Demi Yumna

Demi Yumna
Rumah Kita


__ADS_3

"Ibu guru Naya. Kembali lagi kesini rupanya," tanya pak RT yang tiba-tiba datang bersama Bi Wati.


"Iya pak. Sekarang rumah ini sudah dibeli oleh neng Naya." Bi Wati menjelaskan.


"Oh iya iya. Ngomong-ngomong ini siapanya ya?" Pak RT menunjuk Kevin dengan ibu jarinya.


"Oh ini suaminya Neng Naya pak. Mereka akan tinggal disini bersama."


Naya dan Kevin kembali saling melirik.


"Oh begitu. Maaf saya tidak tahu jika neng guru sudah menikah. Kalau begitu boleh nanti saya minta fotocopy KK untuk pendataan warga baru di komplek kita ini?"


"Iya pak. Tentu saja boleh. Nanti saya antarkan ke rumah bapak," jawab Naya.


Pak RT mengangguk sambil kemudian undur diri.


Bi Wati juga kembali ke rumahnya, diikuti oleh Yumna yang ingin ikut dengannya.


Kini tinggallah Naya dan Kevin yang berdiri canggung.


"Aku harus ke kantor." Kevin mengambil kunci mobilnya di atas meja.


"Iya, " jawab Naya dengan kaku.


Kevin akan melangkah pergi. Tapi terhalang oleh Yumna yang datang dari luar berlari ke arahnya.


"Apa ayah akan pergi kerja?" tanya Yumna di gendongan Kevin.


"Iya sayang. Ayah harus pergi ke kantor. Pekerjaan ayah banyak sekali."


"Tapi nanti ayah pulang ke sini kan?"


Kevin tak menjawab, dia hanya melirik Naya sekilas.


"Nanti malam aku tunggu ayah pulang ya."


"Iya sayang. Ayah berangkat dulu ya." Kevin menurunkan Yumna setelah diciuminya terlebih dahulu.


Kevin lalu pergi keluar rumah dengan diam-diam diperhatikan oleh Naya.


Naya lalu duduk termenung. Dia kembali memikirkan perkataan Kevin padanya tadi.


***


"Sebaiknya kamu segera menyerahkan diri pada polisi, tindakan penganiayaan yang kamu lakukan termasuk pada tindakan penganiayaan ringan. Hukumannya sepertinya tak akan lebih dari satu tahun." Indra melihat mantan istrinya yang sedang makan siang.


"Tetap saja aku tak mau masuk penjara." Kayla dengan santainya mengambil makanan dengan sendok lalu melahapnya dengan nikmat.


"Aku tak bisa terus menyembunyikanmu di hotel ini. Lama-kelamaan polisi pasti akan mencium keberadaanmu disini."


"Mereka tidak akan tahu. Polisi tak akan mungkin menggeledah satu-persatu kamar di hotel ini. Pintar-pintarlah kamu memanipulasi data pengunjung hotel, maka polisi tidak akan pernah menemukanku."


Indra mendesah kesal.

__ADS_1


"Sampai kapan? Sampai kapan kamu akan hidup dalam pelarian."


"Seandainya kamu keluar sekarang dan membantah tuduhan penganiayaan itu, kamu mungkin saja bisa lepas dari jeratan hukum."


Kayla terdiam sambil memainkan ponselnya.


"Oh iya. Kalau tidak salah pamanmu adalah polisi yang mempunyai jabatan yang tinggi, apa dia bisa membantu kita agar dia bisa menutup kasus ini?"


"Jangan bawa-bawa pamanku. Dia tak bisa melakukan itu karena itu sudah jelas melanggar prosedur hukum."


"Tapi aku ingin dia melakukannya." Kayla berdiri menghampiri Indra.


Indra tertegun melihat Kayla dengan baju tidur mini menghampirinya. Berjalan dengan berlenggak-lenggok sengaja ingin menggodanya.


"Pamanmu harus mau, karena kalau tidak, pamanmu akan dibuat malu jika harus mengurusi kasus pembunuhan dimana keponakannya sendiri adalah dalangnya," bisik Kayla dengan suara yang dibuat manja.


Wajah Indra seketika memerah. Menatap Kayla yang tengah tersenyum di depannya.


Kayla tak peduli dengan tatapan sangat mantan suaminya.


"Buatlah aku terbebas dari kasus ini. Setelah itu kita akan kembali menikah." Kayla kembali berjalan menuju kursi, duduk merebahkan tubuhnya disana.


"Siapa yang mau menikah denganmu lagi? Aku tak sudi menjadikanmu istriku lagi!"


"Kamu harus mau, karena kali ini pernikahan ini akan menguntungkan kita berdua."


"Apa maksudmu?"


"Aku akan mengambil hak asuh Yumna putriku, akan lebih mudah jika aku mempunyai suami."


Kayla tertawa.


"Asal kamu tahu jika anakku itu adalah calon penerus tahta kerajaan bisnis Cahyo. Dia adalah pewaris tunggal satu-satunya karena Kevin bukan anak kandung keluarga itu ."


Indra tertegun kaget.


"Cahyo pasti akan mewariskan seluruh hartanya pada anakku, jadi bagaimanapun caranya hak asuh Yumna harus ada padaku. Lagi pula aku ibu kandungnya, pengadilan tak bisa mengabaikan hal itu."


"Yakinlah jika aku pasti akan menang." Kayla terlihat sangat yakin.


Indra mulai tertarik.


"Jika aku menang dan semua harta Cahyo jatuh ke tanganku. Tentu saja aku akan memberikan investasi besar-besaran pada seluruh bisnismu."


"Lihat. Kita sama-sama akan diuntungkan jika kita bekerja sama bukan?" Kayla tersenyum senang.


Indra tak menjawab hanya terdiam sambil memikirkan semua perkataan Kayla, dia tertegun beberapa saat.


"Membuatmu terbebas dari jeratan hukum itu yang tidak mungkin, tapi aku akan mencoba melakukannya." Indra melihat mantan istrinya.


Sepertinya dia tertarik pada rencana mantan istrinya, bisnisnya yang hampir gulung tikar sedang memerlukan suntikan dana yang besar. Jika apa yang dikatakan mantan istrinay benar, maka harapan besar untuk menyelamatkan bisnis keluarga akan terbuka lebar.


***

__ADS_1


Malam hari.


"Bunda. Ayah belum pulang ya?" tanya Yumna sambil melirik sang ibu yang terbaring di sebelahnya.


"Belum sayang. Tidurlah. Hari ini pasti Yumna capek sekali." Naya mengingat seharian ini putrinya bahkan tak sempat tidur siang, terus bermain bersama Bi Wati dan anak-anak tetangga rumah mereka.


Yumna mulai menguap berkali-kali, setelah membaca doa sebelum tidur, dia lalu memejamkan matanya hingga tak butuh waktu lama dia sudah terlelap dalam tidurnya.


Naya beringsut turun dari tempat tidur, malam memang baru menunjukkan pukul setengah delapan tapi sama seperti sang putri, dia sudah merasakan kantuk dan ingin segera beristirahat di dalam kamarnya.


Dia mematikan lampu ruang tamu, lalu memeriksa pintu depan untuk memastikan jika sudah dikunci dengan benar. Namun sejenak dia tertegun di depan jendela, ketika tiba-tiba dia mengingat semua perkataan Kevin padanya tadi siang.


Naya terus berdiri di balik tirai jendela, sambil mengingat-ingat pertanyaan Kevin yang kembali terngiang-ngiang di telinganya, dia menarik napas panjang berusaha meredakan rasa aneh yang tiba-tiba datang menyerang.


Naya memegang dadanya, merasakan kini jantungnya bertalu-talu, ketika melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.


Kevin menghela napas panjang melihat lampu rumah Naya yang sudah tidak menyala. Membuatnya berpikir jika Naya dan putrinya sudah tertidur. Dia tak ingin masuk kesana dan mengganggu mereka, kedatangannya kesini karena pikirnya Yumna sedang menunggunya, tapi jika sekarang putrinya itu sudah tertidur maka sebaiknya dia pulang saja ke rumahnya.


Kevin kembali menghidupkan mesin mobilnya, namun tiba-tiba dia melihat lampu rumah Naya yang kembali menyala. Membuatnya tertegun heran sambil melihat ke arah rumah yang kini sudah terang.


Sementara di dalam sana, Naya berdiri bengong sambil melihat tangannya masih menempel di saklar lampu.


"Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku menghidupkan lampu?" gumam Naya pelan.


Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk, Naya tahu jika Kevin sudah di depan pintu. Dia menarik napas panjang demi untuk menghilangkan rasa gugup yang entah mengapa tiba-tiba datang menerjang.


Naya lalu membukanya. Melihat Kevin berdiri di hadapannya.


"Aku pikir kalian sudah tidur karena lampunya tadi mati, tapi tiba-tiba lampunya kembali menyala jadi aku pikir kalian memang belum tidur. Aku kesini takut jika Yumna menungguku," ucap Kevin yang berdiri di ambang pintu.


"Masuklah." Naya meminta suaminya untuk masuk ke dalam.


Kevin berjalan memasuki rumah.


"Yumna memang sudah tidur. Aku yang menyalakan lampu," ucap Naya sambil kembali menutup pintu.


Kevin melihat Naya yang berjalan mendekatinya.


Naya mengambil jas suaminya. Kevin memberikannya sambil melongo keheranan.


"Apa kamu sudah makan?" tanyanya sambil melihat sang suami.


Kevin tidak menjawab hanya tertegun heran melihat tingkah istrinya.


"Kalau belum aku akan menghangatkan makanan untukmu." Naya berjalan dengan membawa jas suaminya.


"Kenapa kamu menyalakan lampunya."


Naya langsung menghentikan langkahnya.


"Karena aku lihat kamu akan pergi lagi."


"Kenapa kamu tidak ingin aku pergi?" Kevin melangkah mendekati Naya yang berdiri membelakanginya.

__ADS_1


"Kamu akan pulang kemana? Ini rumah kita," jawab Naya dengan pelan padahal jantungnya berdetak kencang.


Naya lalu membalikkan tubuhnya, menyelami kedalaman mata Kevin yang menatapnya tak percaya.


__ADS_2