
Rumah yang tak begitu mewah itu sudah di hadapan Reyhan. Dia mematung di depan rumah khansa karena mendapati mobil edward terparkir apik di sana. Reyhan masih tidak bisa berfikir jernih jika terus membuat spekulasi tentang hubungan mereka.
" Honey ... Gak masuk?" tanya Zura di sampingnya.
" Tidakkah kamu curiga kenapa mobil edward berada di sini?" tanyanya balik.
" Ya, mana zura paham Honey. Udah yuk masuk! Bukankah mau ketemu khansa?" tanya sang istri. Reyhan mengangguk paham. Namun hati pemuda itu nampak curiga pada Edward dan khansa.
Ting. Tong.
Nampak seorang paruh baya keluar dari sana sambil tersenyum. Reyhan dan Zura pun mengangguk paham dan membalas senyumannya.
" Khansa ada bi?" tanya Zura.
" Ada non! Mari masuk ... " jawabnya dengan mempersilahkan mereka berdua masuk. Kebetulan saat mereka masuk khansa dan edward baru saja turun dari lantai 2. Wajah edward nampak segar dan nampak baru selesai mandi.
" Edward! Apa yang kamu lakukan bersama istriku!" seru Reyhan membuat tatapan mereka semua ke arah suara Reyhan. Edward nampak membeo karena dia tidak tahu ada Reyhan di sini.
" Rey ... Semenjak kapan kamu di sana?!" tanya edward bak orang bodoh.
" Bukankah seharusnya aku yang bertanya semenjak kapan kamu bermalam di rumah istriku????" tanya Reyhan nampak terlihat sangat kesal. Edward pun berlari kecil menuju dimana Reyhan berada.
" Rey ... Aku bisa jelaskan semuanya!" serunya nampak kali ini dia tak mau Reyhan salah paham seperti saat mereka kuliah dulu.
" Apalagi yang mau kamu jelaskan ed!" serunya tak kalah garang. Khansa nampak menarik kemeja suaminya.
" Mas ... Dengarkan dia dulu! Jangan di potong-potong," ujar khansa saking bingungnya dia merubah panggilannya. Dia tidak tahu kenapa suaminya semarah ini kepada edward.
__ADS_1
" Katakan ed!" ucapnya kemudian duduk. Sedangkan edward dan khansa sama-sama menelan salivanya karena takut Reyhan bertambah murka kali ini. Bukan karena pertemuan ini tapi anak khansa adalah anak edward.
" Rey ... Ceraikanlah khansa! Aku ingin menikahinya," ucap edward membuat Zura membola. Tapi tidak dengan Reyhan dia paham kemana alurnya. Namun dia butuh alasan yang jelas untuk ini.
" Apa alasanmu memintaku menceraikan Khansa?" tanya Reyhan dingin dan layaknya seorang suami yang sedang bernego dengan rivalnya.
" Aku mencintainya Rey," jawab edward.
" Bukan alasan itu yang ingin ku ketahui! Kamu pasti lebih paham kemana alur bicaraku Ed!" serunya tegas dan lugas. Edward kemudian menatap Reyhan dengan sendu.
" Anak itu adalah putraku Rey! Maafkan aku sudah melampaui batas normal seorang teman. Sungguh bukan maksudku menodai istrimu, saat itu aku tidak tahu bagaimana melampiaskannya. Kalau boleh aku memilih di pukul sampai pingsan. Tapi siapa yang bisa melakukannya saat itu," lirihnya membuat Reyhan membola. Namun terkejut lagi saat khansa datang dan memeluk kaki Reyhan sambil tergugu.
" Jangan salahkan dia mas! Aku yang salah. Aku adalah istri yang terobsesi pada suaminya. Aku begitu ingin memilikimu. Aku yang pada dasarnya tidak paham apapun jadi di buat bingung. Aku minta bantuan pada edward untuk membelikan obat agar kamu tertarik padaku mas. Saat edward membawakannya aku malah berulah dan mencobanya pada edward. Saat itu aku benar-benar tidak memikirkan efek atau dampak dari obat itu. Edward tidak tahu apapun. Dia berusaha menormalkan suhu tubuhnya selama berjam-jam di kamar mandi. Aku yang merasa bersalah tak kunjung pergi dari sana. Mas ... Semua ini salahku bukan salahnya. Dia pun sudah akan bertanggung jawab padaku tapi aku menolaknya aku bilang tidak sudi hamil keturunannya tapi nyatanya aku tetap hamil anaknya dan aku menyembunyikannya dari semua orang karena anak itu dalam bahaya. Please ... Jangan marah padanya mas!" ujar Khansa sambil menangis di pangkuan Reyhan. Reyhan menghela nafas. Ini memang salahnya. Zura pun nampak terkejut saat Reyhan tak menyentuhnya.
" Maafkan aku mas!" serunya. Reyhan mencoba mencerna semua kalimat-kalimat khansa. Dia terdiam sejenak tak bergeming. Dia masih memahami keadaan khansa hingga seperti ini.
Tanpa mengurangi rasa cintanya pada sang istri pertama. Reyhan mengecup dahi Khansa sebagai tanda terakhir bahwa dia adalah istrinya. Nampak semua tercengang dengan perlakuan Reyhan pada khansa. ini kali pertamanya.
Edward terlihat mengepalkan tangan dan nampak tidak suka dengan perlakuan Reyhan pada ibu dari putranya. Tapi siapa edward di sini memang Reyhanlah suaminya. Sedangkan Zura hanya tersenyum menanggapinya. Apapun yang Reyhan lakukan pada khansa itu haknya karena khansa memang masih sah istrinya. Reyhan sendiri tak melakukan pergerakan apapun dia hanya sekedar mengecup khansa sangat lama sambil memejamkan mata dan sedikit menitikkan air mata bersalah.
" Bawalah putramu kemari!" pinta Reyhan. Khansa hanya mengangguk dan berlalu dari sana. Edward hanya diam seribu bahasa. Dia tidak ingin salah langkah. Dia yakin Reyhan memiliki kebijakan yang baik untuk semua orang.
" Bi ... Bawalah dia kemari!" serunya dengan menatap seseorang yanh selama ini merawat putranya.
Saat sang bibi memberikannya Reyhan pun memintanya dari Khansa. Reyhan tersenyum dan sedikit tergugu.
" Nak ... Om tidak tahu bagaimana ibumu menjalani kehidupannya tapi saat ini dengan hadirnya kamu di dunia menunjukkan pada Om bahwa Om adalah suami terburuk di dunia karena ingin menjaga keutuhan cinta Om untuk satu orang. Bisakah kamu memaafkan om? Meskipun Om secara tidak langsung sudah merusak kehidupan ibumu?" lirihnya sambil menggendong putra khansa dan edward itu. Zura pun ikut mengusap air matanya.
__ADS_1
" Maafkan aku Rey!" pinta Edward. Reyhan menatap sahabatnya sejenak.
" Diamlah sebentar! Aku ingin sedikit berfikir saat ini. Rasanya aku merasa semua kejadian ini adalah salahku," ujarnya dengan nada oktaf terendah yang dia miliki.
" Mas ... Bukan karenamu. Setiap manusia akan memiliki ujiannya sendiri! Jangan menyalahkan siapapun. Iji sudah di gariskan dan inilah yang terbaik. Mbak khansa pun sudah meminta maaf," ucap Zura yang kali ini kian dewasa menanggapi sebuah permasalahan.
" Hmmm ... Sa! Apakah selama ini aku begitu menyakitimu?" tanya Reyhan nampak sayu.
" Mungkin ... Tapi bukan salahmu mas! Khansa-lah yang terobsesi," jawabnya masih menunduk.
Apakah Reyhan menceraikan khansa? Ataukah akan kembali saja? Keterlaluan sekali jika dia tak melepaskan khansa. Maafkan aku Rey jika berharap perceraianmu dengan khansa. Aku hanyalah seorang ayah yang ingin bersama putranya. Sesalnya.
" Bagaimana dengan dokter Adelia Ed? Jika kamu memilih bersama khansa? Apakah kamu memikirkan perasaannya? Tidakkah kamu menemuinya dulu sebelum meminta perceraian padaku?" tanya Reyhan dengan suara mendominasi kali ini.
" Adelia???? Kami bahkan sudah beberapa pekan tak bertemu," jawabnya.
" Lalu? Untuk apa kamu seperhatian itu terhadap adelia? Aku harap pemikiranku salah saat ini tentang hubungan kalian,"ujarnya membuat edward menghela nafas.
" Tapi Rey!?" tanyanya dengan perasaan tidak enak khawatir reyhan tak melepaskan adelia.
" Selesaikan dulu urusanmu dengannya! Baru aku akan mempertimbangkan perceraian itu," jawabnya dengan tegas.
" Rey ... " tatapnya.
" Keputusanku Final kali ini Rey! Lakukan yang terbaik untuk mendapatkan khansa," ujarnya. " Sa ... Kemasi barang kalian! Selama menjadi istriku tinggallah di kediamanku," jawabnya lagi sambil menatap zura. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
" Tapi mas? Apakah zura ... " belum meneruskan lagi zura sudah menjawabnya.
__ADS_1
" Mbak ... Ikutlah!" serunya.
Likeeeeeeee.