
"Kenapa kamu suka sekali tiba-tiba menarik tanganku?" gumam Naya dengan kesal sambil berdiri.
Kevin hanya menahan senyumnya melihat sang istri yang mengomel.
"Baiklah. Lain kali aku tidak akan memegang tanganmu lagi." Kevin kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa.
Naya tak merespon, dia berjalan meninggalkan Kevin.
"Tapi aku akan langsung memelukmu." Kevin tersenyum sendiri.
Naya langsung mendelik melihat Kevin di belakangnya.
***
Di lobi Rumah Sakit.
Yanti memeluk cucu kesayangannya dengan erat.
"Nanti nenek akan sering-sering main ke rumah kalian ya."
Yumna hanya mengangguk sambil berjalan menuju kakeknya.
Cahyo langsung memeluk sang cucu sambil menciuminya.
"Yumna juga harus janji sama kakek untuk sering-sering pulang ke rumah kita."
"Iya kakek. Aku janji." Yumna mencium pipi sang kakek.
Cahyo tersenyum sambil menurunkan cucunya.
Yanti menghampiri Naya.
"Kami tidak perlu menitipkan Yumna padamu karena kami tahu kamu akan menjaganya dengan baik."
Naya hanya tersenyum.
Kevin menghampiri mereka semua setelah memasukkan barang-barang ke dalam mobil.
"Kami pergi dulu." Naya menggendong Yumna lalu memasuki mobil.
Disusul oleh Kevin setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.
Yanti dan Cahyo melambaikan tangan. Begitu juga dengan Yumna dengan wajah cerianya.
__ADS_1
"Dadah Kakek. Dadah Nenek."
Sepanjang perjalanan.
Naya tersenyum senang melihat Yumna yang kembali riang, di sepanjang perjalanan dia terus mendengar celotehan lucu putrinya. Kevin juga merasakan hal yang sama, setelah beberapa hari ini dia hanya melihat wajah murung putrinya, akhirnya kini dia bisa melihat keceriaan itu kembali menghiasi wajah kecil sang putri.
Sudah hampir setengah jalan namun Naya dibuat heran karena Kevin membawa mereka bukan ke arah kost-annya.
"Sepertinya kamu salah. Ini jalan ke arah rumahku yang dulu." Naya melihat Kevin heran.
Kevin tak menjawab, dia hanya terus melajukan kendaraannya.
Hingga akhirnya tak lama kemudian mereka sampai di rumah yang dulu mereka tinggali, rumah yang mereka sewa bersampingan dengan rumah bi Wati.
"Kenapa kesini?" tanya Naya heran sambil terus melihat suaminya.
Kevin tak menjawab, dia hanya langsung menggendong Yumna dan mengajaknya turun.
Naya juga ikut turun masih dengan perasaan herannya. Apalagi kini dia melihat Kevin membuka pagar dan memasuki rumah itu.
Lain halnya dengan sang ibu yang berjalan perlahan keheranan, Yumna nampak melompat-lompat kegirangan mengetahui jika mereka pulang ke rumah mereka yang dulu.
Belum terjawab rasa penasarannya, bi Wati dengan wajah sumringahnya datang menghampirinya.
"Tinggal disini lagi?" Naya kaget.
"Iya neng. Apa neng tidak tahu kalau suami neng sudah membeli rumah ini, penyewa yang kemarin tinggal disini disuruh pindah sama suami neng, ke rumah yang didepan sana loh neng. Suami neng juga yang bayarin sewanya sampai satu tahun."
Naya terperangah kaget sambil mencari keberadaan Kevin yang sudah memasuki rumah bersama putrinya.
Dia lalu masuk ke dalam, lebih dibuat ternganga melihat perabotan rumah yang sudah lengkap, Naya yakin jika semua itu pastilah baru. Mulai dari sofa, tv meja makan juga perabotan dapur lainnya.
Melihat hal itu, semakin membuatnya tak tahan untuk bertemu Kevin dan menanyakan semuanya, dari suaranya dia tahu jika suami dan putrinya sedang berada di kamar depan.
Naya segera berjalan kesana, mendapati suami dan putrinya tengah bercanda di atas kasur untuk Yumna yang tentunya juga baru.
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, selain kasur juga ada lemari dan meja belajar untuk putrinya.
Naya sudah tak tahan ingin bertanya banyak hal, tapi mengurungkannya karena melihat tawa sang putri, dia tahu jika putrinya itu sedang sangat bahagia karena akhirnya mereka kembali ke rumah yang menyimpan banyak kenangan bagi mereka berdua.
Naya lalu berjalan ke kamar satunya lagi, kamar yang dulu tak digunakan olehnya itu kini sudah terisi lengkap dengan tempat tidur, meja rias, nakas juga lemari yang besar .
Dia terduduk lemas di atas kasur. Termenung tak menyangka jika Kevin akan melakukan ini semua tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka, Kevin berjalan menghampirinya karena tahu jika Naya pasti sudah tak tahan ingin bertanya padanya.
"Yumna sedang diajak bi Wati ke rumahnya." Kevin duduk di samping istrinya.
"Terima kasih." Naya melirik Kevin sekilas.
Kevin tak segera menjawab, dia pikir Naya akan marah padanya, tapi rupanya tidak.
"Aku membawa Yumna yang masih bayi, yang baru ditinggal ibunya ke rumah ini, dengan uang seadanya kami memulai kehidupan baru kami di rumah ini. Waktu itu aku masih kuliah, jadi jika aku pergi, aku menitipkan Yumna pada Bi Wati." Naya tersenyum sendiri mengingat kenangannya dulu.
Kevin tampak mendengarkan.
"Sayangnya kuliahku tidak selesai. Selain karena biaya, aku juga merasa tak enak hati jika harus terus menitipkan Yumna walaupun sebenarnya aku tahu jika bi Wati sama sekali tak keberatan."
"Aku sempat kebingungan mencari uang untuk biaya hidup aku dan Yumna, tapi kemudian Allah memberiku jalan. Aku mencoba menjadi guru privat. Untuk anak SD dan SMP. Rumah ini aku sulap menjadi tempat les anak-anak. Jadi dengan begitu aku masih bisa mencari uang tanpa harus meninggalkan Yumna. Kamu tahu rumah ini menjadi selalu ramai oleh anak-anak yang ingin belajar les, datang silih bergantian dari jam pulang sekolah sampai sore." Naya terus tersenyum sendiri.
"Karena itu setiap sudut rumah ini menyimpan banyak kenangan untukku. Untuk Yumna juga tentunya karena dia tumbuh besar di sini." Naya melihat Kevin sambil tersenyum.
"Tadinya aku ingin marah, tapi setelah aku pikir-pikir kamu telah memberikan kebahagiaan untuk Yumna yang aku sendiri belum tentu bisa melakukannya. Jadi aku sangat berterima kasih padamu."
"Kini aku benar-benar yakin jika kamu sangat tulus menyayangi Yumna, tekadmu untuk membahagiakannya juga sangat besar. Jujur saja aku merasa terharu. Ibu kandungnya boleh tidak menyayanginya, tapi Yumna beruntung karena ada kamu pengganti ayahnya yang akan melakukan apapun untuknya."
"Kenapa kamu selalu berpikir jika aku melakukannya hanya semata-mata untuk Yumna saja?" tanya Kevin sambil menatap wajah Naya.
"Aku yakin jika kamu sudah cukup dewasa untuk pura-pura polos, tak bisa membedakan mana orang yang pura-pura jatuh cinta padamu mana yang memang benar-benar jatuh cinta."
"Aku melakukan ini semua selain karena Yumna juga karena memang aku mencintaimu. Bukan pura-pura jatuh cinta padamu seperti yang kamu pikirkan."
Naya tertegun sejenak.
"Bagaimana aku bisa percaya jika kamu masih mempunyai seorang kekasih yang..."
"Aku sudah memutuskannya. Kami sudah tak ada hubungan lagi," sela Kevin cepat.
Naya kaget.
"Bagaimana sekarang? Apa kamu percaya padaku?"
Keduanya saling bertatapan.
"Bunda..." Yumna tiba-tiba masuk ke dalam mengagetkan keduanya.
"Wah kamar ayah dan bunda juga bagus. Sesekali aku boleh kan tidur sama kalian disini?" Yumna menaiki kasur.
__ADS_1