
ustadz Haris membawa laptop miliknya ke ruang tengah rumah kontrakan itu.
beruntung mereka sudah sah, jadi tak masalah untuk tinggal berdua, Ilya datang sambil membawa kopi untuk Suaminya itu.
"mas aku penasaran deh, bagaimana bisa kita melakukan hubungan suami istri secara tenang, bahkan tak ada kecurigaan sama sekali?" tanya Ilya yang terlanjur penasaran.
"karena mas cakra melakukan sirep pada seluruh orang, dan saat pukul dua malam, dia melepaskan sirep itu kecuali pada Rahayu, itulah kenapa kita bebas melakukannya, tapi tentu setelah itu mas Cakra terus menggodaku," kata ustadz Haris tersenyum.
"baiklah aku mengerti, tapi kasih hadiah mas, karena mas Cakra kita bisa..."
"tenang sayang, dia sudah mendapatkan hadiah yang begitu dia inginkan," kata ustadz Haris tersenyum
"malam ini mau makan apa sayang?" tanya ustadz Haris.
"tak tau mas, aku sepertinya ikut saja, aku kan tipe yang bisa makan apapun," kata Ilya tersenyum.
"baiklah kita makan nasi Padang," kata ustadz Haris yang langsung mengunakan aplikasi pemesanan dengan ojek online.
sedang di desa, terlihat Shafa sedang mengajar membawa putranya yang begitu lucu.
melihat anak kecil seperti itu, Rahayu tak sabar ingin segera menimang bayi di perutnya.
dia pun terus mengelus perut besarnya, dia pun tak sabar untuk segera menikah dengan ustadz Harun.
karena setelah dia melahirkan, dia bebas mau menikah, "ada apa Rahayu, kenapa senyum-senyum sendiri? apa ada yang lucu?" tanya Shafa penasaran.
"tidak ada neng, aku hanya membayangkan, mungkin putraku akan selucu Hamzah," kata wanita itu dengan senang.
"pasti Rahayu, aku yakin itu, tapi sebaiknya setiap hari baca ayat suci, agar janin mu di hindarkan dari marabahaya,karena aku dengar desa ini masih dalam teror," kata Shafa mengingatkan wanita itu.
"aku tau itu neng Shafa," jawab Rahayu.
mereka pun selesai sholat isya' dan berjalan menuju ke rumah, selama perjalanan, Cakra dan Shafa terus tertawa sambil menggoda putra mereka.
ustadz Harun terus melihat kearah keduanya, dengan tatapan penuh kasih, pria itu ternyata masih menyimpan perasaan pada Shafa.
__ADS_1
Rahayu sadar akan hal itu, "ustadz Harun, kenapa memandang mbak Shafa sedalam itu," tanya Rahayu.
"ah tidak ada, itu perasaan mu saja," jawab ustadz Harun.
"kamu tak tau neng, dulu ustadz Harun kan berkali-kali meminang neng Shafa tapi selalu di tolak, eh taunya neng Shafa malah memilih mas Cakra," kata salah satu santri.
"apa..." kaget Rahayu.
"hentikan ceritanya, itu hanya sebuah masa lalu, sekarang aku sudah mengubur semuanya," kata ustadz Harun yang pergi.
Rahayu tak mengira jika pria yang begitu dia cintai ternyata sudah memiliki orang yang pernah di cintai, dan dia bukanlah wanita yang pertama.
"ternyata bukan hanya ustadz Haris tapi juga ustadz Harun, sebenarnya apa istimewanya wanita ini, kenapa semua pria menyukainya," lirih Rahayu yang tak terima.
dia pun segera berjalan menghampiri semuanya, tanpa di duga dia sudah di incar.
"bayi haram itu akan mampu menambah kekuatan ku, dan aku harus mengambilnya saat dia lahir," gumam seseorang dari kegelapan malam.
malam itu, ustadz Harun bersama beberapa santri sedang ronda keliling kampung bersama warga.
mereka tetap ingin menjaga desa a
saat Rahayu duduk bersama dengan Shafa, dia penasaran, bagaimana wajah wanita itu hingga membuat dua laki-laki yang pernah ada di hidupnya sangat mencintai dia.
"neng Shafa, apa tak gerah tetap mengunakan cadar di dalam rumah, lepas saja toh anak-anak santri di luar,"
"saya tak bisa, saya takut saat saya membuka cadar ini, mereka akan masuk dan bisa melihat yang tidak seharusnya," kata Shafa dengan sopan.
setelah mendapatkan jawaban seperti itu, Rahayu tak bisa berbicara lagi, dia diam seribu bahasa.
pasalnya tak mudah membujuk wanita itu untuk menunjukkan wajahnya dan bagaimana bentuknya.
malam itu mereka pun istirahat, tapi di salah satu rumah, seorang pria sedang menyiapkan sesuatu yang berhasil dia curi dari tempat kerjanya.
dia pun bersiap untuk pergi dan mengantar barang itu agar segera bisa di makan.
__ADS_1
dia pun langsung duduk berjongkok di semak-semak saat melihat beberapa warga yang lewat bersama ustadz Harun.
"untung saja aku bisa bersembunyi," gumamnya.
tapi saat dia ingin mengambil bungkusan kendi yang di bawanya, dia hampir berteriak karena ada sesosok anak kecil yang menyeringai menunjukkan darah dan gigi tajamnya sambil memegangi kendil itu.
"lepaskan tuyul sialan, ini bukan untuk mu, ini untuk makan Ki Bisono," marah pria itu yang berhasil mengusir pergi makhluk kerdil itu.
dia pun bergegas pergi menuju ke arah gua tempat pria itu bersembunyi.
dia masuk kedalam gua tanpa rasa takut sedikit pun, dia menaruh kendil itu di salah satu batu di sana.
"Ki Bisono, hari ini hanya bisa mendapatkan ini, tolong maafkan saya, saya janji lain kali akan mendapatkan lebih banyak lagi untuk anda," gumamnya yang kemudian pergi.
sosok pria yang hampir busuk dengan tubuh penuh belatung itu tersenyum, "terima kasih Marko, berkat dirimu aku bisa membuat tubuh busuk ini menjadi lebih segar, dan sebentar lagi, setelah mendapatkan janin itu, kekuatan ku akan sempurna, dan tunggu kehadiran ku dua bocah laknat," kata Ki Bisono membuka kendil itu.
dia kaget melihat isinya yang ada lima ari-ari masih penuh dengan berlumur darah.
bahkan ada mayat bayi yang juga masih bersimbah darah. "kamu benar-benar murid setia ku Marko, setelah Taji tak ada kabar lagi, aku akan menikmati persembahan mu ini," gumamnya.
dia pun langsung mulai mengigit setiap inci dari daging mentah itu, bahkan perlahan tubuhnya mulai sembuh.
tubuhnya kini kembali utuh, "sekarang aku harus mengambil jantung milik pria bodoh ini, jika tidak tubuh ini akan busuk lagi dalam waktu lima belas hari,"
para warga sudah berada di perbatasan gapura desa, ustadz Harun bisa merasakan ada hawa yang begitu buruk.
tapi dia tak bisa melihat siapa dan makhluk apa yang sedang mengawasi mereka.
dia pun mengajak para warga untuk kembali ke pos kamling. tiba-tiba terdengar suara tertawa yang nyaring.
"ustadz suara apa itu?" tanya salah satu warga.
"tolong tenang dan tetap berdzikir kepada Allah meminta perlindungan," Jawabnya.
tak lama mereka sampai di pos dan mulai menikmati singkong bakar, tapi anehnya aroma singkong itu malah semakin kuat, padahal singkong baru saja di lempar ke dalam bara.
__ADS_1
"aduh aroma ini," gumam ustadz Harun.
"ada apa ustadz," panik Mahmud yang sadar jika ustadz Harun merasakan sesuatu saat ini.