
Seminggu telah berlalu sejak Jennara masuk rumah sakit,Selama seminggu itu pula Miqdam berada disisi Jennara terus,Semua urusan kantor Miqdam serahkan kepada Julian.
Kondisi Jennara sudah membaik dari hari ke empat Jennara di rawat,Bahkan di hari ke empat itu Jennara sudah di izinkan untuk pulang namun Miqdam kekeh untuk Jennara tetap di rawat di rumah sakit sampai wajah nya tidak terlihat pucat lagi.
Perdebatan kecil terjadi saat Jennara menolak untuk tetap di rawat di rumah sakit,Namun Miqdam tidak kehabisan cara Miqdam mengizinkan Jennara pulang dengan Syarat selama dua bulan Jennara tidak boleh melakukan pekerjaan nya.
Jennara tentu saja menolak syarat Miqdam dengan keras dan memilih untuk mengikuti keinginan suaminya dari pada dirinya tidak di izinkan bekerja selama dua bulan.
"Mas kita pulang yuk,aku udah sehat loh"Rayu Jennara.
"Nanti kalau wajah adek sudah tidak pucat lagi"Jawab Miqdam dari sofa tanpa melihat Jennara karena masih fokus dengan Tab nya.
Jennara mengambil kaca yang ada di nakas,Ia memperhatikan wajahnya dengan teliti,Jennara lihat wajahnya tidak pucat sama sekali bahkan wajah nya terlihat lebih segar,Tapi kenapa suaminya selalu bilang kalau wajah nya pucat.
"Mas wajah ku sudah tidak pucat loh,malahan seger banget,kita pulang saja yuk"Mohon Jennara lagi.
Miqdam melihat Jennara sekilas setelah itu kembali pada Tab nya,"Segar dari mana,jelas-jelas masih pucat begitu"
Jennara menyerah ia menyerah merayu Miqdam karena jawaban nya tetap sama,Jennara merebahkan tubuhnya membelakangi Miqdam,Ia sengaja melakukan itu karena kesal dengan Suaminya.
"Nyebelin...ga tau apa kalau istrinya itu bosen di rumah sakit,sudah makanan ga enak ga boleh ini ga boleh itu"Gerutu Jennara pelan yang ia kira Miqdam tidak mendengarnya.
Namun Jennara salah ternyata Miqdam mendengarnya karena Miqdam sudah berdiri di belakang Jennara sedari Jennara merebahkan dirinya.
"Memang bosen banget ya dek"Suara Miqdam mengagetkan Jennara.
Jennara membalikan badannya mendengar suara Miqdam,"Kenapa sih dek?,kaget ya?"Ledek Miqdam dengan senyum jahilnya.
"Mas ngeselin banget sih"Ucap Jennara dengan wajah kesalnya.
"Adek mau pulang?,yasudah tunggu disini dulu ya mas mau temuin dokternya dulu"Miqdam hendak pergi menemui dokter namun tangannya di tahan Jennara.
"Kenapa dek?"Tanya Miqdam menatap Jennara.
__ADS_1
Entah mengapa Jennara merasa bersalah mendengar suara Miqdam,"Ga apa-apa mas aku disini dulu,mas jangan pergi"Ucap Jennara tidak berani melihat Miqdam,Ia takut Miqdam akan marah atau kecewa pada dirinya.
Miqdam tersenyum ia duduk di ujung ranjang,"Maafin mas ya sudah memaksakan kehendak mas,meminta adek tetap disini sampai mas benar-benar yakin kalau adek baik-baik saja sampai mas melupakan perasaan adek"
Rasa bersalah Jennara kian tinggi mendengar permintaan maaf Miqdam,Sungguh dirinya tidak berniat seperti itu,Hanya saja ia sangat merasa bosan berada di rumah sakit terus.
"Mas maafin aku ya,maafin aku sudah tidak mendengarkan kata-kata mas,"Ucap Jennara dengan air mata yang sudah mengembang di matanya.
"Adek ga salah tapi mas yang salah,maafin mas ya kalau mas maksain keinginan mas"
"Mas marah ya sama adek?"
"Engga dek mas ga marah"
"Mas bohong"Air mata Jennara menetes.
Miqdam menarik nafasnya dalam,"Jadi adek mau pulang atau tidak?"
"Mau"Jawab Jennara langsung tanpa berfikir lagi,Seolah dia tidak pernah mengatakan hal apapun tadi.
"Yasudah adek tunggu disini sebentar ya,mas temuin dokternya dulu"Miqdam mencium kening Jennara setelah itu ia pergi menemui dokter.
Beberapa saat kemudian Miqdam kembali bersama dokter dan perawat untuk memeriksa kondisi Jennara setelah selesai Miqdam dan Jennara langsung pulang.
Senyum bahagia menghiasi wajah Jennara saat keluar dari rumah sakit,Miqdam yang melihat itu ikut tersenyum sekarang ia yakin jika istrinya sudah benar-benar sembuh.
"Terimakasih ya mas"Ucap Jennara saat mereka berada dalam mobil.
"Untuk?"Bingung Miqdam tiba-tiba Jennara mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih karen mas sudah bolehin aku keluar rumah sakit"Jawab Jennara sembari memberikan kecupan di pipi Miqdam.
Miqdam kaget mendapat ciuman dari Jennara karena selama ini Jennara tidak pernah mengekspresikan dirinya seperti ini,"Kalau tau adek akan jadi seperti ini mending mas kurung adek terus saja ya di rumah sakit,biar mas dapet ciuman terus tanpa mas minta"
__ADS_1
“Massss ih nyebelin"Miqdam tertawa ia berhasil membuat Jennara cemberut.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah,Ayah ibu Jennara dan juga mertua nya sudah ada di rumah untuk menyambut kepulangannya,Tadi sebelum pulang Miqdam sudah menghubungi mertuanya juga orangtuanya jika Jennara akan pulang.
Di balik rasa bahagia Jennara ayang sudah kembali ke rumah di tempat lain Meisya sedang merasakan sakit di tangannya karena terkena air panas yang sengaja anak majikannya siramkan kepadanya karena Meisya melakukan kesalahan yang fatal.
Meisya mengoleskan salep yang di berikan anak majikannya,Meisya meratapi nasibnya yang seperti ini,Lagi-lagi Meisya berandai-andai jika dia hidup dengan Miqdam dirinya tidak akan merasakan hal ini lagi.
Di sela-sela rasa sakitnya terbesit pikiran untuk menemui Miqdam,Akan ia ceritakan semua kisah hidupnya yang memilukan selama ini,Dengan begitu Meisya berharap Miqdam mau mengasihinya atau menerimanya kembali.
Namun pikiran itu lenyap seketika saat mengingat jika Miqdam sudah Menikah,Air mata semakin deras terjatuh harapannya harus ia kubur dalam-dalam.
"Andai dulu aku datang kepadamu apa hidupku Takan seperti ini mas?"
"Andai dulu aku mengandalkan mu apa kita masih bersama saat ini?"
"Andai aku memintamu kembali apa bisa?"
"Aku lelah hidup seperti ini,aku membutuhkanmu mas"
Tangis Meisya terdengar pilu ia menyesali hidupnya yang seperti ini,Meisya ingin mengandalkan Miqdam tapi Meisya sadar Miqdam bukan miliknya lagi.
Meisya kembali ke rumah nya setelah pekerjaan nya selesai,Di perjalanan Meisya di kejutkan dengan kehadiran laki-laki yang ingin ia hindari,Laki-laki itu adalah Julian teman sekaligus asisten Miqdam.
Meisya ingin melarikan diri namun terlambat Julian sudah dulu menghambat jalan nya,"Ikut dengan ku"Julian membawa Meisya masuk kedalam mobilnya.
Julian membawa Meisya ke sebuah taman yang tidak banyak orang,Saat ini mereka tengah duduk di bawah pohon yang memiliki kursi bersebrangan.
Meisya menundukkan wajahnya ia tidak berani menatap Julian,"Apa tujuan mu kembali ke kota ini?,bukankah kau sudah hidup enak dengan lelaki itu?"Sindir Julian menatap Meisya penuh hina.
"Tidak perduli apa tujuanmu kembali ke kota ini asal jangan pernah kau menampakan wajah mu lagi di depan Miqdam"Julian menjeda ucapannya ia menelisik tubuh Meisya yang terlihat kurus tak terawat namun apa pedulinya.
"Jika tujuan mu kembali untuk berharap kembali kepada Miqdam lebih baik kau kubur dalam-dalam keinginan mu itu karena Miqdam tidak akan pernah mau kembali dengan wanita yang sudah kotor sepertimu"Lanjut Julian dengan senyum menghinanya.
__ADS_1
Mendengar kata kotor keluar dari mulut Julian Meisya menatap Julian,Tatapan tidak terima namun itu semua memanglah benar adanya,“Kenapa?,kau mau menyangkal ucapanku?"Telak Meisya kalah dengan ucapan Julian karena yang di ucapkan Julian adalah kebenaran.
"Aku peringatkan kepadamu,Miqdam sudah memiliki istri dan Miqdam sangat mencintai istrinya,kubur dalam-dalam rasa tidak penting mu itu atau akan ku sebarkan semua aib mu sampai kau merasa malu bahkan hanya untuk keluar rumah sekalipun"Setelah mengatakan hal menyakitkan itu Julian pergi meninggalkan Meisya sendiri dengan rasa sakit hatinya.