
"Ketika aku melihat ekspresi ketakutan di wajahmu saat dokter mengatakan jika Yumna membutuhkan darah, sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama." Kevin tiba-tiba bersuara.
"Karena seperti dirimu, aku juga tak memiliki hubungan darah dengannya. Tapi rupanya Tuhan ingin darahku mengalir di tubuhnya, tanpa diduga, golongan darah kami sama." Kevin menunduk sedih.
Naya mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku sangat percaya jika menjadi keluarga tidak sebatas hanya karena hubungan darah, tapi cinta dan kasih sayang tulus serta pengorbanan menjadikan kita keluarga."
"Keluarga bukan hanya dari hubungan darah, keluarga adalah orang-orang yang menginginkan kita ada di hidup mereka, keluarga adalah orang-orang yang menginginkan kita apa adanya dan keluarga adalah orang yang senantiasa membuat kita tersenyum, selalu mencintai kita apapun yang terjadi." Naya melihat Kevin.
Kevin tampak meresapi semua perkataan Naya.
"Saat ini yang ibumu rasakan, rasanya pasti sama seperti yang aku rasakan pada Yumna. Kamipun tak ada ikatan darah, tapi ketika aku berpisah dengannya, seakan separuh jiwa akupun rasanya ikut tiada." Naya kembali menunduk sedih.
Kevin langsung teringat akan ibunya. Membayangkan jika sang ibu kini pasti sedang menangis mengkhawatirkannya.
"Telepon ibumu. Katakan jika kamu akan pulang." Naya tersenyum sambil melepaskan tautan tangan mereka.
Kevin mengangguk. Dia langsung mengambil ponsel dan menghubungi ibunya.
"Aku akan pulang ibu. Ibu tidak usah mengkhawatirkan aku. Aku pasti akan pulang."
Beberapa saat kemudian.
"Aku pergi dulu," ucap Kevin menatap Naya lekat.
"Iya. Pergilah." Naya tersenyum.
"Tinggallah disini dulu, jangan kemana-mana besok aku akan kesini lagi."
Naya mengangguk.
"Jangan berpikir untuk pergi lagi, karena kemanapun kamu pergi, aku pasti akan menemukanmu."
***
"Berhenti menangis!" Kayla mencubit punggung Yumna dengan sangat geram.
Yumna yang kesakitan langsung menghentikan tangisnya, memejamkan matanya menahan rasa sakit di punggungnya.
Bukan hanya di satu tempat, Kayla terus mencubit dan memukul putrinya berkali-kali, membuat Yumna meringis kesakitan.
"Ampun... Ampun." Yumna memohon pengampunan pada ibunya.
Kayla tersenyum puas, dia menghentikan aksinya.
"Apa yang kamu tangisi. Hah?"
"Kenapa wanita itu kamu tangisi? Dia bukan siapa-siapa kamu. Dia orang lain, aku ibumu, aku yang melahirkanmu." Kayla memelototi Yumna.
__ADS_1
Yumna menunduk sambil terus menahan tangisnya.
"Awas kamu kalau aku lihat kamu menangis lagi karena wanita itu. Aku akan menghabisimu!"
"Sudah. Sekarang tidur!"
Yumna langsung membaringkan tubuhnya.
"Tidurlah!" Kayla menyelimuti putrinya dengan kasar.
Yumna langsung memejamkan matanya ketakutan. Kayla masih berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. Dia melihat putrinya dengan tatapan kesal. Kayla ingin menunjukkan siapa dirinya pada Yumna. Putrinya itu harus patuh dan tunduk padanya, karena sang putri adalah aset berharga untuknya.
Kayla tiba-tiba tersenyum. Dia berjalan mondar-mandir sambil terus tersenyum-senyum sendiri mengingat fakta yang baru saja diketahuinya. Kevin ternyata bukanlah anak kandung keluarga ini maka dengan begitu otomatis Yumna menjadi ahli waris satu-satunya.
Kayla hampir melompat kegirangan. Dia tak menyangka jika anaknya akan menjadi harta karun yang tak ternilai untuknya. Namun dia tak boleh lengah, sekali lagi Yumna harus dibawah kuasanya. Naya juga harus benar-benar pergi dari ingatan sang putri. Dia harus menjadi satu-satunya ibu bagi Yumna.
Sementara itu.
Yanti berjalan bolak-balik di teras rumahnya, dia tampak risau menunggu kedatangan sang putra.
Tak lama yang ditunggu akhirnya datang, membuatnya langsung merasa lega hingga menangis bahagia melihat putranya tengah berjalan menghampirinya.
Keduanya langsung berpelukan.
Yanti menangis haru di pelukan Kevin.
"Sudah ibu. Aku tidak apa-apa."
"Iya ibu aku mengerti."
"Ayahmu sekarang sedang mengurung diri di ruang kerjanya, ibu yakin jika dia menyesali semua perkataannya padamu."
Kevin terdiam.
"Sebaiknya sekarang kamu istirahat saja di kamarmu. Jangan berpikiran macam-macam. Besok pagi ayahmu pasti akan minta maaf padamu."
"Aku yang akan minta maaf pada ayah ."
Yanti tersenyum, dia mengangguk lalu menggiring putranya memasuki rumah.
Setelah sampai di depan kamar Yumna, Kevin berniat ingin menemuinya terlebih dahulu, namun bersamaan dia akan membuka pintu, Kayla keluar dari sana.
"Yumna baru saja tidur." Kayla kaget.
"Aku ingin menemuinya sebentar." Kevin akan membuka pintu.
Kayla langsung mencegahnya.
"Kalau kamu masuk. Dia akan bangun dan pasti akan menangis lagi."
__ADS_1
Kevin tertegun.
"Iya nak. Sebaiknya kamu jangan masuk. Susah payah ibunya sudah menidurkannya. Jika dia bangun dia akan kembali menangis lagi." Yanti melihat putranya.
Kevin menyerah, akhirnya dia memutuskan untuk langsung menuju ke kamarnya.
***
Pagi hari.
"Jadi bayaran apa yang kamu minta dariku?" tanya Kayla pada Claudia di ujung telepon. Dia tahu jika dirinya berhutang budi padanya, setelah kemarin mantan adik iparnya itu telah membantunya dari serangan Kevin.
"Singkirkan niatmu yang ingin merebut Kevin dariku. Jangan pernah berpikir ingin menikah dengannya."
Kayla tertawa.
"Tentu saja. Dengan senang hati aku akan melakukannya. Lagi pula setelah aku tahu jika dia bukan anak kandung keluarga ini, aku tak berpikir ingin mendapatkannya lagi."
Claudia terdengar tak menjawab.
"Kamu sendiri? Apa masih ingin menikah dengannya sementara kamu tahu jika dia hanya anak pungut yang tak akan mendapatkan apapun?"
"Semuanya akan jatuh ke tangan anakku." Kayla tertawa sombong.
"Jangan dulu senang. Percayalah jika orang tuanya tak akan begitu saja membuangnya. Walaupun dia bukan anak kandung mereka, tapi aku yakin jika Kevin tetap akan mendapatkan bagiannya."
"Oh ya? Semoga harapanmu tidak sia-sia." Kayla kembali tertawa.
Claudia menyudahi perbincangan mereka. Dia langsung tertegun. Mengetahui jika ternyata kekasihnya bukan anak kandung keluarga Cahyo memang membuatnya syok, akan tetapi terlepas dari harta yang diincarnya selama ini, hubungan keduanya yang sudah terjalin cukup lama telah membuatnya benar-benar mencintai Kevin.
Melepaskan dan melupakan Kevin begitu saja tentu saja bukan hal yang mudah baginya, Claudia tetap berharap jika mereka bisa tetap menikah, sambil tentu saja berharap jika Kevin tetap akan mendapatkan harta bagiannya.
Di kediaman Cahyo.
Kevin kaget mendapati ayahnya telah berdiri di depan pintu kamarnya saat dia hendak keluar kamar.
Tanpa banyak bicara, Cahyo langsung memeluk sang putra.
"Maafkan ayah nak," ucap Cahyo pelan sambil memeluk putranya erat.
"Iya ayah. Aku juga minta maaf."
Cahyo menepuk-nepuk pundak sang putra sambil menahan air matanya.
"Kamu adalah putra ayah. Apapun yang terjadi kamu putra ayah."
Kevin mengangguk haru.
Tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh Yanti yang menghampiri mereka dengan wajah yang panik.
__ADS_1
"Kevin. Yumna menghilang. Dia tidak ada dimanapun," ucap Yanti dengan badan gemetar.
Cahyo hampir terhuyung namun Kevin dengan sigap memegang sang ayah.