Desa Kantil

Desa Kantil
dasar tak pernah bosan


__ADS_3

di sebuah rumah kontrakan,dua insan yang sedang memadu kasih itu menikmati setiap hal.


ustadz Haris merebahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya yang sudah kepayahan.


"mas ini tak ada lelahnya ya, aku bahkan tak di beri time out sedikit pun," kata Ilya yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.


"namanya juga pengantin baru sayang, jadi harap maklum, lagi pula kami begitu-"kata ustadz Haris terhenti karena mulutnya di cubit oleh Ilya.


"stop jangan di lanjutkan," ketus wanita itu.


setelah di lepaskan ustadz Haris memeluk tubuh istrinya itu erat. sambil tertawa senang.


mereka juga istirahat karena besok Keduanya harus mengikuti pelatihan lagi.


di desa, mereka sedang ketar-ketir karena mencium aroma singkong bakar.


setelah aroma itu hilang, kini giliran aroma melati dan bau darah anyir yang pekat.


"pak sebaiknya kita pulang, malam ini sudah cukup sampai di sini saja, toh semua tetap aman," kata ustadz Harun.


"kenapa ustadz, padahal baru jam sebelas malam," kata salah satu warga


"sudah pak, anda bisa lagi jika saya bilang, jadi semuanya kita berpisah ya," kata ustadz Harun.


mereka pun berpisah, dan tak lama rombongan para pria itu pun pulang, begitupun dengan ustadz Harun dan para santri.


sesampainya di rumah, mertua mengambil air wudhu dan langsung menuju ke kamar paling belakang di rumah itu.


malam itu beruntung tak ada kejadian aneh-aneh, tapi keesokan harinya saat warga ingin ke ladang.


mereka kaget melihat ada pembunuhan yang begitu keji, seorang warga desa yang sudah sepuh


di gantung terbalik dan kehilangan semua kulit tubuhnya, bahkan terlihat perut pria itu tersobek dan seluruh isi perutnya terburai keluar.


sedang para warga tak bisa keluar semua itu, ustadz Harun dan Cakra yang sengaja ingin ke kebun cengkeh kaget melihat itu.


"kenapa diam, cepat turunkan," perintah Cakra.


"ini kasus pembunuhan, kita harus menunggu kepolisian, jika tidak kita akan menjadi tersangka jika didik Djati kira menempel di mayat itu." jawab salah satu warga.


"baiklah ustadz Harun, hubungi polisi dan bilang ada pembunuh, dan kirimkan foto buktinya juga," perintah Cakra


"baik mas," jawab ustadz Harun.

__ADS_1


sedang di rumah, Hamzah sedan belajar makan sambil di temani oleh Shafa.


bocah itu begitu pintar dan bisa makan sendiri, "apa tidak apa-apa membiarkannya makan sendiri mbak?"


"tenang saja, Hamzah itu bayi pintar dia bahkan di biasakan oleh ayahnya seperti ini." jawab Shafa.


benar saja, bocah itu begitu lahap, padahal menu sarapan kali ini cuma tahu tim di campur ayam giling dan wortel, dan buahnya ada buah naga.


tapi itu saja membuat bayi sehat itu begitu senang tak terkira, tak hanya itu bahkan Shafa mengajari putranya untuk minum melalui sedotan bukan dot.


setelah makan, Hamzah akan bermain di terasa bersama Shafa, tapi tiba-tiba ada jemputan karena di yayasan ada hal yang aneh.


"tolong neng, di sekolah sedang keos," panggil Alif.


"kenapa memanggilku, seharusnya Inggil ustadz Harun dan suamiku," kata Shafa yang terlihat tengah tenang saja.


"Ahmad sedang memanggilnya, tapi setidaknya saya au neng bisa menolong," kata Alif.


"kata siapa, tak ada yang tau soal ilmu ku itu kecuali keluarga Noviant, siapa kamu?" tanya Shafa dingin


tanpa di duga Hamzah mengambil batu yang selalu di berikan oleh ayahnya untuk main.


kemudian melemparkan batu itu ke arah Arif, tiba-tiba sosok itu berteriak dan kemudian menghilang.


Hamzah hanya tertawa saja dengan wajah lucu, "adeh repot nih kayaknya," gumam Shafa.


"waalaikum salam, kenapa Ledi begitu ustadz saat pulang ke rumah?" tanya Rahayu pada pria itu


"ya kita tadi harus menghadapi beberapa polisi, karena ada pembunuhan di desa, dan sekarang mas Cakra sedang mengurus semuanya, karena pak RW tak ada di tempat," terang ustadz Harun.


"ow seperti itu, kalau begitu mau di buatkan sesuatu tidak ustadz?"


"boleh deh, tolong ya Rahayu buatkan aku kopi panas, yang biasa seperti biasanya," kata ustadz Harun


"iya ustadz, saya buatkan sebentar ya," kata Rahayu yang bangkit dari duduknya.


saat Rahayu masuk kedalam rumah, seorang tukang paket datang ke rumah itu.


"permisi paket," kata pria itu.


"iya..." jawab ustadz Harun.


pria itu menghampiri pengantar paket itu, "iya mas, ada apa?" tanya ustadz Harun.

__ADS_1


"ini pak ada paket untuk ibu Shafa Cakra Hadikusumo, sudah di bayar," kata pria pengantar paket itu.


"iya terima kasih," jawab ustadz Harun.


ternyata Shafa keluar dan mengambil paket miliknya, yang ternyata itu adalah camilan untuk Putranya dan juga suaminya.


"apa itu?" tanya ustadz Harun.


"biasa cuma camilan kesukaan suamiku, tunggu sebentar lagi akan ada camilan lagi yang datang untuk yang lain," kata Shafa.


"baiklah, terima kasih kalian selalu baik pada kami," kata ustadz Harun.


Shafa mengangguk dan langsung masuk kedalam rumah karena putranya itu sedang tidur siang.


sedang Rahayu bersembunyi saat mendengar perbincangan antara ustadz Harun dan juga Shafa yang nampak begitu senang.


dia pun tak suka melihat semua itu, tapi dia tak bisa marah toh ustadz Harun bukan suaminya.


tak lama Cakra pulang sambil menghela nafas, bahkan pria itu duduk dengan sangat capek.


"jadi bagaimana mas?"


"ruwet, terserah saja mereka mau apa, toh bikin orang pusing saja tuh prosedur dari kepolisian," kesal Cakra yang selalu tak cocok dengan institusi itu


"mas Cakra mau kopi juga, biar saya buatkan," kata Rahayu yang menawarkan pada pria itu.


"tak usah, kamu pasti tak nyaman dengan perut sebesar itu, lebih baik istirahat saja, karena tak baik untuk mu terus bergerak," kata Cakra mengingatkan.


"iya mas, tapi jika aku tak bergerak, bagaimana nanti bayinya bisa keluar," kata Rahayu tersenyum.


"pasti bisa, berdoa saja," kata cakra.


ustadz Harun pun hanya bisa merasa bersalah, karena kesalahan keduanya, akan hadir bayi tak berdosa sebentar lagi.


tanpa di duga, Hamzah berjalan sedikit berlari ke arah ayahnya, "yah..." teriak bocah itu


"aduh aduh putra ayah sudah bangun tidur siang ya, tau saja waktunya sholat dhuhur sayang, bunda mana!" tanya cakra yang mencium pipi putranya itu gemas.


sedang Hamzah tertawa geli karena brewok ayahnya membuatnya geli.


Shafa datang membawa air minum, "nda.."


"ayah sudah pulang, maaf ya yah, aku tak menyambut mas karena tadi Hamzah tidur, eh tiba-tiba bangun dan lari," kata Shafa duduk di samping suaminya.

__ADS_1


"iya sayang tak masalah, tapi mulai sekarang tolong bantu Rahayu berlatih untuk bisa melahirkan secara normal ya,"


"inggeh mas ku sayang," jawab Shafa


__ADS_2