
Matahari pagi menyapa hari ini yang terasa lebih bersemi dan berseri.
Senyum dan tawa bahagia sudah menghiasi seluruh penghuni rumah kecil nan asri itu, sembari membuat sarapan untuk sang suami dan putrinya tersayang, Naya terus mendengar suara gelak tawa bahagia dari sang putri yang tengah menemani ayahnya berolahraga pagi.
Yumna duduk di punggung ayahnya yang sedang melakukan push-up, sesekali tertawa riang ketika dirinya menahan diri untuk tidak terjatuh dari atas sana.
"Yumna sayang ayo mandi, sarapannya sudah siap." Naya menghampiri keduanya di teras rumah.
Yumna mengangguk patuh, dia segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil handuk lalu pergi untuk mandi sendiri.
Sementara Kevin kembali melanjutkan aktivitas olahraga paginya.
Tak lama Yumna sudah keluar dari kamar mandi. Naya yang sudah selesai menghidangkan makanan di atas meja makan lalu menghampiri sang suami yang masih berolahraga pagi.
"Cepatlah mandi. Yumna sudah selesai."
Kevin berdiri sambil menyeka keringatnya.
"Sebentar lagi." Kevin melompat-lompat.
"Berhentilah. Kamu akan kesiangan," ucap Naya memberikan handuk kecil.
Kevin mengambil handuk itu sambil melihat istrinya mesra.
"Lagian, sudah lama kamu berolahraga. Dari jam setengah enam tadi." Naya melihat jam dinding di dalam rumah.
"Aku harus menambah durasi olah ragaku," jawabnya sambil menyeka keringatnya dengan handuk.
"Kenapa?" Naya heran.
"Olahraga adalah jalan alternatif untuk menyalurkan sesuatu yang tidak bisa tersalurkan." Kevin kembali menatap Naya kali ini dengan tatapan penuh cinta.
Wajah Naya langsung merah merona.
Kevin tersenyum sendiri melihat wajah istrinya yang kini malu-malu.
***
"Kalian tidak perlu cemas. Kami akan menjaga putri kalian dengan baik. Selain kalian berdua yang memegang kartu itu, kami pastikan orang lain tak akan bisa menemui Yumna." Kepala sekolah meyakinkan Naya dan Kevin.
Kevin dan Naya kini merasa lega.
"Terima kasih banyak atas bantuannya." Kevin berjabatan tangan dengan kepala sekolah disusul oleh Naya.
__ADS_1
Keduanya lalu undur diri. Berjalan bersama menuju parkiran mobil.
"Bagaimana? Sudah lebih tenang sekarang?" tanya Kevin melirik istrinya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya. Paling tidak sekarang Yumna akan diperhatikan lebih oleh para gurunya karena kita sudah menceritakan semuanya."
Kevin menghidupkan mesin mobil, lalu melaju ke luar gerbang, namun tanpa di duga sudah ada seseorang yang mencegat mereka di luar gerbang.
Naya melirik cemas Kevin di sampingnya.
Namun Kevin dengan wajah santainya meminta sang istri untuk tenang.
"Turunlah dulu. Ada yang ingin aku bicarakan." Kayla menggedor jendela kaca.
Kevin lalu menepikan mobilnya, mengajak istrinya untuk turun.
Kayla menyeringai melihat sepasang suami istri itu turun dan berjalan menghampirinya.
"Ada apa lagi?" Naya melihat Kayla jengah.
"Aku hanya ingin memberitahumu kalian jika kami akan mendaftarkan gugatan hak asuh Yumna pada pengadilan." Kayla menunjuk seorang lelaki yang nampak sedang santai merokok sambil bersandar di mobilnya.
Kevin langsung tahu jika itu adalah Indra, mantan suami Kayla sekaligus kakak mantan pacarnya.
Indra berjalan menghampiri mereka dengan angkuh.
"Lalu apa? Kamu ingin ucapan selamat dari kami?" Kevin menyeringai sinis.
Kayla tak menjawab, dia hanya menarik tangan Indra lalu menggandengnya mesra.
Dua pasang suami istri itu berdiri saling bertatapan dengan tajam. Aroma permusuhan begitu terasa dari dua kubu yang sama-sama menginginkan Yumna.
Indra menatap Kevin dengan pandangan tak suka, ini memang bukan pertemuan pertama mereka karena sempat beberapa kali keduanya dipertemukan oleh Claudia.
Namun di pertemuan kali ini tentu saja tidak seperti pertemuan mereka sebelumnya. Keduanya saling menatap benci, terutama Indra yang kesal karena adik kesayangannya dicampakkan begitu saja oleh lelaki di hadapannya ini.
"Aku dan suamiku akan mengambil anakku dari kalian," ucap Kayla sambil bergelayutan di lengan suaminya.
"Silahkan. Lakukan apapun yang kalian inginkan." Naya tersenyum.
"Sebelum mendaftarkan gugatan, kami ingin memberikan kalian kesempatan untuk menyerahkan Yumna secara baik-baik pada kami, dari pada kita harus berseteru di pengadilan, menghabiskan banyak waktu dan uang karena akhirnya pasti kami yang menang, lebih baik jika sebaiknya kalian menyerahkan saja Yumna sekarang."
Kevin dan Naya tersenyum berbarengan.
__ADS_1
"Justru kami yang harus mengatakan hal itu, menyerahlah, sebelum kamu nanti akan kami permalukan di depan umum." Naya menatap Kayla.
Kayla sedikit terlihat gelagapan.
"Kerahkan segala upaya kalian untuk mengambil Yumna dari kami karena itu sama sekali tak akan pernah berhasil," ucap Naya lagi menantang.
"Kenapa kalian begitu bersikeras untuk tidak memberikan Yumna pada ibu kandungnya? Bukankah kalian sudah menikah? Kalian kan bisa mempunyai anak kandung kalian sendiri? Kenapa sangat ingin mengurus anak yang bahkan tidak mempunyai hubungan darah sama sekali dengan kalian? Mungkinkah ada maksud terselubung?" Indra tersenyum.
Kevin hampir tertawa terbahak mendengar perkataan mantan calon kakak iparnya.
"Anda ini sedang membicarakan kami atau membicarakan diri sendiri?" Kevin melangkah maju mendekati Indra sambil bersedekap dada.
Indra menatap Kevin geram.
"Apa yang dijanjikan wanita di sebelah anda ini hingga anda mau diajak kerjasama olehnya?" tanya Kevin menunjuk Kayla dengan wajahnya.
"Apakah anda sebegitu putus asa karena bisnis anda yang hampir bangkrut, sehingga anda mau dijadikan boneka olehnya?" tanya Kevin lagi yang membuat wajah Indra langsung memerah menahan amarah.
Indra yang tersulut emosi menepis tangan Kayla di sampingnya, bersiap untuk memukul Kevin di hadapannya.
Namun Kayla dengan cekatan menahan suaminya.
"Sudah. Jangan dengarkan dia." Kayla terus menghalau suaminya untuk menjauhi Kevin yang hanya tertawa melihat Indra yang terprovokasi olehnya.
"Asal kamu tahu jika adikku beruntung tidak jadi menikah denganmu yang seorang anak pungut, tidak jelas asal usulnya." Giliran Indra yang mencoba memprovokasi Kevin.
Mimik wajah Kevin langsung berubah seketika. Tak ingin suaminya juga tersulut emosi, Naya segera memegang tangannya lalu membawanya mundur mendekati mobil mereka.
Indra sudah berhasil di bawa masuk ke dalam mobil oleh istrinya, namun wajahnya masih menunjukkan amarah ketika dia ingat jika Kevin menyebutnya hanya sebagai boneka Kayla saja.
"Kenapa denganmu? Kenapa kamu marah hanya karena dia berbicara seperti itu?" Kayla yang sudah duduk di sampingnya melihat Indra sewot.
Mendengar itu, emosi Indra bukannya mereda, malah dibuat semakin menggila. Dia menatap Kayla dengan geram dan penuh kebencian.
Sementara itu.
Naya terduduk lega setelah akhirnya mereka sudah ada di dalam mobil.
Dia melirik suaminya yang terus menatap tajam mobil Indra di depannya.
Naya memegang tangan Kevin, dia tahu jika suaminya itu sebenarnya juga tersulut emosi akan perkataan Indra tadi.
Di pegang Naya Kevin seakan tersadarkan, dia menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum menatap istrinya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Tidak apa-apa." Kevin mengeratkan genggaman tangan istrinya.