi Kayla.


"Sial. Kenapa dia tak mengangkatnya. Apa mau wanita itu?"


Dia lalu menghubungi para detektif kepercayaannya, meminta mencari tahu keberadaan Kayla karena memang selama ini mereka ditugaskan untuk terus mengawasinya.


Kevin panik. Dia bingung, haruskah memberi tahu Naya dan kedua orangtuanya perihal Yumna yang kini ada di tangan Kayla.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Kayla tertera di layar ponsel. Kevin dengan cepat mengangkatnya.


"Dimana kamu? Apa yang kamu inginkan?"


"Apalagi kalau bukan uang." Kayla tertawa di ujung telepon.


"Katakan! Berapa yang kamu inginkan?"


Kayla tidak menjawab, hanya terdengar suara Yumna yang merintih memanggil sang ayah.

__ADS_1


"Ayah..."


__ADS_2