
Naya mengerjapkan matanya tak mengerti. Sesaat dia tertegun sejenak hingga akhirnya dia tersenyum sambil berdiri.
"Kamu tak harus melakukan ini." Naya akan melangkah pergi.
Buru-buru Kevin memegang tangannya.
"Apa maksudmu?" Kevin tak mengerti.
Naya masih tersenyum.
"Kamu tak harus berpura-pura jatuh cinta padaku hanya demi untuk membahagiakan Yumna atau agar tetap bisa bersama Yumna. Sudah aku katakan jika kamu dan keluargamu tetap bisa menemuinya kapan saja." Naya lalu melangkah pergi meninggalkan Kevin.
Giliran Kevin yang mengerjapkan matanya tak percaya jika Naya menganggap pernyataan cintanya hanya pura-pura semata.
***
"Untungnya dia belum mengalami trauma yang begitu mendalam. Dia akan baik-baik saja selama dia dijauhkan dari semua ingatan akan kekerasan yang telah terjadi padanya. Baik itu orang yang telah menganiayanya begitu juga dengan tempat dimana dia telah dianiaya." Psikiater melihat Naya dan Kevin bergantian.
Keduanya langsung mengangguk mengerti.
"Kalian bisa membawanya lagi padaku agar aku bisa terus memantau perkembangannya. Semoga dia bisa dengan cepat melupakan semua ingatan buruknya akan kekerasan itu dan dia bisa tumbuh dengan normal lagi." Psikiater itu lalu undur diri.
Naya dan Kevin sama-sama menghela napas lega sambil melihat Yumna yang kini sudah tertidur dengan lelapnya.
"Kamu pulang saja. Biar aku yang menunggu Yumna disini," ucap Naya tanpa melihat Kevin sambil duduk di sofa.
Kevin melihat Naya dengan kesal. Dia ingat bagaimana Naya menganggap pernyataan cintanya tadi hanya sebagai alasan agar dirinya bisa tetap bersama Yumna.
"Aku akan tidur disini." Kevin duduk lalu merebahkan tubuhnya pada sofa di depan Naya.
Naya tak merespon, dia terlihat fokus melihat ponselnya.
Kevin memperhatikan Naya yang terus fokus memainkan ponsel, sama sekali tak memperdulikannya.
Kevin semakin merasa kesal, dia duduk sambil menatap Naya di depannya.
"Kenapa kamu berpikir jika aku harus berpura-pura jatuh cinta padamu hanya demi Yumna?"
Naya mengangkat wajahnya melihat Kevin.
"Masih ingin membahasnya?" tanyanya santai sambil kembali melihat ponselnya.
"Tentu saja!" jawab Kevin cepat.
"Aku pikir sekarang bukan waktunya untuk membahas yang tidak penting. Sekarang lebih baik kita fokus saja pada Yumna," jawab Naya cuek sambil terus melihat ponselnya.
Kevin mengerutkan keningnya.
"Tidak penting?" tanyanya tak percaya. Wanita di depannya ini memang sungguh luar biasa, pernyataan cinta dianggapnya sesuatu yang tidak penting.
"Nayara. Apa yang aku katakan tadi serius."
Naya langsung melihat Kevin. Keduanya saling bertatapan.
Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka, Claudia masuk ke dalam.
Naya langsung tersenyum melihat kedatangannya. Lain halnya dengan Kevin yang melongo kaget.
"Sayang. Kenapa teleponku tidak diangkat." Claudia berjalan mendekati Kevin lalu duduk di sampingnya.
__ADS_1
Kevin terlihat salah tingkah, dia melihat Naya yang acuh dan kembali sibuk memainkan ponselnya.
"Bagaimana sekarang keadaan Yumna? Aku tidak menyangka jika Kayla akan melakukan itu padanya." tanya Claudia sambil memegang lengan Kevin dengan manja.
Kevin segera melepaskannya lalu berdiri dan menarik tangan Claudia dan membawanya keluar.
Naya yang melirik keduanya sekilas hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kevin.
Di parkiran mobil.
"Kenapa kamu bawa aku kesini, aku kan belum melihat Yumna, boneka ini saja belum aku berikan padanya." Claudia menunjukan kantong besar yang dibawanya.
Kevin menarik napas panjang.
"Dimana Kayla?"
"Kayla? Kenapa kamu menanyakannya padaku. Aku tidak tahu dia dimana."
"Jangan berpura-pura. Aku tahu pasti Kayla mendatangimu."
"Kenapa dia mendatangiku. Dia memang mantan kakak iparku, tapi hubungan kami tak sedekat itu."
"Karena kalian bersekongkol." Kevin menatap tajam Claudia.
Claudia terkesiap kaget.
"Bersekongkol? Apa maksudmu? Aku tak mengerti." Claudia gagap.
"Jangan pura-pura. Aku tahu jika kalian bersekongkol."
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"
Claudia gelagapan.
"Aku kecewa. Kenapa kamu memilih untuk bersekongkol dengannya walaupun aku tidak tahu apa sebenarnya yang sedang kalian rencanakan."
"Aku hampir membuka kedok Kayla tapi kamu malah melindunginya. Jika saat itu kamu tak membelanya, aku yakin jika Yumna tak akan sampai seperti ini."
"Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan." Claudia berusaha untuk mengelak.
"Aku sudah terlanjur kecewa padamu." Kevin mendesah kesal.
"Lalu aku? Bagaimana dengan aku? Apa kamu pikir aku tak kecewa padamu?" Claudia balik melihat Kevin dengan kesal.
"Apa aku tidak tahu jika kamu juga diam-diam jatuh hati pada wanita itu."
"Jadi kamu sudah tahu?"
"Tentu saja aku tahu. Aku bukan wanita bodoh. Ketika kamu bersikeras tidak mau menceraikannya aku sudah tahu jika kamu sudah menaruh hati padanya." Giliran Claudia yang menyerang balik Kevin.
Tanpa diduga Kevin malah tersenyum.
"Syukurlah kalau kamu sudah tahu. Aku tak perlu repot-repot mengatakannya lagi padamu."
Claudia terperangah.
"Kamu benar aku sudah jatuh cinta padanya. Maafkan aku."
Claudia berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan ini padaku? Bagaimana dengan hubungan kita?" Claudia mulai menitikkan air matanya.
"Aku tahu jika aku salah telah mengakhiri hubungan kita seperti ini. Tapi aku yakin jika kamu akan segera menemukan penggantiku yang lebih baik."
"Tidak! Aku tidak mau putus denganmu." Claudia memegang tangan Kevin.
"Maafkan aku. Aku tak bisa melanjutkan hubungan kita."
Kevin melepaskan tangan Claudia lalu pergi meninggalkannya seorang diri.
Claudia segera menghapus air matanya. Dia menatap Kevin dengan tatapan penuh kebencian.
"Setelah mencampakkanku seperti ini. Aku jamin jika hidupmu dan wanita itu tak akan pernah bahagia."
Kevin kembali ke ruangan Yumna, namun sesampainya disana dia melihat Naya sudah tidur bersama putrinya. Sejenak dia tertegun melihat keduanya yang tidur dengan saling berpelukan di atas ranjang.
Dia sudah yakin akan pilihannya, hubungannya dengan Claudia sudah diakhirinya. Mulai sekarang hingga ke depannya, dua orang di hadapannya ini yang akan menjadi prioritas di hidupnya.
***
Keesokan harinya.
Yanti dan suaminya pagi-pagi sekali sudah datang untuk membesuk sang cucu, mereka juga membawakan baju ganti serta makanan untuk cucunya dan juga Naya.
"Naya makanlah. Ibu membuatkan ini untukmu." Yanti memanggil Naya memintanya untuk segera mencicipi makanannya dengan sumringah.
"Makanlah. Biar kakeknya dulu yang menjaga Yumna," ucap Yanti setelah Naya duduk di sampingnya.
"Ini. Makanlah." Yanti memberikan sepiring makanan untuknya sambil tersenyum.
"Terima kasih." Naya segera memakannya.
Yanti dengan wajah berseri-seri melihat Naya yang sedang makan.
"Maafkan ibu ya. Ibu sungguh minta maaf," ucap Yanti tiba-tiba sambil memegang tangan Naya.
Naya langsung menyimpan piringnya. Dia melihat Yanti di sebelahnya.
"Aku juga minta maaf. Anda pasti tersinggung atas ucapan saya kemarin."
"Tidak. Sama sekali tidak. Semua yang kamu katakan itu benar. Ibu terlalu bodoh hingga begitu saja mempercayai wanita itu."
Naya terdiam.
"Sekarang ibu menyerahkan Yumna kembali padamu. Ibu sadar jika yang Yumna butuhkan hanya kamu."
"Kembali ke rumah kami, kamu dan Yumna juga pasti tidak mau. Tapi jika kamu berkenan kami ingin agar kamu tinggal di salah satu rumah kami."
"Kamu bisa memilih. Ada beberapa rumah, atau kalau kamu mau juga ada beberapa apartemen. Kamu dan Yumna bisa memilih salah satu dari rumah atau apartemen kami."
Naya langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Maaf. Saya tidak bisa menerima tawaran anda. Biarkan saya dan Yumna menjalankan kehidupan kami yang sederhana seperti dulu."
Yanti terdiam nampak kecewa.
"Tapi anda tak perlu khawatir, saya akan tetap berusaha memberikan Yumna kehidupan yang layak."
"Walaupun tidak akan sama seperti kalian yang mampu memberikan apapun untuknya tapi aku tetap akan berusaha untuk membahagiakannya walaupun bukan dengan harta caranya."
__ADS_1