
Di kantor Miqdam tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaan nya,Beberapa kali Miqdam salah menandatangani berkas yang Julian sekertarisnya berikan membuat Julian harus mencetak ulang berkas tersebut.
Fikiran Miqdam masih berkelana memikirkan Meisya sehingga membuatnya tidak fokus bekerja,Kejadian itu tidak lepas dari pandangan Julian.
"Maaf Tuan,apa ada sesuatu yang mengganggu fikiran Tuan?"Tanya Julian sembari menyerahkan berkas yang harus Miqdam tanda tangani.
Miqdam melirik Julian sekilas,"Tidak,aku hanya sedang memikirkan istriku"Bohong Miqdam,Ia tidak mungkin jujur kepada Julian.
Namun Miqdam melupakan sesuatu,Ia lupa jika Julian bisa mengetahui apa yang Miqdam fikirkan tanpa Miqdam memberitahunya,"Jika memang benar Tuan sedang memikirkan Nona sayang senang,namun jika Tuan sedang memikirkan hal lain saya pastikan fikiran Tuan sia-sia"Ucap Julian menutup berkas yang sudah di tandatangani Miqdam dan pamit keluar.
Miqdam menatap punggung Julian sampai hilang di balik pintu,Miqdam menarik nafasnya ia juga menggusar rambut nya kebelakang,Kepalanya berdenyut nyeri,"Apa yang harus kulakukan?"
"Kenapa dirinya memnuhi isi kepalaku?"Keluh Miqdam.
Berulang kali Miqdam menarik nafas nya sampai membuatnya sedikit tenang dan setelah itu ia kembali mengerjakan pekerjaan nya,Pagi berganti siang dan jam makan siang sudah tiba,Miqdam mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi.
Miqdam melajukan mobil ke tempat dimana ia melihat Meisya kemarin,Sesampainya di tempat Miqdam memarkirkan mobilnya dan langsung mencari Meisya di sekitan tempat itu.
Miqdam mencari kesana kemari ia menanyakan ke beberapa orang yang ada disitu tentang keberadaan Meisya namun tidak ada satupun orang yang mengenal Meisya.
Miqdam terlalu sibuk mencari Meisya sampai ia tak tahu jika Jennara menghubunginya,Berkali-kali Jennara menghubungi nomor Miqdam namun tidak ada satupun yang di jawabnya.
Setelah Miqdam merasa lelah ia memilih kembali ke dalam mobil,Miqdam menyenderkan tubuhnya pada kursi mobil,Miqdam mengambil ponselnya yang sedari tadi ia tinggal,Matanya melotot saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari istrinya.
Miqdam menghubungi nomor Jennara,Dering dua kali Jennara langsung menjawab panggilannya,"Assalamualaikum sayang"
"Waalaikumsallam mas,mas dari mana saja?,mas baik-baik saja kan?"Tanya Jennara khawatir di sebrang telfon.
"Tenang dulu sayang,mas baik-baik saja,maaf ya mas bikin adek khawatir"Sesal Miqdam.
__ADS_1
"Ya allah mas,mas bikin aku khawatir"
"Iya sayang mas minta maaf ya"
"Iya mas,memang mas dari mana saja sampai mas ga bisa jawab telfon aku? "
Midam diam sebentar tak langsung menjawab pertanyaan Jennara,Ia sedang memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan,Setelah menemukan jawaban nya Miqdam baru menjawab pertanyaan Jenanra.
"Mas lagi di luar sayang tadi tiba-tiba mas pengen makan chesee cake jadi mas mau beli sekalian beliin adek"Alibi Miqdam membohongi Jennara.
"Ya Allah mas,mas ini ya bikin aku khawatir,terus sekarang mas sudah dapat chesee cake nya?"
"Sudah dek,mas sudah dapat ini tapi cuma satu terus sudah mas makan,yang untuk adek ga ada"Bohing Miqdam lagi.
"Yasudah ga apa-apa mas,mas sudah dulu ya aku ada tamu,Asallamualaikum"
"Waalaikumsallam"Setelah itu panggilan terputus.
Miqdam meletakkan kembali ponselnya dan melirik jam di tangannya,Jam istirahat sudah lewat Miqdam harus kembali ke kantor,Miqdam menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu,Tepat setelah mobil Miqdam pergi Meisya melewati tempat itu bersama putrinya.
Dasarnya belum berjodoh untuk mereka bertemu jadi mau sebagaimanapun Miqdam mencari Meisya kalau belum berjodoh mereka tidak akan bertemu.
Meisya bersama Arsyila putrinya berjalan di bawah terik matahari untuk menuju rumah majikannya yang ke dua setelah menyelesaikan pekerjaan nya di rumah majikannya yang pertama.
Arsyila tidak pernah mengeluh walau berjalan cukup jauh untuk sampai di rumah majikan ibu nya,Tapi terkadang Meisya merasa kasihan kepada putrinya yang harus ikut bekerja bersama nya,Kalaupun Arsyila di tinggal di rumah pun Meisya lebih tidak tega lagi.
"Umi nanti kalau sudah punya uang boleh Arsyila makan itu"Tujuk Arsyila pada kedai makan yang menyajikan olahan ayam yang lezat.
Meisya melihat ke arah yang putrinya tunjuk,Hati Meisya sedikit perih,Hanya sepotong ayam saja ia tidak mampu membelikan untuk anak nya,"Iya sayang,nanti kalau umi punya uang kita makan disitu ya"Jawab Meisya menahan perih di hatinya.
__ADS_1
"Yey terimakasih umi"Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka yang masih lumayan jauh.
Setiap harinya Meisya hanya bisa menyesali semua perbuatannya di masalalu yang akhirnya membuat hidupnya dan juga putrinya menderita,Andai dulu dia tidak bodoh hidupnya tidak akan semenderita ini.
Namun penyesalan hanyalah tinggal penyesalan tidak bisa Meisya ubah sedikitpun,Yang bisa ia lakukan sekarang adalah bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan juga putrinya.
Di tempat lain tepatnya di butik Jennara,Jennara tengah di sibukkan dengan beberapa tamu nya yang datang untuk membuat baju,Satu dari tiga tamunya adalah ibu paruh baya teman dari Sandra ibunya.
Lagi dan lagi pertanyaan yang tidak ingin Jennara dengar harus ia dengar lagi dari mulut ibu paruh baya teman ibunya itu,"Jen belum isi juga ya?"Tanya ibu Sulis teman ibunya.
"Iya tante belum"Jawab Jennara dengan senyum yang di paksakan.
"Kok belum isi juga sih,kan kalian sudah satu tahun menikah masa belum isi juga,kamu sudah cek ke dokter belum siapa tau salah satu dari kalian ada yang bermasalah"Ucap ibu Sulis lagi yang membuat wajah Jenanra langsung berubah namun ia berusa untuk tetap sopan.
"Belum waktunya saja jeng,nanti juga di kasih kok"Bukan Jenanra yang menjawab melaikan ibu Jihan yang datang bersama ibu Sulis.
"Tapi ini sudah cukup lama loh jeng masa belum juga isi,kecuali salah satunya bermasalah iya kan jeng Ratna"Ucap Ibu Sulis lagi yang kali ini mencari pembelaan dari bu Ratna.
"Ga boleh begitu jeng,benar apa kata jeng Jihan mungkin memang belum waktunya,dulu saya juga punya anak cukup lama kok jadi Jen jangan khawatir ya"Jawab ibu Ratna yang tidak setuju dengan ucapan ibu Sulis.
Jennara tersenyum lega ibu Jihan dan ibu Ratna tidak ikut menanyakan hal yang sama seperti ibu Sulis,"Tapi tetap saja jeng pasti salah satu dari mereka ada yang bermasalah,menantu saya yang baru beberapa bulan menikah saja sekarang sudah hamil kok"Cerocos ibu Sulis yang tidak mau kalah.
Lyla yang tidak tahan dengan ucapan ibu Sulis langsung menjawab ucapan ibu Sulis,"Maaf ibu Sulis yang terhormat,Mba Jen dan suaminya sudah memeriksakan kondisi mereka dan semuanya normal tidak ada masalah,Jadi saya harap ibu Sulis tidak meneruskan pembahasan ini"Tegur Lyla dengan sopan.
Andai saja ibu Sulis ini bukan pelanggan di butik Jennara dan dia tidak lebih tua darinya sudah Lyla pastikan Ibu Sulis tidak akan berani bertanya seperti itu lagi kepada Jennara.
"Dasar ibu-ibu mulut lemes"Cicit Lyla pelan yang hanya di dengar Jennara yang duduk di sampingnya,"Hust mulutnya"Tegur Jennara.
"Habis ngeselin banget ibu Sulis itu mba"Bisik Lyla.
__ADS_1
"Sudah jangan di teruskan lagi,biarkan saja dia mau berbicara apa"Setelah itu mereka kembali fokus pada gaun yang di inginkan ibu-ibu itu.