
"Kenapa? Ada apa?" Kevin penasaran.
"Aku takut. Mobil di seberang itu sepertinya mengawasi rumah ini dari tadi siang," ucap Naya mendongakkan kepalanya melihat Kevin.
"Mereka pasti suruhan Kayla untuk mengambil Yumna," ucap Naya lagi dengan suara gemetar sambil kembali membenamkan wajahnya pada dada sang suami.
Kevin malah mengulum senyumnya. Tangannya menepuk-nepuk pundak sang istri.
"Mereka orang suruhanku."
Naya terhenyak. Tangannya yang tadinya melingkar erat di pinggang sang suami, mengendur perlahan.
"Aku suruh mereka untuk menjagamu dan Yumna." Kevin melihat Naya yang sudah mundur teratur masih dengan wajah kaget bercampur malu.
"Kenapa kamu tidak bilang?" Naya menunduk malu.
"Kalau aku bilang aku tak akan mendapatkan pelukan pertamaku darimu." Kevin mesem-mesem sendiri.
Naya semakin menundukkan kepalanya malu, tapi tanpa di duga, Kevin menarik lengan istrinya hingga kini tubuh keduanya saling menempel kembali.
Sepersekian detik keduanya saling bertatapan, dalam jarak yang dekat seperti ini, Kevin menyadari jika istrinya ternyata sangat cantik, tangannya yang melingkar di pinggang kecil Naya, membuatnya memuja tubuh sintal istrinya yang menggoda.
"Lepaskan. Nanti Yumna bangun."
"Tadi saat kamu memelukku kenapa tidak memikirkan Yumna?"
Seandainya Kevin bisa melihat wajah istrinya kini, pasti dia akan tersenyum karena wajah naya yang merah merona karena malu.
Naya kembali mencoba melepaskan pelukan itu, dan akhirnya Kevin melepaskannya sambil terus menatap wajah sang istri yang terus disembunyikan darinya.
Beberapa saat kemudian.
Naya mengintip di balik tirai jendela, Kevin nampak sedang mengobrol serius dengan dua orang di dalam mobil tadi.
Naya terus memperhatikan suaminya, lampu jalan yang temaram tak mengurangi ketampanannya. Dia terus memandangi tubuh gagah yang tadi mendekapnya, dengan tinggi dan badan yang begitu sempurna, wajah tampan yang juga mempesona, Naya yang seakan baru menyadarinya dibuat tak percaya jika lelaki itu adalah miliknya.
Naya terus memegang jantungnya, merasakan debaran yang tak menentu disana, perasaan aneh itu kembali menjalar di hatinya, membuat jantungnya semakin bertalu-talu tak terkendali.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Naya yang termenung masih dengan memegang dadanya di buat kaget ketika melihat Kevin sudah ada didepannya.
"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak." Naya mengayunkan langkahnya meninggalkan Kevin menuju dapur.
Kevin mengikutinya dari belakang, menghela napas panjang sambil duduk di meja makan.
"Kamu sudah makan?"
Kevin menggeleng.
Naya tertegun sejenak. "Sebenarnya hari ini aku tidak masak. Tadi aku dan Yumna makan nasi goreng."
"Nasi goreng juga tidak apa-apa."
"Baiklah. Tunggu sebentar. Kamu bisa mandi dulu dan berganti baju selagi menunggu nasi gorengnya siap."
"Baiklah." Kevin berdiri, berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Aroma nasi goreng di hadapannya dengan topping sosis juga sayuran hijau serta telor ceplok sangat menggugah selera makannya, Kevin segera melahapnya karena memang dirinya sangat lapar, seharian ini dia sampai lupa makan, selain karena pekerjaannya yang banyak, dia juga sibuk memikirkan ancaman Kayla yang ingin merebut Yumna dari tangan mereka.
Naya dengan setia menunggu Kevin menghabiskan makanannya, duduk di depan sang suami dengan setengah termenung.
"Boleh aku minta bukti yang kamu maksud waktu itu?" Kevin lagi-lagi mengagetkan Naya.
"Bukti?" Naya menerawang. "Bukti jika Kayla yang meninggalkan Yumna?" .
Kevin mengangguk. "Kita sudah harus mengumpulkan bukti-bukti yang memberatkan Kayla, aku juga ingin kamu menceritakan apapun yang kamu tahu tentangnya."
Naya terdiam. Tertegun memikirkan sesuatu.
"Akan aku keluarkan semua bukti yang aku punya, akan aku ceritakan semua yang aku tahu."
Beberapa saat kemudian. Kevin dan Naya duduk di sofa.
"Almarhum kakakmu masuk dalam jebakan Kayla, dengan pesona yang dimilikinya, Kayla berhasil membuat kakakmu tergila-gila padanya."
"Mengetahui jika kakakmu adalah pengusaha muda yang kaya raya membuat Kayla mencari cara untuk semakin menjerat kakakmu, takut ditinggalkan karena tak kunjung mendapat restu dari orang tuamu akhirnya Kayla berhasil membuat dirinya hamil. Kakakmu akhirnya menikahinya walaupun harus secara diam-diam."
"Masalah datang setelah menikah, Kayla yang merasa jadi istri yang disembunyikan membuatnya jengah. Angannya untuk menikmati harta kekayaan suaminya terbatas karena kakakmu tak bisa dengan bebas memberikan semua keinginannya. Menurutku yang sudah diberikan kakakmu sudah lebih dari cukup, bahkan aku juga dikuliahkan olehnya, namun Kayla ingin lebih dari itu, dia ingin menjadi sosialita yang bebas membeli apa saja dan pergi kemana saja untuk membanggakan diri bahwa dia adalah seorang istri dan menantu keluarga kaya dan ternama."
"Kakakmu tak bisa mengabulkan keinginannya, untuk mengumumkan pernikahan mereka sangat tak mungkin baginya karena kedua orang tuamu sudah dengan jelas tak akan menerimanya. Maka Kayla memilih untuk meninggalkan suaminya, dia kabur saat perutnya sudah besar, membawaku bersamanya."
"Setelah melahirkan baru aku sadari jika ternyata Kayla meninggalkan kakakmu karena berniat untuk kembali pada mantan pacar yang masih tergila-gila padanya. Seorang pria kaya yang memiliki beberapa hotel dan resort mewah."
Kevin yakin jika yang dimaksud Naya adalah Indra, kakak dari Claudia.
"Aku pikir Kayla akan membawa serta Yumna anaknya namun nyatanya Yumna ditinggalkan dengan sengaja padaku."
"Ini bukti chatnya." Naya memperlihatkan bukti percakapannya dengan Kayla yang masih dengan baik disimpannya.
Senyum Kevin menyeringai mengetahui jika bukti itu pasti akan memberatkan Kayla di pengadilan nanti.
"Masih banyak bukti lainnya, salah satunya saat aku mengirimkan pesan padanya saat Yumna sakit disaat umurnya satu tahun, aku ingin Kayla datang untuk melihat putrinya, tapi dengan jelas Kayla menolaknya, alasannya adalah dia tak ingin suaminya tahu jika dia ternyata sudah mempunyai anak. Aku akan mengirimkan screenshot semua bukti ini padamu."
Kevin mengangguk cepat.
"Aku harap bukti-bukti ini cukup untuk mempertahankan Yumna agar tetap bersama kita." Naya menatap suaminya penuh pengharapan.
Kevin menatap balik istrinya dengan pilu, seolah mengerti akan keputusasaan yang kini dirasakan olehnya.
"Akan aku lakukan apapun agar Yumna tetap bersama kita. Selain karena itu keinginan terakhir kakakku. Aku melakukannya juga demi kita, demi aku dan dirimu yang tak bisa berpisah dengannya."
"Terima kasih." Naya berusaha menyunggingkan senyum di wajahnya.
Kevin rasanya dibuat ketagihan melihat senyuman sang istri yang hampir membuatnya tergila-gila.
"Kamu tahu aku suka melihatmu tersenyum. Kamu menjadi lebih cantik jika kamu tersenyum." Kevin tiba-tiba menggombal.
Wajah Naya merona seketika mendapat gombalan dari suaminya, dia langsung menggeser tubuhnya dari sang suami yang duduk di sampingnya.
"Jangan menjauh. Tetaplah di sisiku," harap Kevin sambil menautkan jemarinya pada jemari sang istri.
"Urusan Yumna memang penting. Tapi aku harap kamu tak melupakan urusan kita berdua."
Naya langsung mengangkat kepalanya melihat sang suami.
"Urusan kita? Apa itu?"
__ADS_1
Kevin menggeser posisinya mendekati Naya lebih dekat.
"Bagaimana? Apa kamu sudah memastikan perasaanmu padaku?"
Naya akan memalingkan wajahnya, namun Kevin dengan cepat memegang dagu istrinya.
"Jawab aku. Bagaimana perasaanmu padaku." Kevin menatap ke kedalaman mata wanita yang sangat dicintainya itu.
"Kenapa kamu mencintaiku?" tanya Naya tiba-tiba dengan pelan.
"Kenapa kamu meninggalkan kekasihmu hanya demi aku?"
"Karena aku iri pada Yumna. Aku ingin merasakan dicintai dan mencintaimu dengan tulus sepertinya. Apa itu cukup untuk aku jadikan alasannya?"
Naya terdiam.
"Sekarang bagaimana denganmu? Aku sangat ingin tahu perasaanmu padaku," desak Kevin.
"Aku juga mencintaimu. Itu yang aku rasakan sekarang." jawab Naya pelan.
Tak ayal jawaban Naya membuat wajah Kevin berbinar bahagia.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur." Naya beranjak dari duduknya. Dia ingin terlihat biasa saja walaupun sebenarnya dia hampir saja pingsan karena ungkapan perasaannya barusan.
Kevin ikut berdiri.
"Kita tidur?"
"Kenapa? Kamu tak mau tidur berdua denganku? Baiklah kamu bisa tidur di sofa ini saja." Naya mengayunkan langkahnya menuju kamar.
Kevin segera mengikuti dari belakang.
Keduanya sudah di atas tempat tidur, tidak seperti biasanya yang selalu ada Yumna diantara mereka, kali ini tempat itu kosong sehingga membuat keduanya bisa saling melihat satu sama lain.
Naya mencoba menormalkan helaan napasnya yang ikut memburu mengikuti detak irama jantungnya, dia memiringkan tubuhnya membelakangi Kevin.
Sementara Kevin terus memperhatikan Naya di sampingnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia sepertinya tak akan bisa tidur malam ini karena saking bahagianya.
Tiba-tiba Naya menyibakkan selimutnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Kevin cepat.
"Aku mau membawa Yumna tidur disini." Naya akan beranjak dari tidurnya.
"Jangan!" Kevin dengan cepat menarik tangan Naya, hingga membuat istrinya itu kembali terbaring.
Naya kaget apalagi kini dia melihat kepala suaminya tepat berada di atasnya.
"Aku tidak ingin kamu mengganggu tidurnya."
Naya mengangguk takut.
"Tidurlah dengan tenang. Aku tak akan macam-macam padamu." Kevin menatap Naya di bawahnya.
Naya kembali mengangguk.
"Selamat malam." Kevin tiba-tiba mencium kening sang istri dengan lembut.
Naya hanya memejamkan matanya.
__ADS_1