Dermaga Impian

Dermaga Impian
Bab 24


__ADS_3

Dor...dor... dor.. Gedoran pintu semakin kuat terdengar dari luar,Miqdam melepas pelukan nya pada Meisya ia merasa kesal dengan si penggedor pintu,Dengan rasa kesal yang menjulang tinggi Miqdam membuka pintu.


Bhukk.... Satu pukulan melayang di wajah Miqdam yang di berikan oleh Julian,Miqdam terjatuh di lantai mata Miqdam melotot melihat Julian ada di hadapan nya,Dari mana Julian tahu apartemen nya,Pertanyaan yang Miqdam tanyakan dalam hatinya.


Julian menarik kerah baju Miqdam membuat Miqdam berdiri mengikutinya,"Apa yang kau lakukan Julian,berani sekali kau memukulku"Hardik Miqdam tidak terima.


"Bahkan untuk membunuhmu sekarang pun aku berani"Lawan Julian dengan rasa emosi yang memuncak.


Di belakang mereka Meisya berdiri ketakukan bahkan kaki nya sampai gemetar melihat pertikaian di depannya,Meisya tau siapa Julian bahkan Meisya sangat tahu,Begitupun Julian ia tau siapa Meisya sebenarnya.


Mata Julian melirik Meisya dengan pandangan menghina,Meisya yang di tatap Julian seperti itu langsung menundukan kepalanya,Miqdam melihat arah pandang Julian,Miqdam tidak terima Julian menatap Meisya seperti itu.


Miqdam meraih kerah baju Julian,"Sekali lagi kau lihat Meisya dengan mata menghinamu itu,akan ku pastikan kau menyesalinya seumur hidupmu"Ancam Miqdam namun tidak membuat Julian takut.


"Aku tidak perduli,bahkan jika harus menyeret wanita itu di hadapanmu mu pun aku berani"Ancaman balik Julian,Sungguh ia tidak takut sedikitpun dengan Miqdam,Ini di luar kantor itu berati Miqdam bukan atasannya.


Julian adalah teman Miqdam sedari mereka duduk di bangku SMA,Mereka berteman cukup lama bahkan Satria sudah menganggap Julian seperti anak nya sendiri,Satria dan Hilya banyak membantu Julian selama ini,Apalagi Julian adalah anak yatim piatu sedari ia SMA.


Julian Banyak berhutang budi dengan keluarga Miqdam tapi itu bukan berati Julian akan mendukung hal yang akan Miqdam sesali seumur hidup,Di banding dengan Miqdam Julian lebih takut dengan Satria,Karena Satria adalah pengendali dirinya dan juga Miqdam.


"Tutup mulutmu"Miqdam akan memukul wajah Julian tapi Julian berhasil menahan tangan Miqdam.


"Aku tidak memiliki waktu berkelahi dengan mu,sekarang ikut aku"Julian menarik Miqdam keluar apartemen.


Miqdam memberontak dan menepis tangan Julian,"Siapa kau memintaku mengikutiku,ingat kau hanya bawahanku"Ucap Miqdam mengingatkan Julian.


"Aku tidak perduli kau siapa yang penting kau ikut aku sekarang"Julian kembali menarik Miqdam namun lagi-lagi Miqdam menepis tangan Julian.


"Aku tidak sudi mengikutimu"Tolak Miqdamdan kembali masuk kedalam apartemen.


"ISTRIMU MASUK RUMAH SAKIT DAN KAU ENAK-ENAKAN DISINI BERSAMA ****** ITU"Pekik Julian membuat Miqdam berhenti seketika,Julian sengaja meninggikan suaranya agar Meisya mendengar ucapannya.

__ADS_1


Mendengar istrinya berada di rumah sakut fikiran Miqdam kosong seketika,Julian medekati Miqdam dan langsung menarik kerah baju Miqdam,Julian menyeretnya seperti seekor kucing dan Miqdam hanya dian mengikutinya.


Setelah kepergian Miqdam dan Julian Meisya terduduk lemas di sofa,Meisya tidak menyangka jika Miqdam sudah memiliki istri,Rasa bahagia lenyap seketika,Tidak di pungkir Meisya sudah menaruh harapan kembali kepada Miqdam saat Miqdam mengakuinya sebagai istri tadi,Namun dengan sekejab kebahagiaan nya hilang di renggut kenyataan.


"Umi"Suara Arsyila memanggil Meisya dari dalam kamar.


Meisya menghapus air matanya dan menemui Arsyila,Mereka berdua harus segera pergi dari apartemen Miqdam dan menghilang dari hidup Miqdam.





Di rumah sakit Miqdam berlari secepat mungkin untuk sampai di ruangan Jennara,Sepanjang perjalanan Miqdam merutuki dirinya yang telah melupakan Jennara,Miqdam merasa berdosa atas apa yang ia lakukan tadi.


Sampai di ruangan Jennara Miqdam langsung membuka pintu dengan kasar sehingga membuat mereka semua yang ada di dalam ruangan Jennara di buat kaget.


Miqdam menatap Jennara dengan selang infus yang berada di tangan nya,Miqdam mendekati Jennara dan langsung memeluknya,"Maafin mas sayang"Ucap Miqdam dengan air mata yang menetes.


Ntah untuk apa maaf yang Miqdam ucapkan,Maaf karena melupakan Jennara,Maaf karena menolak panggilan Jennara,Atau maaf karena sekarang perasaan nya tak hanya untuk Jennara,Semua itu hanya Miqdam yang tahu.


"Mas kenapa nangis?,aku ga kenapa-kenapa mas,aku sudah baik-baik saja"Bingung Jennara kenapa Miqdam sampai menangis seperti itu.


"Maafin mas karena mas ga tau kalau adek sakit,maafin mas dek"Pelukan Miqdam semakin erat pada Jennara.


"Iya mas aku udah maafin mas,udah ih jangan nangis malu di liatin yang lain"Jawab Jennara menenangkan Miqdam.


"Males banget liat yang bicin-bucin begini"Celetuk Rasya yang membuat mereka tertawa kecuali Satria.


Sungguh satria merasa sangat geram,Rasanya ia ingin menyeret Miqdam keluar dan memberinya hadiah namun ia harus bersabar lagi karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


Satria melihat Julian berdiri di luar ruangan Jennara,Satria keluar ruangan tanpa sepengetahuan mereka semua,"Benar Tuan mu bersama wanita itu?"Tanya Satria,Saat ini mereka berada di taman rumah sakit.


"Benar ayah,dan Miqdam membawa wanita itu ke apartemen yang tidak Nona Jenanra ketahui"Jelas Julian kepada Satria,Ayah adalah panggilan yang Satria minta kepada Julian dan mama adalah panggilan untuk Hilya,Karena Julian adalah bagian dari keluarganya.


"Dimana perempuan itu sekarang Julian?"


"Perempuan itu sudah pergi dari apartemen ayah,dan untuk sekarang Julian belum mendapatkan info lagi,anak buah Julian sedang mengikuti wanita itu"Jawab Julian menatap Satria.


Satria mengangguk mengerti,"Terus awasi wanita itu Julian,jangan sampai wanita itu semakin menggila mengejar Miqdam"Pesan Satria serius kepada Julian.


"Baik ayah,tapi yah....?"Julian ragu untuk memberitahu perihal soal anak Meisya.


"Kenapa Jul katakan saja"


"Wanita itu memiliki sorang putri,sepertinya wanita itu mendapatkan anak dari pekerjaan nya yang dulu"


Satria diam ia mencerna apa yang Julian katakan,"Ayah mohon kau harus mengawasi Miqdam lebih ketat lagi,jangan sampai wanita itu menggunakan anaknya untuk memikat Miqdam"Ujar Satria,Ia sedikit takut jika Miqdam akan melakukan kesalahan.


Satria bukan tidak tau jika Miqdam masih mencintai wanita itu,Satria tau itu tapi Satria diam karena satria fikir sekarang sudah ada Jennara dan Miqdam tidak mungkin melakukan hal gila,Satria berharap Miqdam tidak menghianati kepercayaan nya.


"Baik ayah"Setelah itu mereka kembali ke ruangan Jennara.


Hilya melihat Satria datang bersama Julian,"Kalian dari mana kenapa menghilang tanpa aku ketahui?"Tanya Hilya kepada mereka berdua.


"Kami hanya beli cofee tadi,benarkan Jul"Satria memberi kode kepada Julian.


"Iya ma benar kami hanya beli cofee"Ucap Julian meyakinkan Hilya.


"Yasudah kita pulang dulu yuk pa,Miqdam sudah datang jadi biarkan Miqdam yang menjaga Jennara"Ajak Hilya kepada Satria dan Julian.


"Ayo ma"Mereka berpamitan kepada besan mereka.

__ADS_1


Setelah Stria,Hilya dan Julian pergi,Gilang,Sandra dan Rasya juga pergi,Mereka membiarkan Miqdam yang merawat Jennara,Kini tinggal mereka berdua Miqdam sedari dari menggenggam tangan Jennara membuat Jennara bingung dengan sikap Miqdam.


__ADS_2