
Di depan ruang bersalin edward memgatur nafasnya dengan teratur. Di sana ada ibu azura daj Rachel beserta Dzul yang baru beberapa hari pulang bertugas.
" Bagaimana??? Tanya Edward pada Dzul.
" Sudah di tangani dokternya. Ed bisakah kita bicara sebentar," ucap Dzul pada edward.
" Tunggu baby-nya keluar saja ya Dzul biar kita lebih santai ngobrolnya," tolak edward. Dia juga sudah lelah karena mengepot tidak jelas dari kantor azura menuju rumah sakit.
Hampir 2 jam mereka menunggu. Ibu azura nampak sedikit khawatir. Tapi rachel memegang punggung tangan ibu kakaknya itu.
" Bu ... Kak zura pasti akan baik-baik saja. Sebentar lagi pasti bayinya keluar," senyum Rachel. Ibu azura pun mengangguk.
15 menit kemudian ...
Oooeeeeek. Ooooeeekkk. Ooooekkk.
Suasana tegang di luar ruangan menjadi senyum bahagia dan saling berpelukan. Dzul menatap istrinya sambil tersenyum mengangguk. Dokter yang menangani pun keluar dari ruang bersalin.
" Untuk ayahnya bisa masuk ke ruangan," ucap dokter pada mereka. Dzul dan edward saling berpandangan dan tatapan terakhir mereka tertuju pada rachel. Adik Reyhan itu mengangguk pada Dzul. Edward menghela nafas lega. Tapi tatapannya itu tertuju pada dokter yang menangani Azura. Ya, itu adalah dokter tadi yang meremehkan dirinya.
Oh, jadi kamu adalah dokter Obgyn awas aaja kau lihat bagaimana setelah ini kita bermain-main. Batinnya sambil melihat name tage di jasnya itu. dr. Adelia Narendra Saif, spOG.
Edward tidak masuk ke ruangan bukan dia tak ingin melihat perempuan yang banyak di kenal sebagai istrinya itu. Saat ini bukan tentang hal itu karena semakin ke sini edward sedang berusaha menemui sahabatnya itu. Dia berharap ada jalan untuk menemuinya. Saat dia sedang memikirkan Reyhan dokte4 cantik itu keluar dari ruangan.
" Oh ... Dokter sepertimu bisa membantu pasien!" seru edward melirik dokter yang kemudian menghentikan langkahnya itu.
" Apa maksud anda! Sedari tadi anda membuat kegaduhan dengan menghentikan langkah saya membantu pasien. Saat ini kata-kata anda malah melantur kemana-mana. Jaga bicara agar sedikit sopan!" seru Adelia tak khawatir akan apapun.
" Sombong," ucapnya tanpa melihat.
" Terserah," jawab Adelia sambil berjalan tetapi dia tak sengaja menjatuhkan kartu nama seseorang dari jas itu. Edward yang melihatnya segera mengambil kartu nama itu. Mata edward terbelalak saat melihat nama yang tertera. Dia melihat kartu nama sesekali melihat Adelia.
Dia siapa sebenarnya??? Kenapa dia memiliki kartu nama ini. Benar-benar harus ku dekati dengan mendapatkan sebuah informasi darinya. Terima kasih Ya Allah. Batinnya kemudian masuk ke dalam ruangan dan berharap azura sudah memakai perlengkapannya di dalam.
ketika berada di dalam ...
" Bagaimana Azura?" tanya edward dari sebelah Dzul. Azura tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
" Baik ed. Perusahaan bagaimana kabarnya??? Aku benar merindukannya setelah 5 bulan lamanya tak ke sana. Bukankah kau jahat mengurungku di rumah bersama ibu," keluh azura pada edward. Sang ibu hanya terseyum saat mendengarnya.
" Perusahaanmu sudah di kenal di kanca negara azura. Maafkan aku jika aku harus mengungsikanmu tapi sementara memang demi kebaikanmu. Aku tak bisa menjaminmu jika memaksakan mengurus perusahaan. Jika ingin tahu kau bisa menanyakannya pada rachel dia sudah bekerja cukup baik dalam membantuku. Dzul bisakah kita bicara sekarang!" ajak edward tanpa basa basi lagi. Karena ini sudah berjalan sangat lama. Hampir 2 tahun masih saja seperti ini.
" Baiklah ... Semuanya kami permisi keluar sebentar!" pamit Dzul.
Kedua laki-laki itu berhambur keluar. Edward memang tipikal orang yang basa basi. Semenjak dulu dia terkenal dengan sikapnya yang tegas dan tidak plin plan dalam mengambil sebuah keputusan. Dzul jadi paham karakter edward semenjak dia mengerjai pemuda itu dulu di cottage tepatnya 10 bulan lalu. Dirinya mendapat pemangkasan waktu dari 1 tahun menjadi 10 bulan lamanya. Rasanya tak bertemu dengan wajah ayu rachel membuat Dzul rindu pada istrinya itu.
Seampainya di kafe dekat rumah sakit ...
" Katakan Dzul apa yang ingin kau katakan!" seru Edward tanpa basa basi sama sekali. Dzul jadi tersenyuk smirk.
" Kau terlalu buru-buru bung," ucapnya dengan memesan kopi pada waiters. Edward pun juga memesan es Coffe.
" Aku tidak suka basa basi Dzul," jawabnya dengan menatap edward.
"Kau ... Tak merasa telah menjebakku dalam kamar bersama istriku dulu sebelum kalian pulang?" tanya Dzul sambil melihat ke arah Edward.
" Ck. Menjebak kau bilang? Bahkan kau saja menikmatinya dengan sangat bahagia. Bukankah itu kesempatanmu sebelum kau pergi bertugas. Harusnya kau menyematkan terima kasih padaku jika tidak kau tidak akan membobol gawangmu itu sebelum berangkat!" ejeknya pada Dzul.
" Astaga sedetail itukah informasi tentang diriku dan rachel. Kau benar-benar heacker menyebalkan. Hal seintim itu kau cari juga," sebal Dzul pada laki-laki di hadapannya ini.
" Kau melewatkannya hari ini bung," ucap Dzul dengan santai.
" Aku melewatkan apa? Padahal aku sangat menikmati hari ini," jawab edward tersenyum.
" Kau tak mengadzani putramu di dalam," Jawab Dzul ingin memancing sesuatu darinya.
" Apa?? Kenapa aku harus mengadzaninya? Bukankah ada kau pamannya," jawab Edward santai membuat dia mengernyitkan alis
" Bukankah kau menikahi azura setelah pihak Reyhan melayangkan gugatan cerai itu!" seru Dzul padanya. Edward di buat terkekeh mendengarnya.
" Haruskah ku jelaskan sekarang duduk perkaranya padamu Dzul. Kau bahkan lebih jeli daripada istrimu itu. Dia bahkan tak tahu hingga detik ini.
" Katakanlah ed! Aku menunggunya," jawab Dzul kini menatap lekat ke arah edward.
Saat mereka mengobrol waiters sudha mengantarkan minuman yang mereka pesan. Namun Edward malah memesan makan untuk mereka berdua.
__ADS_1
" Mbak berikan makanan favorite di kafe ini," ucap edward sang waiters mengangguk paham.
" Baik tuan," jawabnya dengan meninggalkan meja mereka.
" Kau yang benar saja ed! Aku ke sini bukan untuk makan-makan tapi aku butuh penjelasanmu," geram Dzul pada edward.
" Santai aja bro ... Sudah ku katakan kita berbicara setelah azura melahirkan. Ya, karena hal ini supaya kita membahas lebih lama persoalan kita. Bukan persoalanku dengan azura tapi untuk kita. Apakah kau tak merindukanmu rivalmu?" tanya Edward smabil senyum mengejek.
" Rival siapa? Aku bahkan tak pernah menemui kekasih Rachel," jawabnya sambil menyeruput kopi itu.
" Jangan bercanda Dzul. Bukankah kau pernah menyukai azura seperti diriku? Hahaha," tawa edward dengan bahagia karena sukses mengerjai Dzul.
" Sialan ... Dia kakak ipar gue ed!" seru Dzul.
" Adik ipar kok ya bisa akses pertemuan dengan Kakaknya di tutup," ledek Edward.
" Entahlah dasar ayah Khansa gila ... Aku benar-benar di buatnya tak bisa menemui keluarga rachel," keluhnya.
" Bukankah kau aparat harusnya bisa mendobrak kediaman itu," jawab Edward.
" Kita belum memiliki kuasa atas itu ed!" jawab Dzul jujur.
" Baiklah kita akan membahasnya setelah aku bercerita tentang kabar pernikahanku dengan azura.
Flash back On ...
Bersambung ..... Heheheh
Jangan lupa likeeeee yaa!!!.
Author akan jelasin lewat kisahnya saja ya. Makasih yang udah komen itu tandanya pembaca begitu menikmati karyaku. Sehingga mau berkomentar dalam kolom dlm bentuk apapun itu. Thank you ...
Sesibuk apapun di dunia pendidikan. Author tetap akan menyempatkan 1 bab perhari setelah menyelesaikan tugas mendidik anak bangsa. Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan dll. Jangan lupa dukungannya,
Voteeeeee
Giftnya
__ADS_1
Komen
Likeeeeee.