
keesokan harinya, ustadz Haris bangun pukul tiga pagi, dan saat akan pergi untuk mandi, ternyata Ilya masih memeluk tubuh suaminya itu.
niatnya bangun untuk melakukan sholat malam malah kembali memeluk Ilya dan mengulangi olahraga panas keduanya.
"mas hentikan, sebentar lagi kita kesiangan, dan orang-orang akan segera bangun," bisiknya
"tunggu..."
keduanya pun keluar kamar untuk mandi, bahkan ustadz Haris seperti maling yang takut ketahuan oleh orang.
mereka pun segera mandi besar, tapi baru juga keluar dari kamar mandi, dia kaget karena terkejut dengan Cakra yang tersenyum kearahnya.
"ciye belah duren ciye..." ledeknya dengan wajah mengesalkan.
"sstts.... diam mas, nanti kalau ada yang denger gimana," bisik ustadz Haris.
"memang kenapa kalau ada yang denger, lagi pula mereka tadi sudah pergi ke masjid untuk berdiam diri di masjid sambil menunggu sholat subuh," jawab Cakra tersenyum.
"tapi masih ada Rahayu," kata ustadz Haris.
"dia masih tidur, lagi pula sirep ku itu tetap manjur kok," bisik Cakra yang memastikan semuanya aman.
mereka berdua pun pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah, dan kali ini, ustadz Haris tidak mau jadi imam karena hatinya belum sepenuhnya tenang.
sedang di rumah Ilya sudah selesai sholat dan memasak untuk semua orang.
dia tak ingin menyusahkan, jadi dia menggoreng ayam dan tahu tempe, tak lupa dia juga membuat sambal terasi untuk semuanya.
setelah selesai dia memastikan semua barang sudah selesai di kemas karena mereka akan langsung menuju ke tempat mereka akan mengikuti pelatihan nantinya.
Ilya pun sudah siap, dan tadi sudah sarapan duluan karena dia sedikit tak nyaman saat harus makan bersama yang lain.
Rahayu baru bangun, dia merasa tubuhnya sangat nyaman, karena malam tadi tidurnya sangat nyenyak.
"neng Ilya sudah siap berangkat," tanya Rahayu.
"iya mbak, karena nanti mobil yang mengantar neng Shafa, langsung membawa kami ke Tebuireng, oh ya mbak setiap malam kalau bisa tolong bakar satu bawang merah di belakang ya, untuk jaga-jaga saja," kata Ilya mengingatkan.
__ADS_1
"untuk apa neng?"
"ya untuk menjauhkan hal yang tak di inginkan,tapi itu hanya kepercayaan orang dulu," kata Ilya tersenyum.
"iya neng, nanti saya akan minta tolong ustadz Harun," jawab rahayu.
Ilya menyadari jika gadis itu tersenyum senang saat menyebut nama ustadz Harun.
dia pun menghilangkan prasangka itu karena tak baik curiga dengan orang.
tak lama semua pria pulang ke rumah, ustadz Haris tersenyum cerah hari ini.
"wah sarapannya sudah siap, semuanya mari makan," ajak Cakra yang memang sudah menaruh sorban miliknya.
sedang sorban milik ustadz Haris juga sudah di simpan di tempatnya, "tumben neng Rahayu masak sambal, seingat saya anda tak suka jenis masakan itu," tanya Mahmud
"ah ini agar kalian bisa merasakan hal yang lain," jawab Rahayu.
melihat dari cara memasak dan setelah merasakan sambal itu, dengan mudah ustadz Haris mengenali rasa itu
saat dia ingin membantah, dan mengatakan yang sebenarnya, Ilya mengeleng pelan.
"baik ustadzah," jawab ustadz Haris kesal pria itu.
"kalau begitu lain kali neng Rahayu bisa memasak ini lagi karena kami suka sambal, benarkan?"
"iya mas, itu benar," jawab yang lain.
tanpa di duga mendengar itu Rahayu mengangguk, dia pun yakin jika itu tak akan terjadi dekat-dekat ini.
toh kandungannya juga semakin besar, dan tak mungkin mereka tega menyuruh wanita hamil untuk masak yang berat.
pagi ini Shafa sampai di desa pukul enam pagi itupun bersama putranya Hamzah yang sudah berusia dua tahun.
"assalamualaikum mas," sapa Shafa yang mencium tangan Cakra.
tapi pria itu malah memeluk istrinya itu erat, bagaimana pun di tinggal lima hari membuat Cakra sangat merindukan istrinya itu.
__ADS_1
"sudah mas, ustadz Haris dan Ilya tolong segera berangkat agar kalian tak telat, dan ini ada kunci dua kos-kosan untuk kalian, selama mengikuti acara itu, tolong tinggal di sana dengan baik ya," kata Shafa tersenyum sambil memberikan surat.
"baik neng," jawab Ilya yang langsung memeluk Shafa
Keduanya langsung berangkat menuju ke tempat mereka harus mengikuti pelatihan.
tak hanya itu mereka pun akan tinggal satu atap dan bebas, toh mereka memang suami istri.
Hamzah sudah berlarian ke sana kemari, bocah itu sedang lucu-lucunya.
tapi yang tau kekuatan yang tersembunyi maka tak akan melihat bocah itu dengan lucu, karena Hamzah itu seperti tak kenal takut.
bocah itu ingin lari kebelakang saat Cakra berhasil mengangkat tubuh putranya.
"Hamzah main di depan dengan kakak-kakak santri ya," kata cakra.
"ya..." jawab bocah itu lari kedepan
Cakra tak mau, putranya itu melihat patung yang sudah dia pagari dan menghancurkannya.
karena patung itu memiliki kekuatan besar dan bisa menjadi sumber masalah nantinya.
ustadz Haris dan Ilya sudah sampai di rumah yang akan di gunakan oleh mereka nantinya.
jadi mereka tak perlu merasa sungkan lagi, toh itu akan jadi tempat tinggal mereka selama seminggu kedepan
"bagaimana mas," tanya Ilya.
"apanya sayang, sekarang kamu harus melayani suami ini,"bisik ustadz Haris memeluk istrinya itu.
mereka sedang bersiap.dan tak bisa jika mereka hati pertama sudah telat, jadi mereka langsung pergi.
sedang di tempat desa Kantil itu, Shafa benar-benar menikmati kebersamaan dengan suaminya.
bahkan Hamzah juga terlihat begitu senang, terlebih bayi itu seperti tak ada habisnya tenaganya.
selama seminggu di desa itu, Shafa akan menggantikan Ilya mengajar semua orang.
__ADS_1
sore pukul empat sore acara pelatihan dan sesampainya di rumah tinggal itu keduanya langsung mandi secara bergilir.
ustadz Haris pun mengiyakan mandi terlebih dahulu, tak butuh waktu lama kini giliran Ilya.