Desa Kantil

Desa Kantil
masih kejadian buruk


__ADS_3

sosok hitam itu mengintai di atas genting gelap, dia terus mengerang marah karena para warga yang terus berkerumun.


dia pun memutuskannya pergi karena kekuatannya perlu di isi segera, jika tidak dia akan mengalami masalah.


di rumah kedua tak bisa dia masuki karena ada tanaman bambu kuning dan pohon Bidara.


jadi dia memutuskan untuk mencari ari-ari bayi di tempat bidan di sekitar desa itu.


dia pun terbang melayang dengan cepat dan berhenti di atas atap, dia tak bisa menunggu.


dia pun turun dan merubah penampilannya seperti oppa oppa Korea yang tak mungkin di tolak wanita.


dia berjalan masuk ke ruang bidan, "ada.. ada yang bisa di bantu," kata para perawat yang masih muda-muda.


"saya ingin bertemu Bu bidan," kata Ki Bisono yang sudah maleh Rupo.


"iya saya ..." kata bidan itu yang langsung terkejut melihat pria tampan di depannya.


Ki Bisono menyentuh kepala wanita itu dan menghipnotisnya,begitupun dengan empat perawat itu.


"ada apa tuan?" tanya para wanita itu.


"aku butuh ari-ari bayi, aku butuh lima malam ini," kata Ki Bisono.


"ada di belakang, tapi hanya tiga, karena di klinik ini baru ada tiga ibu yang melahirkan," jawab bidan itu


"baiklah, berikan padaku," kata Ki Bisono yang langsung mengikuti bidan.


setelah sampai di ruang pembersihan, mereka mempersilahkan ki Bisono itu mulai menyantap ari-ari yang masih berlumuran darah.


"Carikan dua lagi," perintah Ki Bisono.


"baik tuan," jawab keempat orang itu.


para orang tua itu pun di berikan kendi tang berisikan anak kucing yang sudah di bunuh dan di ambil darahnya.


memastikan terlihat seperti ari-ari, dan mereka tak mengizinkan kendi itu di buka dan langsung menyuruh mengubur saja.


Ki Bisono tak mengira ini lebih mudah di banding dia harus mengorek tanah.


perlahan kekuatannya mulai bertambah, dia pun merasa senang.

__ADS_1


tak lama ada seorang ibu yang melahirkan juga, dan sayangnya bayi itu tak selamat.


bahkan kekasih wanita itu lari saat wanita itu di bawa ke ruang bersalin.


karena merasakan aura keputusasaan Ki Bisono tergoda dan berjalan ke ruang rawat itu.


dia pun mulai menikmati darah dan mayat bayi yang baru lahir itu dengan sangat lahap.


akhirnya wanita itu mati karena kehabisan darah setelah di hisap oleh Ki Bisono.


"terima kasih, kalian sudah membuat ku kenyang, sekarang aku pergi, ha-ha-ha!!" tawa pria itu menggelegar sebelum pergi


keempat orang itu masih berdiri memandangi mayat wanita yang mengering itu.


keesokan harinya semua kaget saat keempat bidan itu ditemukan pingsan di lantai.


dan ada mayat di atas ranjang yang sudah kering, bahkan semua orang tua yang melahirkan di tempat itu ketakutan dan minta pindah.


polisi datang untuk menyelidiki semuanya, tapi polisi selalu saja menemukan jalan buntu.


karena seperti tak ada petunjuk satupun yang menjadi sebab wanita itu mati mengering tanpa di temukan satu tetes darah.


keesokan harinya, semua berjalan normal, tapi pagi ini Cakra mendapatkan penempatan tugas dari ustadz sepuh menanggapi apa yang terjadi di desa Kantil.


"ya kamu benar, sepertinya mereka mengincar dan mencari Rahayu, terlebih bayi di kandungannya adalah bayi yang hadir karena kesalahan," kata ustadz sepuh.


"kalau begitu izinkan aku membawanya pergi, karena aku ingin lihat sekuat apa makhluk itu," izin Cakra.


"baiklah, tapi kamu tentu tau jika itu sangat membahayakan," kata ustadz sepuh.


"tentu saja tau Abi, dan Abi harus mengirim kedua orang itu saat mereka sudah memiliki ikatan pernikahan, karena kehadiran mereka itu penting," jawab Cakra.


"tapi sepertinya mereka belum siap," kata ustadz sepuh.


"aku tau, itulah kenapa aku akan sebisa mungkin membimbing mereka," jawab Cakra.


akhirnya pria itu di izinkan pergi, sebelum pergi Cakra berpamitan pada istri dan anaknya.


Hamzah tersenyum dan terus memegangi pipi ayahnya itu, "sayang, ayah pergi dulu, Hamzah jaga bunda ya,"


Cakra mencium kening putranya dsn istrinya kemudian berangkat, bersama Rahayu yang ikut sesuai permintaan dari ustadz sepuh.

__ADS_1


dia tau jika kepergiannya ini bisa di bilang seperti setor nyawa, tapi dia tak keberatan, karena ini pilihannya.


terlebih dia akan segera bertemu dengan ustadz Harun di desa, kegiatan di desa tak mengalami gangguan yang berarti.


mobil yang membawa rombongan dari Cakra dan Rahayu kini mulai memasuki jalan setapak yang sudah di paving blok.


jadi tak terlalu buruk dan bisa mempersingkat waktu tempuh, dan ini juga atas swadaya masyarakat.


selama perjalanan Cakra terus berdzikir agar tak terjadi sesuatu yang mengerikan.


sedang di bangku penumpang terlihat Rahayu terlelap tidur dan tangannya tetap memegang tasbih jadi setidaknya wanita itu akan tetap aman.


mobil pun masuk kedalam gapura masuk desa, dan terlihat suasana cukup biasa.


bahkan udara juga sangat bersih menurut Cakra, mobil pun sampai di rumah Rahayu.


"Rahayu ayo bangun, kita sampai," kata cakra.


"astaghfirullah aku ketiduran, maaf ya mas, baiklah ayo kita turun," kata Rahayu yang merapikan dirinya sebelum turun.


ustadz Harun ingin menyapa cakra,tapi dia juga kaget saat melihat ada sosok Rahayu di samping pria itu.


"mas kenapa mengajak Rahayu pulang ke desa, bukankah ini membahayakan untuknya dan janinnya," kata ustadz Harun.


"tenang saja, kamu semua yang akan menjamin keselamatannya," kata Cakra meyakinkan ustadz Harun.


"baiklah jika yang ustadz katakan,sekarang mari masuk kita makan siang dulu, kalian pasti lelah karena perjalanan jauh," kata ustadz Harun mempersilahkan.


mereka pun masuk dan duduk bersama, menikmati makanan, setelah itu Cakra membantu ustadz Harun memulihkan diri.


mereka juga berjalan-jalan di sekitar desa untuk mencari tempat persembunyian dari Ki Bisono.


tapi saat mereka berkeliling, tak sengaja mereka bertemu seseorang yang baru saja dari luar desa.


dan warga itu nampak ketakutan bukan main, "assalamualaikum ustadz, ketiwasan ustadz," kata pria itu.


"waalaikum salam, ketiwasan apa pak, tolong tenang dulu, kenapa anda begitu ketakutan seperti ini," tanya ustadz Harun.


"di desa sebelah, banyak ari-ari bayi yang hilang, dan polisi juga menemukan ada pembunuhan yang aneh, di mayat itu tak di temukan satu tetes darah, itu yang membuat bingung,belum lagi mereka yang terus berteriak jika warga desa ini yang melakukannya, bagaimana ini ustadz," kata pria itu panik.


"tenang saja, selama mereka tak ada bukti, mereka tak bisa seenaknya menuduh warga desa ini," kata Cakra dingin .

__ADS_1


dia tak menyangka jika kejadiannya akan separah ini, dan Ki Bisono sepertinya benar-benar harus di musnahkan.


__ADS_2