
Kayla berdiri kaget, melihat beberapa polisi mengelilingi sambil menodongkan senjata.
"Ada apa ini? Kalian pasti sudah salah paham," ucapnya dengan panik.
"Segera tangkap wanita ini pak, dia sudah mencoba melakukan pemerasan pada kami." Naya menunjuk Kayla dengan puas.
"Apa? Pemerasan? Tidak-tidak ini bukan pemerasan." Kayla mencoba berkilah.
"Lalu apa? Coba katakan apa ini namanya?" Naya mendekati Kayla.
Kayla tampak panik, bingung harus menjawab apa, koper berisi uang di bawahnya adalah bukti yang tidak bisa dibantahnya lagi.
Seorang polisi lalu segera meringkusnya, memborgol kedua tangannya.
Kayla pasrah. Dia hanya melihat Kevin dan Naya dengan sangat marah, tak menyangka jika justru dia yang akan terjebak dalam rencananya sendiri.
Kevin dan Naya menyeringai penuh kemenangan. Kayla tak sanggup berkata-kata melihat keduanya. Merasa bodoh karena tak memikirkan dengan baik rencana yang telah disusunnya, dia hanya fokus pada uang yang akan dia peroleh tanpa memikirkan akibat dari segala perbuatannya.
Polisi menggiring Kayla menuju mobil mereka yang rupanya tak jauh dari sana, beberapa polisi lain juga mengambil koper itu untuk dijadikan alat bukti.
Kevin menggendong Yumna. Memeluk dan menciuminya berkali-kali.
"Kamu tidak apa-apa sayang?"
Yumna menggelengkan kepalanya.
"Maafkan ayah sayang, tidak menjagamu dengan baik, tapi ayah janji jika kejadian ini tak akan terulang lagi." Kevin memeluk dan mengelus rambut putrinya.
***
Indra berjalan mondar-mandir dengan panik, dia sudah mendengar kabar tertangkapnya Kayla, sehingga dirinya menjadi semakin gusar takut-takut Kayla akan menyeretnya juga ke dalam penjara. Apalagi ketika mengingat perlakuan dirinya pada Kayla tadi pagi, dia tahu pasti istrinya tak akan membiarkannya berkeliaran bebas begitu saja.
Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memilih untuk mendatangi kantor polisi, dia ingin menemui Kayla dan mengatakan sesuatu padanya.
Sesampainya di kantor polisi, Indra rupanya tak datang sendiri, dia membawa serta pengacara untuk istrinya.
Kayla hanya tersenyum tipis melihat kekhawatiran yang begitu kentara di wajah suaminya.
"Syukurlah kamu kesini. Jadi polisi tak akan susah payah mencarimu."
"Berpikirlah dengan baik matang. Hukumanmu akan semakin berat jika polisi tahu kalau kamu juga adalah seorang dalang pembunuhan," ucap Indra dengan pelan, walaupun sebenarnya dia cukup panik dan takut, dia berusaha untuk berbicara dengan tenang.
__ADS_1
"Apa kamu ingin menggertakku?"
"Bukan. Hanya saja hukuman atas tindakan pemerasan yang kamu lakukan paling hanya setahun dua tahun saja. Tapi jika kamu ingin menyeretku juga untuk masuk penjara, hukumanmu juga pasti akan lebih lama, bisa seumur hidup atau bahkan hukuman mati."
Kayla terhenyak. Mulutnya kelu seketika mendengar perkataan Indra.
"Jadi. Jangan pernah berpikir untuk membuka rahasia kita berdua, sebagai balasannya aku sudah membawa pengacara terbaik untuk membantumu. Dia akan membantumu agar kamu bisa mendapatkan hukuman seminimal mungkin." Indra menunjuk seorang pengacara yang duduk tak jauh dari sana.
Kayla hanya melirik pengacara itu sekilas.
"Pikirkanlah baik-baik. Jangan hanya karena emosi dan ingin membalasku, justru kamu akan membuat dirimu semakin kesusahan."
"Bagaimana?" Indra menatap wajah Kayla.
Kayla tertegun. Seluruh perkataan Indra seakan menyadarkannya jika dia sepertinya memang harus tetap menjaga kerahasian perihal kematian Danendra, tadinya dia berpikir jika Indra juga harus turut serta mendekam di penjara, tak rela membiarkannya berkeliaran bebas di luar sana, namun setelah mendengar perkataannya tadi, membuat Indra masuk penjara justru sama saja seperti menggali kuburannya sendiri.
"Masalahnya adalah bukti keterlibatanmu itu ada dalam ponselku dan sekarang ponselku di sita oleh polisi." Kayla melihat suaminya.
"Apa?" Indra terperangah.
"Kamu belum menghapusnya?"
"Sial!" Wajah Indra memucat.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Kayla ikut panik, dia tak ingin mendekam di dalam penjara lebih lama, apalagi jika harus dihukum mati.
Indra tak menjawab. Dia hanya menatap tajam wajah Kayla lalu segera pergi dari sana dengan terburu-buru.
Meninggalkan Kayla yang duduk ketakutan. Berharap jika polisi tak mengotak-atik ponselnya dan menemukan bukti pembunuhan berencana yang mereka lakukan pada Danendra.
***
"Apa dia sudah tidur?" Yanti menghampiri Naya yang sedang menidurkan Yumna.
"Iya ibu. Yumna baru saja tidur."
Yanti duduk di tempat tidur cucunya dengan sorot mata sendu, ada banyak kesedihan yang sedari tadi ditahannya.
"Cucuku yang malang. Semoga dia tidak trauma karena kejadian hari ini." Yanti mengusap punggung cucunya.
"Dia memang sedikit ketakutan. Tapi aku yakin jika dia baik-baik saja. Untuk memastikannya besok Kevin mengajakku membawa Yumna ke psikiater."
__ADS_1
"Iya. Kalian memang harus membawanya. Kasihan anak sekecil ini harus terus mengalami hal tragis, tapi yang lebih kasihannya lagi, hal tragis itu justru di akibatkan oleh ibu kandungnya sendiri."
Naya terdiam mengiyakan.
"Tapi ibu bersyukur. Akhirnya wanita itu mendapatkan balasannya. Ibu senang sekali mendengar akhirnya dia di tangkap oleh polisi. Paling tidak akhirnya kita terbebas dari ketakutan kalau-kalau wanita itu akan terus mengganggu Yumna."
"Iya. Ibu benar sekali. Paling tidak sekarang kita tak perlu cemas lagi. Kayla sudah ada di dalam penjara."
***
Malam hari.
Sepulang bekerja Kevin akan kembali ke rumah, namun tiba-tiba polisi menghubunginya dan memintanya untuk mendatangi kantor polisi sekarang juga, mereka mengatakan jika ada masalah penting yang ingin mereka beritahu.
"Maaf pak. Kami menemukan ini di ponsel wanita itu."
Kevin segera melihatnya. Membaca dengan teliti sebuah screenshot percakapan perihal perencanaan kematian kakaknya.
Darahnya mendidih hebat. Luapan amarah meletup-letup tak terkendali. Segera mengayunkan langkah dengan tangan mengepal kuat dan rahang yang mengeras, garis wajahnya penuh kemarahan dan emosi yang tak tertahankan.
Kevin menatap Kayla yang kini sudah berdiri terpaku di dalam sel, tatapan bengis dan kejam dia arahkan pada wanita yang menyadari jika rahasianya kini sudah terbongkar.
Untung saja ada jeruji besi yang menjadi pemisah diantara mereka, seandainya tidak, Kayla yakin jika saat ini Kevin tak akan memperdulikan jika dirinya adalah wanita. Pria yang sedang dikuasai oleh emosi itu pasti akan memukulinya habis-habisan.
"Jadi kamu yang membunuh kakakku?" tanyanya pelan, penuh penekanan.
Kayla tak menjawab. Membantahnya sudah tentu percuma, bukti kuat sudah mereka semua lihat.
"Jadi kamu dan suamimu dalang di balik kecelakaan kakakku?"
Kayla menunduk. Badannya gemetar. Dia sungguh ketakutan.
"Jawab!!" Kevin berteriak.
Bukannya menjawab, Kayla malah mundur semakin ketakutan.
Polisi menghampiri Kevin berusaha menenangkannya. Membisikkan sesuatu yang membuat Kevin segera berlari dari sana dengan terburu-buru.
Kayla menarik napas lega. Kepergian mereka semua pasti untuk menangkap Indra yang sudah dipastikan kini menjadi tersangka kasus pembunuhan berencana.
Kayla terkulai lemas, kecerobohannya telah membuatnya terjebak dalam perangkapnya sendiri. Keserakahannya telah membawanya masuk ke dalam jeruji besi, kini dia tahu setelah ini dia harus membayar kejahatan yang telah dia perbuat. Dia masih beruntung jika hanya mendapatkan hukuman penjara seumur hidup karena sebenarnya dia layak mendapatkan hukuman seberat-beratnya yakni hukuman mati.
__ADS_1