Desa Kantil

Desa Kantil
bang Joko ketemu Kunti


__ADS_3

tak butuh waktu lama pria itu langsung menuju ke rumahnya, tapi di tengah jalan dia bertemu dengan sosok ustadz Haris yang mencari tukang ojek untuk membawanya ke kota.


"bang ojek bang," panggil ustadz Haris.


bang Joko pun berhenti, "iya pak, tapi saya mengunakan tarif biasa tanpa online ya, karena tadi hp saya mati," kata pria itu malu-malu.


tak di duga, ustadz Haris bisa mencium aroma makhluk ghaib yang cukup menyengat dari pria itu.


"kalau gitu mas-nya bisa mampir dulu buat nge-cas ponsel dan mandi, sepertinya mas-nya kotor memang habis main dimana kok keluar dari hutan," kata ustadz Haris.


"boleh pak, saya tadi jatuh maklum belum pernah kesini,"


"iya Monggo silahkan," kata ustadz Haris.


dia pun mengajak bang Joko masuk, Ilya kaget melihat suaminya mengajak seorang pria masuk kedalam rumah.


"dek bisa tolong buatkan minuman hangat dan sarapan untuk mas-nya, dia akan mandi dulu, Monggo silahkan masuk mas," kata ustadz Haris.


"inggeh mas," jawab Ilya sopan.


Joko langsung mandi dan dia tak sadar jika dari tubuhnya rontok begitu banyak tanah merah, dan beberapa belatung yang terbawa ke lubang air.


dia merasakan tubuhnya sangat segar karena itulah dia cukup lama mandi.


sedang ustadz Haris membantu menyiapkan makanan yang sudah di doakan dan berharap pria itu tak di ganggu lagi oleh sosok kuntilanak kesepian itu.


sebenarnya Joko tadi heran melihat ada daun kelor yang ada di bak mandi, tapi dia tak peduli.


dia keluar dengan keadaan segar, dia juga di berikan baju oleh ustadz Haris, baju yang sudah lama tak dia kenakan karena sudah tak muat.


bagaimana tidak, setelah menikah dengan Ilya, dia terus mengalami kenaikan berat badan yang cukup signifikan belum lagi Ilya yang selalu memanjakan suaminya.


"makan dulu mas, sambil nunggu hpnya di cas," kata ustadz Haris.


"terima kasih loh pak, padahal anda mau di anterin kok malah saya yang dapat bantuan begini," kata Joko tersenyum senang menikmati sarapan panas.


pasalnya pagi itu sarapan di rumah ustadz Haris adalah soto ayam dengan sambal kemiri yang begitu cocok


"gak papa, kebetulan saya juga tak terburu-buru, dek tolong catatan belanja yang tadi mana, kamu cek dulu siapa tau ada yang ketinggalan atau kelewat," pesan ustadz Haris dengan begitu lembut.


"iya mas," jawab Ilya tersenyum di balik cadarnya.


bang Joko pun makan dengan sangat lahap, seperti orang yang sudah tak makan berminggu-minggu.

__ADS_1


"pak lain kali kalau mau ke desa sini tolong jangan lupa berdoa dan memohon perlindungan, maklum dekat dengan hutan lagi pula bapak orang luar desa,"


"iya mas, terima kasih loh sarapannya, sekarang kita bisa berangkat takut nanti kesiangan," kata bang Joko yang merasa tak enak.


mereka pun berangkat ke kota, di swalayan besar itu, bang Joko menurunkan ustadz Haris yang langsung berbelanja.


sedang bang Joko pulang ke rumah, betapa terkejutnya dia saat melihat rumahnya ada bendera kuning.


"ini siapa yang meninggal dunia," gumamnya bingung.


sedang para warga kaget melihat bang Joko yang pulang dalam keadaan sehat tapi dengan raut wajah kebingungan.


"Alhamdulillah Joko, kami kira kamu kabur atau mati tidak tau kemana, tapi sekarang ayo masuk dulu... yang tabah ya Joko," kata para tetangga pria itu


"tunggu dulu, ini maksudnya apa, kenapa saya harus tabah..." bingung bang Joko yang berjalan masuk kedalam rumah.


betapa terkejutnya di melihat sosok istrinya yang sudah terbujur kaku di kelilingi oleh para saudara dan para warga yang melayat.


"ini tidak mungkin, kemarin sore dia masih sehat, kenapa sekarang dia seperti ini, kalian jangan bercanda,tolong jangan begini Yun bangun Yun!!" panggil bang Joko.


"yang sabar ya Joko, istrimu mati dan di temukan di pinggir sawah dengan perut terbelah dan oran dalam hilang, seperti jantung dan hati, polisi menebak ini adalah kasus penyerangan hewan buas," kata keluarga bang Joko.


"apa...." lirih bang Joko yang langsung menangis memeluk mayat istrinya.


dia melihat Joko yang tanpa sadar bersekutu dengan kuntilanak hutan angker di desanya itu.


bahkan Joko mengatakan jika dia tak menyukai istrinya yang gembrot dan tak bisa mengurus badan.


terlebih dia juga selalu di caci jika tak mendapatkan setoran yang di inginkan oleh istrinya itu.


Joko pun berharap istrinya cepat mati, dan itulah yang terjadi, "dia tak akan bisa lepas dengan mudah, karena mereka melakukan perjanjian yang cukup besar," gumamnya.


tiba-tiba pesan dari Ilya mengejutkan ustadz Haris,"ya Allah aku hampir lupa kalau di suruh belanja," gumamnya.


di pun segera masuk ke dalam swalayan dan mengambil semua barang yang di butuhkan.


bahkan belanjaan itu hingga empat troli di bantu beberapa karyawan dan satpam.


ustadz Haris pun mulai menunggu saat barang di hitung dan di kemas, tak lupa di meminta tolong orang pondok untuk menjemput dan mengantarnya pulang.


dua troli besar sudah siap menunggu mobil pick up, dan ternyata yang datang adalah Gufron dan Ayus.


"ustadz mau bikin pesta, kok belanjaannya begitu banyak," tanya dua orang itu.

__ADS_1


"ini hanya kebutuhan sebulan, maklum jauh dari kota jadi sekalian belanjanya, sudah sekarang ayo kita ke pasar untuk beli buah," ajak ustadz Haris.


"siap ustadz, oh ya tadi ada titipan dari umi Kalila, ibu Aisyah, dan ibu panjenengan ustadz," kata Gufron menunjuk tiga tas di sana.


"ya sudah terima kasih, sekarang ayo berangkat," kata ustadz Haris.


mereka berangkat menuju ke pasar, setelah semua barang di beli mereka pun pulang.


tapi yang tak terduga, sebuah pesan membuat ustadz Haris kebingungan.


pasalnya dia di minta membeli kulit lumpia, jadi dia nurut saja dan memilih tempat yang jual hal seperti itu.


akhirnya mereka sampai di desa setelah perjuangan berat, berbelanja bulanan.


Ilya langsung menyambut Suaminya dengan hangat, kedua pria yang mengantarkan ustadz Haris tak kaget karena mereka juga baru tau jika ustadz Haris sudah menikah dengan Ilya.


karena baru saja di umumkan di pondok pesantren. "assalamualaikum ustadzah," sapa keduanya sopan


"waalaikum salam, nanti kalau sudah selesai bantu turunin barang, minum dan makan dulu, jangan langsung pulang ya,"


"inggeh ustadzah," saut keduanya.


mereka pun segera menurunkan barang membantu ustadz Harun, ternyata santri yang lain juga datang membantu


Ilya mengambil pesanan yang di titipkan pada kedua santri itu, dan langsung membaginya sesuai kebutuhan.


Ilya keluar dengan membawa tas yang berukuran cukup besar, "adek mau pergi kemana?"


"anu mas, saya mau ke tempat mbak Rahayu sebentar, mengantar pesanan dari umi, ibu dan mami," jawab Ilya.


"tunggu mas lah dek, kita antar bersama," bujuk ustadz Haris.


"tapi nanti keburu malam mas, saya cuma sebentar saja, saya pamit dulu ya, assalamualaikum..."


"waalaikum salam," jawab mereka semua.


ustadz Haris pun percaya jika tak akan ada sesuatu yang buruk pada istrinya toh tempatnya juga tak jauh, nanti dia bisa menjemputnya jika perlu.


sesampainya di rumah Rahayu, terlihat rumah itu cukup sepi, Ilya pun mengetuk pintu rumah, "assalamualaikum...."


tok .. tok ... tok...


"assalamualaikum.... mbak Rahayu..." panggil Ilya

__ADS_1


dia bingung kenapa wanita itu tak menyahut, Kan baru melahirkan jadi tak mungkin dia keluar.


__ADS_2