
"Iya sayang ini ayah. Tenanglah sayang, ayah akan segera menjemputmu."
"Ayah aku takut." Yumna terdengar menahan tangisnya.
Kevin segera menepikan kendaraannya. Mendengar suara putrinya yang merintih ketakutan membuat hatinya memanas, rahangnya mengeras dengan wajah memerah karena kemarahan yang memuncak.
Kayla. Satu nama itu diucapkannya berkali-kali dengan tangan mengepal keras.
"Jangan takut sayang. Ayah akan segera menjemputmu."
"Aku ingin uang tunai." Suara Kayla kembali terdengar.
"Jangan berani-berani kamu menyakiti Yumna. Kalau kamu berani menyentuhnya aku tak akan segan-segan melenyapkanmu."
Kayla malah terdengar tertawa.
"Apa aku gila menyakiti anakku sendiri. Apalagi dia akan menjadi sumber penghasilanku. Mana mungkin aku akan menyakitinya."
"Cup cup cup. Diamlah sayang. Jangan menangis, mama tidak akan menyakitimu." Kayla terdengar menenangkan Yumna.
Mendengar itu semakin membuat hati Kevin memanas.
"Berapa yang kamu inginkan?"
"Uang 10 milyar sepertinya cukup untuk dimasukkan ke dalam satu koper besar. Oh iya jangan lupa memasukkan tiga buah cek kosong ke dalamnya. Aku yakin jika itu nilai yang sedikit dibandingkan seluruh harta kekayaan yang akan kamu peroleh dari ayah angkatmu."
"Baiklah. Dimana kita akan bertemu?"
"Nanti aku telepon lagi. Oh iya silahkan lapor ke polisi, aku yakin jika mereka hanya akan tertawa mendengar laporanmu." Kayla kembali tertawa sebelum akhirnya menutup panggilan teleponnya.
Kevin memukul kemudi berkali-kali dengan sangat emosi.
Beberapa saat kemudian.
Kevin tahu jika dia tak bisa menyembunyikan masalah ini pada Naya dan kedua orang tuanya, sehingga mau tak mau akhirnya dia menceritakan jika mereka telah kecolongan karena Kayla berhasil membawa Yumna dari sekolahnya.
Yanti sontak menangis, dia takut jika Kayla kembali akan menyiksa cucunya.
Sementara Cahyo tentu saja geram dan tak menyangka, Kayla nekat menculik anaknya sendiri hanya demi uang.
Kevin melirik menghampiri sang istri yang terdiam syok mendengar kabar Yumna kini ada di tangan ibunya.
"Aku yakin dia tak akan berani menyakiti Yumna karena dia tahu jika kita tak akan pernah memberikan apa yang dia inginkan jika sampai Yumna tergores sedikit saja." Kevin memeluk Naya, menenangkannya.
"Apa uangnya sudah disiapkan?" Cahyo melihat putranya.
"Sudah. Aku sudah menyuruh asistenku ke bank, mereka sedang dalam perjalanan kesini. Aku juga sedang menunggu telepon Kayla, dimana dia akan mengajakku untuk bertemu."
"Apa kamu tidak lapor polisi?" Yanti mendekati putranya.
Kevin tertegun sejenak. Menarik napas panjang. "Ibu. Polisi tidak tahu keadaan keluarga kita yang sebenarnya. Yang mereka tahu adalah tidak mungkin seorang ibu kandung menculik anaknya sendiri."
Yanti terduduk lemas. "Ibu kandung macam apa dia tega memanfaatkan putrinya sendiri hanya untuk mendapatkan segala keinginannya."
__ADS_1
Suasana hening seketika, masing-masing sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tiba-tiba ponsel Kevin berdering. Akhirnya Kayla meneleponnya.
"Baiklah aku akan kesana sekarang." Kevin berdiri, bersamaan dengan itu, kedua asistennya datang dengan membawa satu buah koper besar.
"Aku ingin ikut." Naya ikut berdiri, menatap wajah suaminya dengan penuh harap. "Aku mohon izinkan aku ikut."
"Baiklah." Kevin memegang tangan istrinya.
Keduanya lalu pamit pada Yanti dan suaminya.
Cahyo melepas kepergian putra dan menantunya dengan harapan yang besar, Yumna bisa kembali ke rumah mereka dalam keadaan baik-baik saja tak kurang suatu apapun.
***
Indra terperangah mendengar kabar jika Kayla nekat menculik putrinya sendiri.
"Sial. Kenapa dia lakukan itu." Indra tampak frustasi.
"Kenapa kak? Jangan khawatir, polisi tidak akan bisa menangkapnya, ini bukan kasus penculikan. Bisa dikatakan hanya barter saja, mereka menginginkan Yumna dan Kayla menginginkan uang. Selesai," ucap Claudia enteng.
"Urusannya tidak akan semudah itu. Kevin itu cerdik. Aku yakin dia tak akan membiarkan Kayla kali ini."
Claudia tertegun.
"Apakah maksudnya Kayla tetap bisa dipenjara?"
"Tentu saja."
"Bodoh sekali aku. Kenapa aku tidak berpikir kalau apapun yang dilakukan wanita itu pastilah tidak akan berhasil." Claudia menepuk-nepuk keningnya kesal sendiri.
Indra tak mendengarkan kepanikan sang adik, dia hanya sedang sibuk memikirkan sesuatu.
"Aduh kakak. Bagaimana ini? Aku tidak punya uang lagi."
"Bukan itu yang penting sekarang, karena kebodohan Kayla sekarang kakak bisa benar-benar masuk penjara."
Claudia semakin tertegun kaget. Kakaknya benar, jika Kayla masuk penjara, maka wanita licik itu pasti tidak akan sudi di bui sendiri, Kayla pasti akan membongkar kejahatan Indra yang telah melenyapkan Danendra.
"Telepon Kayla. Katakan dimana dia sekarang!"
Claudia segera menuruti perintah kakaknya, dia segera menelepon Kayla.
***
Yumna terus menunduk ketakutan, sama sekali tak berani melirik Kayla yang sibuk menyetir sambil sesekali bertelepon di sampingnya.
Badan gemetar dengan keringat dingin bercucuran, gadis kecil yang malang itu terus memanggil-manggil ayah bundanya berkali-kali dalam hati, berharap jika keduanya segera datang dan membawanya pergi menjauh dari wanita yang amat sangat ditakutinya ini.
Selesai bertelepon dengan Kevin, Kayla langsung tersenyum puas sambil melirik Yumna. Dengan wajah berbinar bahagia, dia mengusap puncak kepala putrinya.
"Sayang. Maafkan mama ya sayang. Mama sempat berpikir menyesal telah melahirkanmu. Tapi sekarang mama merasa menjadi ibu paling beruntung di dunia," ucap Kayla dengan diakhiri oleh tertawa bahagia.
__ADS_1
"Ternyata kamu adalah anak yang membawa keberuntungan untuk mama. Mama sangat bangga padamu."
Kayla terus tertawa bahagia membayangkan uang yang akan segera dia terima, namun berbeda dengan Yumna yang semakin merasa ketakutan hingga membuatnya menitikkan air matanya.
Meniru adegan penculikan yang ada di sinetron-sinetron, Kayla rupanya juga menggunakan kawasan pabrik yang terbengkalai untuk dijadikan tempat transaksi pertukaran Yumna dan uang tebusan yang dimintanya.
Tempat yang sebelumnya telah dia survei terlebih dahulu itu dianggapnya aman karena jauh dari keramaian.
Di dalam mobil yang dia sewa, Kayla memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan Kevin, selagi menunggu tiba-tiba Claudia meneleponnya.
"Kamu dimana? Kakakku ingin bicara denganmu."
"Kakakmu? Kenapa? Apa dia menyesal telah menghinaku tadi pagi?" tanyanya sinis.
"Batalkan niatmu untuk memeras keluarga Cahyo. Berikan anak itu sekarang juga tanpa menerima uang sepeserpun dari mereka." Indra rupanya mengambil alih ponsel adiknya.
"Kenapa? Apa kamu iri aku akan mendapatkan uang yang banyak?"
"Dasar wanita bodoh!! Kevin pasti akan memenjarakanmu."
Kayla tertawa terbahak-bahak.
"Atas dasar apa dia mau memenjarakan aku? Menculik anakku sendiri?"
Indra belum menjawab pertanyaan Kayla, tiba-tiba terlihat mobil Kevin akhirnya datang mendekati mobilnya.
Kayla langsung mematikan ponselnya, berbicara dengan Indra baginya adalah sesuatu yang tidak penting, kedatangan Kevin dan koper besarnya tentu saja lebih menarik perhatiannya.
Di halaman pabrik yang dipenuhi semak belukar itu mobil keduanya saling berhadapan. Tak berapa lama, Kevin turun lalu membuka bagasi mobilnya, menurunkan sebuah koper besar lalu menyeretnya mendekati mobil Kayla diikuti oleh Naya di belakangnya.
Kayla lalu turun sambil terus mengulum senyumnya. Mendekati keduanya yang tentu saja menatapnya tak suka.
Melihat kedua orang tuanya dari dalam mobil sontak membuat Yumna bahagia, dia keluar dari dalam mobil lalu berlari menuju Naya dan Kevin.
Yumna menghambur memeluk bundanya sambil menangis, Naya langsung memeluk erat putrinya, bertanya berkali-kali apa Kayla menyakitinya atau tidak.
Kayla tergelak mendengarkan pertanyaan Naya pada putrinya.
"Tenang saja. Aku tidak akan menyakitinya lagi kali ini. Dia adalah anakku yang berharga, harta karunku. Mana mungkin aku akan menyakitinya lagi."
Kevin menyeringai mendengar perkataan Kayla.
"Berikan kopernya. Kalian sudah lihat jika dia baik-baik saja bukan?"
Kevin menyeret mendorong koper besar di sampingnya lalu memberikannya pada Kayla.
Kayla dengan sumringah menerimanya, dia menarik koper itu sambil kemudian berjongkok bermaksud untuk memastikan jika isi di dalamnya memang adalah uang.
Dia membelalakkan matanya melihat banyaknya uang yang ada di dalam koper itu, belum lagi ada tiga lembar cek kosong sesuai dengan permintaan.
"Angkat tangan!"
Tiba-tiba Kayla dikagetkan oleh kedatangan beberapa orang yang entah dari mana asalnya kini sudah ada di depan, belakang dan sampingnya sambil menodongkan senjata.
__ADS_1
"Angkat tangan! Anda kami tahan atas dugaan pemerasan!"