Demi Yumna

Demi Yumna
Kemeja Putih


__ADS_3

"Nak. Bagaimana kalau kalian mengadakan resepsi pernikahan?" Yanti melihat Naya yang duduk di depannya.


"Pernikahan kalian memang awalnya hanya untuk formalitas semata, tapi sekarang ibu yakin jika kalian memang berjodoh. Ibu juga lihat jika Kevin sangat mencintaimu."


Naya tersenyum sambil menunduk.


"Jadi bagaimana jika nanti urusan Yumna selesai, kita akan mengadakan pesta pernikahan yang meriah untuk kalian berdua?"


"Ibu. Aku serahkan semuanya kepada ibu. Jika aku menolak, ibu pasti akan kecewa, ibu pasti ingin sekali menggelar pesta yang meriah untuk putra ibu. Jadi semuanya bagaimana baiknya menurut ibu saja."


"Iya Nak. Kamu sangat mengerti perasaan ibu. Kamu sangat baik. Kami beruntung mempunyai menantu sepertimu."


Obrolan keduanya sesekali terhenti karena melihat Yumna dan kakeknya yang sedang asyik bermain bersama.


Yumna memang membawa aura kebahagiaan tak terhingga untuk kakek dan neneknya, kesedihan karena kehilangan putra sulung yang tiba-tiba seakan sirna tergantikan oleh kehadiran Yumna sebagai pelipur lara.


Tak terasa hari sudah sore, namun Naya tak tega mengajak Yumna putrinya untuk pulang melihat kedua mertuanya yang masih sangat merindukan cucu mereka.


Melihat kesehatan ayah mertuanya yang juga tiba-tiba sembuh juga membuatnya semakin sungkan mengajak Yumna kembali ke rumah mereka.


"Sayang. Kamu mau menginap disini?" tanya Naya ketika kedua mertuanya sedang tidak ada.


Yumna tak lekas menyahut, dia hanya langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah.


"Kalau kamu mau kita akan menginap disini. Kasihan kakek, beliau sedang sakit. Jika Yumna menginap kakek pasti akan segera sembuh."


"Tapi bunda. Yumna takut."


Naya langsung memeluk putrinya. Dia mengerti jika Yumna berpikir kalau Kayla masih tinggal di rumah itu.


"Jangan takut sayang. Orang yang sudah menyakiti Yumna sudah pergi dari rumah ini."


"Benarkah bunda?"


"Iya. Kakek dan Nenek sudah mengusirnya dari rumah ini. Dia tak akan pernah kembali kesini lagi."


"Dia pergi kemana bunda?"


"Pergi ke tempat yang jauh sekali. Yumna tidak akan bertemu lagi dengannya."


Raut ketakutan tiba-tiba sirna di wajah putrinya.


"Kalau orang itu sudah tidak ada. Yumna mau bobo disini lagi bunda."


Naya tersenyum.


"Oh iya. Kamar Yumna juga sudah bagus, tidak seperti dulu lagi. Yumna mau lihat?"


Yumna lalu dengan ragu mengangguk.


Naya memegang putrinya berjalan perlahan menuju kamarnya.

__ADS_1


Yanti yang tiba-tiba datang kaget melihat cucunya akhirnya mau masuk ke dalam kamarnya, padahal sedari tadi dia sudah membujuk tapi Yumna selalu menolaknya.


Sesampainya di kamar, Yumna yang asalnya menunjukan raut ketakutan tiba-tiba tersenyum senang. Setelah melihat tidak ada satupun yang mengingatkannya pada kekerasan yang telah terjadi padanya di kamar itu.


"Bagaimana bagus bukan?"


"Iya bunda. Bagus sekali." Yumna melompat-lompat kegirangan di atas kasur.


Yanti yang juga mengikuti keduanya ke dalam kamar tak kuasa menahan haru, kini dia yakin jika cucunya telah pulih dari rasa traumanya.


"Nenek aku menginap disini boleh?" Yumna turun dari kasur lalu berlari ke arah neneknya.


Yanti tentu saja membelalakkan matanya bahagia, dia berjongkok sambil memeluk sang cucu dengan eratnya.


"Tentu saja boleh sayang."


Yumna kembali melompat-lompat senang.


Sementara Yanti menghampiri Naya.


"Terima kasih ya. Kamu pasti yang mengajak Yumna untuk menginap disini."


"Iya ibu. Aku lihat juga Yumna masih merindukan kalian. Saya tak tega mengajaknya untuk pulang."


Malam hari.


Yumna bersikeras untuk tidur bersama kakek dan neneknya, tentu saja hal itu membuat Yanti dan suaminya senang, namun tidak dengan Naya, dia takut jika putrinya akan merepotkan sang mertua.


"Kalau tengah malam Yumna mau pipis, Yumna pergi sendiri ya, jangan bangunkan kakek dan nenek."


"Iya bunda." Naya kembali melompat di kasur kakek dan neneknya.


"Tidak apa-apa nak. Jangan terlalu khawatir, malah ibu suka direpotkan oleh cucu ibu itu. Sekarang sebaiknya kamu istirahat sana di kamarnya Kevin, kamu juga harus beristirahat."


Naya mengangguk lalu pamit dari kamar ibu mertuanya.


Dia lalu berjalan menuju bekas kamarnya dulu, disana dia menyimpan tas dan ponselnya. Sekarang dia tahu jika dirinya tak bisa tidur lagi disana, harus tidur di kamar suaminya yang terletak di lantai atas.


Naya lalu berjalan menaiki tangga, sambil berusaha menelepon suaminya yang lupa dia beritahu dari tadi jika dirinya dan Yumna tidak pulang ke rumah mereka.


Namun panggilan teleponnya tak juga diangkat. Naya memutuskan untuk kembali meneleponnya jika sudah ada di kamar saja.


Naya telah sampai di kamar suaminya. Kamar yang cukup luas dengan furniture minimalis berwarna putih yang mendominasi.


Langkahnya pelan sambil memperhatikan satu-persatu foto yang terpajang disana, kebanyakan adalah foto keluarga, terutama foto kebersamaan sang suami dengan kakaknya dari mereka kecil hingga dewasa.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dia langsung mengangkatnya melihat jika yang menelepon adalah suaminya.


"Halo. Aku tidak pulang. Aku dan Yumna menginap disini."


"Baiklah. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi aku sampai."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


Dengan hanya mengenakan handuk, Naya tampak sibuk memilih baju-baju milik Kevin yang kira-kira bisa dikenakannya. Sambil terus menggerutu dalam hati kenapa dia tak memikirkan soal bajunya saat mengajak putrinya untuk menginap tadi.


"Aku harus pakai apa? Aku tak mungkin menyambut kedatangan suamiku hanya memakai handuk saja," gumam Naya dengan panik.


Sementara itu.


Kevin yang sudah sampai di rumah disambut oleh sang ibu yang sedang mengambil minum untuk cucunya.


"Jadi Yumna tidur bersama ayah dan ibu?"


"Iya nak. Ayahmu sangat senang sekali, kesehatannya dengan cepat membaik, bahkan seharian ini ayahmu tidak minum obat sama sekali."


"Syukurlah kalau begitu Bu. Aku sangat senang mendengarnya."


"Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Istrimu pasti sudah menunggumu di dalam kamarmu."


Kevin mengangguk. Dia lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, dia tak menemukan Naya, sang istri rupanya sedang berada di kamar mandi.


Kevin lalu mengetuknya, memanggil Naya berkali-kali sambil membuka dasi lalu duduk membuka sepatu dan kaos kakinya.


"Kamu lagi apa? Lama sekali." gerutu Kevin sambil membuka kaos kakinya.


Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, Naya keluar dari sana dengan ragu karena hanya mengenakan kemeja putih milik suaminya.


Kevin langsung berdiri, dia dibuat tertegun melihat penampilan istrinya.


Naya tampak begitu menggoda, rambutnya yang panjang dia gulung asal, sehingga terlihat jenjang lehernya yang putih dengan anak rambut yang berantakan.


Turun ke bawah, dia melihat kemeja miliknya begitu besar di tubuh kecil Naya. Bahkan ujung kemeja itu berada kira-kira sejengkal di atas lututnya. Sehingga kini Kevin bisa dengan jelas melihat paha istrinya yang putih dan mulus.


"Maaf. Tidak ada baju lain yang bisa aku pakai." Naya terus menarik bagian bawah ujung kemeja suaminya.


Kevin tersenyum, dia melangkah mendekati istrinya.


"Apa ini caramu untuk menggodaku?" Kevin langsung memeluk istrinya.


"Kalau iya. Kamu berhasil. Aku sangat tergoda dan tergila-gila padamu sekarang," ucapnya sambil melepaskan pelukannya lalu menatap istrinya penuh gairah.


Kevin yang sudah diburu nafsu yang memburu lalu perlahan menarik istrinya menuju tempat tidur.


Naya rupanya sudah pasrah apapun yang akan dilakukan suaminya, malam ini dirinya sudah bersedia menyerahkan dirinya seutuhnya pada sang suami.


Dengan tidak tergesa-gesa, penuh penghayatan dan perasaan juga dengan penuh cinta dan kasih sayang Kevin mulai mencumbu istrinya, dia sangat ingin menikmati momen penyatuan dirinya dan sang istri untuk pertama kalinya.


Naya yang dicumbu, mulai terbuai dalam setiap sentuhan suaminya, dia membiarkan suaminya menguasai seluruh tubuhnya.


Malam memang semakin larut namun aksi dua insan yang sedang terlena dalam kenikmatan dunia semakin memanas dalam memadukan cinta dan tubuh mereka untuk pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2