Desa Kantil

Desa Kantil
bersikap biasa


__ADS_3

ustadz Haris terlihat duduk bersandar di kepala ranjang, dia terlihat sedang memejamkan matanya.


saat Rahayu masuk untuk membawa bubur ayam dan teh hangat untuk suaminya.


"mas, ini ada bubur untuk mu, mas bisa makan karena dari tadi mas belum makan," kata Rahayu.


ustadz Haris bangun dan melihat bubur yang di bawa oleh istrinya itu, "beruntung kamu tak mencampur semuanya, karena aku tak suka bubur ayam, aku suka bubur polos dengan kecap dan sambal saja," kata ustadz Haris.


"iya mas, lain kali aku akan bertanya kepada mas untuk membuatkan sesuatu lain kali," kata Rahayu yang merasa tak enak sebab kejadian tadi pagi.


"iya dek," jawab ustadz Haris dingin.


dia pun membaca bismillah dulu sebelum makan bubur yang di bawakan oleh istrinya itu.


bahkan mereka tak terlibat obrolan apapun setelah itu, entahlah sepertinya ustadz Haris sedang tak ingin banyak bicara.


di rumah sakit, Ilya sedang mencari berita tentang semua kejadian di yayasan melalui media sosial.


tapi ternyata kegiatan sekarang tak sebanyak dulu, dia pun terlalu fokus hingga tak sadar jika ustadzah Aisyah datang ke dalam kamar rawatnya.


"kamu ini di suruh istirahat kok malah main iPad sih nduk," tegurnya secara pelan.


"habis aku bosan ibu, kalian semua tak memperbolehkan aku menelpon umi Kalila maupun Shafa, jadi aku bingung mau melakukan apa," jawab Ilya dengan sedih.


"maaf ya nduk, karena ini keputusan dari kakak-kakak mu yang tak ingin melihat mu sedih karena terus teringat dengan ustadz Haris," kata ustadzah Aisyah jujur.


Ilya hanya sedih, kenapa semua orang melakukan ini, padahal semua tau jika dia sangat mencintai ustadz Haris.


bahkan meski mereka di pisahkan jarak dan waktu saja perasaannya tak pernah memudar.


itu terbukti saat ustadz Haris meninggalkan desa itu setelah kematian Lily dan pernikahan Shafa.


cinta Ilya hanya untuk ustadz Haris, entah kenapa tapi perasaan itu memang tak bisa mati.


ustadzah Aisyah tak bisa melihat raut kesedihan dari putrinya itu, dia pun menghubungi seseorang untuk Ilya.

__ADS_1


"apa ibu?"


"bukankah kamu merindukan umi Kalila bukan, bicaralah..."


Ilya pun dengan sangat antusias mengarahkan ponsel itu ke telinganya, "assalamualaikum, ini siapa?"


"waalaikum salam umi, ini Ilya, bagaimana kabar umi?" tanya gadis itu langsung bertanya dengan sopan.


"ya Allah nduk, umi baik dan sangat senang, karena akhirnya bisa mendengar suara mu, bagaimana keadaan mu sayang?" tanya umi Kalila yang menangis mendengar suara Ilya.


bahkan wanita itu sekarang berlari ke arah kamar yang di gunakan untuk merawat ustadz Haris.


"Alhamdulillah semuanya baik umi, sebentar lagi kemungkinan kondisi ku bisa membaik, aku tak sabar lagi untuk kembali mengajar anak-anak dan bertemu umi di pondok," kata Ilya yang terlihat sangat ceria.


umi Kalila melihat Rahayu yang baru keluar dari kamar rawat ustadz Haris.


"umi mau apa, mas Haris sedang istirahat," kata Rahayu melarang wanita itu masuk.


"minggir Rahayu, jangan sampai aku membuatmu terluka, karena aku sedang dalam keadaan genting," kata umi Kalila yang tak suka dengan tingkah Rahayu yang sok peduli seperti ini.


"umi sedang bicara dengan siapa?" tanya Ilya yang sempat mendengar pembicaraan itu.


"tidak ada nduk, jadi sekarang kamu dimana?" tanya umi Kalila yang menyalakan loudspeaker.


ustadz Haris langsung membuka mata mendengar suara Ilya di sebrang telpon, "Ilya umi..." lirih ustadz Haris dengan senang dan haru.


"sekarang aku dirawat di salah satu rumah sakit swasta di pinggiran kota, dan sepertinya saat sehat nanti pun aku harus berjuang untuk busa kembali, karena ketiga kakak ku tak akan membiarkan aku kembali lagi," kata Ilya terdengar sedih.


"sudah sekarang kamu fokus sembuhkan dirimu dulu, Kami semua merindukan mu, tapi kami sedih jika kamu sakit," kata umi Kalila.


"iya umi, tapi bagaimana keadaan ustadz Haris, aku melihatnya terkapar dengan darah, itu terus menghantuiku, aku takut dia terluka parah..." lirih Ilya dengan suara sedih


"Alhamdulillah aku masih bernafas berkat wanita yang menghadang tombak yang diarahkan kepadaku," kata ustadz Haris yang tak tahan lagi.


"ustadz Haris... assalamualaikum ustadz..." kata Ilya gemetar karena senang dan tak menyangka.

__ADS_1


"waalaikum salam, cepat sembuh Ilya, aku disini selalu merindukan mu, yang membuat ku selalu rindu orang yang bisa aku ganggu, kamu tau benar, aku hanya memiliki mu setelah Shafa menikah," terang ustadz Haris.


"tapi ada Rahayu istri ustadz sekarang..."


"tapi aku merindukan mu, maaf aku terlalu serakah tapi itu nyatanya, karena aku hanya merindukan mu, tolong segera kembali..." mohon ustadz Haris.


"sepertinya sulit,"


tanpa di duga ponsel itu di ambil oleh Farid kakak dari Ilya, "mas Farid kembalikan ponselnya,"


"halo ustadz Haris,jika ingin melihat adikku kembali ke pondok dan tak bisa pergi, seharusnya kamu menikahinya bukan malah menikahi orang lain, karena sikap mu yang tak bisa tegas, sekarang adikku terluka seperti wanita bodoh, jadi jika anda serius tunjukkan dengan sikap mu, bukan cuma ucapan mu, jika tidak aku akan menikahkan adikku dengan orang lain," kata Farid sebelum menutup telpon itu secara sepihak.


"mas Farid jahat... pergi aku membencimu...." teriak Ilya yang kembali muntah darah cukup banyak.


"dokter!!" panik ustadzah Aisyah.


sedang di pondok, ustadz Haris juga muntah darah tiba-tiba, "Abi..." teriak umi Kalila.


akhirnya ustadz Haris di bawa ke rumah sakit, karena kondisi pria itu tiba-tiba menurun.


"sebenarnya ada apa umi, kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya ustadz sepuh.


"iya mbak, tadi Rahayu bilang jika mbak juga berkata kasar padanya," kata mami Tasya.


"ya aku berkata ketus pada menantu mu, dia yang membawakan makanan untuk Haris, aku hanya ingin memastikan sesuatu tapi dia menghalangiku, dan lihatlah sekarang Haris seperti ini," kata umi Kalila.


"umi tolong sabar," kata ustadz sepuh melihat istrinya.


"aku tak bisa Abi, bagaimana bisa mereka seperti orang tua yang begitu peduli, setelah kematian Lily mereka seperti mengabaikan Haris, sekarang mereka seperti orang yang paling tau putra mereka, apa mereka pernah bertanya, apa yang menjadi kebahagiaan dari putra mereka, apa mereka berdua tau kapan Haris ku tersenyum dan bersikap jahil, siapa yang menemani pemuda itu saat sedih di tinggal Shafa menikah dan hampir frustasi, apa mereka tau?" kata umi Kalila yang tak tahan lagi.


"astaghfirullah umi... sabar sayang," kata ustadz sepuh memeluk istrinya itu.


kini mami Tasya diam, dia tak bisa membantah atau mengatakan apapun untuk mengadu argumen dengan kakak iparnya itu.


"saya tau saya salah, saya bukan istri yang baik, tapi kenapa umi seperti tak menyukai saya?" suara Rahayu.

__ADS_1


"kamu tanya?" kata umi Kalila yang sedang emosi.


__ADS_2