
sudah tiga hari, dan kini kedua orang itu sudah di izinkan pulang, ustadz Haris masih terus melihat ke arah Ilya yang sedang menunggu jemputan dari kakaknya.
"ada apa ustadz, jangan melihatku seperti itu, kamu membuatku malu," kata Ilya.
"kenapa harus malu, kamu tau kamu sangat cantik Ilya, seandainya.... ah maafkan aku ya Allah," gumam ustadz Haris.
"iya ustadz saya tau, tapi aneh ya, selama anda dan saya sadar, kenapa aku tak pernah melihat sosok Rahayu, bagaimana pun dia itu istri anda, tapi dia tak menunjukkan tanda-tanda datang atau titip salam sedikitpun, apa ustadz yakin pernikahannya tak terjadi masalah?" tanya Ilya yang penasaran.
"aku yakin akan hal itu, aku juga merasa aneh, sebelum aku kembali koma, sepertinya dia datang dan entah setelah itu," jawab ustadz Haris.
tak lama ada Farid dan Cakra yang menjemput Keduanya, "kalian sedang berbincang apa, ayo pulang semua sudah menunggu kalian di rumah," ajak Cakra.
"iya mas," jawab ustadz Haris
dia masuk kedalam mobil begitupun ilya, mobil yang di bawa oleh Farid kini menuju ke area pondok pesantren.
tapi mobil itu berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah di sekitaran pondok, "rumah siapa ini?" tanya ustadz Haris bingung.
"ini hadiah untuk mu, ya berarti ini rumah mu, dan di sebelah adalah rumah keluarga Ilya," terang Cakra.
"loh kenapa, bukankah aku akan fokus pada semua warga desa Kantil?"
"sudah ustadz lebih baik masuk dulu biar ustadz sepuh yang menerangkan semuanya," kata Farid.
mereka berempat turun, dan langsung menuju ke rumah masing-masing, ternyata di rumah ustadz Haris itu hanya ada keluarga inti.
begitupun dengan timah keluarga Ilya, ustadz Amir dan ustadzah Aisyah menyambut kedatangan putri mereka.
ustadz Haris baru melihat sosok Rahayu di sana, tapi gadis itu terlihat gugup saat melihatnya masuk kedalam rumah.
"assalamualaikum..."
"waalaikum salam..." jawab semua orang.
"duduk di sebelah sini Haris," panggil ustadz sepuh.
Rahayu duduk di sebelah Shafa dan juga umi Kalila, sedang mami Tasya duduk di dekat ayah Arkan.
"bagaimana kondisimu Haris? Apa semuanya baik?" tanya ustadz sepuh.
"Alhamdulillah baik pakde, tapi aku merasakan kalian sedikit tegang ya, sebenarnya ada apa ini?" tanya ustadz Haris yang merasakan suasana yang tak nyaman.
__ADS_1
mami Tasya mengeluarkan sebuah amplop yang berisikan akta cerai, saat melihat tulisan di atas map itu.
ustadz Haris pun tau jika ini pasti ada sesuatu yang salah, "jadi mami melakukannya lagi?"
"ini bukan salah mami, tapi keputusan bersama, terlebih saya tak mau terus berbohong dan membuat ustadz terus terluka," kata Rahayu buka suara.
"apa maksudmu, apa semua ini?" tanya ustadz Haris.
"maafkan aku... saat aku masih menjadi istri ustadz Haris, aku sudah melakukan kesalahan besar, aku berzina dengan seseorang, dan anak ini adalah buah dari perbuatan itu," tangis Rahayu.
"apa kamu yakin keputusan ini terbaik," tanya ustadz Haris yang ingin mendengar alasan Rahayu.
"iya ustadz, ini keputusan yang terbaik, di banding kita yang akan terus menerus saling melukai, lebih baik kita akhiri sampai di sini," kata Rahayu dengan yakin.
"baiklah aku menerima keputusan mu, tapi sebelum anak itu lahir, tetaplah di pondok, karena nyawamu bisa terancam jika harus kembali ke desa," kata ustadz Haris.
"inggeh ustadz,"
"begitupun dengan mu, selama kamu belum kembali sehat, kamu tak di izinkan untuk kembali ke desa itu, karena kamu bisa terluka lagi, terlebih Cakra belum bisa menemukan gadis yang bisa menyingkirkan Ki Bisono sesuai dengan takdirnya," kata ustadz sepuh.
"iya pakde, saya akan memperdalam ilmu agama lagi," jawab ustadz Haris
Rahayu pun ingin pamit kembali ke pondok, tapi mami Tasya menahannya, "sebaiknya kamu tinggal disini, bagaimana pun tak elok jika istri dari ustadz tinggal di pondok saat suaminya sudah pulang," kata mami Tasya.
"tapi saya tak ingin membuat mami tak nyaman, begitupun dengan keluarga yang lain?" kata Rahayu sedih.
"tak masalah ini permintaan dari nyonya besar, lagi pula kami sudah menganggap mu sebagai putri kami sendiri, jadi santai saja," kata ayah Arkan.
Rahayu pun mengangguk,Cakra langsung memeluk mami Tasya, karena wanita itu bisa menerima Rahayu.
meski dia dan Shafa harus terus membujuk wanita itu agar berubah pikiran, karena mami Tasya sangat sulit di pengaruhi.
akhirnya Rahayu akan tinggal di lantai satu bersebelahan dengan kamar mami Tasya dan ayah Arkan.
sedang ustadz Haris tinggal di lantai atas, pasalnya semua orang belum tau jika kedua orang itu sudah bercerai.
Ilya melihat kamarnya di lantai satu yang cukup sederhana, ternyata semua barangnya sudah ada di kamar itu.
terlihat ada beberapa buku yang selama ini menjadi tempat curhatnya, beruntung buku itu tak bisa di buka jika tak mengunakan kunci tersembunyi.
dia pun mencari kunci itu dan mulai membuka buku miliknya itu, dia pun mulai tersenyum saat membacanya.
__ADS_1
karena buku itu berisikan semua tentang kenangannya bersama ustadz Haris dan Shafa dulu.
bahkan semua foto mereka ada di sana, dan ada foto yang dia ambil dengan cara diam-diam.
"seandainya ..." gumam Ilya memeluk buku itu.
"nduk kamu mau makan dulu?" tawar ustadzah Aisyah.
"boleh Bu, aku ingin makan soto buatan ibu," kata Ilya yang menyimpan bukunya.
setelah makan, gadis itu duduk bersama kakak-kakaknya yang sedang menonton tv.
"assalamualaikum..."suara pada santriwati yang datang ke rumah keluarga Ilya.
"waalaikum salam, akhirnya datang, Monggo masuk ustadzah Ilya ada di dalam, ayo masuk," kata ustadz Amir.
"nduk... ini ada murid-murid mu datang," panggil pria itu
"assalamualaikum ustadzah," salam semua santriwati yang langsung memeluk Ilya bersamaan.
"waalaikum salam semuanya, aduh kok malah nangis semua!!" kaget Ilya
"kami dengar jika ustadzah mengalami hal buruk, kami semua hanya bisa mendoakan saja, kami merindukan ustadzah..." tangis semua santriwati.
"iya saya juga merindukan kalian semua, sekarang ayo duduk dulu," ajak Ilya.
setelah semuanya duduk, mereka pun mulai membacakan doa memohon keselamatan dan kesehatan untuk Ilya dan ustadz Haris.
Ilya pun terlihat sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan semua murid yang selama ini dia ajar.
setelah para santriwati, kini giliran para murid taman kanak-kanak yang datang.
bahkan mereka semua membawa bunga untuk Ilya dan juga coklat, tak lupa mereka juga mendoakan Ilya.
dan saat siang baru ada rombongan murid yang selama ini menjadi kelas yang di bimbing oleh Ilya, yaitu para murid madrasah ibtidaiyah.
"ustadzah..." tangis mereka semua
Ilya pun tak mengira begitu banyak cinta yang dia terima, meski dia tak mendapatkan cinta pria yang dia cintai.
tapi dia sudah mendapatkan banyak cinta dari semua murid yang dia ajari selama ini.
__ADS_1