Demi Yumna

Demi Yumna
Hak Asuh


__ADS_3

Di kantor.


Kevin tersentak kaget mendengar dari pengacaranya jika polisi tiba-tiba mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan atas kasus penganiayaan Yumna yang dilaporkan oleh mereka.


"Kenapa bisa di SP3?" tanya Kevin tak percaya.


"Mereka mengatakan jika tidak cukup bukti. Mereka sebut laporan kita mengada-ada."


"Mengada-ada?" Kevin geram.


"Iya. Tapi tentunya itu hanya alasan saja. Ada seseorang yang mempunyai kekuasaan besar yang turut campur dalam kasus ini."


Kevin terdiam mendengarkan ketika dua orang pengacara di depannya menjelaskan secari rinci jika pelaporan mereka tak mungkin ditutup begitu saja jika tidak ada seseorang yang mempunyai pengaruh besar di kepolisian yang ikut campur.


"Siapa orang itu? Apa hubungannya dengan Kayla." Kevin penasaran.


"Akan kami segera cari tahu. Tapi setelah ini wanita yang kita laporkan pasti akan keluar dari persembunyiannya, kami meminta anda hati-hati menjaga istri dan putri anda karena bisa saja wanita itu datang kembali menemui mereka."


Kevin mengangguk mengerti. Apa yang dikatakan oleh pengacaranya memang benar. Kayla kemungkinan besar akan menemui Yumna dan Naya.


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya."


 


Kevin tak bisa konsentrasi memimpin rapat, pikirannya terbagi pada Kayla yang kali ini terbebas dari jeratan hukum dan khususnya pada keselamatan Yumna beserta Naya yang bisa saja Kayla datang menemui keduanya untuk menyakiti mereka.


Di sela-sela kegaduhan yang terjadi di dalam kepalanya, Kevin kaget menerima panggilan telepon dari Naya.


Mimik wajahnya berubah seketika mengingat ini adalah panggilan pertama Naya padanya, dengan wajah berseri-seri dia segera mengangkatnya.


"Halo."


"Aku hanya ingin memberitahumu jika aku yang akan menjemput Yumna ke sekolahnya."


"Kenapa? Apa semuanya baik-baik saja?"


"Iya. Sepulang sekolah nanti aku hanya ingin mengajaknya pergi jalan-jalan ke mall, aku pikir itu bagus untuk menyembuhkan traumanya."


Kevin tak menjawab, dia hanya kembali memikirkan Kayla yang kini sudah bebas berkeliaran.


"Bagaimana? Aku juga tahu jika kamu pasti sibuk dengan pekerjaanmu. Jadi mulai sekarang biarkan aku yang menjemputnya setiap hari."

__ADS_1


"Tidak! Aku tak sibuk," jawab Kevin cepat dengan keras, membuat semua orang di dalam ruang rapat itu langsung melihatnya.


"Aku tidak ada pekerjaan. Kita akan bertemu di sekolahan Yumna. Tunggu aku jika aku belum datang." Kevin berdiri, dengan terus ditatap heran oleh semua karyawannya.


"Maafkan saya. Saya harus pergi sekarang. Rapatnya kita lanjutkan lagi nanti." Kevin lalu pergi meninggalkan ruang rapat tak memperdulikan tatapan heran dan kecewa para pegawainya.


Di tempat lain.


Claudia menangis sesenggukan di hadapan kakaknya juga Kayla.


"Jadi Kevin memutuskan hubungan kalian berdua hanya karena wanita itu?" Indra melihat adik kesayangannya.


Claudia mengangguk sambil terus menangis, membuat Kayla tak bisa menahan tawanya melihat Claudia yang depresi karena diputuskan oleh Kevin.


"Memangnya apa yang kamu harapkan dari si Kevin itu? Dia itu hanya anak pungut, bukan akan kandung dari Cahyo Bhisma, dia tak akan mendapatkan apapun." Kayla masih terus mencoba tawanya, meledek Claudia.


Indra hanya menarik napas panjang mendengar perkataan Kayla yang menurutnya memang benar adanya.


"Sudahlah. Kamu cantik. Kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang lebih dari si Kevin itu."


"Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Sekarang aku tak memikirkan soal harta dan aku tak rela memikirkan dia bersama wanita itu."


Indra hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal melihat sang adik yang terus merengek dan menangis di depannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Indra pada mantan istrinya.


"Aku mau jalan-jalan. Beberapa hari di kamar ini membuatku sedikit frustasi." Kayla berdiri sambil melihat kembali pantulan dirinya di depan kaca.


"Oh iya. Suruh pengacara untuk segera mengurus pernikahan kita lagi, katakan saja jika kita akan rujuk. Kita harus bergerak cepat mengambil hak asuh anakku,"ucap Kayla sambil berjalan menuju pintu.


Indra tak segera mengiyakan. Hanya menatap kepergian sang mantan istri hingga menghilang di balik pintu.


Indra kembali melihat Claudia yang masih sesenggukan di atas sofa. Dia segera menghampiri sang adik lalu menepuk-nepuk pundaknya pelan.


"Berhentilah menangis. Laki-laki itu tak pantas kamu tangisi. Biarkan kakak yang membalas kesakitanmu. Akan kakak buat Kevin dan istrinya tidak bahagia seumur hidupnya karena kakak akan mengambil anak mereka."


***


Naya turun dari dalam taksi, melihat jam tangannya sambil berjalan menuju gerbang sekolah.


Dia mengeluarkan sebuah kartu yang menjadi penanda jika dia adalah salah satu dari orang tua murid yang sekolah disana, dengan menunjukkan kartu itu, maka dia bisa masuk ke dalam sekolah dan bisa menjemput putrinya.

__ADS_1


Namun langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang memanggilnya.


Naya terkesiap melihat Kayla tengah berdiri tak jauh dari sana sambil bersandar pada sebuah mobil mewah.


Keduanya saling menatap tajam, seolah siap menabuh genderang perang.


Naya tampak sama sekali tak gentar, ketika Kayla menghampirinya dengan tatapan penuh kebencian.


"Berikan kartu itu. Mulai sekarang aku yang akan memegangnya." Kayla menadahkan tangannya.


Naya menipiskan bibirnya, tersenyum sinis mendengar permintaan Kayla.


"Kartu ini?" Naya menunjukkan sebuah kartu di tangannya.


Kayla langsung akan mengambilnya namun dengan sigap Naya menepis tangan sepupunya.


"Masih ingin bertemu dengan Yumna? Belum puas kemarin menyiksanya?"


"Jangan banyak bicara kamu. Kamu harus tahu diri. Kamu hanyalah orang asing bagi anakku. Aku ibu kandungnya, aku yang lebih berhak atasnya."


"Oh ya? Apa kamu sudah lupa apa saja yang sudah kamu lakukan pada anak kandungmu itu?" Naya lagi-lagi tersenyum sinis.


"Semenjak dia lahir, kamu bahkan tak setetes pun memberikannya ASI, hanya fokus mengurus badanmu karena ingin kembali menggaet pria kaya untuk kau jadikan mangsa berikutnya. Lalu pergi meninggalkannya padaku begitu saja tanpa sedikitpun memikirkan apakah anakmu bisa bertahan tanpa ada kamu ibu kandungnya di sisinya?"


"Berisik kamu!"


"Kamu memang ibu kandungnya, darahmu memang mengalir di tubuhnya, tapi tidak dengan kasih sayangmu. Bahkan aku yakin jika di dalam hatimu ini tak ada secuil pun rasa sayangmu untuk Yumna." Naya menunjuk dada Kayla.


"Terserah apa katamu. Pokoknya aku akan mengambil Yumna anakku darimu. Aku akan menggugat hak asuh Yumna."


"Ambillah kalau kamu bisa. Pengadilan tak buta, mereka akan tahu siapa yang lebih pantas untuk membesarkan anak itu."


Kayla tersenyum sinis sambil bersedekap dada.


"Pengadilan juga tak bisa mengabaikan fakta jika aku ibu kandungnya. Menurut undang-undang yang berlaku, hanya ibu kandungnya yang berhak mengurus dan membesarkan anaknya sendiri. Bukan orang lain. Apalagi kamu, kamu bahkan hanya orang asing."


"Ingatlah jika orang asing inilah yang membesarkan anakmu hingga saat ini."


Kayla tertawa terbahak-bahak.


"Baiklah. Jadi kamu mengungkit jasamu pada anakku? Lalu bagaimana dengan orang tuaku yang sudah membesarkan kamu dari kecil? Anggap saja kita impas, sekarang aku ingin mengambil anakku lagi darimu, jadi jangan kamu halang-halangi."

__ADS_1


"Sampai kapanpun aku tak akan pernah memberikannya padamu. Aku tahu niat busukmu. Yumna di matamu saat ini bukan seorang anak yang harus kamu cintai dan sayangi, tapi di matamu sekarang Yumna adalah harta karun yang akan mewujudkan impianmu."


__ADS_2