Demi Yumna

Demi Yumna
Warisan


__ADS_3

"Baiklah kita mulai." Cahyo melihat semua orang disana.


Kayla terus tersenyum lebar, duduk dengan tegap dengan hati yang berdebar kesenangan.


"Seperti yang sudah saya katakan tadi. Saya ingin melakukan pembagian harta warisan untuk seluruh harta kekayaan yang saya miliki."


Naya dan Kevin hanya melihat ayah mereka keheranan, sementara Kayla menunjukkan wajah girang dan tak sabar.


"Pak pengacara. Tolong dicatat dan segera dibuatkan kelengkapan suratnya."


Ada empat pengacara yang sepertinya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan dengan sigap mendengarkan perkataan Cahyo


"Saya akan mewariskan seratus persen kepemilikan harta dan aset yang saya miliki, baik itu harta bergerak atau tidak bergerak seluruhnya kepada putra saya yang kedua. Kevin."


Kayla nampak terkesiap. Senyum di wajahnya tiba-tiba meredup. Dia melihat Cahyo tak percaya.


Begitu juga dengan Kevin, dia langsung melihat ayah dan ibunya bergantian.


"Pengacara akan segera mengurus semua berkas yang diperlukan untuk pergantian nama seluruh aset yang saya miliki menjadi atas nama putra saya."


"Keputusan ini bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat, oleh siapapun dan dalam keadaan apapun."


"Tunggu dulu!" Kayla berdiri dengan panik.


"Kenapa hanya Kevin? Lalu bagaimana dengan Yumna?" Kayla tak bisa menahan rasa kecewanya.


"Yumna tidak akan mendapatkan apapun karena dia lahir dari perkawinan yang tidak sah secara hukum," jawab Cahyo enteng.


"Tapi dia tetap cucu anda!" Kayla mulia tersulut emosi.


"Dia memang cucu saya. Tapi saya tak akan memberikan apapun untuknya. Jika dia sudah besar, dia bisa memintanya dari Kevin, karena secara hukum Kevin tercatat sebagai ayahnya. Tapi itupun jika Yumna masih ada dalam perawatannya."


"Kenapa? Anda benar-benar tak adil. Kenapa anda malah memberikan semuanya pada anak pungut anda itu?" Kayla menunjuk Kevin dengan kesal.


"Padahal Yumna adalah satu-satunya keturunan anda yang tersisa, darah anda mengalir di tubuhnya."


Cahyo hanya tersenyum santai. Begitu juga dengan semua orang yang hanya menggelengkan kepalanya tak percaya akan ambisi Kayla pada harta.


"Yumna akan mendapatkan warisan jika dia tetap bersama Kevin dan istrinya. Saya yakin jika Kevin tidak akan membuat Yumna kekurangan suatu apapun jika Yumna tetap ada dalam pengasuhannya." Yanti membuka suara. Rasa puas menggerayangi hatinya melihat kekecewaan Kayla.


Kayla membulatkan matanya. Kini dia yakin jika ini adalah strategi mereka untuk membuatnya mundur dari gugatan hak asuh Yumna.

__ADS_1


"Semua berkas pengalihan nama akan selesai dalam tiga hari," ucap salah seorang pengacara.


"Baiklah. Terima kasih banyak." Cahyo berdiri, menyalami semua pengacara yang bersiap untuk pergi.


Kayla masih tetap disana, dia masih tak ingin pergi, masih mencoba untuk mengubah keputusan Cahyo.


"Coba pikirkan bagaimana kalau mereka sudah memiliki anak kandung mereka sendiri. Yumna pasti akan disisihkan atau bahkan dilupakan. Saya sangat yakin jika mereka tak akan lagi menyayangi Yumna apalagi memberikan harta padanya."


Naya langsung berdiri.


"Jangan samakan kami denganmu."


"Jangan munafik kamu. Jujur saja katakan pada mereka jika kamu selama ini hanya berpura-pura saja menyayangi anakku. Kamu hanya mengincar harta keluarga ini saja kan?"


Naya malah tersenyum mendengarkan perkataan Kayla.


"Sekali lagi jangan samakan aku denganmu. Kita lihat siapa yang mengincar harta sekarang." Naya bersedekap dada.


"Setelah tahu jika anakmu tidak akan mendapatkan apapun. Apa kamu masih mau melanjutkan gugatan hak asuhnya?" tanya Naya sambil tersenyum.


Kayla kelabakan. Dia tak tahu harus menjawab apa.


Kayla merapatkan giginya kesal mendengar hinaan Naya.


Sementara Kevin dan kedua orang tuanya ikut puas dengan perkataan menantu mereka pada Kayla.


"Pikirkan sekali lagi. Jangan sampai uangmu habis membayar pengacara, tapi nyatanya kamu tetap akan kalah melawan kami. Aku yakin kamu tahu jika di zaman sekarang, uang yang berbicara. Uangmu yang pas-pasan tak akan sanggup melawanku yang sekarang memiliki segalanya," ucap Naya lagi kali ini dengan angkuh.


Kayla semakin geram, dia menatap tajam Naya dengan penuh kebencian.


"Seharusnya kamu menerima tawaran mertuaku waktu itu, padahal mereka sudah mau berbaik hati memberikanmu uang yang cukup banyak. Tapi keserakahan membuatmu kini tak mendapatkan apapun, sepeserpun." Naya hampir tergelak.


"Kurang aja! Berani sekali kamu mengejekku." Kayla mengangkat tangannya.


Namun dengan cepat Kevin berdiri dan menangkis tangan Kayla yang hampir saja mendarat di pipi istrinya.


"Pergilah dari sini. Kamu tetap akan melanjutkan gugatan atau tidak terserah padamu. Kami akan siap menghadapimu di luar atau di dalam pengadilan." Kevin mengusir Kayla.


Kayla menatap semua orang satu-persatu dengan penuh kebencian, napasnya tersengal-sengal menahan amarah yang bergejolak di dalam dada.


"Lihat saja nanti. Aku akan buat perhitungan dengan kalian semua!" Kayla akhirnya pergi dari sana, membawa serta emosi dan kemarahannya

__ADS_1


***


Kayla melempar tasnya lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan wajahnya yang masih sangat marah.


Indra keheranan melihat istrinya.


"Ada apa? Kenapa mereka memanggilmu ke rumahnya?" Indra yang memang sudah menunggu kepulangan istrinya dari rumah Cahyo tampak tak sabar mengetahui apa yang terjadi disana.


Kayla sebenarnya tak ingin bercerita, namun suaminya terus mendesak.


Dia akhirnya menceritakan semuanya. Dengan berapi-api dia memaki seluruh keluarga Cahyo karena tak memberikan putrinya warisan sepeserpun.


Indra tertegun kaget. Dia memegang kepalanya frustasi.


Tiba-tiba Indra mengambil ponselnya, tampak menelepon seseorang.


"Tolong urus perceraian saya dengan istri saya. Kalau bisa lakukan secepatnya."


Kayla kaget. Dia berdiri melihat suaminya.


"Mengurus perceraian kita? Kenapa?"


"Kamu pikir aku sudi tetap menjadikanmu sebagai istri? Kamu tak akan mendapatkan apapun dari keluarga mantan suaminya, jadi untuk apa kamu tetap disini?"


Kayla membelalakkan matanya tak percaya.


"Pergilah dari sini. Aku tak mau menampungmu lagi!" Indra menyeret Kayla ke pintu rumahnya.


Kayla meronta meminta di lepaskan.


"Kamu tak bisa melakukan ini padaku." Kayla berhasil melepaskan diri dari tangan suaminya.


"Ingat. Jika aku masih memegang bukti itu." Kayla menatap tajam Indra.


"Aku juga mempunyai bukti jika kamu adalah dalang kematian mantan suamimu."


Kayla mengernyit heran.


Indra memperdengarkan sesuatu di ponselnya, sebuah rekaman suara dimana keduanya sedang bersitegang tentang kematian Danendra. Dalam rekaman suara itu Kayla memang mengakui jika dia adalah dalangnya tapi yakin jika polisi tak akan menemukan bukti keterlibatannya.


"Serahkan bukti itu pada polisi, maka aku akan menyerahkan bukti ini juga. Jadi kita akan masuk penjara bersama-sama!"

__ADS_1


__ADS_2