Demi Yumna

Demi Yumna
Saksi?


__ADS_3

Selama perjalanan menuju sekolahan Yumna juga pulang menuju ke rumah mereka, Kevin tampak tak banyak bicara, dia terus saja terdiam seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


Di dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Naya ketika mereka sampai di rumah.


"Aku tahu ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan." Naya memegang tangan suaminya.


Kevin menghela napas panjang.


Dia menceritakan kegundahan hatinya melihat sang ayah tadi yang sangat ketakutan kehilangan Yumna.


"Jadi Kayla menolak uang yang ditawarkan oleh ayahmu?"


Kevin mengangguk. "Dia pasti menolaknya karena tahu jika menjadi wali Yumna dia akan mendapatkan lebih dari itu."


Naya tertegun. Keduanya terdiam karena sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Yumna yang melihat kedua orang tuanya melamun menghampiri Naya, dia memegang tangan ibunya.


"Bunda. Kenapa bunda dan ayah diam saja." Yumna melihat Kevin dan Naya bergantian.


Naya tersenyum. Dia langsung menarik Yumna ke dalam pelukannya.


"Tidak apa-apa sayang." Naya tersenyum.


Kevin mengusap punggung putrinya dengan lembut.


"Apa ayah tidak bekerja hari ini?"


"Tidak sayang. Hari ini ayah bolos kerja."


"Bunda bukankah kita tidak boleh bolos?" Yumna langsung melihat ibunya.


Kevin dan Naya langsung tersenyum.


"Iya sayang. Sebenarnya kita tak boleh bolos, tapi ayah sedang malas saja pergi bekerja. Ayah ingin di rumah saja seharian bermain dengan kalian."


"Bunda. Bukankah kita juga tidak boleh malas?" tanya Yumna lagi polos.


Naya dan Kevin kembali terkekeh.


"Tidak apa-apa sayang kalau sekali-kali kita bolos atau malas, tapi jangan keseringan." Naya memegang dagu putrinya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall saja?" Yumna melihat kedua orang tuanya penuh harap.


Naya langsung melirik suaminya.


"Ayo." Kevin mengangguk cepat, membuat Yumna melompat-lompat kegirangan.

__ADS_1


***


Potret keluarga bahagia, terbingkai jelas ketika keluarga kecil itu tengah bermain, tertawa dan bergembira bersama.


Sejenak Kevin dan Naya melupakan kegundahan hati mereka dan tengah menikmati indahnya kebersamaan dengan Yumna si putri tercinta.


Yumna terus menghias wajah mungilnya dengan senyuman dan tawa bahagia, akhirnya setelah sekian lama kini dia bisa merasakan kebahagiaan mendapatkan kasih sayang yang utuh, bukan hanya dari ibunya, tapi dari sosok seorang ayah yang selama ini diimpikannya.


Ketiganya berpindah dari satu permainan ke permainan lain, asyik bermain dan tertawa lepas bersama. Puas bermain, Kevin lalu mengajak istri dan putrinya makan siang yang terlewat karena sebenarnya hari sudah akan menjelang sore.


Selesai makan, keluarga kecil itu lalu pergi menuju supermarket, ada banyak kebutuhan rumah dan dapur yang harus mereka beli.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu disana, belanja banyak kebutuhan yang mereka perlukan.


Menjelang malam mereka menyudahi kegiatan hari ini, kembali pulang ke rumah karena Yumna yang sepertinya kelelahan setelah seharian ini bersenang-senang, ditambah dia tidak tidur siang seperti biasanya hingga membuatnya tak kuasa menahan kantuknya.


"Hari ini dia sangat senang sekali," ucap Naya sambil membelai rambut putrinya yang tertidur di pangkuannya.


Kevin mengangguk menyetujui sambil melirik istri dan putrinya.


"Dia begitu polos, dia belum mengerti apapun. Dia tak tahu jika ayah kandungnya telah tiada, dan ibu yang melahirkannya kini tengah berusaha mengambilnya hanya demi harta," lirih Naya tiba-tiba merasa sedih sambil terus menatap wajah Yumna di pangkuannya.


"Tapi suatu saat jika dia sudah mengerti, dia akan mengetahui semuanya. Jika aku adalah bukan ibu yang melahirkannya, dan kamu juga bukan ayah kandungnya."


"Apakah dia akan kecewa pada kita?" Naya melihat suaminya.


Naya yang tadi cemas, merasa sedikit tenang karena Kevin telah membesarkan hatinya.


***


Tiga hari berlalu.


Keluarga kecil itu menjalani kehidupan yang seperti keluarga pada umumnya, penuh tawa dan senyum bahagia selalu mewarnai hari-hari mereka.


Apalagi kini Naya dan Kevin telah menjalankan kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, keduanya seperti tengah dimabuk asmara, saling mengungkapkan rasa yang membuncah di dalam dada, walaupun memang tak bisa dengan leluasa, takut-takut Yumna putri mereka memergoki keintiman keduanya.


Kevin harus pintar-pintar melihat situasi jika ingin mencium dan menggoda istrinya, seperti kali ini saat Yumna sedang mandi sebelum pergi ke sekolah, dia terus mengganggu sang istri yang tengah sibuk memasak.


Kevin terus menciumi tengkuk leher istrinya, membuat Naya terus meronta kegelian.


"Hentikan. Sebentar lagi Yumna akan keluar dari kamar mandi."


"Baiklah-baiklah. Tapi beri aku ciuman dulu."


Naya membalikkan tubuhnya, mengecup bibir sang suami sambil menatapnya penuh cinta.


"Sekarang pergilah mandi. Sarapan sudah siap."


Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, membuat keduanya langsung menjauh satu sama lain, Naya kembali melanjutkan memasak makanannya, sementara sang suami bersiap untuk mandi.

__ADS_1


***


"Ada apa? Kenapa ayah memanggil kita?" tanya Naya heran ketika Kevin yang sudah berangkat mengantarkan Yumna sekolah, kembali lagi ke rumah untuk menjemputnya.


"Aku tidak tahu. Tapi katanya ada sesuatu yang penting." Kevin membuka pintu mobil untuk istrinya.


Sepanjang perjalanan keduanya menduga-duga, kepentingan apa yang membuat Cahyo memanggil keduanya.


"Mungkinkah surat pemanggilan gugatan hak asuh anak dari pengadilan sudah diterima oleh ayah?" Naya melihat suaminya.


"Bisa jadi. Mungkin ayah ingin mendiskusikan tentang itu bersama kita."


Naya langsung terdiam. Sebenarnya dia merasa cemas, jika proses persidangan hak asuh Yumna sudah akan dimulai.


Akhirnya mereka sampai di rumah Cahyo.


Kevin melihat sudah ada beberapa orang yang dia kenal sebagai pengacara keluarga mereka juga turut hadir disana.


"Ada apa ayah?" tanya Kevin tak sabar.


"Sebentar nak. Masih ada orang yang harus kita tunggu."


Semuanya tampak tertegun duduk dengan wajah yang serius.


Hingga tak lama seseorang yang ditunggu akhirnya datang, Kevin dan Naya kaget mengetahui jika orang yang dimaksud adalah Kayla.


Cahyo segera mempersilakannya untuk duduk.


"Apakah ini tentang gugatan hak asuh Yumna? Saya yakin jika kalian pasti sudah menerima surat panggilan dari pengadilan."


Cahyo tersenyum.


"Kami memang sudah menerimanya."


"Syukurlah. Lalu kenapa memanggil aku kesini, padahal kita bisa bertemu di pengadilan nanti."


"Atau jangan-jangan kalian ingin menawarkan perdamaian? Sudah saya katakan jika saya tidak akan mundur walaupun anda akan memberikan saya uang milyaran." Kayla tersenyum angkuh.


Naya dan Kevin melihat Kayla yang duduk di depan mereka dengan geram, melihat tingkahnya yang sombong dan percaya diri seolah dirinya sudah pasti akan memenangkan gugatan.


"Tidak. Bukan masalah itu. Saya memanggilmu kesini untuk menjadi saksi saja."


"Saksi?" Kayla mengerutkan keningnya.


"Iya. Saya pikir kamu sebagai ibu kandung dari cucu saya berhak untuk ada disini dan mengetahui semuanya."


Kayla tersenyum lebar. Dia sangat yakin yang dimaksud mantan ayah mertuanya adalah saksi untuk pembagian harta warisan.


Kehadirannya disini memang diperlukan, karena Yumna pasti akan mendapatkan harta warisan yang paling besar. Maka dia sebagai ibu kandungnya memang harus mengetahui apa saja harta yang akan diwariskan pada putrinya.

__ADS_1


__ADS_2