
Pagi ini kedua pemuda itu memutuskan untuk melacak persembunyian khansa. Dia harus menjawab semua permasalahan ini. Dia sudah mengobrak - abrik hidup Reyhan dan saat ini dia pergi begitu saja dengan membawa tanda tanya yang besar. Kedua pemuda itu tak sampai hati dendam pada khansa. Mereka malah khawatir karena ayah khansa yang kejam.
Di sebuah kediaman yang sederhana. edward dan reyhan saling memandang. Dia melihat bagaimana seorang khansa yang sedang mengajak bermain dan bercanda seorang bayi. Edward dan Reyhan di buat terpukau pada sisi lain khansa. Mereka berdua saling bertukar pandang satu sama lain.
" Dia benar khansa?!" seru mereka berdua bersamaan serta tertawa bersama.
Tanpa banyak berdiskusi lagi edward dan Reyhan menghampiri rumah itu dan menggunakan masker.
" Permisi ... ! Kami boleh bertanya mbak?" tanya edward dengan suara agak ngebass. Khansa menoleh pada kedua pemuda yang berada di dekat pagar rumahnya. Khansa pun mendekat dan menitipkan baby pada baby sitternya.
" Ada apa mas?" tanya khansa sopan. Kali ini edward yakin ada yang tidak beres pada khansa. Edward pun jadi berdehem.
" Kami mau mencari rumah perempuan mbak. Dia katanya tinggal di sekitar sini," tanyanya berbasa basi. Khansa jadi di buat bingung.
" Perempuan mana mas? Di sini banyak. Ada nama atau nomot rumah mungkin," tanya khansa dengan menatap mereka.
Edward dan Reyhan pun membuka masker mereka. Khansa di buat melongo oleh mereka. Khansa pun segera berbalik. Dia tidak ingin bertemu mereka sekarang.
" Tunggu sa! Kamu membuat kami pada posisi salah. Berilah beberapa alasan dengan apa yang terjadi saat ini," ucap edward. Tapi khansa tidak menanggapi hal itu. Malah menanggapi hal lain.
" Berikan saja padaku surat perceraiannya. Aku janji tidak akan mengganggu kalian lagi," jawabannya sangat aneh dan bukan hal itu yang ingin mereka dengar.
" Jangan bermain - main dengan kami khansa! Papamu mencari ke rumah Reyhan dan mengancamnya! Jangan membuat masalah lagi," seru Edward. Sedang Reyhan memperhatikan khansa sedari tadi. Gadis itu tidak menatap ke arah mereka sama sekali.
" Apakah lebih baik papamu kami kasih alamat ini saja!?" tanya edward meninggi. Kini khansa menatap edward tajam dan mengatakan yang membuat Reyhan dan edward kaget hingga tak bergeming.
" Katakan saja padanya kelak kamu akan kehilangan anakmu Ed! Aku sudah lelah berdebat dengannya jadi jangan menambah lelahku saat ini. Aku sedang ingin sendiri pergilah! Rey ... Serahkan surat cerai itu segera jangan terlalu lama," khansa pun mulai melangkah masuk. Reyhan menatap edward kali ini.
__ADS_1
...----------------...
" Jelaskan padaku ed! Kenapa anak itu adalah anakmu???" tanya Reyhan pada edward yang sudah duduk di dalam mobil dengan diam. Edward masih saja diam.
" Katakan ed! Jangan diam saja. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian," kali ini suara Reyhan meninggi. Zura yang sedari tadi berada di mobil menatap keduanya bergantian.
" Ada apa mas?? Kenapa membentak Edward seperti itu!" seru Zura tak paham. Reyhan tertawa kesal.
" khansa mengatakan bahwa anak itu adalah anak edward zura! Mereka ini sedang bermain-main denganku ... " kesal Reyhan dan zura jadi paham arah bicaranya kali ini. Zura menatap edward lekat.
" Katakan ed! Ada apa semua ini?" tanya zura membuyarkan lamunannya.
" Kesalahan itu sudah pernah aku pinta pertanggung jawabannya. Namun dia menolakku dengan alasan tak mengandung janinku lagi. Diav tidak sudi hamil anakku. Percayalah aku tidak lari dari tanggung jawab. Dia begitu terobsesi pada Reyhan.
" Kau bercanda ed!" tawa Reyhan. Namun edward menggelengkan kepala menandakan dia tidak bohong. Reyhan menjambak rambutnya sendiri. Dia jadi marah pada dirinya yang tidak peka pada khansa.
" Ketika dia menjadi istrimu Rey! Sungguh itu sebuah kesalahan kami," sesalnya.
" Kesalahan bagaimana maksudmu! Kalian ini keterlaluan," kesal Reyhan. Zura mengelus pundak suaminya itu.
...----------------...
Malam ini edward menghantar pulang sahabatnya itu. Dia melanjukan mobilnya dengan cepat. Hatinya gamang lantaran dia masih memikirkan balita itu.
Sesampainya di kediaman Reyhan ...
" Sementara .... Aku akan mengurusi masalah kami dulu sahabatku. Kamu fokuslah pada anak dan istrimu. Maafkan aku ... ," ucap edward membuat Reyhan kecewa kedua kalinya. Namun Zura memegang tangan suaminya dan mengangguk supaya Reyhan tak berdebat kembali.
__ADS_1
" Baiklah ... " jawabnya kemudian keluar dari mobil. Zura tersenyum pada edward.
" Makasih ya ed!" serunya dengan keluar dari mobil.
Tanpa banyak bicara lagi edward segera melesat keluar dari halaman kediaman Reyhan. Hatinya saat ini gamang, sakit. Dia merasa di tipu mentah - mentah oleh khansa. Gadis itu menyembunyikan identitas putranya dengan sangat baik. Dengan kemarahan yang sama edward memutar balik mobilnya menuju ke rumah khansa yang jauh dari perkotaan. Dia kembali terngiang-ngiang dalam memori-nya beberapa waktu lalu.
Sebenarnya kenapa sa? Kau mengatakan bahwa waktu itu tidak ingin melahirkan atau mengandung anakku. Tapi nyatanya kamu menyangsikannya. Kau malah membesarkannya saat ini. Apa yang kamu tidak suka dariku. Aku bahkan sudah menawarkan pertanggung jawaban itu padamu. Aku bahkan rela meninggalkan dokter Adelia yang baru saja singgah di hatiku sejenak demi menemuimu. Kau sungguh keterlaluan sa! Bahkan sangat jahat melebihi diriku ini.
Sesampainya di kediaman khansa tengah malam. Edward masuk layaknya maling. Dia langsung menaiki lantai dua dengan temali yang biasa dia bawa. Dia harus menemukan jawabannya kali ini. Jika Reyhan ikut itu sungguh membuatnya tidak enak. Tapi jika berangkat sendiri seperti ini maka lebih baik.
Tagh.
Suara pengait jendela nampak lepas. Khansa jadi gusar dan bangun untuk melihatnya. Namuj saat dia berdiri dia di bekap oleh Edward.
" Lepaskan ed! Apa yang kau lakukan di rumah??" marah khansa pada edward.
" Ssstttt .... Jangan ramai jika tidak putra kita akan bangun. Jangan membuat semuanya runyam ," jawabnya dengan menatap khansa tajam. Khansa membuang dengan kasar tangan edward.
" Apalagi yang kau inginkan ed!!! Aku sudah cukup mengajakmu untuk menikah denganmu beberapa waktu lalu!" serunya. Namun edward nampak menggeleng.
" Kau sudah menolakku waktu itu!! Aku ingat betul waktu itu Khansa. Kau bahkan mengatakan hal bodoh itu tanpa ada rasa belas kasih atas apa yang aku tanggung jawabkan. Katakan!?" marah edward di balkon rumah khansa.
" Aku tidak bisa menerimamu saat itu ed! Ayahku adalah ancaman terbesarku. Jika aku menerimamu saat itu ku pastikan anakmu tidak akan lahir di dunia ini! Aku sengaja menyembunyikannya. Meskipun aku orang jahat tapi nuraniku sebagai ibu tidak sampai hati menghabisinya. Tapi ayahku ... Dia bisa saja menghabisiku kala itu jika tahu aku hamil anakmu! Tujuannya adalah membuatku seperti yang dia inginkan. Maaf ... Jika aku sudah sejahat ini padamu dan Reyhan," ucap khansa tegar dan menghapus air mata yang lungsur tanpa ada pamit padanya.
Deg.
Likeeeeeee.
__ADS_1