
Miqdam tidak bisa menghindari tabrakan naas itu,Mobilnya berguling beberapa kali dan berakhir terbalik di pinggir jalan,Miqdam masih sadarkan diri dengan posisi terbalik walau keadaan nya sungguh tidak baik-baik saja.
Dari keadaan yang hampir tak sadrkan diri Miqdam melihat segerombolan orang yang berlari menghampirinya,Namun ada satu bayangan wanita di antara gerombolan orang-orang itu yang memaksa Miqdam berusaha lebih keras untuk tetap sadar.
Namun bukan sosok Jennara yang Miqdam lihat dalam bayangan itu melainkan Meisya,Sampai pada akhirnya Miqdam tak mampu mempertahankam kesadaran nya dan terlelap bersama hilangnya bayangan Meisya.
Orang-orang berkerumun bergotong royong untuk mengeluarkan Miqdam dari dalam mobil,Beberapa dari mereka juga menghubungi polisi dan juga ambulance,Miqdam berhasil di keluarkan dari dalam mobil dengan keadan yang cukup parah,Wajah nya penuh dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
Dering ponsel terdengar dari dalam mobil Miqdam, Salah satu penolong yang ada disitu mengambil ponsel Miqdam dan menjawab panggilan yang tertera dengan nama Mama.
"Hallo,Maaf bu pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan di jalan pengestu"
"Korban mengalami luka parah pak,Mobilnya hancur"
"Iya pak kami sudah menelfon ambulance"
Suara sirine terdengar cukup nyaring,Polisi dan mobil ambulance datang bersamaan,"Ambulance sudah datang pak,anak bapak akan di bawa ke rumah sakit Hwan"
Setelah itu panggilan terputus karena tiba-tiba ponsel Miqdam mati,Penolong itu memberikan ponsel Miqdam kepada polisi,Penolong itu juga di mintai keterangan oleh polisi karena dia adalah salah satu saksi yang melihat kecelakan Miqdam terjadi.
Di rumah keluarga Hwan.
Perasaan Hilya tiba-tiba merasa tidak bisa enak,Perasaan nya mengatakan jika sesuatu sedang terjadi kepada putranya,Hilya duduk di ranjang dengan perasaan gelisah.
"Ada apa Ma,Papa lihat Mama seperti sedang gelisah?" Tanya Satria papa Miqdam yang baru keluar dari walk in closed.
Hilya mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Satrinya sebentar,"Miqdam kemana ya pa,Mama telfon ga di angkat-angkat,Perasaan mama ga enak mama jadi khawatir"
Satria duduk di samping Hilya,"Mama tenang ya Miqdam pasti baik-baik saja" Ujar Satria menenangkan Hilya.
"Coba mama telfon lagi Miqdam nya" Saran Satria yang di angguki Hilya.
Hilya kembali menghubgungi Miqdam,Berdering berkali-kali namun tidak ada jawaban,Samapai di dering terakhir panggilannya terjawab.
__ADS_1
Namun bukan suara Miqdam yang Hilya dengar melainkan suara orang lain dengan keadaan sekitar yang ramai.
"Hallo nak kamu dimana?" Ucap Hilya ketika sambungan terhubung.
Mendengar kabar anak nya kecelakaan ponsel di tangan Hilya langsung terjatuh,Dada nya tiba-tiba sesak fikiran nya kosong Hilya syok mendengar kabar itu.
Satria mengambil ponsel Hilya penasaran apa yang terjadi."Hallo apa yang terjadi dengan anak saya?"
"Apa kalian sudah menelfon ambulance?" Tanya Satria sebisa mungkin untuk tenang.
Belum sempat Satria bertanya lebih sambungan telfon sudah mati,Satria mencoba menghubungi nomor Miqdam tapi tidak aktif, Satria mematikan telfon itu dan langsung memeluk Hilya.
"Miq..dam pa" Seru Hilya kesulitan berbicara dengan air mata yang sudah mengalir.
Satria menagkup wajah Hilya dengan kedua tangan nya agar menatap nya,"Mama tenang ya.Ayo kita ke rumah sakit"
Hilya mengangguk setuju,Satria merangkul Hilya membantunya agar bisa berjalan karena kaki Hilya terasa lemas mendengar kabar kecelakaan anak nya.
Brankar Miqdam di dorong ke UGD untuk di tangani, Beberapa saat kemudian Satria dan Hilya sampai di rumah sakit,Mereka langsung berlari ke UGD.
"Bagaimana keadaan anak ku Raja" Tanya Satria kepada Raja teman sekaligus orang yang Satria percayai untuk mengurus rumah sakit nya.
"Miqdam masih di tangani di dalam,Keadaan nya cukup parah,Miqdam banyak mengeluarkan darah,Kemungkinan besar Miqdam memerlukan tambahan darah kalian bersiap lah untuk semua kemungkinan yang terjadi" Jelas Raja yang mana membuat Hilya luruh ke lantai karena tidak bisa menahan berat tubuhnya.
Satria membantu Hilya berdiri,Perasaan nya sama hancurnya namun ia tetap harus kuat agar bisa menenangkan istrinya,"Kaka ipar tenanglah,Doakan Miqdam agar ia mampu melewati masa ini"Ucap Raja sebelum masuk ke dalam UGD.
Setelah kepergian Raja Hilya menangis histeris dalam pelukan Satria,Satria terus memeluk Hilya berusaha menenangkannya,Satu tetes air matanya jatuh buru-buru Satria menghapusnya.
Setelah beberapa menit Hilya sedikit tenang,Satria mengambil ponselnya untuk menghubungi Gilang ayah Jennara,Panggilan langsung terjawab saat baru dua kali berdering.
"Hallo Lang" Sapa Satria dengan suara pelan.
"Hallo Satria ada apa dengan suaramu? "
__ADS_1
"Miqdam kecelakaan keadaan nya tidak baik-baik saja,"
"Astagfirullah,Di rumah sakit mana Miqdam?"
"Rumah sakit keluarga kami Lang"
"Oke kami akan kesana sekarang, Kalian tenang ya Miqdam pasti baik-baik saja"
""Iya Lang terimakasih"
Setelah itu panggilan terputus bersamaan dengan terbukanya pintu UGD,Brankar Miqdam di dorong keluar, Satria dan Hilya berdiri menghampiri brankar Miqdam.
Hilya tak kuasa melihat anaknya yang tak sadarkan dri dengan wajah yang pucat,Tangan nya gemetar menyentuh wajah Miqdam.
"Kami akan melakukan oprasi,Tolong tanda tangani surat persetujuannya" Setelah mengatakan itu brankar Miqdam langsung di bawa ke ruang oprasi.
Di rumah Jennara, Jennara yang memang belum tidur di kagetkan dengan ketukan pintu yang begitu keras,Jennara buru-buru membuka pintu.
"Ayah ada apa?" Tanya Jennara begitu membuka pintu.
"Ayo kita ke rumah sakit mas Miqdam kecelakaan" Seru Gilang menarik tangan Jennara.
"Apa yang ayah katakan?,kecelakaan?,ga mungkin yah,mas Miqdam kan udah pulang" Bingung Jennara ia masih tidak mempercayai ucapan Ayahnya.
Sandra mendekati Jennara,"Adek tenang dulu ya,Mas Miqdam kecelakaan sewaktu pulang dari sini,Sekarang ayo kita ke rumah sakit"
Menyadari jika hal itu adalah kenyataan Jennara langsung menangis,Sandra membawa Jennara dalam pelukannya,
"Ayah panggil Rasya sama Boby dulu"
Gilang pergi ke kamar Rasya memberi tahu jika Miqdam kecelakaan dan mengajak mereka ke rumah sakit, Di sepanjang perjalanan Jennara menangis tak henti-henti,Sandra meminta Jennara untuk banyak-banyak berdoa dan beristighfar agar hatinya tenang.
Sungguh tidak ada yang akan menyangka jika kecelakaan itu akan terjadi kepada Miqdam,Padahal beberapa saat lalau Miqdam masih ada bersama mereka,Begitulah yang di namakan takdir tidak ada yang dapat menebaknya.
__ADS_1