
Kevin kembali melajukan kendaraannya.
Keduanya terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Hingga tak berapa lama kemudian, Naya yang terus termenung sepanjang jalan di buat kaget ketika tiba-tiba saja dia menyadari jika dirinya sudah ada di parkiran mobil sebuah perkantoran.
"Kita mau kemana?" Naya menoleh melihat suaminya.
"Ke kantorku." Kevin melepas sabuk pengamannya.
"Tapi mau apa ke kantormu?"
"Suasana hatiku sedang tidak baik. Aku ingin kamu menemaniku sebentar."
"Tidak. Aku tidak mau. Aku malu." Naya belum melepas sabuk pengamannya.
Dengan cepat Kevin mendekatinya. Hampir saja wajah mereka beradu, jika seandainya saja Naya tidak memundurkan wajahnya ketika Kevin yang ternyata sibuk membuka sabuk pengamannya.
Sabuk pengaman sudah terbuka, namun Kevin tak segera menyingkir dari hadapan Naya yang ada malah kini menatap wajah istrinya yang tegang.
Kevin tersenyum. Dia segera kembali duduk sempurna, sambil membuka pintu mobilnya.
Kevin berjalan mengelilingi mobil, lalu membuka pintu satunya lagi untuk mempersilakan Naya turun dari mobil.
Naya dengan terpaksa turun dari sana. Dengan risih melihat sekitarnya.
"Aku malu. Nanti semua karyawanmu akan bertanya siapa aku."
"Tinggal jawab saja jika kamu istriku. Apa susahnya." Kevin menarik tangan istrinya, menautkan erat kedua telapak tangan mereka.
Naya mengikuti langkah suaminya. Baru sampai lobi benar saja sudah ada beberapa pasang mata yang memperhatikan keduanya.
Kevin tak menghiraukan hal itu, dia terus berjalan sambil terus memegang erat istrinya.
Beberapa karyawan ada yang menyapa bos mereka, Kevin hanya menjawab dengan anggukan kecil saja. Perhatiannya hanya fokus pada Naya yang terus tertunduk tak percaya diri.
Keduanya sampai di depan lift, ada beberapa karyawan juga yang sedang menunggu disana, melihat sang bos datang dengan menggandeng seorang wanita, mereka bergeser memberikan tempat untuk keduanya.
Lift terbuka, Kevin dan Naya segera masuk ke dalamnya. Namun tidak dengan yang lainnya.
"Kalian tidak masuk?"
"Tidak Pak. Silahkan duluan saja." Salah satu dari mereka menjawab.
Kevin hanya tersenyum sambil memencet tombol agar pintu lift tertutup.
Lift segera membawa mereka ke atas.
Kevin segera melihat istrinya.
"Kenapa kamu terus menundukkan wajahmu? Angkat wajahmu dan berjalanlah dengan percaya diri di sampingku."
__ADS_1
"Apa kamu tidak melihat bagaimana semua orang memperhatikan kita?" Naya melihat suaminya kesal.
"Kenapa kamu memperdulikan orang lain?"
"Aku tidak memperdulikan apapun yang dikatakan orang lain tentangku. Tapi aku memikirkanmu. Apa yang akan karyawanmu pikirkan melihat kamu membawa wanita seperti aku kesini."
Kevin kaget mendengar perkataan Naya.
"Memangnya wanita seperti apa dirimu?" Kevin mendorong pelan Naya hingga istrinya kini bersandar di dinding lift.
Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat.
"Aku wanita yang tak pantas untukmu," jawab Naya merasa rendah diri.
Kevin semakin mendekatkan wajahnya pada sang istri.
"Haruskah kamu mengatakan itu di hadapan orang yang tidak jelas asal usulnya ini?"
Naya tersentak mendengar perkataan Kevin.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Naya dilingkupi rasa bersalah.
Kevin malah tersenyum, dia memegang wajah istrinya.
"Jangan berbicara seperti itu lagi. Bagiku kamu itu berharga dan istimewa dan yang paling pentingnya aku sangat mencintaimu."
Kalimat yang keluar dari mulut Kevin berhasil membuat Naya terpaku menatap ke kedalaman mata suaminya, mencoba menggali apakah itu hanya gombalan atau memang sesuatu yang memang dirasakan oleh suaminya.
Ketika Kevin membalikkan tubuhnya, bukannya panik, dia hanya tersenyum santai dan tak peduli sambil menarik istrinya keluar lift berjalan menuju ruangannya. Meninggalkan para karyawan yang bengong tak percaya.
Tak ada yang tak memperhatikan mereka, beberapa orang bahkan tampak langsung berbisik-bisik setelah Kevin dan Naya melewati mereka.
"Siapa wanita itu?"
"Loh itu kan bukan pacarnya yang beberapa kali pernah kesini."
"Siapapun wanita itu, yang jelas dia sangat beruntung karena bisa mendapatkan Pak Kevin."
"Iya. Bukan hanya itu. Pak Kevin juga terlihat sangat mencintainya."
"Tapi di balik penampilannya yang sederhana, wanita itu memang cantik. Aku rasa dia memang cocok dengan pak Kevin. Pasangan yang serasi."
Beberapa saat kemudian.
Naya berdiri di samping jendela besar memperhatikan hiruk pikuk lalu lintas di pagi hari yang tampak mengular dilihat dari gedung perkantoran suaminya ini.
Sementara di belakangnya, Kevin tampak sibuk berbicara dengan sekretaris dan juga asisten pribadinya.
"Rapat jam sembilan ini diubah saja waktunya setelah jam makan siang nanti."
"Baik pak."
__ADS_1
"Oh iya, tolong bawakan teh dan cemilan untuk istriku."
Sekretaris dan asisten pribadinya terlihat sedikit terhenyak kaget, mereka sontak langsung melirik Naya yang berdiri di samping jendela.
"Ba-baik pak." Keduanya lalu undur diri sambil kembali melirik Naya sekali lagi.
"Satu lagi. Aku tidak mau diganggu, jika tidak terlalu penting jangan biarkan orang masuk ke ruangan saya."
Lagi-lagi keduanya mengangguk patuh.
Sepeninggal mereka, Naya langsung menghampiri suaminya kesal.
"Mereka sangat kaget. Kamu tak harus mengatakan jika aku istrimu kan?"
"Aku sengaja melakukannya. Mereka harus tahu jika aku sudah menikah," jawab Kevin sambil membuka kertas satu-persatu.
"Kenapa?" Naya mendekati suaminya yang duduk di kursi.
"Apa ada karyawati yang suka menggodamu?" Naya bersandar di meja kerja Kevin.
Kevin langsung menyimpan berkas di tangannya. Melihat sang istri yang bersedekap dada menatapnya.
"Apa kamu cemburu?"
"Tidak. Aku hanya bertanya. Bukan cemburu." Naya salah tingkah.
Kevin tersenyum lebar lalu beranjak dari duduknya.
"Duduklah dengan manis di sofa itu. Aku tidak bisa berkonsentrasi kerja jika kamu berdiri seperti ini di sini." Kevin berbisik lembut, sambil melingkarkan sebelah tangannya di pinggang sang istri.
Badan Naya menegang, apalagi kini Kevin tengah menatapnya lekat.
"Ba-baiklah aku akan duduk." Naya akan berdiri.
Namun Kevin malah melingkarkan tangannya yang satu lagi dan menarik tubuh istrinya menempel dengan tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan? Nanti ada yang masuk." Naya mendorong dada suaminya panik.
"Tidak akan ada yang masuk." Kevin malah merekatkan pelukannya.
Tiba-tiba suara pintu terbuka.
Seorang wanita dengan tatapan tajam penuh kemarahan menatap pasangan suami istri yang tengah berpelukan mesra itu.
Claudia masuk dengan sambil mengepal tangan. Tak rela kekasih yang amat sangat dicintainya memeluk wanita lain di hadapannya.
"Maaf pak. Kami sudah melarangnya untuk masuk." Sekretaris menampakkan wajah takut.
Kevin terdengar mendesah kesal sambil meminta sekretaris untuk keluar dan menutup pintunya.
"Dasar wanita licik," desis Claudia pelan, dengan sorot mata penuh kebencian.
__ADS_1