
Brakkk.
Dentuman suara pintu membuat semua orang yang berada di meja makan jadi menoleh ke arah datangnya suara.
" Reyhan! Dimana khansa???" teriaknya dengan lantang. Reyhan pun berdiri dan menatap mertuanya dengan sarkas.
" Jangan membuatku tertawa tuan. Bukankah putrimu sudah meminta cerai dan pulang dari sini!" jawabnya dengan nada tinggi pula.
" Jangan membohongiku Reyhan! Jangan melindungi anak itu!" marahnya pada Reyhan. Reyhan yang masih belum menceraikannya itu jadi di buat bingung. Sebenarnya pergi kemana khansa itu.
" Bohong bagaimana maksud anda! Saat ini saya sedang tidak bercanda. Carilah jika kamu tidak mempercayai kami!" seru Reyhan. Nampak wajah geram di wajah Papa Khansa tapi kegeramannya itu bukan untuk Reyhan melainkan untuk khansa.
Sebenarnya ada apa dengan ayah dan anak ini. Aku tidak paham dengan kemarahan ayah khansa ini. Sungguh di luar dugaan. Aku tidak paham dengan keadaan ini. Batinnya bingung.
" Anak itu benar -benar membuat perhitungan denganku. Awas saja jika bertemu kembali. Beraninya dia memilih untuk merawat bayi itu," lirihnya dengan meninggalkan kediaman Reyhan. Namun suara lirih itu masih dapat Reyhan dengar dengan baik.
Braaaakkk.
Lagi -lagi suara pintu di tutup dengan kasarnya. Ibu Reyhan dan neneknya terjengkit kaget. Namun reyhan kembali melamun setelah mengingat suara lirih ayah khansa.
Anak siapa? Bayi siapa yang dia rawat? Sebenarnya ada apa dengan khansa itu. Kenapa dia pergi dengan memberikan tanda tanya yang besar di sini.
Tring. Tring.
Ponsel Reyhan berbunyi dan saat dia lirik nama edward terpampang di sana. Reyhan segera mengambilnya dan menundukkan kepala pada keluarganya menunjukkan bahwa dirinya ijin pergi dari ruang makan. Mereka semua mengangguk paham.
Di teras rumah ...
♧ " Rey? Kamu serius sudah bisa membawa pulang Zura besok?" tanyanya dengan penasaran.
♧ " Ya ... Ed. Aku sudah bisa membawanya kembali. Tapi saat ini aku sedang memikirkan hal yang tak dapat ku mengerti," ucapnya gamang.
♧ " Katakan! Aku akan membantu menyelidikinya," jawab edward yakin sekali.
♧ " Khansa tidak pulang ke rumah papanya! Nampaknya ada sesuatu di antara mereka berdua ed. Tadi aku dengar papa khansa mengatakan bayi. Bayi siapa yang dia rawat ed! Aku bingung," jawabnya dengan jelas. Tentu saja hal itu membuat edward diam seribu bahasa.
♧ " Ed ... Kau masih di tempatmu kan???" tanyanya dengan ragu.
__ADS_1
♧ " I .. Iya aku dengar Rey! Akan aku cari informasi tentangnya. Jangan khawatir," jawab edward.
Tapi siapalah edward. Dia meminta orang lain untuk tidak khawatir namun edward saat ini sedang mengumpati dirinya sendiri. Dia ingat betul bahwa Khansa mengatakan tidak sudi hamil anak siapapun kecuali Reyhan. Tapi tadi reyhan mengatakan bayi. Itu bayi siapa? Seharusnya saat ini anak itu sudah 6-7 bulanan. Kapan dia melahirkan dan kapan dia hamil? Edward benar-benar mengutuk dirinya jika benar-benar khansa pandai menyembunyikan realita itu.
" Apa yang kamu lakukan sa ... ??? Apakah dia anakku? Untuk apa kamu sembunyikan semua itu sa. Aku bahkan sampai menawarkan diri untuk bertanggung jawab. Aku sampai merendahkan seorang edward di hadapanmu demi ingin menjadi laki-laki baik. Sial!" marah edward pada dirinya sendiri.
Ingatan edward kembali ke beberapa waktu lalu. Dimana khansa meminta dirinya untuk menceraikan zura dan menikah dengannya. Serta meminta mengembalikan Zura pada Reyhan.
Apa sebenarnya isi kepalamu Sa! Kenapa kamu menjadi perempuan introvet seperti ini. Kenapa kamu tidak bisa sedikit saja menghargai orang yang berada di sekitarmu? Batin edward mengesal saat ini.
...----------------...
" Hai ... Sayangnya mommy. Sorry ya sayangku! Karena keegoisan mommy jadi kamu yang kena imbasnya. Miss you baby El," peluknya dengan penuh kasih sayang. Nampak sang baby sitter sangat bahagia saat melihat khansa kembali ke rumah ini. Dia merasa kasihan pada baby El jika sekecil itu tak memiliki siapapun.
" Nyonya ... Kami bahagia anda datang," harunya dengan memegang lengan khansa.
" Makasih mbakkk ... Sudah menyayangi El. Ke depannya saya akan tetap di sini menjaga dan merawatnya," jawab khansa tersenyum.
Ting.
Angkat telponku atau kamu akan dalam masalah. Aku bahkan tidak butuh waktu lama untuk menemukanmu.
Huft.
Helaan berat dalam nafas khansa terlontar begitu saja. Dia pun tak membalas pesan itu namun pada detik berikutnya ponsel khansa berbunyi. Dia pun mulai meraih dan mengangkat telponnya.
♡ " Ada apa lagi?" tanya khansa dengan ketus.
♡ " Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan dingin pula.
♡ " Yang kulakukan? Bercanda kau ini," jawab khansa dengan meledek edward.
♡ " Jawab aku dengan benar jangan berbelit-belit," ucap edward kini terdengar sedikit menakutkan suaranya.
♡ " Aku sedang ingin sendiri," jawab khansa masih singkat.
♡ " berikan alamatmu sekarang!" perintah edward membuat mata khansa membola karena kesal.
__ADS_1
♡ " Edward ! Khansa!" teriak mereka bersama.
♡ " Katakan! Atau jika kamu tidak mendengarkanku kamu akan menyesal," ancam edward dengan sarkas.
♡ " Aku sedang ingin sendiri," Tut .......
Ponsel khansa sudah mati hal itu sontak saja membuat edward sangat kesal. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu. Edward juga merasa khawatir. Ada apa dengan dirinya. Bukankah dia sedang dekat dengan adelia. Kenapa malah memikirkan khansa. Ini sunggyh memuakkan.
Aaaahhhhh! Khansa.
Edward kembali melacak keberadaan khansa. Mata edward terbelalak saat melihat titik lokasi dan itu berada jauh dari tempatnya saat ini. Saat edward pusing memikirkan hal itu. Tiba-tiba saja edward mendapatkan telpon dari orang kepercayaannya.
" Tuan .. Nona khansa pergi ke sana untuk merawat Putranya. Dia sudah beberapa bulan meninggalkan tempat itu. Menurut baby sitternya nona khansa terpaksa meninggalkan putranya karena ancaman seseorang. Hanya itu tuan yang saya dapatkan," ucap orang kepercayaannya.
" Bagus ... Segera kirimkan nomor rekeningmu Har," jawab edward mulai menerbitkan senyumnya.
" Siap bos," tawanya bahagia.
Putra siapa dia sa! Awas jika dia adalah putraku akan ku buat perhitungan denganmu. Kenapa bodoh sekali aku tak menyadari apapun tentang khansa. Ck. Aku terlalu sibuk memikirkan zura dan adelia. Menyebalkan.
Di kamar Zura ...
" Pak ... Apakah mbak khansa tidak marah jika kita kembali bersatu??" tanya zura dengan manja. Suara zura benar-benar menginginkan segera bersama istrinya. Rindu sudah menyelimuti dirinya bertahun-tahun lamanya. Mungkin akhir-akhir ini mereka beberapa kali bertemu namun itu bukan melepas rindu akan tetapi mengurangi rasa bersalah.
" Mahasiswa nakal! Sudah memiliki anak bersamaku masih saja memanggilku pak menyebalkan sekali istriku ini. Aku begitu merindukanmu sayang," jawabnya dengan mesra.
" Ck. Bukan jawaban itu yang aku inginkan pak!" manja Zura. Reyhan jadi di buat terkekeh.
" I love you sayang. Besok aku jemput ini sudah malam istirahatlah! Edward sudah aku beri tahu perihal penjemputanmu besok sayang," ucapnya dengan serius.
" Iya pak," jawab Zura sedikit tertawa.
" Ck. Panggilanmu begitu menggemaskan," Reyhan terkekeh kembali.
" Hahahahah," zura pun tertawa lepas tanpa sungkan sama sekali.
Likeeeee.
__ADS_1