
Kevin dan juga kedua orang tuanya tak menjawab, seperti menyadari kesalahan mereka yang telah begitu saja mempercayai Kayla dibandingkan Naya yang sudah jelas-jelas telah mengurus dan membesarkan Yumna selama ini dengan baik.
Naya kembali menghampiri Yumna, menatap wajah gadis kecilnya yang malang. Anak yang selama ini dibesarkan olehnya dengan penuh cinta dan kasih sayang itu kini harus merasakan kesakitan dan penderitaan karena disiksa oleh ibu kandungnya sendiri.
Naya tahu jika setelah ini Yumna akan mengalami trauma yang mendalam, setelah ini putrinya mungkin tak akan seceria dulu lagi namun dia memastikan jika Yumna tak akan lama dengan traumanya, Naya akan kembali membuat Yumna kembali menjadi Yumna putrinya yang riang.
Sementara itu di tempat lain.
Claudia menahan tawa melihat Kayla dengan wajah paniknya tiba-tiba mendatangi rumahnya.
"Apa? Jadi sekarang kamu jadi buronan?" Claudia kembali tertawa.
Kayla mendengus kesal.
"Mana kakakmu?"
"Kenapa menanyakan kakakku? Apa kamu mau minta perlindungan kepada kakakku?"
Kayla tersenyum.
"Tentu saja. Dia harus melindungi aku. Kalau tidak, aku tidak mau masuk penjara sendiri."
"Urusan kalian sudah selesai, jangan bawa-bawa kakakku dalam masalah kamu lagi."
"Lagi pula aku heran, kamu sendiri yang bilang jika anakmu itu adalah aset berharga tapi kenapa kamu menyiksanya?"
Kayla melirik Claudia sambil membuang napas kasar.
"Karena aku tidak tahan karena dia tak pernah menganggapku ibunya, aku juga kesal melihatnya terus menangis menginginkan Naya. Wanita sialan itu."
Claudia kembali tertawa.
"Wajar saja. Wanita itu yang membesarkannya dari kecil. Bukan kamu!"
"Kamu sendiri jangan senang dulu, kekasihmu Kevin juga sepertinya sudah jatuh cinta pada Naya."
Claudia langsung menghentikan tawanya.
"Naya sepertinya sudah berhasil menarik simpati dan perhatian Kevin. Dari tatapannya aku bisa tahu kalau Kevin sudah jatuh cinta pada Naya. Aku juga sangat yakin jika Kevin tak akan pernah menceraikannya." Kayla tersenyum tipis.
Claudia tertegun. Dia tiba-tiba melihat Kayla dengan kesal.
"Iya. Ditambah karena perbuatanmu pada anak itu, sekarang Naya pasti akan kembali ke rumah mereka, setelah Kevin berhasil dirayunya kini wanita licik itu pasti juga akan dengan mudah menarik simpati kedua orang tuanya." Claudia duduk sambil melihat Kayla dengan geram.
"Sekarang kita tak bisa melakukan apapun, hanya bisa pasrah sambil melihat keluarga itu akhirnya hidup bahagia selamanya." tambah Claudia lagi dengan semakin kesal.
Kayla langsung memijat keningnya. Menyesali kebodohannya karena tak bisa mengontrol emosi hingga menyiksa Yumna dengan mudahnya. Padahal jalan untuknya hidup makmur seperti yang di angan-angankannya selama ini sudah di depan mata.
Kayla memukul-mukul kepalanya sendiri saking kesalnya, sekarang akibat kecerobohannya sendiri, kini bukan hanya dia tak jadi kaya raya tapi musti berhadapan dengan hukum, atau lebih parahnya lagi dia akan mendekam di balik jeruji besi.
"Mana kakakmu?" Kayla kembali mengulangi pertanyaannya menanyakan mantan suaminya.
__ADS_1
"Hanya dia yang bisa menolongku agar aku tak masuk penjara."
"Aku tak tahu." Claudia menjawab dengan sinis.
"Pergilah dari sini. Bersembunyilah di tempat lain, aku tak ingin keluarga Kevin menyangka jika kita bersekongkol." Claudia mengusir mantan kakak iparnya.
"Aku masih tak akan merelakannya begitu saja dengan wanita itu, aku akan merebutnya kembali padaku. Kevin masih mencintaiku, dan dia akan kembali padaku."
Kayla hanya tergelak mendengar perkataan Claudia.
***
"Cepat sembuh sayang. Pulang dari rumah sakit ini, Yumna akan ikut bunda, kita akan tinggal bersama lagi ." Naya menatap lembut putrinya.
"Benarkah bunda? kita akan kembali ke rumah kita dulu?"
Naya terdiam.
"Sepertinya kita tak bisa kembali kesana sayang. Rumah itu sudah ada yang menempati. Tapi Yumna tenang saja, bunda akan cari rumah baru untuk kita."
Yumna terlihat tak begitu senang. Tapi dia segera kembali tersenyum ketika mengingat jika dirinya akan kembali tinggal bersama bundanya.
Kevin yang mendengar dari kejauhan setelah menelepon seseorang langsung tertegun mendengar percakapan ibu dan anak itu.
Dia langsung menghampiri keduanya.
"Bunda. Apa ayah akan ikut tinggal bersama kita?"
"Bunda. Ayah ikut bersama kita kan?" Yumna mengulangi pertanyaannya.
Naya tetap tak menjawab, dari wajahnya Kevin tahu jika istrinya itu masih sangat kecewa padanya.
Kevin mendekati Yumna, tersenyum sambil mengusap pipinya dengan lembut.
"Tentu saja sayang. Kita sudah jadi satu keluarga sekarang. Tentu saja kita akan selalu bersama-sama."
Mendengar itu Yumna langsung tersenyum bahagia, lain halnya dengan Naya yang langsung melihat Kevin dengan kaget. Dia lalu berdiri sambil melihat putrinya.
"Sayang. Bunda keluar dulu ya sebentar."
***
Naya berjalan gontai menyusuri koridor Rumah Sakit yang sepi dengan setengah termenung hingga tak menyadari jika Kevin sudah berdiri di depannya.
Naya tersentak kaget hingga membuatnya mundur ketika dirinya hampir saja menabrak Kevin di depannya.
"Aku tahu banyak yang kamu pikirkan saat ini. Tapi kamu tetap harus berhati-hati."
"Maaf," jawab Naya ketus dan kembali akan melanjutkan langkahnya.
Namun dengan cepat Kevin memegang tangannya.
__ADS_1
"Aku yang harus minta maaf. Aku mohon maafkan aku karena tidak bisa menjaga Yumna."
"Tidak. Kamu tidak salah. Tadi aku terlalu emosi hingga menyalahkan semua orang." Naya mencoba melepaskan tangan Kevin.
Kevin tetap memegang tangan istrinya. Menatapnya lekat.
"Bisa kita bicara sebentar."
"Yumna sendiri di dalam." Naya mencari alasan.
"Dia sedang berbicara dengan psikiater. Aku yang memintanya untuk berbicara dengan Yumna. Kita harus mengetahui kondisi mentalnya saat ini."
"Baiklah. Tapi lepaskan dulu tanganku." Naya melihat tangannya yang terus dipegang Kevin.
Kevin segera melepaskannya.
Naya langsung duduk di kursi yang tak jauh dari sana.
Kevin ikut duduk di sampingnya.
"Kedua orang tuaku mengizinkanmu untuk membawa Yumna. Mereka tahu jika Yumna pasti akan trauma jika dipaksa untuk kembali lagi ke rumah kami."
Naya mendengarkan.
"Tapi mereka ingin agar kamu tetap mengizinkan jika mereka ingin bertemu dengan Yumna."
Naya mengangguk.
"Satu lagi." Kevin tampak ragu mengatakannya.
"Bolehkah aku ikut serta bersama kalian?" Kevin melirik Naya.
Naya tak menjawab. Dia hanya terus tertegun.
"Aku ingin kita memulainya kembali dari awal. Membangun keluarga kecil kita ini bersama-sama."
"Pikirkan baik-baik. Menurutku inilah saatnya kamu melepaskan diri dari ikatan palsu ini. Jangan membuat dirimu semakin terjerat. Biarkan aku dan Yumna kembali ke kehidupan kami dulu, hanya berdua saja dan kamu bisa kembali melanjutkan hidupmu. Mimpimu dan cita-citamu." Di akhir kalimat Naya menatap balik Kevin di sampingnya.
Kevin langsung menggelengkan kepalanya.
"Mimpiku dan cita-citaku sekarang hanya kamu dan Yumna."
Naya tersenyum.
"Aku tahu jika kamu sangat menyayangi Yumna. Tapi kamu tak bisa berkorban sebesar ini untuknya."
"Aku memang sangat menyayangi Yumna, tapi sepertinya kamu tak tahu jika aku juga mencintaimu."
Naya tersentak. Dia langsung melihat Kevin di sampingnya.
"Aku melakukan ini bukan hanya demi Yumna. Tapi demi diriku dan perasanku padamu."
__ADS_1