
Kevin menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya. Mulutnya sudah terbuka, namun tiba-tiba tercekat melihat sang ayah yang tengah tertawa bercanda dengan Yumna saat mereka sarapan bersama.
Kevin memegang kepalanya frustasi, dia tak ingin merusak suasana, saat ini kedua orang tuanya sedang sangat bahagia dengan tertangkapnya Kayla. Dia lalu memutuskan untuk lain kali saja memberitahu mereka, disaat Indra sudah tertangkap oleh polisi nanti.
"Maaf tuan ada tamu." Seorang pelayan menghampiri mereka.
"Tamu? Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini." Yanti beranjak dari duduknya.
Tanpa diduga, ternyata tamu yang dimaksud kini sudah ada di hadapan mereka.
Indra. Berdiri di hadapan mereka semua dengan menundukkan kepalanya tak berani menampakkan wajah.
Melihat Indra, orang yang semalaman tadi dicarinya karena ternyata dia orang yang telah menghilangkan nyawa kakaknya membuat Kevin hilang kendali. Dia berdiri dengan cepat, berjalan ke arah Indra dengan tangan mengepal kuat.
Bukk
Kevin memukul Indra dengan tanpa aba-aba.
Sontak saja Indra dibuat terhuyung dibuatnya. Dia kembali mencoba berdiri tegak tapi lagi dan lagi Kevin memukulinya dengan tanpa henti.
Naya langsung mengambil Yumna, tak ingin putri kecilnya melihat kekerasan yang tengah dilakukan ayahnya, dia meminta seorang pegawai untuk membawa Yumna menjauh dari sana. Sementara Yanti dan suaminya terus berusaha menghentikan aksi sang putra.
Cahyo bahkan memanggil para security untuk menghentikan Kevin yang terus secara membabi-buta memukuli Indra yang kini seluruh wajahnya sudah berdarah-darah.
Akhirnya Kevin berhenti setelah dua orang security memegangnya dengan paksa, walaupun dia terus berontak meminta untuk dilepaskan karena belum puas memukuli Indra yang saat ini bahkan sudah tergeletak tak berdaya.
"Lepaskan!!" Kevin berteriak seperti kesetanan.
Naya segera menghampiri suaminya, dia berusaha menenangkan Kevin yang sepertinya sudah di luar kendali.
Sang ibu juga melakukan hal yang sama, sambil menitikkan air mata, Yanti yang kaget karena baru pertama kali ini melihat putranya seperti ini memeluk sang putra.
"Hentikan nak. Tolong hentikan. Ibu takut."
Kevin seakan tersadarkan melihat sang ibu yang menangis di pelukannya. Dia tak lagi berontak dan emosinya perlahan mereda.
"Ibu. Maafkan aku ibu."
"Nak. Ada apa? Kenapa kamu begitu marah?"
Kevin tertegun sambil melihat Indra yang merintih di bawahnya.
Napas Kevin naik turun. Dia terus menatap tajam Indra yang tengah bersusah payah untuk berdiri.
"Ada apa? Kenapa kamu memukulinya seperti itu?" Cahyo menghampiri sang putra.
__ADS_1
Kevin tak lekas menjawab pertanyaan sang ayah, tatapannya fokus pada Indra yang kini sudah berdiri tegak di depannya.
"Kedatangan saya kesini ingin meminta maaf. Sebelum saya menyerahkan diri pada polisi." Indra menyeka darah yang keluar dari hidung dan bibinya.
"Meminta maaf? Untuk apa?" Cahyo heran.
"Apa untuk penculikan Yumna kemarin? Apa kamu dalang penculikannya?" Yanti mencoba menebak.
"Bukan ibu. Bukan untuk itu." Kevin menimpali masih dengan menatap Indra tajam.
"Lalu untuk apa?" Cahyo semakin tak mengerti.
Indra menundukkan kepalanya, dia sudah tentu merasa takut mengakui kejahatan yang telah dilakukannya.
"Katakan!! Katakan kepada kedua orang tuaku, kejahatan apa yang telah kamu lakukan." Suara Kevin kembali meninggi, membuat semuanya kembali kaget.
Naya memegang tangan suaminya, memintanya untuk tenang.
Indra malah semakin menundukkan kepalanya, badannya gemetar ketakutan.
"Katakan. Cepat katakan," ucap Kevin dengan suara tak lagi tinggi, namun dengan sambil menahan tangisnya.
Cahyo dan istrinya semakin dibuat tak mengerti.
"Maafkan aku. Aku telah membunuh putra kalian."
"Membunuh putra kami? Danendra?" Yanti mengernyitkan keningnya.
"Iya. Saya telah membunuh putra kalian. Putra kalian bukan meninggal karena kecelakaan, tapi semuanya sudah direncanakan."
Yanti menutup mulutnya. Sementara Cahyo langsung oleng tak sanggup lagi menahan tubuhnya sendiri. Membuat Kevin dan Naya serta kedua security tadi membawa Cahyo untuk duduk di kursi.
"Maafkan saya. Saya melakukan itu karena dihasut oleh Kayla."
"Kayla?" Mata Yanti kembali terbelalak.
"Sekali lagi maafkan saya." Indra berlutut, kepalanya terus menunduk penuh penyesalan.
Kini giliran Yanti yang tak sanggup lagi berdiri, dia terhuyung namun dengan cepat Naya memegang tubuh mertuanya.
Cahyo yang sudah mencerna apa yang terjadi, hanya bisa tertegun dengan wajah penuh amarah. Dia tak sanggup mengatakan apapun, hanya mengingat sang putra yang telah tiada yang ternyata kepergiannya karena dibunuh seseorang.
Sementara Yanti menangis sedih, dia tak menyangka Kayla tega melakukan perencanaan pembunuhan pada mantan suaminya sendiri. Ayah dari anak yang dilahirkannya.
Yanti menangis sesenggukan. Mengingat sang putra juga yang rupanya pergi karena dilenyapkan dengan paksa. Kevin segera menghampiri ibunya, berjongkok di hadapannya.
__ADS_1
"Ibu. Jangan menangis." Kevin memegang tangan ibunya.
Naya melakukan hal yang sama, duduk di samping sang ibu mertua menenangkannya.
Namun bukannya mereda, tangis Yanti semakin menjadi, seakan tak rela mereka telah mengambil paksa nyawa putra kesayangannya.
Melihat ibunya menangis seperti itu, seakan memantik kembali emosinya, Kevin melirik Indra dengan amarah, dia segera berdiri lalu menghampirinya dengan cepat.
Kevin akan kembali meninju wajah Indra, sudah menarik kerahnya dan tangan yang melayang di udara.
"Ayah." Suara Yumna seketika membuat Kevin menghentikan aksinya.
Semua orang melihat gadis kecil itu berdiri tak jauh dari sana.
Yumna berlari menuju ayahnya. Menarik-narik celana Kevin.
"Sudah ayah. Jangan memukuli om itu lagi."
Kevin langsung melepaskan kerah baju Indra, kemudian berjongkok dan memeluk putrinya.
Di dalam pelukan sang ayah, Yumna menatap Indra yang berdiri tepat di hadapannya.
Begitu juga Indra, matanya berkaca-kaca menatap wajah mungil itu tengah melihatnya dengan polos.
Indra terkulai lemas, melihat Yumna semakin membuat rasa bersalahnya semakin besar.
Dia terduduk sambil menangis penuh penyesalan. Tindakannya telah membuat banyak orang menderita. Dia telah membuat seorang ayah kehilangan putra kebanggannya, seorang ibu kehilangan putra kesayangannya, seorang adik tak lagi punya sosok kakak panutannya, dan seorang putri yang kehilangan ayahnya bahkan ketika keduanya tak sempat untuk bersua.
"Maafkan aku. Lakukan apapun yang ingin kalian lakukan padaku." Indra terus menangis menundukkan kepalanya.
Yumna melepaskan pelukan Kevin. Berjalan perlahan menuju Indra di sampingnya.
Melihat Yumna mendekati, Indra langsung menghentikan tangisnya, keduanya saling beradu pandang.
"Memangnya apa yang sudah om lakukan?" tanyanya polos. Membuat Indra kembali menitikkan air mata.
Semua orang melihatnya, tersentuh dengan pertanyaan polos Yumna
Kevin menarik tangan putrinya, dia melihat Naya dan memintanya untuk membawa putri mereka pergi dari sana.
Naya berjalan menghampiri Yumna, menarik tangannya.
"Bunda. Bukankah kita harus memaafkan seseorang yang meminta maaf kepada kita?" Yumna melihat ibunya.
Naya tak menjawab. Dia hanya langsung tertegun melihat putrinya.
__ADS_1
"Ayah. Maafkanlah om itu, jangan memukulinya lagi," ucap Yumna sambil memeluk kembali sang ayah yang masih berjongkok di hadapannya.