Demi Yumna

Demi Yumna
Peristirahatan Terakhir


__ADS_3

Semuanya terdiam. Tersentuh akan permintaan Yumna pada sang ayah.


Cahyo termenung dengan mata terpejam, di hatinya memang ada luka besar tertanam, rasa sakitnya terus mekar menghujam, kehilangan sang putra telah membuat separuh jiwanya melayang.


Dia geram, seperti Kevin putranya, ingin sekali rasanya balas dendam, tapi perkataan Yumna tiba-tiba membuat kemarahannya meredam.


Tak ada gunanya balas dendam, putranya telah pergi dan tak akan kembali lagi, kini mereka hanya bisa menyerahkan segalanya pada polisi, berharap jika Indra akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.


Beberapa saat kemudian.


Semua orang menatap kepergian Indra yang dibawa oleh polisi dengan tangan terborgol. Tatapan polos Yumna masih menyisakan tanda tanya, kesalahan apa yang telah diperbuat oleh om itu hingga polisi menangkapnya.


"Ayah? Apa om itu sudah melakukan kesalahan besar?" tanyanya pada Kevin yang sedang menggendongnya.


Sontak pertanyaan Yumna membuat orang hanya terdiam sambil menarik napas panjang.


"Iya sayang. Om itu sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar." Kevin berusaha menyunggingkan senyumnya.


"Apa om itu mencuri?"


Kevin tak menjawab karena melihat sang ibu yang menghampirinya.


Yanti dengan mata sembab, mengambil Yumna dari gendongan putranya. Dipeluknya sang cucu dengan sangat erat dan tangis yang ditahan.


"Kamu akan tahu jika sudah dewasa nanti sayang," jawab Yanti dengan pelan.


Yanti semakin merengkuh Yumna dalam pelukannya. Tahu jika sang cucu harus menghadapi kenyataan pahit ketika kelak dia dewasa nantinya, pada saat waktunya tiba, ketika Yumna tahu segalanya, dirinya hanya berharap sang cucu bisa menghadapi kenyataan pahit itu dengan lapang dada dan menerima takdir yang memang sudah diperuntukkan baginya.

__ADS_1


***


Tertangkapnya Indra menambah panjang daftar orang yang mulai ditangkap satu persatu, mereka adalah orang-orang yang membantu Indra dalam melancarkan aksinya dalam melenyapkan Danendra.


Rupanya mereka terbilang cukup lihai dalam membuat skenario pembunuhan, membuat seolah-olah Danendra tewas dalam kecelakaan padahal sebenarnya semuanya adalah skenario yang sudah mereka susun dengan baik, dimulai dari rem ban mobil Danendra yang sudah mereka rusak hingga membuat jebakan kecelakaan lainnya, truk besar yang ditabrak Danendra adalah salah satunya.


Berbeda dengan Indra yang kooperatif dalam proses penyidikan kepolisian, Kayla sama sekali tak mau memberikan keterangan apapun, dia lebih banyak terdiam dan bahkan tidak mengakui kesalahannya.


"Aku tidak tahu apa-apa." Kayla bersikeras tetap tidak mengakui jika dirinya adalah otak pembunuhan.


Sebenarnya polisi tidak membutuhkan pengakuannya, karena bukti yang sudah mereka dapatkan sudah cukup untuk mendakwa Kayla sebagai dalang kematian Danendra.


Beberapa hari di penjara rupanya sudah cukup membuat Kayla stres dan tertekan, dia tahu jika semua kesalahan yang telah dilakukannya telah merenggut kebebasan yang tak akan mungkin lagi dia dapatkan.


Kini tak ada lagi Kayla yang anggun dengan segala pesonanya, berdandan bak sosialita yang memamerkan koleksi barang mewah dan branded miliknya.


Kayla tahu jika tak ada gunanya menyesal. Nasi sudah menjadi bubur dan kini saatnya dia harus menerima semua konsekuensi dari apa yang telah dilakukannya dan berharap orang-orang yang telah dia sakiti memaafkan segala kesalahannya. Terutama sang putri, walaupun dia tahu jika kesalahan yang telah dia lakukan pada Yumna sama sekali tak termaafkan.


***


"Ayah. Bunda. Ini makam siapa?"


Yumna memperhatikan kedua orang tua serta kakek dan neneknya yang tengah berdoa dengan khusyuk di sebuah hamparan makam yang ditutupi dengan rumput hijau.


Mendengar pertanyaan Yumna, semua orang langsung melihat wajah gadis kecil itu dengan nanar, rasa iba menyeruak jika seandainya saja Yumna sudah mengerti jika makam yang tengah mereka kunjungi adalah tempat peristirahatan terakhir ayah kandungnya.


Namun tentu saja mereka tahu jika sekarang belum saatnya Yumna mengetahui semuanya, mereka tak ingin membuat anak sekecil itu kebingungan.

__ADS_1


Kevin lantas menarik tangan putrinya, membawanya mendekati batu nisan lalu keduanya jongkok di dekat sana.


"Bagaimana kalau kita mendoakan orang yang sedang beristirahat di bawah sini saja?" Kevin mengarahkan sang putri untuk mengelus batu nisan di hadapan mereka.


Yumna mengangguk, dia lalu menengadahkan kedua tangannya sambil memejamkan mata.


Hati siapa yang tak terenyuh melihat pemandangan itu, akhirnya ayah dan putri yang selama ini dicarinya akhirnya bertemu, walaupun pertemuan mereka sudah dalam keadaan beda dunia, namun mereka meyakini jika Danendra di alam sana merasakan kedatangan putrinya, dan semoga doa tulus sang putri sampai padanya.


Cahyo dan istrinya menitikkan air mata. Dalam hati masing-masing mereka berjanji pada sang putra akan merawat dan mengurus Yumna dengan baik di sisa umur mereka.


Kevin dan Naya juga merasakan kesedihan dan rasa haru yang tak terkira, juga berjanji pada sang kakak semoga mereka bisa senantiasa menjaga dan merawat Yumna, sebuah amanah yang akan selalu mereka jaga dan rawat dengan baik dan penuh cinta.


Yumna menyudahi doanya, tanpa diperintah tiba-tiba dia mencium batu nisan di bawahnya.


...The End...


*


*


*


Terima kasih untuk kalian yang sudah setia dengan cerita ini ya. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dari cerita singkat dan sederhana ini...


Oh iya, sebentar lagi aku akan rilis karya terbaru, karya yang sengaja aku buat untuk ikut lomba "Air mata pernikahan" dengan tema Ibu mertua yang kejam.


Untuk kalian yang penasaran mohon ditunggu ya, sekali lagi terima kasih atas apresiasinya.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2