Demi Yumna

Demi Yumna
Perseteruan Hak Asuh


__ADS_3

Senyum Kevin merekah. Matanya berbinar bahagia. Tapi dia tak sanggup berkata-kata, Kevin hanya menarik Naya ke dalam pelukannya.


Keduanya kini menyatu, mengikis jarak yang sempat terbentang, sebab cinta yang mempersatukan kedua insan yang sedang kasmaran.


"Bagaimana ini? Aku tak bisa berkonsentrasi kerja hari ini. Haruskah kita pulang?" Kevin merengkuh istrinya lebih dalam.


Naya hanya tersenyum.


"Kamu harus lebih rajin bekerja, ingat ada dua orang yang harus nafkahi," gumam Naya menggeleng pelan masih dalam pelukan suaminya.


"Ingat. Aku juga harus bekerja keras agar Yumna cepat punya adik." Kevin melepaskan pelukannya, menatap Naya dengan penuh cinta.


Wajah Naya merona. Dia memegang wajah suaminya.


"Sekarang fokuslah bekerja dulu." Naya menarik Kevin agar berdiri tegak lalu menggiringnya menuju kursi.


Tak lama pintu diketuk, seorang OB masuk dengan membawa nampan berisi teh dan cemilan pesanan Kevin tadi.


Selama menunggu jam kepulangan Yumna, Naya menemani suaminya yang bekerja. Kevin tampak lebih bersemangat bekerja, suasana hatinya yang kini sangat bahagia membuatnya menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, dengan sesekali melirik sang istri yang duduk di sofa tengah fokus membaca sebuah buku di tangannya.


Beberapa saat kemudian.


Kevin kembali menggenggam erat tangan istrinya ketika keduanya berjalan meninggalkan kantor, tidak seperti ketika masuk tadi, kali ini Naya sedikit lebih percaya diri dan tidak malu-malu lagi.


***


"Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir." Pengacara melihat Kayla dan Indra bergantian.


"Kalau seperti yang anda ceritakan kepada saya tadi, kalau anda sudah dipisahkan paksa dengan putri anda, maka saya yakin jika pengadilan pasti akan memenangkan kita, apalagi jika orang yang saat ini mengurus putri anda adalah orang lain yang tidak memiliki kekuatan hukum untuk dapat merawat dan membesarkannya," lanjut pengacara lagi.


Kayla tersenyum senang melihat suaminya.


"Tapi bagaimana jika si anak tidak mau ikut dengan kita karena terlanjur nyaman dengan orang yang mengurusnya selama ini?" Indra bertanya.


"Menurut Undang-undang yang berlaku. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz Jika anak tersebut sudah berusia 12 tahun, maka keputusan akan diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya."


Kayla kembali tersenyum lebar, dia sudah membayangkan kemenangan yang sepertinya sudah ada dalam genggaman.


"Jangan menunggu besok. Hari ini juga aku ingin mengajukan hak asuh anakku ke pengadilan." Kayla sangat bersemangat.

__ADS_1


"Tentu saja bisa. Silahkan ditunggu, saya akan mengurus berkasnya, setelah itu kita akan ke pengadilan bersama-sama."


Kayla dan Indra mengangguk. Keduanya saling berpandangan dengan tersenyum senang. Membayangkan harta warisan Cahyo yang akan jatuh ke tangan keduanya.


Sementara itu di tempat lain.


Seusai menjemput Yumna, Kevin mengajak istrinya juga untuk bertemu pengacara, di sebuah kafe mereka janjian bertemu sekalian makan siang bersama.


Sembari memperhatikan putrinya yang sedang bermain di kolam ikan yang ada di kafe itu, Kevin dan Naya nampak berbicara serius dengan dua pengacara orang pengacara.


"Patokannya memanglah ibu kandung yang diutamakan, khususnya bagi anak-anak yang masih kecil. Namun, hak asuh pada ibu tetap dapat ditarik apabila memiliki beberapa kriteria yang menyebabkan seorang ibu kehilangan hak asuh anak seperti seorang ibu berperilaku buruk. Seorang ibu yang masuk ke dalam penjara. Seorang ibu tidak bisa menjamin kesehatan jasmani dan rohani anaknya." Pengacara menjelaskan pada Kevin dan Naya.


"Dengan semua bukti-bukti yang sudah kita miliki ini, kami yakin jika ibu kandungnya sudah kehilangan hak untuk mengasuh dan merawat anak itu." Pengacara menunjuk Yumna yang asik melihat ikan-ikan.


Naya tampak lega, begitu juga dengan Kevin, dia langsung memegang tangan istrinya sambil tersenyum.


"Jika demikian maka hak asuh anak itu akan pengadilan alihkan pada ayahnya, karena si ayah sudah tidak ada, maka keluarga si ayah yang lebih berhak, seperti itu nenek dan kakeknya atau paman dan bibinya."


Naya semakin terlihat sumringah.


"Kalian tenang saja. Kami akan mengerahkan tenaga kami agar anak itu tidak jatuh ke tangan ibunya. Dengan memperlihatkan semua bukti-bukti ini, kami cukup yakin jika kita pasti akan bisa mempertahankan Yumna."


Setelah makan siang dan pertemuan singkat dengan pengacara, Kevin lalu mengantar istri dan anaknya ke rumah orang tuanya.


Yanti yang sudah sangat merindukan cucunya meminta Naya dan Yumna untuk datang ke rumahnya.


"Maafkan ibu. Menyuruh kalian datang kesini. Tadinya ibu akan datang ke rumah kalian, tapi ayah sedang kurang sehat. Ibu tidak bisa meninggalkannya." Yanti menyambut mereka bertiga.


Mengetahui sang ayah yang sedang sakit, Kevin ingin melihat keadaannya terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor.


"Bagaimana keadaan ayah?" Kevin melihat sang ayah yang duduk di kursi goyangnya.


"Ayah baik-baik saja nak."


"Jaga kesehatan ayah. Jangan terlalu memikirkan Yumna, aku akan mengurus semuanya dengan baik."


"Ayah tahu. Ayah tahu jika kamu bisa diandalkan."


Keduanya masih mengobrol ketika tiba-tiba saja Yumna masuk dan berlari memanggil sang kakek.

__ADS_1


Wajah sang kakek tadinya lesu karena sakitnya berubah menjadi sangat bahagia apalagi ketika sang cucu menciuminya dan mendoakannya agar cepat sembuh.


Cahyo lalu mengobrol bersama Yumna yang duduk di atas pangkuannya. Keduanya terlihat sangat akrab dan bahagia, Yumna sepertinya berhasil membuat kakeknya tiba-tiba menjadi sembuh dalam sesaat.


Yanti lalu mengajak Kevin dan Naya untuk ikut bersamanya.


Di luar kamar, dengan penuh haru sambil menahan tangisnya, Yanti memeluk Naya.


"Maafkan ibu. Melihat Yumna kembali ceria seperti itu membuat ibu semakin merasa bersalah padamu. Kamu memang orang yang paling tepat untuk mengurus Yumna. Denganmu Yumna sangat bahagia."


"Tidak apa-apa bu. Aku sudah melupakan kejadian kemarin."


"Iya ibu sudah tidak perlu ibu mengungkit-ungkitnya lagi."


Yanti mengangguk. Menyeka air mata yang membasahi pipinya.


Kevin lalu pamit untuk pergi, kembali ke kantornya karena ada rapat yang harus di pimpinnya.


Naya ikut mengantar suaminya, sementara Yanti kembali masuk ke dalam kamar.


Keduanya sudah sampai di teras rumah.


"Maaf sepertinya aku tak bisa mengantarkan kamu dan Yumna pulang ke rumah. Nanti minta diantarkan supir saja ya."


"Iya. Tidak apa-apa."


"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu."


Naya melepas kepergian suaminya, tak lupa dia melambaikan tangan pada sang suami yang kini sudah ada di dalam mobil.


Selepas kepergian Kevin, Naya kembali menuju ke dalam rumah, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia lewat di depan pintu kamar Yumna.


Entah mengapa Naya ingin masuk ke dalam sana, kamar yang menjadi saksi penganiayaan Kayla pada putrinya sendiri.


Naya kaget melihat seisi kamar yang sudah berubah total, rupanya Yanti bergerak cepat dengan langsung mengubah seisi kamar.


Naya tertegun, dia tahu jika mertuanya itu melakukan semuanya demi sang cucu agar mau kembali ke rumah mereka. Tapi kemudian dia teringat sesuatu, Naya menengadahkan kepalanya ke seluruh penjuru kamar.


Sayangnya yang dia cari tidak juga ditemukan. Rupanya kamar Yumna memang tidak terpasang CCTV, sangat disayangkan padahal seandainya saja ada, maka itu akan menjadi bukti kuat untuk memenjarakan Kayla.

__ADS_1


__ADS_2