Demi Yumna

Demi Yumna
Jatah Bulanan


__ADS_3

Senyum Kevin merekah. Satu kalimat itu mampu mengukir binar kebahagiaan di wajah tampannya.


"Apa itu berarti..."


"Apa aku harus menghangatkan makanan?" sela Naya cepat sambil memutar tubuhnya.


Tapi tiba-tiba Kevin memegang tangannya. Membuat istrinya itu menghadap kembali padanya.


"Aku tidak mau makan." Kevin masih memegang tangan Naya.


Naya tak berani melihat suaminya, dia hanya melihat tangannya yang dipegang dengan erat.


"Katanya kamu tidak akan memegang tanganku lagi seperti ini."


Kevin segera melepaskannya.


"Akan aku buatkan teh."


Naya kembali memutar tubuhnya dengan cepat, berjalan menuju dapur, diiringi oleh tatapan sang suami yang tengah berbunga-bunga.


Naya menghidupkan kompor, memasak air untuk membuatkan suaminya teh walaupun sebenarnya itu hanyalah alasan dirinya agar terhindar dari tatapan Kevin yang pastinya bertanya-tanya akan maksud dari semua perkataannya tadi.


Sebenarnya memasak air juga adalah dalihnya agar suaminya itu tak melihat wajahnya yang tegang, meredakan jantungnya yang terus berdebar-debar tak karuan.


"Aku juga tak ingin teh," ucap Kevin mengagetkan Naya yang termenung.


Naya tak menyahut. Bukannya mereda kini jantungnya semakin bertalu-talu tak menentu mengetahui jika Kevin sekarang ada di belakangnya.


"Aku hanya ingin bicara padamu."


Naya tetap tak merespon. Hingga akhirnya dia dibuat kaget ketika Kevin mendekati dirinya membuat dada suaminya itu menempel pada punggungnya dan langsung mematikan kompor.


"Nay. Bisa kita bicara sebentar?" Kevin sedikit mundur.


Naya langsung memutar tubuhnya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Kevin mengulum senyum melihat wajah sang istri tepat di depannya.


"Aku hanya ingin memastikan."


"Apa?" tanya Naya sambil melihat ke sembarang arah.


"Lihat aku Nay."Kevin memegang dagu istrinya hingga akhirnya kini mereka saling bertatapan.


"Katakanlah. Apa yang ingin kamu pastikan?" Entah mengapa kini Naya tak bisa lagi berlama-lama menatap sepasang bola mata suaminya, tak seperti kemarin, sekarang dirinya merasa sungkan.


"Apa ini berarti kamu mempercayai cintaku? Apa ini juga berarti kamu membalas cintaku? Apa ini juga artinya kita akan selalu bersama?" Kevin memberinya serentetan pertanyaan.


Naya mengatupkan bibirnya. Dia tak tahu harus menjawab apa.


"Jawab Aku Nay." Kevin menatap lekat wajah istrinya.

__ADS_1


"Seperti katamu aku sudah cukup dewasa untuk tak bisa membedakan mana cinta tulus dan pura-pura."


"Jadi apa yang kau rasakan?" tanya Kevin cepat.


Naya menelan ludah.


"Aku mempercayaimu dan perasaanmu padaku."


Kevin mengulum senyum bahagianya. Hatinya berbunga-bunga karena kini dia tahu Naya mempercayai cintanya dan hanya berharap jika cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan.


Kevin kembali menatap Naya dengan penuh cinta.


"Terima kasih sudah mempercayai aku."


"Beri aku waktu. Untuk memastikan jika aku juga mempunyai perasaan yang sama sepertimu." Naya menatap balik suaminya.


"Tentu saja. Tak usah terburu-buru." Kevin tersenyum sambil terus menatap Naya.


"Kita masih punya banyak waktu," tambahnya lagi dengan pelan.


Sementara Kevin terus menatap wajah istrinya dengan penuh cinta, lain halnya dengan Naya yang merasa tak nyaman langsung membalikkan tubuhnya membelakangi sang suami, berniat untuk menghidupkan kompor lagi.


Namun tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara tangisan Yumna yang begitu menggema, memanggil bunda dan ayahnya berkali-kali.


Secepat kilat, pasangan suami istri itu segera berlari menuju kamar putri mereka, lalu mendapati sang putri yang tengah menangis ketakutan.


Naya segera memeluk Yumna dan menenangkannya, begitu juga dengan Kevin yang menanyakan apa yang terjadi.


"Yumna takut ayah." Yumna berbalik lalu memeluk sang ayah erat


Yumna tak menjawab, hanya terus menangis tersedu-sedu sambil terus memeluk ayahnya semakin erat.


Kevin dan Naya saling bertatapan heran.


Beberapa saat kemudian.


Yumna dibawa ke kamar Naya karena kasurnya cukup besar untuk mereka tidur bertiga di atasnya.


Yumna yang berada di tengah-tengah sudah berhenti menangis namun tetap tak bisa memejamkan kembali matanya, rasa takut masih membayanginya setelah bermimpi buruk tadi.


Naya terus memeluk putrinya dan memintanya untuk tertidur.


"Tidurlah sayang. Jangan takut, ada bunda dan ayah disini yang akan menjagamu."


Naya langsung melirik sang ayah di sampingnya.


"Ayah janji jangan pergi ya? Tetap tidur disini sampai pagi."


"Iya sayang. Ayah tak akan pergi." Kevin memegang tangan sang putri.


Yumna kembali mencoba memejamkan matanya, mencoba untuk terlelap kembali dan melupakan mimpi buruk yang telah mengganggu tidurnya tadi.


Tak butuh waktu lama, Yumna kembali sudah tertidur pulas. Naya langsung menghembuskan napasnya lega.

__ADS_1


"Sepertinya tadi dia bermimpi buruk," ucap Kevin pelan.


"Aku yakin jika dia bermimpi tentang Kayla," jawab Naya geram karena mengingat Kayla dan kekerasan yang telah dilakukan olehnya pada Yumna.


"Apa polisi belum menangkapnya?" tanyanya sambil terus menatap plafon kamar.


"Belum. Aku yakin jika ada seseorang yang membantu menyembunyikannya." Kevin juga melakukan hal yang sama, menatap plafon kamar di atasnya.


Keduanya terdiam sesaat. Suasana menjadi hening namun tak serta merta dengan pikiran mereka, melihat ketakutan pada Yumna tadi, rasa marah dan benci pada Kayla sudah tak bisa dielakkan lagi.


Tiba-tiba Yumna terdengar meringis lagi. Gerak refleks Keduanya untuk menenangkan sang putri malah membuat tangan mereka bertemu di atas punggung Yumna.


Naya sontak akan menarik tangannya, namun Kevin dengan cepat menahannya, dia menggenggam erat tangan istrinya lalu dengan tangan mereka berdua, mengelus lembut punggung Yumna hingga putri mereka kembali terlelap dalam tidurnya.


Kevin tersenyum senang, karena Naya tak berusaha melepaskan tangannya darinya. Membuatnya semakin erat menggenggam tangan istrinya.


Sementara Naya memilih membiarkannya. Berharap bersatunya tangan mereka membuat Yumna merasa tenang dan aman. Naya ingin putrinya itu tahu jika selama bunda dan ayahnya ada, tak akan ada lagi orang yang bisa menyakitinya lagi.


***


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali seorang pegawai rumah suruhan Yanti datang mengantarkan baju-baju milik Kevin.


Yanti juga mengirimkan beberapa baju Yumna juga mainan serta makanan untuk mereka semua.


"Terima kasih ibu. Baju dan yang lainnya sudah sampai. Nanti akan aku sampaikan pada Naya jika nanti siang ibu akan datang kesini." Kevin yang sudah selesai bersiap duduk di meja makan, di samping putrinya yang juga sudah siap untuk berangkat sekolah.


Naya sibuk menyajikan makanan ketika Kevin memberitahunya jika ibunya akan datang mengunjungi rumah mereka nanti siang.


"Aku suruh ibu untuk datang kesini jika kamu sudah pulang mengajar di sekolah."


"Aku tak mengajar lagi."


"Kenapa?" Kevin kaget.


"Aku dipecat. Beberapa hari belakangan ini aku sering bolos."


Kevin terdiam.


Naya melirik suaminya.


"Bersiap-siaplah. Dengan tak bekerja lagi membuat aku dan Yumna kini sepenuhnya bergantung padamu."


"Sekarang kamu adalah suami yang harus memberikan jatah bulanan untukku," ucap Naya lagi sambil mengisi piring suaminya dengan nasi goreng.


Kevin tak bisa menahan senyumnya mendengar ocehan istrinya pagi-pagi. Dia langsung mengambil dompetnya lalu mengeluarkan beberapa buah kartu dari dalam sana.


"Aku harap kamu bukan tipe istri yang akan menghemat jatah bulanan yang diberikan suaminya."


"Berbelanjalah sepuasnya. Aku tipe suami yang suka melihat istrinya boros." Kevin memberikan tiga buah kartu pada Naya.


Naya mengambil ketiga kartu itu sambil memperhatikannya satu-persatu. Satu buah kartu kredit dan dua kartu debit.

__ADS_1


"Bisa berikan aku uang cash, tukang sayur di depan sana aku yakin tak akan mau dibayar pakai kartu-kartu ini."


Kevin kembali dibuat tertawa mendengar perkataan istrinya. Seandainya saja sang istri tahu berapa nilai uang yang ada di dua kartu debit yang dipegangnya.


__ADS_2