
Jennara dan keluarga nya sampai di rumah sakit,Mereka langsung menuju ruang operasi seperti informasi yang di berikan Satria sewaktu mereka di perjalanan tadi.
Jennara berjalan cepat agar segera sampai di ruang tunggu operasi,Bahkan Jennara sempat beberapa kali hampir terjatuh karena jalan nya yang terlalu cepat,Beruntung ada Rasya dan Boby di belakang yang menolongnya.
Mereka sampai di ruang tunggu,Jennara melihat Mama da Papa Miqdam langsung berlari menghampirinya dan memeluk Hilya,"Mama" Tangis Hilya dan Jennara pecah.
Mereka yang ada di situ membiarkan Hilya dan Jennara meluapkan rasa sedih mereka,Karena mereka tau mereka berdualah yang paling sedih dengan kecelakaan Miqdam.
Beberapa saat kemudian tangis mereka berdua mereda,Sandra mendekati mereka dan duduk di samping mereka,"Yang tabah ya Mba,ini ujian untuk kita semuanya" Sandra menepuk-nepuk pelan pundak Hilya.
"Iya terimakasih ya Mba" Jawab Hilya sdengan senyum teduh nya.
"Kenapa ini bisa terjadi sama mas Miqdam ma?,Tadi mas udah pamit pulang,tapi kenapa mas jadi seperti ini? " Tanya Jennara suaranya terdengar sangat parau.
"Mama juga tidak tau nak kenapa bisa jadi seperti ini" Air mata kembali membasahi kedua mata perempuan beda usia itu.
"Kita banyak-banyak berdoa ya sayang supaya mas Miqdam baik-baik saja"
Waktu terus berjalan namun operasi Miq
dam belum juga selesai,Mereka juga belum mendapat kabar apapun dari dalam,Mereka hanya bisa melihat perawat yang keluar masuk untuk mengambil kantong darah,Hal itu membuat mereka semakin khawatir dengan keadaan Miqdam.
Lantunan doa terus mereka langitkan untuk keadaan Miqdam,Jam menunjukan pukul dua dini hari, Jennara berdiri hendak pergi ke mushola yang ada di rumah sakit itu,"Adek mau kemana?" Tanya Rasya saat melihat Jennara berjalan keluar.
Semua yang ada disitu mengalihkan atensinya pada Jennara,"Adek mau kemushola"
"Mau kaka temenin" Tawar Rasya.
"Atau mau sama Boby aja kak Jen?"
"Ga usah adek sendiri saja"
Jennara berbalik untuk pergi namun ia meng
__ADS_1
hentikan langkah nya lagi,"Kalau operasi mas Miqdam udah selesai kabarin Jennara ya" Pesan Jennara.
"Iya nanti Ibu kabari"
"Kalau ada apa-apa kabarin Ayah,Papa atau yang lainnya ya"
"Iya ayah"
Setelah mengatakan itu Jennara pergi menuju mushola yang ada di luar,Jennara mengambil wudhu dan mulai melaksanakan sholat malam,Jennara melangitkan nama Miqdam dalam doanya,Memohon agar sang pencipta berbaik hati menyembuhkan Miqdam.
Cukup lama Jenmara ada di dalam mushola,Ponsel Jennara berdering panggilan masuk dari Ayah nya,Jennara menjawab panggilan itu dan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit lagi.
"Ayah dimana mas Miqdam?" Dengan nafas terengah-engah Jennara bertanya pada Gilang.
"Mas Miqdam masih di dalam sebentar lagi keluar" Jawab Gilang sembari tangan nya membenarkan rambut Jennara.
Pintu ruang operasi di buka tepat puku 03:30 dini hari,Dokter Raja keluar di susul dengan beberapa suster yang mendorong brankar Miqdam keluar.
"Operasinya berjalana lancar"
"Alhamdulillah" Ucap mereka semua.
"Namun saat ini keadaan Miqdam masih koma,Kepala Miqdam mengalami Cedera Aksonal Difus dan hal itu yang membuat Miqdam koma" Jelas dokter Raja yang membuat Hilya langsung tak sadarkan diri dalam pelukan Satria.
Begitupun dengan Jennara ia sama tak sadarkan dirinya mendengar kabar jika Miqdam Koma,Miqdam di bawa keruang perawatan intensif untuk perawatan selanjutnya,Jennara dan Hilya di bawa ke kamar khusus yang ada di rumah sakit Hwan.
[Cedera Aksonal Difus adalah cedera yang di sebabkan oleh goncangan otak bolak balik yang biasanya terjadi saat kecelakaan mobil,jatuh atau shaken baby syndrom,Pada kondisi yang parah,Trauma ini bisa menyebabkan koma pada penderitanya]
Jennara sadar saat pagi menjelang,Sedangkan Hilya sudah sadar sebelum Jennara dan sekarang Hilya berada di ruang tunggu ruang intensif,Sandra langsung medekat pada putrinya,"I.... bu" Sesak Jennara mengingat kondisi Miqdam.
"Iya adek ibu disini" Sandra menggenggam tangan Jennara.
"Ibu mas Miqdam"
__ADS_1
"Adek yang sabar ya ini ujian untuk adek sama mas Miqdam" Ujar Sandra menguatkan anaknya.
Jennara sungguh tidak menyangka ujian yang sang pencipta berikan untuk mereka berdua menjelang pernikahan begitu dahsyat,Jennara seolah tidak di berikan jeda untuk bernafas hari itu,Dalam satu hari ujian itu datang silih beganti.
Siapa yang sangka jika Jennara akan di berikan ujian sehebat itu untuk menuju pernikahan yang mereka impikan,Ntah itu teguran untuk Miqdam yang sudah abai dengan calon istrinya atau memang sang pencipta sedang menguji batas kesabaran Miqdam dan Jennara.
Hari berganti hari belum ada perubahan dengan kondisi Miqdam yang masih sama pada hari itu,Acara pernikahan yang harusnya di adakan besok terpaksa harus di tunda sampai waktu yang tidak bisa di tentukan,Mengingat kondisi Miqdam yang belum sadarkan diri.
Keluarga yang sudah datang harus kembali kerumah masing-masing karena acara pernikahan yang di undur,Mereka semua memaklumi dan turut bersedih atas kecelakaan yang di alami Miqdam.
Setiap hari Jennara dan Hilya bergantian untuk menjaga Miqdam,Miqdam juga sudah keluar dari ruang perawatan intensif dari beberapa hari lalu dan sekarang di pindahkan di ruang perawatan VVIP.
"Mas bangun yuk,Sudah lama mas tidur terus sekarang bangun yuk" Jennara menggenggam tangan Miqdam membawanya untuk menyentuh pipinya.
"Besok hari pernikahan kita mas ga mau bangun,Ga papa jika pernikahan kita harus di undur beberapa hari bulan ataupun tahun yang terpenting mas bangun" Satu tetes air mata Jennara jatuh ketangan Miqdam.
Hilya yang sedari tadi berdiri di depan pintu mendengarkan semua yang Jennara katakan hatinya lega sekaligus senang,Putra nya begitu di cintai begitu tulus oleh Jennara,Hilya semakin yakin jika putranya tidak salah memilih calon istri.
"Jen" Panggil Hilya pelan sembari menyentuh pundak Jennara.
Buru-buru Jennara mengahapus air matanya,Karena ia sudah bejanji untuk tidak menangis lagi,"Iya ma" Jawab Jennara menatap Hilya.
"Makan dulu yuk" Hilya membawa Jennara duduk di sofa.
Hilya menyiapkan makanan untuk Jennara,"Makan yang banyak ya sayang"
"Terimaksih ma," Jennara memakan makanan yang di siapkan Hilya,Walau rasanya makanan yang masuk ke mulut Jennara terasa hambar semua.
Selesai makan dokter Raja masuk kedalam ruangan Miqdam bersama Satria,Raja memeriksa keadaan Miqdam,"Bagaimana Ja keadaan Miqdam?" Tanya Satria setelah Raja selesai memeriksa Miqdam.
"Keadaan nya semakin membaik dan alat-alat yang ada di tubuh Miqdam sudah bisa di lepas" Jawab Raja turut senang dengan keadaan Miqdam yang semakin membaik.
"Alhamdulillah" Serempak mereka bersyukur.
__ADS_1