Demi Yumna

Demi Yumna
Kesedihan Kevin


__ADS_3

Cahyo duduk dengan mimik wajah murka, di sampingnya ada sang istri juga dengan wajah yang tak jauh beda dengan suaminya, gusar menunggu kedatangan Kevin karena tak sabar ingin segera menanyainya.


Sementara Claudia juga Yanti juga duduk tak jauh dari sana, sedangkan Yumna mereka tinggalkan di dalam kamarnya, samar-samar terdengar masih terdengar jelas suara tangisannya.


Namun saat ini, mereka hanya ingin fokus pada Kevin terlebih dahulu, bertanya apa maksud Kevin menyembunyikan Naya di apartemen dan masih mempertemukan Yumna dengannya.


Tak lama yang ditunggu datang, Kevin masuk sambil melihat Kayla dengan tatapan penuh kebencian.


"Katakan pada Ibu. Kenapa kamu membiarkan wanita itu tinggal di apartemen kita?" Tanpa basa-basi Yanti langsung menanyai putranya.


"Karena Naya tidak bersalah," jawabnya lantang tanpa ragu-ragu.


Kayla kaget. Dia kini yakin jika Kevin lebih mempercayai Naya.


Kekagetan Kayla rupanya dilihat oleh Kevin, membuatnya tersenyum tipis sambil berjalan menghampirinya.


"Boleh aku tahu kemana saja kamu mencari Yumna selama ini?"


"Jujur saja semenjak pertama kali melihatmu, kamu tidak seperti seorang ibu yang merana karena kehilangan putrinya."


Kayla duduk dengan kikuk mendengar semua ucapan Kevin.


"Selama mencari Yumna apa saja yang kamu lakukan? Sampai kamu bisa mempunyai tas branded, sepatu yang harganya puluhan juta, baju mewah juga perhiasan mahal." Kevin menunjuk satu-persatu barang yang disebutkan olehnya.


Kayla tampak semakin gelisah, apalagi kini Yanti dan suaminya juga melihatnya dengan tatapan heran.


"A-aku kerja."


"Kerja apa? Maaf dari yang aku tahu kamu hanya lulusan SMA."


Kayla bingung hingga membuatnya berkeringat dingin.


"Dia menikah dengan kakakku." Claudia tiba-tiba bersuara.


Semua orang melihat ke arahnya, termasuk Kevin langsung melihat wajah kekasihnya tajam.


Sementara Kayla yang juga kaget melihat Claudia tak percaya.


"Maaf. Kami tak mengatakannya kepada kalian karena kami pikir jika sepertinya kalian tak perlu tahu. Tapi sekarang aku harus mengatakannya untuk menjawab pertanyaan Kevin tadi."


"Kayla adalah mantan kakak iparku, dia menikah dengan kakakku. Selama pernikahan mereka kami tahu jika dia sedang mencari anaknya, kami-pun turut serta membantunya saat itu."

__ADS_1


"Aku sendiri melihat bagaimana perjuangan Kayla untuk menemukan anaknya. Sekarang setelah dia berhasil menemukannya, kami sekeluarga juga ikut senang walaupun sekarang kakakku sudah berpisah dengannya. Kami turut berbahagia pastinya." Claudia menjelaskan dengan panjang lebar.


Kayla langsung mengangguk mengiyakan. Sementara Yanti dan Cahyo yang tadinya syok sekarang nampak termenung sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa kamu tak mengatakannya padaku? Kenapa kalian pura-pura tidak kenal?" Kevin melihat Claudia dan Kayla bergantian.


"Aku pikir karena hubungannya dengan kakakku sudah berakhir, kami pikir kalian tak perlu tahu." Claudia menjawab dengan terbata.


"Sudah-sudah. Sekarang giliran kami bertanya padamu. Kenapa kamu masih membawa Yumna pada wanita itu?" Yanti melihat putranya.


"Ibu. Apakah ibu percaya jika aku mengatakan kalau Naya tidak mengambil Yumna dari ibunya, melainkan ibunya sendiri yang meninggalkan anaknya pada Naya hanya untuk menikah dengan pria kaya?" Kevin menatap wajah ibunya lekat.


Yanti langsung menggelengkan kepalanya.


"Sudah aku katakan jika Naya wanita yang pintar memutarbalikkan fakta selain itu dia pintar menghasut orang. Aku pikir kamu laki-laki yang cerdas tapi rupanya kamu mudah sekali terperdaya oleh perkataan juga penampilannya." Kayla berdiri melihat Kevin dengan wajahnya yang sedih.


Kevin tersenyum tak percaya mendengar perkataan Kayla yang menurutnya justru dia yang pintar memutarbalikkan fakta.


"Kevin." Suara Cahyo terdengar begitu menggelegar.


"Apa yang sudah kamu lakukan ini sangat membuat ayah kecewa." Cahyo melihat putranya.


"Kamu tahu betapa berharganya Yumna untuk ayah dan ibu, untuk keluarga ini, dia adalah satu-satunya keturunan kami yang tersisa dari putra kami satu-satunya. Apa yang kamu lakukan ini membuktikan jika kamu memanglah bukan darah daging kami. Kamu seperti menegaskan posisimu yang hanya sebagai anak pungut."


Semuanya tersentak, terutama Kevin yang seperti disambar petir mendengar semua perkataan ayahnya.


Yanti langsung menangis sedih. Di sisi lain dia tidak terima suaminya mengatakan hal itu pada putranya.


Dengan mata berkaca-kaca, Kevin mundur perlahan, dia berjalan pergi meninggalkan semuanya walaupun sang ibu berkali-kali memanggil namanya.


"Kamu tak seharusnya mengatakan semua itu." Yanti melihat suaminya kecewa.


Sementara Kayla memilih untuk pergi menuju kamar Yumna, sedangkan Claudia masih berdiri terpaku, masih syok akan kebenaran yang baru diketahuinya.


***


Kevin mengemudikan kendaraannya dengan sangat pelan, perkataan sang ayah terus terngiang-ngiang di telinganya. Hingga membuat beberapa tetes air mata jatuh dengan sendirinya.


Kevin menghentikan mobilnya di sebuah jalanan sepi lalu melihat ponselnya yang terus berdering karena sang ibu yang terus mencoba menghubunginya.


Dia terus menatap layar ponselnya, ibunya sepertinya tak lelah untuk terus mencoba berbicara dengannya.

__ADS_1


Kevin tak pernah meragukan kasih sayang ibunya, walaupun dia hanya sekedar anak pungut yang mereka ambil di sebuah panti asuhan ketika dirinya berusia lima tahun, tapi Kevin tumbuh dengan cinta dan kasih sayang mereka sepenuhnya.


Walaupun sebenarnya Kevin tahu jika kehadirannya hanya untuk menemani sang kakak, hanya untuk menuruti keinginan Danendra yang terus merengek ingin mempunyai seorang adik laki-laki. Sang ibu yang tak bisa hamil lagi lalu memutuskan mengadopsi anak demi mengabulkan keinginan putra tersayangnya.


Kevin tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya juga sang kakak yang juga amat sangat menyayanginya, keduanya juga tumbuh besar tanpa dibeda-bedakan satu sama lain. Ayah ibunya membesarkan keduanya dengan kasih sayang dan pendidikan yang sama.


Kevin menyeka air mata di pipinya ketika dia melihat jika detektif menghubunginya.


"Halo. Kami sudah menemukan istri anda."


Mobil Kevin melaju kencang membelah jalanan sepi di malam hari itu. Hatinya yang sedang tak berdaya membuatnya ingin segera bertemu dengan seseorang.


Di sebuah bangunan besar, Kevin memarkirkan mobilnya, dia turun lalu masuk sambil melihat nomor yang tertera di setiap pintu kost-kostan itu.


Setelah beberapa lama mencari, akhirnya dia menemukannya.


Kevin berjalan menuju sebuah kamar, tertegun sejenak lalu mengetuk pintunya perlahan.


Tak lama pintu terbuka. Naya dengan matanya yang sembab tampak kaget melihatnya.


Beberapa saat kemudian.


Kamar itu berukuran kecil, hanya ada tempat tidur kecil, sebuah lemari di depannya juga kamar mandi yang besarnya tak lebih dari 2X2 meter saja.


Di tempat sekecil itu, Kevin duduk di atas tempat tidur dengan wajahnya yang sedih, di sebelahnya ada Naya yang juga duduk dengan ekspresi wajah yang sama seperti suaminya.


Mereka terus terdiam seolah sedang meresapi kesedihan yang tengah dirasakan oleh keduanya.


Ponsel Kevin kembali berdering, ibunya kembali menghubunginya. Berbeda dengan tadi, kali ini dia memilih untuk mengangkat telepon sang ibu.


"Pulanglah nak. Maafkan ayahmu, dia hanya sedang marah saja. Jangan ambil hati semua perkataannya. Biar bagaimanapun kamu tetaplah putra kami. Walaupun kamu tak lahir dari rahim ibu, tapi kamu pasti tahu jika ibu sangat menyayangimu. Pulanglah demi ibu nak."


Kevin mematikan ponselnya, langsung menundukkan kepalanya yang ternyata kemudian dia menangis dengan sedihnya


Suasana hening malam itu membuat Naya yang duduk tepat di samping Kevin bisa dengan jelas mendengar suara Yanti, membuatnya kaget hingga tak percaya akan kenyataan yang baru didengarnya.


Naya melihat Kevin yang terus menangis. Dia merasa iba, membuatnya ingin menenangkannya. Dengan perlahan Naya memegang tangan suaminya.


Kevin tetap menundukkan kepalanya, namun tangannya menggenggam erat tangan istrinya.


Keduanya terus terdiam namun tangan mereka saling bertautan erat.

__ADS_1


__ADS_2