Denyut Jantungku

Denyut Jantungku
Syok


__ADS_3

" Tidakkah kamu pahami jika kami lebih kuat dari ayahmu itu?" tanyanya sudah gamang. Perasaan bersalahnya terngiang-ngiang. Bahkan itu juga berlaku pada Reyhan yang sudah acuh pada edward.


" Apakah kalian akan percaya padaku??? Aku bahkan sangat yakin bahwa kalian akan mencibirku bukan," ledek Khansa.


" Sa .... " lirih edward.


" Pulanglah aku sedang ingin sendiri ed! Jangan memanjat itu bukan keahlianmu jadi jangan di ulangi lagi," ujar khansa sambil membuka pintu kamarnya mempersilahkan edward keluar dari sana. Namun tanpa di di duga pemuda itu malah memeluknya.


" Please ... I am sorry sa!" serunya sambil memeluk khansa.


Tanpa di duga khansa malah tergugu saat ini. Dia merasa bersalah pada semua orang. Edward kemudian membalikkan tubuh khansa dan memeluknya dengan erat. Namun khansa mengatakan sesuatu yang membuat edward menggeleng.


" Aku bukan orang baik ed! Pergilah ... Aku khawatir ayah akan melakukan hal yang menyakitimu. Ku mohon ... Jangan membuatku takut sekali lagi," lirihnya. Edward tidak bisa meninggalkan khansa. Dia akan berusaha tetap di sana untuk khansa.


" Sa ... Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jangan menyalahkan dirimu sendiri," jawabnya. Khansa tersenyum sambil menangis.


" Tapi aku sudah membuat Ummiku kecewa ed! Harusnya aku tetap seperti dulu! Tapi lihatlah aku malah berubah saat bertemu ayahku. Dia bahkan tak mengizinkanku memakai hijab dan lainnya. Aku tak bisa menolaknya. Aku pikir dia mencintaiku namun dia hanya memanfaatkanku saja," sesal khansa kemudian terduduk lemas. Edward ikut duduk bersamanya.


" Kenapa diam saja selama ini Sa?" tanya edward.


" Sudah cukup aku melukai hati Istri Reyhan. Tidak mungkin aku melukai siapapun lagi ed!" serunya di sela isak tangisnya.


" Tapi ... Aku ayah biologis putramu! Apakah kau pikir aku tidak berhak atas dirinya," ujar edward geram.


" Aku takut kamu mengambilnya ed! Hanya dia milikku saat ini," jawab khansa. Edward hanya meremas rambutnya kesal.


...----------------...


Keesokan harinya di rumah Reyhan ...


" Pak ... Bagaimana keadaan khansa saat ini?" tanya Zura. Namun rEyhan mengernyitkan alisnya.


" Pak? Apakah aku sudah setua itu sehingga di panggil pak kembali," protes Reyhan pada istrinya itu. Zura jadi terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


" Kita sudah lama tak bertemu ... Aku sudah bingung harus memanggil apa lagi," jawab Zura menunduk. Reyhan tersenyum mengangkat dagu zura dengan lembut.


" Honey boleh tuh, yang ... " jawabnya sambil memainkan alisnya naik turun. Zura hanya menghela nafas.


" Bapak itu sudah bukan ABG lagi pak masak mau di panggil Honey," protes zura sambil menyembunyikan wajah ingin tertawanya.


" Yang ... Jahat banget sih kamunya!" Reyhan jadi cemberut," jawabnya dengan sedikit kesal. Zura tertawa di buatnya.


" Iya honey ... Maaf bercanda juga! Gak malu tuh di lihatin si baby papinya cemberut aja kayak kain kusut. Udah ah .... " ujar Zura membuat Reyhan tersenyum. Namun istrinya itu berjalan keluar.


" Mau kemana yang?" tanya Reyhan.


" Masak ... Titip baby ya? Jangan lupa cari info khansa lewat edward. Mereka juga tanggung jawabmu Honey," nasehat zura agar suaminya itu segera mencari tahu.


" Oke yang ... " jawabnya serius.


Di kediaman khansa pagi ini ...


" Ed! Jangan seperti ini ... Istirahatlah," ujar khansa khawatir.


" Ed ... Reyhan belum melepasku sepenuhnya. Please ... Jangan seperti ini!" serunya yang sudah lelah mendampingi edward semalaman yang tidak istirahat.


" Jika hanya Reyhan masalahnya aku akan menyelesaikannya. Asalkan kamu menikah denganku!" serunya lagi san lagi. Entah berapa kali dia mengatakan hal itu. Khansa menghela nafasnya dengan berat.


" Apapun itu istirahatlah! Kita bahas lagi setelah kamu bangun," jawabnya mengalah.


" Oke," jawab edward singkat.


Di rumah Zura ....


Prankkkk.


Lagi -lagi ayah khansa marah - marah tidak jelas di rumahnya. Reyhan menatap nyalang ke araj mertuanya itu. Dia mendekat dengan dinginnya.

__ADS_1


" Apa yang anda lakukan di rumahku?!" terdengar sangat tidak sopan tapi harus bagaimana lagi. Papa atau ayah khansa itu benar - benar membuatnya naik pitam.


" Berikan alamat khansa padaku! Bukankah kamu mengunjunginya kemarin!???" seru serta tanyanya dengan tergesa.


" Rupanya penglihatanmu salah tuan!" ledeknya pada ayah mertuanya.


" Jangan memutar sesuatu yang jelas menjadi tidak jelas tuan! Jelas - jelas dia ada di sekitar sini," jawabnya dengan senyum menyebalkan sekali bagi yang melihatnya.


" Katakan! Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan tentang putriku. Jangan berusaha menyembunyikan anak sialan itu," lagi - lagi sekarang dia marah tidak jelas membuat Reyhan malas.


" Sebenarnya apa masalaah khansa denganmu? Dia putrimu tapi nampaknya kamu begitu marah padanya!" seru Reyhan sambil menatapnya lekat. Dia sebenarnya tidak ingin berdebat dengan ayah khansa namun laki - laki paruh baya ini benar - benar menguji nyalinya.


" Untuk mendapatkannya aku mengeluarkan biaya banyak. Jadi seharusnya dia lebih memahami bahwa aku sudah mengorbankan banyak hal," ujarnya dengan sombong. Reyhan menghela nafas berat.


" Tapi Ummi sudaj membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan didikan yang baik. Namun dalam sekejap kamu merusaknya tuan! Tidakkah kamu merasa bersalah menyebabkan kematian Ummi?" tanya Reyhan dengan jeli. Dia menatap nanar wajah laki - laki itu dengan tatapan menghunus.


" Apa masalahnya denganku? Dia sudah cukup lama merawat putriku itu. Harusnya kami sudah bertukar tempat sejak lama. Aku punya selera sendiri dalam mendidik putriku!" serunya dengan sangat percaya diri sekali.


" Ck. Kau bahkan merusaknya tuan bukan memperbaiki semuanya! Keluarlah ... Aku tidak tahu dimana putrimu berada. Sudah cukup kamu memporak - porandakan keluargaku. Aku tidak segan melakukan hal kasar padamu!!!" marah Reyhan kala ini.


Papa khansa nampak berjalan pergi dari sana. Reyhan nampK kurang baik moodnya. Dia mau sarapan saja enggan. Zura yang melihat itu segera menhampiri suaminya.


" Honey .... Sudah cukup! Jangan marah - marah lagi! Nanti kita temui khansa lagi ... " ujar Zura.


" Oke," jawabnya tanpa penolakan seperti sebelumnya.


Ummi adalah adik kandung mama khansa. Semenjak mama khansa meninggal gadis itu memang di rawat oleh sang bibi yang sudah di anggap sebagai ibunya sendiri. Ummi sendiri memberikan yang terbaik untuk khansa meskipun dia bukan ibu kandungnya. Dia mencurahkan kasih sayang, waktu serta keuangannya untuk kesuksesan putrinya itu. Namun kedatangan papa khansa kala itu merubah segalanya. Baik dari segi moral, sikap bahkan cara berpakaian semuanua terlihat sangat berbeda.


" Ummi ... Tidak ada yang sia - sia di dunia ini bukan? Maka jangam khawatir semuanya akan berjalan dengan baik. Meskipun aku sendiri tidak yakin ke depannya seperti apa. Saat ini yang aku bisa hanyalah menjaga putrimu melalui orang lain. Aku tak bisa seperti dulu lagi Ummi. Berpura-pura bahagia untuk orang lain. Bahagialah si sana," lirihnya dengan menatap lahan luas di samping rumah.


" Honey .... Telpon dari edward!" seru sang istri dengan menyodorkan ponsel itu.


" Makasih yang ... " jawabnya sambil senyum.

__ADS_1


Likeeeeeee. Sorry ya menghilang berhari- hari lamanya selain kesehatan alasan lainnya karena kesibukan mengikuti lomba menulis sama sibuk dengan KSNr 5 putranya. Thank 's yang sudah setia.


__ADS_2