
kegiatan pondok terus berjalan hingga malam hari, tapi setelah jam delapan malam semua murid bebas.
ustadz sepuh sedang menunggu kedatangan dari ustadz Haris dan Ilya, untuk berlatih.
bukan terlalu kejam, tapi mereka harus memperkuat tubuhnya, terlebih mereka tidur terlalu lama.
"assalamualaikum ustadz sepuh," salam Ilya yang datang bersama beberapa santriwati yang akan mengikuti turnamen taekwondo.
"waalaikum salam,duduk dulu Ilya, kita menunggu ustadz Haris dan beberapa orang lagi," gumamnya
tak lama ustadz Haris datang dengan beberapa santri di belakangnya.
"assalamualaikum... maaf telat,"
"waalaikum salam, duduklah kalian semua," kata ustadz sepuh.
pria itu juga sudah mengenakan baju untuk berlatih keterampilan fisik.
"ada apa?" tanya ustadz sepuh melihat ustadz Haris melihatnya begitu tajam.
"gak kok ustadz, apa anda yakin akan melatih kami, jangan sampai malah anda yang terluka karena melatih kami," kata ustadz Haris tersenyum sekilas.
tanpa di duga, ustadz sepuh langsung menyerang kearah ustadz Haris.
pria itu yang tak siap sudah mendapatkan sebuah cekikan kuat dari ustadz sepuh.
"jangan pernah meremehkan lawan mu Haris, karena kita tak tau kekuatan lawan akan seperti apa?" kata ustadz sepuh.
"iya ustadz, maafkan saya," kata Haris yang sudah merasakan sakit di lehernya.
ayah Arkan dan mami Tasya datang, para murid kaget, mereka tak mengira dua orang itu datang.
"ini adalah dua orang kuat yang akan membimbing kalian semua untuk memperkuat ketahanan tubuh, terlebih untuk Haris dan juga Ilya," kata ustadz sepuh.
"baik ustadz," jawab semuanya.
akhirnya mami Tasya ke barisan para santriwati, sedang ayah Arkan berdiri di samping putranya.
mereka di pisah, dan ustadz sepuh akan memberikan pelajaran tentang ketenangan diri.
karena ustadz Haris selalu saja terbawa emosi setiap bertarung, itu sangat merugikan karena bisa membuatnya terluka suatu saat nanti.
semua mulai berlatih dari awal, mereka mempelajari kuda-kuda terlebih dahulu.
__ADS_1
semua ternyata melakukan kesalahan, karena kuda-kuda yang di lakukan kurang kuat.
sedang di rumah ustadz Haris, Rahayu sedang membaca Al-Qur'an, dia memang sendirian karena semua orang sedang keluar.
istri Farid membawa beberapa kue yang tadi sore dia buat bersama ibu mertuanya.
"assalamualaikum..."
"waalaikum salam, siapa..."
Rahayu membuka pintu dan melihat sosok wanita itu sedang tersenyum kearahnya, "ada apa mbak?"
"ini mbak mau ngantar kue, dan menemani mbak Rahayu, karena tadi Bu Tasya meminta saya untuk menemani neng Rahayu biar tak sendirian di rumah," jawab wanita itu.
"aduh kok malah merepotkan tapi terima kasih loh mbak, mati masuk biar saya ambilkan minuman dulu ya," kata Rahayu yang ingin kedalam rumah.
"tak usah neng Rahayu, kayak tamu jauh saja, duduk disini saja neng, saya ingin melihat perut neng Rahayu yang nampaknya sudah sangat besar," kata istri Farid.
"iya mbak, maklum sudah tujuh mau menginjak delapan bulan," jawab Rahayu dengan senang.
"tapi neng apa dia sering membuat anda kesakitan, karena biasanya saat dia sangat aktif, dia itu kadang suka membuat kaget," kata wanita itu antusias.
pasalnya dia sudah lama terakhir kali hamil, dan sekarang dia belum hamil lagi meski tak mengunakan KB.
"dia jarang sekali menendang, apa itu bahaya?" tanya Rahayu yang memang tak mengerti tentang kehamilan.
"tapi dokter bilang bayi saya sehat, memang jarang bergerak karena malas mungkin, tapi ya saya kadang merasakan tendangan tapi sangat jarang," kata Rahayu
"iya Neng,saya cuma kaget oh ya biasanya bayi itu bergerak aktif saat mendengar suara ayahnya, Viva minta ustadz Haris mengaji sambil memegang perut anda, pasti bayinya akan aktif mendengar suara ayahnya yang sedang mengaji,"
"iya Mbak, nanti biar aku minta mas Haris melakukan itu," jawab Rahayu.
di tempat latihan, ustadz Haris dan Ilya sedang melawan dua pasang suami istri itu tapi mereka kuwalahan.
karena kesaktian dan kekuatan fisik kedua orang tua itu sangatlah hebat, bahkan meski mereka bersama pun tak bisa menyentuh Keduanya.
"jika kalian tak bisa berjalan seirama, kalian akan kesulitan mengalahkan keduanya. ingat selaras dan bersama, jaga emosi kalian," kata ustadz sepuh.
akhirnya keduanya mencoba menyamakan gerakan bertarung, dan mulai melawan kedua orang tua mereka.
dan tenyata benar, Keduanya terlihat sangat baik, perkembangan sangat cepat.
akhirnya mami Tasya terpukul mundur begitupun dengan ayah Arkan.
__ADS_1
tapi yang mengejutkan kini adalah ustadz sepuh yang maju untuk menghadapi Keduanya.
"ada apa, kenapa kalian lengah," kata pria tua itu.
"ingat Ilya, kita tak bisa lengah karena pakde sangar tegas dalam melatih semua muridnya," lirih ustadz Haris.
"baik ustadz," jawab Ilya.
keduanya pun menutup mata dan mulai mengatur nafas, kemudian ustadz sepuh menyerang keduanya saat sosok ki Adhiyaksa masuk kedalam tubuhnya.
keduanya membuka mata, dan mulai menangkis setiap serangan.
gerakan Keduanya sangat hebat, bahkan usyadz sepuh menyeringai dan mengeluarkan kedua golok pusaka miliknya.
"bang jangan gila kamu," panik ayah Arkan melihat ustadz sepuh yang kembali menjadi seorang Sarfaraz.
tapi yang membuat terkejut adalah saat kedua orang itu memanggil busur pasopati.
ustadz sepuh berhenti, "ternyata Cakra menyembunyikan kalian selama ini," gumamnya.
Ki Adhiyaksa pun melihat sosok orang yang pertama bisa menaklukkan dirinyalah.
kedua golok itu pun kembali lenyap, ustadz sepuh tersenyum saja, "untuk Hadi ini selesai, sekarang kalian semua bisa bubar dan istirahat," perintah pria itu yang kemudian pergi.
ustadz Haris dan Ilya pun terduduk di tanah, keduanya seperti baru saja melakukan sesuatu yang aneh.
bahkan perasaan dan stamina mereka seperti terkuras habis, "kalian tak apa-apa? kita duduk dan berbincang sebentar, yang lain besok kita bertemu lagi, terima kasih," kata mami Tasya yang membantu Ilya.
"baik ibu, assalamualaikum..." pamit semua santri.
"waalaikum salam..."
mereka duduk di sebuah kursi yang memang ada di tempat latihan itu, "bagaimana kalian melakukan itu, bisa memanggil busur pasopati bersama dan wujud busur itu.."
"kami juga tak mengerti ayah, tapi rasanya energi ku langsung tersedot habis," kata ustadz Haris yang masih ngos-ngosan.
"itu berarti, kamu harus latihan lebih keras, dan Ilya juga, tapi bagaimana luka mu, apa masih terasa sakit nduk?" tanya mami Tasya.
"tidak mami, semuanya terasa baik-baik saja, dan sepertinya luka itu sudah hilang tanpa bekas, aku juga bingung tapi ibu bilang mungkin itu kuasa Allah, jadi kami tak mempermasalahkan lagi," terang Ilya.
"baguslah, dan sepertinya akan lebih baik jika kalian berjuang bersama setelah sudah sah menikah, apa mau?"
"maaf ayah, meski aku mencintai ustadz Haris, tapi aku tak ingin jadi duri di dalam pernikahan yang sebentar lagi akan di lengkapi oleh seorang anak yang lucu, jadi maafkan aku..." kata Ilya tegas
__ADS_1
"tapi bagaimana jika aku sudah menjadi duda, apa kamu mau menerimanya," kata ustadz Haris penuh harapan.
"tidak!!"