
Naya terbangun karena cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela mengenai wajahnya. Kesadarannya muncul seketika ketika dia menyadari jika mereka bangun kesiangan.
Dia lalu duduk sambil mencoba meraih handuknya di bawah tempat tidur, tak menghiraukan sang suami yang masih terlelap dengan nyenyak di sampingnya, Naya berjalan setengah berlari menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian.
Naya keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono. Mendapati sang suami yang juga sudah terbangun, tengah duduk di samping tempat tidur dengan sebelah matanya mengucek mata dan sebelah lagi memegang ponselnya.
"Kita kesiangan. Yumna harus berangkat ke sekolah." Naya panik.
Dia berjalan tak tentu arah ketika menyadari jika tak ada baju yang bisa dikenakannya sekarang.
"Aku harus pakai baju apa sekarang?" Naya melihat Kevin yang hanya tersenyum lucu melihatnya.
"Yumna sudah diantarkan ayah dan ibu pergi ke sekolah." Kevin berdiri menghampiri istrinya.
Naya menghembuskan napas lega. "Syukurlah."
Kevin yang hanya memakai handuk terus berjalan mendekatinya, membuat Naya mundur seketika.
"Tidak. Jangan lagi. Cepat mandilah." Naya mengingat kejadian tadi subuh, dimana Kevin menggunakan modus yang sama, alasan yang membuat akhirnya mereka bangun kesiangan.
Kevin tersenyum geli sambil terus berjalan mendekati istrinya.
Naya terus mundur.
"Pergilah mandi. Kamu harus pergi bekerja kan?"
"Tidak. Aku akan bolos."
"Kenapa?"
"Aku lelah. Setelah semalaman bekerja lembur." Kevin menyeringai.
Naya tersipu.
***
Rupanya Yanti dan suaminya bukan hanya mengantar Yumna sekolah, mereka ternyata mempunyai maksud lain, ingin menemui Kayla dan berbicara dengannya.
Kayla tentu dengan senang hati menerima ajakan ketemuan mantan mertuanya, tak lupa dia mengajak serta suaminya.
Pukul sembilan pagi. Mereka janjian bertemu di sebuah kafe.
Yanti dan suaminya sudah datang duluan, menunggu kedatangan Kayla.
"Aku harap Kevin tak akan marah karena kita bertemu dengan wanita itu tanpa memberitahunya terlebih dahulu." Yanti melihat suaminya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kita tak bisa terus mengandalkan putra kita itu, urusan pekerjaan kantor sudah cukup membuatnya lelah lagipula kita juga harus ikut turun tangan langsung untuk mempertahankan Yumna agar tetap bersama kita."
Tak lama Kayla datang bersama Indra. Dengan sumringah keduanya tampak menyalami Cahyo dan istrinya.
"Langsung ke intinya saja. Tidak usah basa-basi." Cahyo yang sebenarnya jengah membuka suara.
"Iya katakan saja langsung kenapa kalian memanggil kami kesini," jawab Kayla.
"Kami tahu jika kalian sudah mendaftarkan gugatan hak asuh Yumna ke pengadilan."
"Iya itu benar."
Cahyo menarik napas.
"Kami ingin menawarkan sebuah kesepakatan pada kalian."
"Apa itu?" Kayla tersenyum senang.
"Cabut gugatan hak asuh itu dan kami akan memberikan kalian kompensasi."
Kayla melirik suaminya senang.
"Bukannya kami takut akan kalah di pengadilan, tapi kami pikir kita tak usah membuang waktu. Biarkan kami fokus mengurus dan merawat Yumna tidak harus direcoki oleh urusan persidangan." Yanti membuka suara.
"Kalian berani membayar kami berapa?" Indra juga membuka suaranya.
"Kami tidak mau." Tanpa diduga Kayla langsung menolaknya, bersedekap dada dengan angkuh.
Cahyo dan Yanti saling beradu pandang.
"Kami tetap akan melanjutkan gugatan hak asuh putriku," ucap Kayla lagi.
Indra hanya mengangguk menyetujui keputusan istrinya.
"Kenapa kamu menolaknya? Apa nilai uangnya terlalu sedikit? Kami bisa menambahkannya lagi," ucap Yanti.
Kayla tergelak.
"Jadi kalian pikir aku ingin mengambil hak asuh Yumna itu karena uang? Kalian memang sudah dibodohi oleh Naya dan Kevin. Justru mereka yang menginginkan uang kalian, tidak mau menyerahkan Yumna padaku padahal aku yang lebih berhak atasnya." Kayla mulai berkilah.
"Kami ini benar-benar tulus ingin mengasuh dan membesarkan Yumna. Tidak ingin apapun apalagi uang." Kayla berakting sedih.
Cahyo dan Yanti hanya saling berpandangan.
"Baiklah kalau begitu. Jika kalian tidak mau, kami tidak bisa memaksa."
Yanti lalu membantu suaminya untuk berdiri. Dengan tanpa berpamitan keduanya pergi meninggalkan Kayla dan suaminya.
__ADS_1
Sepeninggal mereka. Kayla tertawa terbahak-bahak. Seolah kemenangan sudah ada di tangannya.
"Mereka pikir kita ini bodoh. Mau menerima uang yang sedikit padahal harta yang akan mereka wariskan kepada Yumna berkali-kali lipat banyaknya dari itu."
"Kamu benar. Mereka seperti putus asa karena tahu jika kita akan menang di pengadilan nanti." Indra mendukung perkataan istrinya.
"Tapi apa kamu yakin jika memang semuanya akan diberikan kepada anakmu?"
"Tentu saja. Yumna satu-satunya keturunan mereka, dia adalah penerus garis keluarga yang sah, tidak seperti Kevin yang hanya anak pungut saja."
"Siapapun yang akan menjadi wali Yumna nanti, maka otomatis akan menjadi milyarder dadakan. Siapa lagi kalau bukan aku? Ibu kandungnya sendiri." Kayla berdecak bangga.
Indra tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
***
Naya terus memakai handuk hingga baju yang dibelinya secara online sudah datang, diantarkan oleh pembantu ke kamar mereka.
Setelah itu segera dia memakai baju itu lalu bersiap untuk menjemput Yumna dari sekolahnya.
Dia dan suaminya sudah turun ke bawah, bertemu dengan ayah dan ibunya yang baru datang.
Naya tersipu malu karena tadi tidak sengaja bangun kesiangan dan pastinya membuat sang mertua kerepotan karena harus mengurusi Yumna.
"Tidak apa-apa. Ibu mengerti kok." Yanti tersenyum sambil memegang tangan menantunya.
Sementara itu, Cahyo mengajak putranya untuk berbicara berdua di ruang kerja.
"Ayah baru saja bertemu dengan Kayla dan suaminya?"
"Iya nak. Maafkan ayah karena tak bilang dulu padamu."
"Tidak apa-apa ayah. Tapi kenapa ayah ingin bertemu dengan mereka?"
Cahyo kemudian menceritakan secara detail pertemuannya tadi dengan Kayla.
"Mereka menolaknya karena tahu jika harga Yumna lebih dari itu."
Cahyo terdiam menyetujui perkataan putranya.
"Ayah tenang saja. Mereka tak akan memenangkan gugatan hak asuh itu. Aku sangat yakin."
"Bagaimana jika kita kalah nak? Wanita licik itu bisa melakukan apapun, contohnya saja dia bisa dengan mudah terbebas dari jeratan hukum." Cahyo akhirnya mengatakan kecemasannya. Kegundahan hati yang selama ini dibendungnya seorang diri.
Kevin tak bisa menjawab karena apa yang dikatakan ayahnya benar. Kayla, wanita licik itu bisa melakukan apapun, menyuap hakim juga mungkin saja akan dilakukannya.
"Kita tak boleh putus asa dan menyerah dulu ayah. Jika wanita itu bisa licik, kita juga bisa melakukan hal yang sama ayah."
__ADS_1
"Demi janjiku pada kakakku, demi kebahagiaan ayah dan ibu juga demi keselamatan Yumna, demi masa depannya yang sedang dipertaruhkan. Aku akan mengerahkan segala cara dan upaya untuk tetap mempertahankannya bersama kita. Itu tekadku ayah."