Demi Yumna

Demi Yumna
Kemarahan Kevin


__ADS_3

Malam sudah sangat larut dan Naya belum juga tidur, sibuk menelepon sang suami namun setelah dilakukannya berkali-kali Kevin tak jua mengangkat teleponnya.


Naya merasa cemas, tak biasanya suaminya seperti ini, dia akan selalu mengabari jika akan pulang terlambat. Sekali lagi dia mencoba menelepon namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban.


Naya yang risau lalu memilih untuk menunggu suaminya di dalam kamar Yumna, sambil terus berdoa semoga suaminya baik-baik saja.


Sementara itu.


Polisi dan Kevin sudah mencari ke seluruh tempat dimana kemungkinan Indra akan bersembunyi, namun hasilnya tetap nihil, mereka tak kunjung menemukan Indra yang sepertinya sudah kabur bersembunyi karena tahu jika kejahatannya akan segera terbongkar.


Kevin dengan amarah yang masih menggebu-gebu lalu memutuskan untuk pergi ke apartemen mantan kekasihnya, berharap jika Indra bersembunyi disana atau paling tidak Claudia tahu dimana kakaknya kini berada.


Claudia yang sedang tidur kaget mendengar suara pintu belnya berbunyi, sambil menggerutu dia beranjak untuk melihat siapa yang datang menyambanginya di waktu dini hari seperti ini.


Pada layar interkom dia kaget melihat Kevin berdiri di depan pintunya, bergegas membuka pintu dengan berbunga-bunga berharap mantan kekasihnya mendatanginya untuk mengatakan penyesalan karena telah mencampakkannya lalu ingin kembali menjalin kasih dengannya.


"Dimana kakakmu?" Kevin langsung menyerbu Claudia dengan pertanyaan ketika pintu baru saja dibuka.


Claudia tentu saja kaget, karena rupanya tak sesuai angannya, Kevin malah membentaknya dengan keras.


"Ada apa ini?" Claudia kebingungan melihat beberapa polisi merangsek masuk menggeledah seluruh isi apartemennya.


"Jangan banyak bertanya. Cepat katakan dimana kakakmu bersembunyi?"


Claudia mundur ketakutan melihat gurat kemarahan yang begitu besar di wajah mantan kekasihnya.


"Aku tidak tahu. Tapi katakan dulu ada apa?"


"Apa kamu tahu jika kakakmu yang menjadi dalang kematian kakakku?"


Claudia terhenyak. Ternyata benar, apa ditakutkan oleh kakaknya terjadi, Kayla membongkar semua kejahatan mereka.


Melihat Claudia tak menjawab, membuat Kevin yakin jika mantan kekasihnya sebenarnya sudah mengetahui hal itu.

__ADS_1


"Jadi kamu sudah tahu?"


Claudia sontak menggelengkan kepalanya, dia harus pura-pura tidak tahu agar dirinya tak ikut terlibat.


"Mana mungkin aku tahu," jawabnya gugup.


Kevin tersenyum sinis. "Kamu pasti tahu," ucapnya pelan. "Kalau kamu tidak memberitahuku dimana keberadaan kakakmu. Aku pastikan kamu juga akan ikut masuk ke dalam penjara."


Claudia langsung menatap wajah Kevin. "Kenapa kamu tega melakukan itu padaku. Apa salahku sehingga kamu begitu membenciku seperti ini?" ucapnya memelas. "Apa kamu lupa jika dulu kita saling mencintai, kamu bahkan tak rela melihat aku menangis dan terluka, tapi kenapa sekarang kamu ingin menjebloskanku ke dalam penjara? Aku bahkan tak tahu apa-apa."


"Apa salah kakakku juga sehingga kakakmu menghabisinya? Melakukan perencanaan pembunuhan yang keji padanya? Aku yakin jika kamu sudah mengetahui hal itu, tapi kamu menyembunyikannya dariku. Katakan jika itu benar!" Di akhir kalimat Kevin membentak Claudia.


Claudia tersentak ketakutan, badannya gemetar karena baru kali ini dia melihat Kevin sebegitu marahnya.


"Tersangka tidak ada disini. Kami sudah menggeledah seluruh isi apartemen ini." Seorang polisi menghampiri mereka berdua.


Kevin kembali menatap Claudia. "Cepat katakan dimana kira-kira kakakmu akan bersembunyi?"


Claudia menunduk. Lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Kevin yang sudah habis kesabaran, mengambil bingkai foto dirinya dan Claudia di atas meja. Dengan sekuat tenaga dia lalu melemparkan bingkai foto itu ke lantai hingga membuatnya pecah berkeping-keping.


Dia lalu segera pergi dari sana, diikuti oleh beberapa orang polisi di belakangnya.


Claudia segera menutup pintu, badannya gemetar melihat kemarahan Kevin yang tak terkendali. Dia lalu melihat bingkai foto mereka yang pecah berhamburan. Air matanya menetes, mengenang semua kebersamaan mereka yang kini juga sudah hancur berkeping.


***


Pencarian malam ini tidak membuahkan hasil, polisi meminta Kevin untuk kembali pulang saja, besok pagi pencarian Indra akan kembali dilakukan dalam skala besar dengan menambah personel dan area yang diperluas.


Pukul 03.00


Kevin telah sampai di parkiran mobil rumahnya, dia masih duduk termangu di dalam mobil sambil melihat penjaga rumah yang barusan membuka gerbang rumahnya kembali ke pos jaga.

__ADS_1


Kevin belum berniat turun dari dalam mobilnya, perasaannya masih tak menentu mengetahui jika ternyata kakaknya meninggal secara secara tak wajar bukan hanya karena murni kecelakaan akan tetapi sengaja di bunuh oleh Kayla dan suaminya.


Kevin kembali merasakan kemarahan, memukul kemudi berkali-kali dengan sekuat tenaga diakhiri dengan menangis terisak, membungkukkan tubuhnya pada kemudi.


Kevin kaget mendengar pintu mobil terbuka, Naya sang istri telah berdiri di sampingnya.


Melihat suaminya menangis, tentu saja dia tahu jika telah terjadi sesuatu. Dia lalu memutuskan untuk masuk ke dalam mobil, duduk di samping suaminya.


Kevin segera memeluk sang istri, menangis terisak di pundaknya. Naya tak banyak bertanya, membiarkan suaminya puas melepaskan semua kesedihan yang tengah dirasa.


Naya hanya terus menepuk-nepuk perlahan punggung suaminya, seolah ingin mengatakan jika apapun yang terjadi, ada dia yang akan selalu ada di sampingnya.


Kevin akhirnya menghentikan tangisnya. Dia menyeka air mata sambil menatap wajah istrinya.


"Sebaiknya kita masuk," ucap Naya sambil memegang tangan sang suami.


Kevin mengangguk. Keduanya lalu turun dari dalam mobil.


Naya terus menggenggam erat tangan suaminya yang berjalan lunglai memasuki rumah. Di depan kamar Yumna, Kevin menghentikan langkahnya, dia ingin terlebih dahulu melihat dan menciumi sang putri.


Kevin menyesap kening putrinya cukup lama, ada bulir air mata yang jatuh membasahi rambut Yumna. Seandainya saja gadis kecil ini sudah mengerti, betapa dia akan merasa sedih dan hancur hatinya mengetahui jika ayah kandungnya, yang selama ini tanpa lelah terus mencari dimana keberadaannya harus terpaksa meninggalkan dunia ini tanpa sempat untuk melihat wajah putrinya karena dilenyapkan oleh ibu kandungnya sendiri.


Sesampainya di kamar, Naya membantu suaminya berganti baju, masih tak menanyakan apapun, Naya lalu meminta suaminya untuk berbaring dan beristirahat.


"Apa kamu tak ingin menanyakan apa yang telah terjadi?" Kevin memeluk sang istri yang berbaring di sampingnya.


"Kamu pasti akan bercerita jika sudah tenang nanti. Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Hari ini pasti melelahkan untukmu."


Kevin memejamkan matanya. Berharap segera terlelap untuk sejenak beristirahat dan kembali mengumpulkan tenaga karena dia tahu jika ada hari esok yang lebih berat lagi yang harus dilaluinya. Selain harus mencari Indra dan menangkapnya, besok dia juga harus memberitahu kedua orang tuanya tentang kematian sang kakak yang sebenarnya tewas bukan karena semata-mata karena kecelakaan saja. Namun atas persekongkolan Kayla dan suaminya yang memang sengaja ingin melenyapkan putra mereka.


Sementara di tempat lain.


"Sebaiknya kakak menyerahkan diri kakak, cepat atau lambat polisi pasti akan berhasil menemukan kakak." Claudia menelepon kakaknya.

__ADS_1


"Iya. Kakak memang akan menyerahkan diri. Tapi sebelum itu ada sesuatu yang harus kakak lakukan terlebih dahulu."


__ADS_2