Dermaga Impian

Dermaga Impian
Bab 32


__ADS_3

Pagi telah datang Miqdam dan Meisya masih salih memeluk dalam ranjang yang sama,Mereka berdua merasakan sebuah kenyamanan yang sudah lama tidak mereka rasakan.


Miqdam membuka mata lebih dulu di perhatikan nya wajah Meisya yang memiliki beberapa lebam di pipinya,Tangan Miqdam mengusap memar di pipi Meisya.


Merasakan usapan di pipinya Meisya membuka matanya mereka saling menatap,Cukup lama mereka saling tatap sampai akhirnya Meisya teringat sesuatu dan langsung mendorong tubuh Miqdam menjauh darinya.


"Ada apa?,kenapa mendorongku"Kaget Miqdam yang mendapat dorong tiba-tiba dari Meisya.


"Jangan mendekat"Meisya melarang Miqdam yang akan mendekat kepadanya.


"Kenapa?,kamu takut denganku?"Tebak Miqdam.


"Pergi jangan mendekati ku,aku kotor"Meisya berdiri dan akan berlari pergi.


Miqdam mengejar Meisya dan berhasil menahan nya sebelum Meisya membuka pintu,"Tenang Meisya tenang"Meisya memegang pundak Meisya.


"Lepas"Berontak Meisya.


Meisya terus berontak membuat Miqdam kewalahan,Karena tidak bisa menghentikan berontakan Meisya Miqdam membawa Meisya dalam dekapan nya.


"Tenang Meisya tenang,aku bukan orang jahat"Tangan Miqdam mengusap punggung Meisya.


Ajaib nya secara perlahan Meisya mulai tenang dan saat Meisya sudah tenang Miqdam melepas dekapannya,"Lihat aku"Miqdam membawa dagu Meisya keatas agar bisa melihatnya,"Lihat aku baik-baik,ini aku Miqdam"


Meisya menatap wajah Miqdam tidak lama dari itu air matanya mengalir,Ia menangis di hadapan Miqdam,Dengan sigap Miqdam menghapus air mata Meisya,"Jangan menangis aku disini hmm"


Meisya mengangguk dan setelah itu ia memeluk Miqdam atas kesadarannya sendiri,Mereka saling memeluk pelukan yang hanya mereka berdua yang tahu artinya.


Di luar Arsyila sudah bangun dan mencari uminya, Ia menangis dan suara tangisan nya terdengar sampai kedalam kamar Meisya,"Arsyila mas"


"Iya mas tau,ayo temui Arsyila"Miqdam menggandeng tangan Mesiya keluar menemui Arsyila.

__ADS_1


"Umi"Arsyila menangis dalam gendongan Meisya.


"Cup cup sayang jangan menangis,umi baik-baik saja sayang"Meisya berusaha menangkan Arsyila.


Miqdam melihat interaksi ibu dan anak di depannya hatinya tiba-tiba merasa hangat,Miqdam membayangkan keluarga yang bahagia dengan mereka berdua.


Miqdam mengambil Arsyila dalam gendongan Meisya,"Sudah jangan menangis lagi ya,anak cantik tidak boleh menangis nanti cantiknya hilang loh"Bujuk Miqdam kepada Arsyila.


Miqdam membawa Arsyila duduk di sofa di ikuti Meisya di belakang nya,"Kemarin umi di pukul orang-orang jahat itu,Arsyila takut"Ujar Arsyila mengingat kejadian semalam.


Miqdam melihat Meisya untuk memastikan apakah ucapan Arsyila benar,Dan Meisya menganggukkan kepalanya,Batin Miqdam merasakan marah yang luar biasa karena dua manusia itu sudah meninggalkan memori buruk di otak Arsyila.


"Sutts Arsyila lihat om"Miqdam memegang pundak Arsyila agar melihat kepadanya,"Arsyila jangan ingat-ingat hal itu lagi ya,Arsyila harus melupakan hal itu,apa Arsyila bisa"


Arsyila diam tidak langsung menjawab tapi setelah itu Arsyila mengangguk mengerti,"Anak pintar"Miqdam mengusap kepala Arsyila.


Melihat Miqdam bersama Arsyila Meisya seperti melihat sosok seorang ayah yang sedang menenangkan putrinya,Meisya tersenyum membayangkan betapa bahagia jika hal itu menjadi kenyataan.


"Sekarang Arsyila mandi dulu ya setelah itu kita obati lutut Arsyila dan makan,om akan buatkan makan yang enak untuk Arsyila oke"Perintah Miqdam yang di setujui Arsyila.


Meisya menahan baju Miqdam,Ia takut di tinggalkan sendiri di sini,Miqdam yang tau akan ketakutan Meisya mendekat kepadanya,"Jangan takut aku hanya sebentar hmm"


Meisya mengangguk setelah itu Miqdam pergi keluar dan Meisya membawa Arsyila mandi,Miqdam masuk kedalam mobilnya dan tanpa sengaja ia melihat ponselnya,Seketika saja ia mengingat Jennara dan merasa panik.


Miqdam mengambil ponselnya yang ternyata sudah mati,Sial batin Miqdam,Ia langsung mengisi baterai ponselnya di mobil setelah itu ia pergi,Miqdam mengendarai mobil sesuai tujuan awal yaitu ke super market,Miqdam pikir ia akan menghubungi Jennara nanti.


.


.


.

__ADS_1


Di rumah Jennara masih berusaha menghubungi Miqdam yang belum juga ada kabar,Semalaman Jennara tidak tidur karena khawatir dengan keadaan Miqdam.


Jennara sudah menelfon kantor tapi Miqdam tidak ada di kantor,Jennara ingin menelfon Julian untuk menanyakan dimana suaminya tapi dia ingat Julian sedang tidak berada di Indonesia.


Ingin menghubungi mertuanya menanyakan di mana suaminya pun tidak mungkin karena mertuanya ada di luar kota,Jennara semakin di buat khawatir karena sampai jam sepuluh suaminya belum ada kabar.


Jennara mondar-mandir dengan ponsel di kuping nya tiba-tiba kepalanya pusing dan ia mendudukkan dirinya di sofa,"Kamu dimana mas?"lirih Jennara sembari memijit pelipisnya.


Rasa pusing kian bertambah dan sekarang bercampur dengan mual,Jennara berjalan tertatih ke kamar mandi ia memuntahkan semua isi perutnya,Jennara terduduk lemas di kamar mandi.


Ponsel Jennara berdering dengan sisa tenaga yang dia punya Jennara mengambil ponsel yang ia letakkan di dekat wastafel,Melihat nama suaminya dalam layar ponsel Jennara langsung menjawab panggilan itu.


"Hallo assalamualaikum mas,mas dimana?"Selama Jennara dan langsung bertanya di mana suaminya.


"Waalaikumsalam dek,mas lagi di ada kerjaan di luar kota dek,maaf mas ga kabarin adek semalem mas buru-buru dan ternyata ponsel mas mati habis baterai"Bohong Miqdam penuh keyakinan meyakinkan Jennara.


"Ya Allah mas kenapa ga kabarin aku dulu,semalaman aku khawatirkan mas,mas ga anggap aku istri ya mas?,sampai ngasih kabar ke aku aja ga sempet"Ada rasa kecewa dalam diri Jennara Miqdam melupakan dirinya.


"Engga sayang ga gitu,mas minta maaf ya semalam mas buru-buru karena proyek yang disini bermasalah"


"Iya,tapi mas baik-baik aja kan disitu?"Tanya Jennara menahan rasa mual yang datang kembali.


"Mas baik-baik saja sayang"


"Mas berapa hari disitu?"


"Mas belum tahu sayang"


"Tapi mas,mas kan...."Belum selesai Jennara berbicara Miqdam sudah memotong ucapannya.


"Sudah dulu ya sayang mas lagi sibuk, assalamualaikum"Setelah itu panggilan terputus,Jennara menatap nanar layar ponsel yang sudah mati.

__ADS_1


Rasa kecewa menyerang diri Jennara,Miqdam kembali abai seperti beberapa bulan yang lalu,Memikirkan itu rasa mual Jennara datang lagi dan ia memuntahkan isi perutnya lagi.


Mual itu terjadi berkali-kali sampai membuat Jennara benar-benar merasa lemas,Jennara duduk di kursi makan dengan segelas air hangat di hadapannya,Ia berusaha mengerti Miqdam dan berfikir positif untuk menghilangkan rasa kecewanya pada Miqdam tapi ternyata itu sia-sia nyatanya rasa kecewa itu tidak hilang ataupun tergantikan.


__ADS_2