
pagi ini Rahayu harus jalan santai untuk melemaskan otot-otot di tubuhnya.
sekalian dia belanja bersama salah seorang santriwati yang sudah di tugaskan untuk menjaganya.
mereka jalan santai menuju tukang sayur, "neng mau masak apa hari ini?" tanya Vivi.
"tadi sepertinya mas Haris ingin makan ayam goreng lengkuas deh, baiklah, bu ayam bagian paha satu kilo, terus sayur sawi putih dan tahu, tolong tempe juga ya Bu," kata Rahayu yang tak ingin berpangku tangan saja
"sebentar neng," jawab ibu itu.
tak lama dari jauh ada istri dari Farid, dia juga ingin belanja sayur untuk di rumah.
"assalamualaikum... lagi belanja neng?" sapa wanita itu lembut.
"iya mbak," jawab Rahayu tersenyum ramah.
"Bu ayam bagian dada ada? mau dua kilo Bu? dan sayur pokcoy punya?"
"ada neng, silahkan pilih," kata ibu pedagang itu.
memang ibu itu yang paling lengkap dagangannya, ternyata istri Farid melihat hati sapi dan paruh.
dia pun langsung mengambilnya karena itu kesukaan dari suami dan keluarganya.
tak lama rombongan para santriwati dan santri keluar dari masjid setelah mengikuti semak dan terjemah kitab setelah subuh.
terlihat beberapa santri berlarian, dan Ilya menghampiri kakak iparnya, "astagfirullah dek, ku kira siapa, aku belum terbiasa melihat mu memakai cadar,"
"maaf mbak, belanja apa?" tanya Ilya yang terlihat makin anggun.
"ini belanja sayur kesukaan mu pokcoy mau di masak bumbu siram seperti biasa," kata istri Farid.
"oke," jawab Ilya.
Ilya melihat beberapa santriwati yang sedang lari ke arah Rahayu, dan tak sengaja tertabrak.
"innalilahi, kalian ini hati-hati," tegur Ilya yang menahan tubuh Rahayu hingga tak sampai jatuh ke tanah.
"terima kasih mbak," kata Rahayu yang kaget.
Ilya pun membuat jarak agar para santri lebih tertib, setelah jalanan sedikit kosong, dia dan istri Farid memilih pamit karena sudah selesai belanja.
kemudian Rahayu juga pergi bersama Vivi, ternyata ustadz Haris baru pulang dari semak kitab juga.
__ADS_1
dia membantu membawa belanjaan dari Vivi, karena gadis itu harus mulai bersiap-siap untuk sekolah.
Ilya juga bersiap untuk mengajar lagi karena dia sudah libur terlalu lama, ustadzah Aisyah memasak bersama para menantunya.
karena hari ini ustadz Amir, Ilya dan kakak kedua Ilya yang bernama Subhan akan mengajar di sekolah.
dan ustadzah Aisyah memilih pensiun untuk merawat semua keluarganya.
"semuanya ayo kumpul, kita makan dulu," panggil ustadzah Aisyah.
"iya Bu," jawab semuanya.
setelah selesai makan, Ilya sudah keluar bersama Subhan dan ustadz Amir.
sedang ustadz Haris sudah keluar bersama ayah Arkan, "assalamualaikum ustadz, sudah mau berangkat?"
"waalaikum salam, iya karena ustadz sepuh ingin bertemu untuk membahas sesuatu," jawab ustadz Amir.
"baiklah, mari kita berangkat bersama," ajak ayah Arkan.
Ilya mengangguk menyapa ustadz Haris, "aduh saya pamit duluan ya, maaf permisi," kata ustadz Subhan yang bergegas pergi.
akhirnya mereka pun berangkat bersama, Ilya dan ustadz Haris jalan berdampingan di belakang kedua ayah-ayah mereka.
"bagaimana kabar ustadz,"
"Alhamdulillah sehat, tapi jangan panggil saya ustadzah tak pantas, panggil Ilya saja,"
"kenapa, jika aku di panggil ustadz, seharusnya kamu juga ustadzah bukan,"
"karena ilmu saya tak sebanyak ilmu ustadz, saya hanya lulusan fakultas ilmu ekonomi," jawab Ilya merendah.
"itu juga ilmu ustadzah, karena anda lulus dengan nilai terbaik, dan saat pendidikan magister pun sama," kata ustadz Haris.
"anda terlalu menyanjungku, aku takut lupa daratan, dan sekolah saya sudah sampai, sampai bertemu lagi ustadz, permisi... assalamualaikum.."
"waalaikum salam ustadzah," kata ustadz Haris tersenyum.
"aduh Haris jangan di lihatin begitu lah, ada ayahnya disini loh," kata ayah Arkan yang membuat ustadz Amir tersenyum.
mereka pun menuju yayasan utama, dan ustadz Haris berpisah dengan para pria itu untuk menuju ke sekolah tempatnya mengajar.
sedang di rumah, Bu Aisyah dan mami Tasya sedang duduk di pembatas halaman sambil berbincang.
__ADS_1
"jadi biasanya ibu kalau di rumah ngapain, karena saya tak punya hobi sepertinya," kata Bu Aisyah
"kalau gitu kita cari kegiatan yang bisa bermanfaat, seperti apa ya, bagaimana jika memasak?" kata mami Tasya.
"terlalu melelahkan dan siapa yang akan memakannya bu," kata Bu Aisyah.
"Iya juga, bagaimana jika jual saja di depan rumah,ya itung-itung sambil membunuh waktu, Bu Aisyah jualan jus, saya jualan apa ya enaknya...."
"bagaimana jika pentol kanji yang di goreng pakai telur mi, jika di lihat anak-anak pondok ini suka jajan yang murah dan banyak," usul Rahayu yang keluar sambil membawa minuman.
"aduh-aduh neng Rahayu jangan capek-capek, sedang hamil besar, duduk sini, ibu setuju usulan neng, bagaimana Bu Tasya?"
"boleh juga, saya akan mencoba buat tester dulu ya, jika memang memungkinkan dan enak kita buat dengan sungguh-sungguh Bu," kata mami Tasya semangat.
"baiklah..." jawab Bu Aisyah.
keduanya langsung mencatat apa yang akan di jual, tak jadi jual jus buah malah ganti teh poci dengan berbagai rasa karena hitung-hitung saku anak pondok itu tak banyak.
akhirnya mereka memutuskan besok mulai jualan di depan rumah, dan nanti Rahayu akan membantu mami Tasya untuk membuat pentol kanji.
sedang di sekolah, beberapa murid laki-laki kaget melihat ustadz Haris yang mulai mengajar lagi.
padahal pria itu sedang menerima tugas penting dari pondok pesantren.
"assalamualaikum... semuanya,"
"waalaikum salam ustadz," kata semua murid di kelas itu.
ustadz Haris tersenyum pada semuanya, "bagaimana kabar kalian semua, berapa lama kita tak bertemu,"
"kami baik ustadz sudah hampir delapan bulan ustadz," kata salah satu murid yang terkenal nakal.
tapi tanpa terduga pria itu lari dan memeluk ustadz Haris dengan erat, "loh ada apa Seno," bingung ustadz Haris.
tak lama malah semua murid berlari ke arah garis dan memeluk pria itu dengan erat.
"kami rindu ustadz, kami sedih dengan semua yang terjadi, anda bahkan terluka demi menjaga kami semua," Kata para murid.
"semua tenang, sekarang saya sudah di sini dan kalian bisa melihat kan, saya baik-baik saja," kata pria itu.
tapi ustadz Haris masih membiarkan semua murid memeluknya, setelah itu dia pun memulai pelajaran.
sedang di tempat Ilya, gadis itu sedang mengajak para muridnya bermain sambil belajar.
__ADS_1
pasalnya dia memang suka mengunakan metode ini untuk muridnya.
itulah kenapa Ilya selalu menjadi guru kesayangan semua murid di sekolah.