Denyut Jantungku

Denyut Jantungku
Talak - The End


__ADS_3

...Happy Reading...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aroma disenfektan menguar di seluruh penjuru ruangan. Sungguh menusuk pangkal hidung pengunjung rumah sakit. Mata sembab nampak jelas di mata Khansa. Ada Zura di sampingnya yang sedang menenangkan khansa yang sangat khawatir.


Dari kejauhan terlihat Reyhan berlari ke arah mereka. Dia begitu mengkhawatirkan sahabatnya itu.


" Bagaimana keadaan Edward! Maafkan aku datang terlambat," sesal Reyhan pada kedua wanita di hadapannya.


" Tidak mas kamu sudah berusaha datang tadi. Jika tidak ayahku itu akan menghabisi edward seketika. Terima kasih," jawab Khansa dengan menangis.


" Sabarlah sebentar Khansa. Edward pasti baik - baik saja. Dia laki-laki yang hebat," ujar Zura.


" Tapi bukan berarti laki-laki hebat tidak bisa pergi bukan? Aku takut berlebihan Zura. Kamu tahu papaku Menembaknya dua kali. Bagaimana tubuhnya merespon," keluhnya dengan perasaan khawatir sekali.


" Berdoalah ... Hanya itu yang bisa kita lakukan sa," jawab Reyhan dari samping zura. Zura tersenyum membenarkan kata suaminya itu.


Tanpa ada obrolan lagi ketiganya pun berharap Edward baik -baik saja. Reyhan geram kala mengingat kejadian itu. Dia membawa Edward agar bisa membantunya meringkus papa khansa yang sudah gila itu. Malah edward yang terancam bahaya.


Flashback on ..


Dooooooaarrrrr ....


Suara tembakan itu menjadi sepenjuru ruangan. Itu tembakan yang kedua kali. Namun khansa tak merasakan sakit apapun. Dia malah merasa baik- baik saja saat ini. Namun saat dia menatap ke atas dia mendapati Edward sudah menjadi tamengnya. Bukan main kagetnya Khansa. Dia langsung menangkap tubuh edward.


" Edward!!!" teriaknya membuat edward menutup mulut khansa dengan jari telunjuknya.


" Diamlah aku tidak apa-apa," jawabnya lirih. Khansa sudah lemas di buatnya.


" Diam bagaimana ed! Lihatlah dirimu ini .... Kamu bisa apa jika sudah seperti ini," kalap khansa yang nampak bingung.


" Bolehkah aku istirahat sebentar. Aku lelah Sa ... " jawabnya membuat khansa takut saja.


" Jangan bercanda kamu ed! Jangan tidur please ... Mas Rey! Help ... " teriak khansa.


Sedangkan polisi sudah mengurus papa khansa itu. Reyhan segera menghambur pada keduanya. Papa khansa tertawa sama seperti orang gila. Sungguh membuatnya ilfeel.

__ADS_1


" Bawa dia ke rumah sakit mas! Selamatkan edward ... Khansa mohon ... " pinta khansa. Reyhan mengangguk dan membawa edward bersamanya bersama petugas ambulance.


Reyhan meminta zura mendampingi khansa saat ini. Zura memeluk khansa yang nampak sangat terguncang sekali batinnya.


" Dia akan baik-baik saja sa! Sabar ... " ucap Zura tanpa embel-embel mbak kembali.


Tidak ada ujian yang melebihi batas kemampuan manusia itu sendiri. Bagi zura inilah takdir terbaik keduanya. Jika mengingat dulu bahkan dia tidak percaya bahwa khansa akan menjadi baik seperti ini. Bahkan khansa-lah yang memisahkan dirinya dengan mas Reyhan bertahun - tahun. Tapi saat ini bukan itulah yang menjadi pemikiran zura tapi khansa sudah seperti saudaranya sendiri.


" Maafkan aku ... Zura! Mungkin ini karma-ku telah mempermainkan pernikahan kalian demi untuk tidak di jodohkan dengan pilihan papa," tangisnya. Zura menggeleng perlahan.


" Sudahlah ... Semua sudah baik - baik saja jangan di ulangi lagi. Bukankah kita teman?" tanya zura sambil tersenyum.


" Tentu," jawab Khansa sambil meraih tangan zura dengan agak tidak bertenaga.


" Maka setelah ini ... Kita harus bahagia," jawabnya sambil memeluk khansa dengan bahagia.


Seusai menenangkan khansa yang berspekulasi tentang kejadian ini. Zura pun membawanya pergi ke rumah sakit untuk menemui mereka yang sudah berangkat dulu.


Flashback Off.


Tit. Tit. Tit.


Alat monitor itu membuat Reyhan geram karena tak kunjung normal. Sekali lagi Reyhan di buat merasa menjadi seseorang tak berguna dalam hidupnya.


" Baiklah! Ini bukan yang kamu inginkan ed! Tidak bangun dalam tidurmu. Maka jangan bangun! Aku akan mengirim putramu ke panti asuhan dan akan menjadikan khansa pembantu di rumahku!!! Untuk menebus semua kesalahannya padaku. Karena aku bukan dirimu yang dengan ikhlas mencintai dia. Tidak! Itu hanya tugasmu. Aku harus pergi sekarang!!! Semoga kau tenang ... " serunya dengan kesal sekali.


Edward entah alam mana yang membuatnya berkecamuk. Seperti di alam mimpi namun itu adalah alam bawah sadar. Di mana edward harus sudah siap kehilangan calon istri dan anaknya. Saat Reyhan akan melangkahkan kakinya tiba-tiba tangannya di cengkeram seseorang. Dia pun membalikkan badannya.


" Jangan berani-beraninya kamu melakukan itu Rey! Dia milikku ... Ibu dari putraku ... " lirih Edward yang baru sadar dari koma. Senyum pun terbit begitu saja menyertai kebahagiaan yang muncul dalam hatinya.


" Oh ... Bangun? Untuk apa kamu bangun? Apakah sudah sangat menyebalkan kata-kataku sehingga membuatmu bangun seperti ini!!" serunya dengan sinis.


" Sialan! Jangan membuat bangunku menjadi sia-sia. Penuhilah janjimu itu," jawabnya dengan lirih lagi.


" Ck. Menyebalkan. Baru bangun sudah tergesa-gesa mengusirku dari hidup khansa. Sungguh obsesi," ejeknya dengan sarkas.


" Terserah," jawabnya cuek.

__ADS_1


Reyhan kemudian menelpon para perempuan yang masih di luar. Dia pun lalu tersenyum menatap edward yang memejamkan matanya. Saat terdengar suara khansa. Sebenarnya edward ingin membuka matanya. Namun kekhawatiran Khansa membuatnya bahagia.


" Bagaimana mas keadaannya??? Apakah dia mulai membaik?" tanya khansa.


" Bolehkah aku melepas alat-alat ini? Sepertinya dia sudah tidak baik -baik saja.


Teman laknat. Batin edward.


" Please mas ... Beri dia kesempatan hidup sekali lagi. Khansa yakin dia akan baik-baik saja," jawabnya lagi.


" Hmmmm .... Yakij sekali kamu khansa. Dia nampaknya juga tidak peduli," cibir Reyhan.


Dasar kurang ajar. Batin Edward.


Khansa mendekat ke arah edward.


"Bangunlah Ed! Jika tidak aku akan benar-benar menjadi pembantu mereka dan anak kita pasti aku kirim ke Panti asuhan! Aku tidak bisa merawatnya seorang diri," tangisnya lagi. Namun lagi - lagi suara Reyhan membuat semua orang tercengang seketika.


" Aku talak kamu Khansa, mulai detik ini saat ini kamu bukanlah istri dari Reyhan Hutamabarat!" lantangnya membuat khansa menoleh dan membuat zura menatap tajam suaminya.


" Mas ..... " lirih khansa.


" Sudah cukup ed! Bangunlah .... Dia bahkan sudah mengeluarkan banyak air matanya untukmu. Sudah ku penuhi janjiku melepaskan dia!!! Maka dia saat ini adalah tanggung jawabmu ... " ujar Reyhan membuat khansa dan zura tak mengerti. Namun seketika itu juga Edward bangun dan membuka matanya. Dia menatap Khansa dengan tatapan penuh cinta dan Rindu.


" I love you Khansa .... Jadilah istriku!!! Bahkan jantungku terasa terhenti beberapa waktu lalu saat kamu dalam bahaya. Tapi saat ini dia kembali normal saat kamu mendampinginya," ucap Edward sambil tersenyum hangat. Khansa menghambur dalam pelukan Edward sambil menangis.


" I love you Too Ed!" serunya.


Reyhan menatap Zura yang nampak terharu. Reyhan pun mendekap istrinya.


" Aku mencintaimu Azura," bisik Reyhan membuat Zura memutar bola dengan malas. Namun dia tetap menjawab.


" Aku pun sama," jawabnya.


Inilah akhir dari kisah mereka. Cinta bukanlah tentang memiliki satu sama lain. Namun jika cinta tulus datang menghampiri maka seketika kebahagiaan itu pun akan mengurai dengan sendirinya. Maka kebahagiaan itu akan menjadi satu kesatuan di antara keduanya.


Terima kasih yang sudah setia membaca. Jangan lupa likeeeee dan vote untuk kisah ini. Thank you very much.

__ADS_1


__ADS_2